
“Kelamaan itu. Fira maunya sekarang!” seru Zhafira membuat Afkar mau tidak mau menurutinya.
“Baiklah kita pergi sekarang, saya harus mastikan kamu baik-baik saja. Kamu denger kan kemarin, Papa kamu bilang kalau kamu itu tanggung jawabku, dan Mama kamu nitip suruh jaga kamu. Trus, ancaman Syara,” balas Afkar panjang.
Zhafira tidak menolak, mereka pun segera pergi untuk mencari Daffa. Mereka berdua menelusuri kota Jogja berharap segera bertemu Daffa.
Karena udah siang, waktunya makan siang mereka pun memberhentikan pencarian Daffa dulu untuk makan siang.
“Kita makan siang di mana?” tanya Afkar.
“Up to you,” jawab Zhafira yang sangat malas sebenarnya untuk makan siang. Dia ingin segera bertemu Daffa dan menanyakan kejelasan perginya Daffa saat pernikahan.
Akhirnya Afkar pun meminta sopir taksi mengantarkan ke pusat belanja. Karena di sana bisa memilih menu sesuai keinginkan kita.
Setelah selesai makan siang, Afkar yang memang akan beli sesuatu mengajak Zhafira ke lantai atas untuk mencari apa yang di butuhkan oleh Afkar. Tak butuh waktu lama, mereka dapat apa yang di cari.
Kemudian Afkar pun mengajak zhafira turun untuk kembali mencari Daffa. Namun, saat akan turun lewat ekskalator, Zhafira melihat seseorang yang dikenali olehnya. Ya, Daffa. Zhafira melihat sosok Daffa sedang di lift arah naik bersama seorang wanita.
Zhafira pun mengurungkan niatnya untuk turun, dan segera naik ke ekskalator. Tentu langsung dikejar oleh Afkar.
“Fir, Fira, ada apa? Mau kemana kok naik?” tanya Afkar yang tak dijawab oleh Zhafira.
“Fira, Zhafira Adzra Nadhifa!” panggil Afkar.
“Mau kemana, kamu?” tanya Afkar kembali mengulangi pertanyaannya.
Fira yang mendengar nama panjangnya dipanggil membuat langkahnya berhenti, tapi tidak dengan netranya yang masih mengikuti sosok Daffa itu.
“Kenapa sih? Itu ... itu tadi ada Daffa di dalam lift, lift itu berhenti di lantai 4,” jawab Zhafira kembali melangkahkan kakinya dengan sedikit berlari.
Dan akhirnya Zhafira mencari-cari seseorang yang mirip Daffa di lantai 4, Zhafira nampak clingak-clinguk mencari. Dan saat tiba di toko ponsel Zhafira nampak seseorang itu, sosok yang dicarinya. Zhafira segera menghampiri.
Saat akan menepuk pundak Daffa, suara Daffa yang lebih dahulu mengejutkan Zhafira dan berhasil membuat Zhafira menitikkan air mata.
“Ayolah. Cepat, Sayang, kamu pilih HP yang mana? Jangan lama-lama, katanya mau lihat bayi kita,” ucap Daffa yang belum menyadari adanya Zhafira di belakang Daffa.
“Okelah, Mas. Aku pilih yang ini,” jawab wanita yang di depan Daffa.
__ADS_1
“Beneran gak mau yang lain?” tanya Daffa memastikan.
“Gak, Sayang. Ini aja,” jawab wanita itu.
Percakapan pasangan di hadapan Zhafira terekam jelas oleh Zhafira dan Afkar.
Dan akhirnya Zhafira pun memutuskan untuk memanggil Daffa.
“Daffa,” panggil Zhafira udah dengan air mata yang berderai.
Daffa pun segera menoleh ke belakang.
“Zhafira,” lirih Daffa.
“Tega lo, Daf. Jadi, ini sifat asli lo ya. Hanya demi wanita ini lo ninggalin acara pernikahan kita?” kata Zhafira dengan raut wajah yang teramat kecewa pada Daffa.
“Maaf. Maafin gue, Fir,” balas Daffa.
“Kenapa lo lakukan ini sama gue, Daf. Kenapa harus gue? Apa salah gue? Jawab, Daf!”
“Gue gak peduli dia siapa. Tapi, yang jelas, gue benci sama lo, Daffa Pradipta. Gue gak mau liat muka lo lagi,” ucap Zhafira sambil berlari masuk lift. Afkar tanpa banyak bicara segera mengejar Zhafira dan mengajak pulang ke hotel.
Sesampainya di kamar hotel, Zhafira langsung packing untuk kembali pulang ke Jakarta.
“Fir, Fira, tenang dulu ... jangan emosi,” titah Afkar.
“Eh, gimana bisa tenang. Jadi, selama ini Fira di bohongi sama dia, bilangnya cinta-cinta. Tapi, ternyata dia laki-laki yang gak punya perasaan!” seru Zhafira.
Afkar pun merasa kasihan pada Zhafira, “Fir, kita di sini dulu ya. Lo mau kita jalan-jalan? Mau ya?”
“Apasih, untuk apa baik sama Fira, gak usah sok peduli, tinggalin Fira sendiri,” balas Zhafira.
“Fir, kamu ingat sekarang ini saya suami kamu. Jadi, karena itulah saya peduli sama kamu. Bukannya sudah sepakat, kita kan teman sekarang,” ucap Afkar dengan lembut.
“Ta‐tapi, Fira maunya sekarang juga kita pulang,” lirih Zhafira dengan air matanya yang masih terus menetes.
“Baiklah, gimana kalau pergi ke kota lain aja. Solo atau Bali? Soalnya, kalau kita pulang, nanti Papa curiga,” balas Afkar.
__ADS_1
“Oke, kita ke bali aja, gue gak mau di sini.”
Mendengar ucapan Zhafira, Afkar dengan sesegera mungkin membantu packing barang dan menuju ke bandara. Padahal, mereka baru saja sampai di Jogja. Kalau bukan karena Zhafira, Afkar sangat malas untuk bepergian seperti ini.
Setelah sampai di bandara, segera Afkar membeli tiket dengan tujuan ke Bali.
****
Sesampainya di Bali, Zhafira dan Afkar segera ke hotel untuk istirahat, karena mereka sampai Bali udah malam Afkar segera memesan makanan dan minta di antar ke kamarnya. Sedangkan, Zhafira terus melamun dan gak bersemangat. Afkar yang merasa cemas dan kasihan terus mengajak ngobrol meskipun kadang tidak di tanggapi.
Sampai pada akhirnya, makanan datang, tapi tetap saja Zhafira gak mau makan. Tak lama, Zhafira ketiduran di sofa. Afkar yang melihat Zhafira ketiduran segera memindahkannya ke atas kasur. Kemudian, Afkar ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Setelah itu, Afkar makan malam seorang diri. Sambil makan, Afkar melihat Zhafira yang gelisah, Afkar segera mendekat, langsung meletakkan tangannya di dahi Zhafira.
“Astaghfirullah, badannya panas banget,” ucap Afkar.
Tanpa menunggu lama, Afkar segera menelepon waiters untuk meminta menelponkan dokter dan sambil menunggu dokter Afkar mengompres Zhafira.
Demam Zhafira sangat tinggi sampai-sampai dia mengigau memanggil Daffa.
“Daffa, lo tega sama gue. Gue benci lo,” kata Zhafira yang mengigau.
Afkar merasa iba dengan Zhafira, Afkar terus mengompres sambil terus memandangi Zhafira.
‘Kamu cantik, baik dan penyayang, Zhafira Adzra Nadhifa. Tapi, kamu malah di sakiti sama kekasihmu sendiri,’ batin Afkar.
Tak berapa lama suara ketukan dari luar terdengar.
Afkar segera membuka pintunya dan mempersilakan masuk.
“Maaf, Pak. Ini dokter yang akan memeriksa istri bapak,” ucap waiters.
“Oh, iya. Terima kasih. Ini tips untuk kamu. Dokter mari masuk,” titah Afkar.
Setelah mengucapkan terima kasih waiters pun segera pergi.
Afkar dan dokter masuk bersamaan. Dokter segera memeriksa Zhafira.
“Maaf, Pak. Sepertinya istri bapak ini ... ”
__ADS_1