Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH. 20 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

Ayah pun segera menyusul Bunda ke dapur, sebagai penambah mood buat istrinya, Ayah yang turun tangan membantu Bunda memasak.


Sementara di kamar, Afkar tampak mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar, “Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam, Mas gapapa ‘kan?” sahut Zhafira langsung menghampiri suaminya dengan raut wajah cemas.


“Gapapa, Sayang. Ayo kamu istirahat dulu, pasti capek habis kerja ‘kan?” balas Afkar.


“Tapi, Mas juga harus istirahat,” ucap Zhafira.


“Baiklah, Sayang. Ayo kita sama-sama istirahat. Tapi, bersih-bersih dulu, ya,” kata Afkar seraya melepas jasnya.


Mereka berdua hanya rebahan di atas ranjang dan berbagi cerita bersama.


Tak terasa adzan maghrib telah berkumandang. Afkar mengajak Zhafira untuk menunaikan ibadah sholat maghrib berjama’ah.


Setelah sholat, mereka menuju ruang makan. Saat di ruang makan, Ayah dan Bunda sangat bahagia karena melihat pengantin baru yang tampak saling mencintai.


“Afkar,” panggil Ayah saat melihat anaknya duduk di samping Zhafira.


Afkar mendongak dan melihat Ayah dengan perasaan was-was. Begitu juga dengan Zhafira yang takut kalau suaminya akan dimarah.i lagi oleh Ayah.


“Ada apa, Yah?” tanya Afkar.


“Gimana dengan acara hari minggu, Nak?” balas Ayah Reyhan membuat Afkar dan Zhafira menghembuskan napas lega.


“Jadi dong, Yah. Kan masih lihat-lihat dulu, belum pindah ‘kan, Yah?”


“Iya, lihat-lihat dulu. Untuk pindah ya terserah kalian aja,” jawab Ayah.


“Fira, gimana kamu, Sayang? Udah baikan?” tanya Bunda.


“Alhamdulillah udah lebih baik, Bunda, besuk juga Fira masuk kerja,” jawab Zhafira.


“Emang udah kuat, Sayang? Kalau belum, izin dulu aja sama bos kamu,” ucap Afkar.


“Gak enak, Mas. Fira beberapa minggu ini sering izin. Lagian orang-orang yang kemarin, udah ketangkap juga ‘kan?” balas Zhafira.


“Baiklah, Sayang, besuk Mas antar.”


Dan setelah selesai ngobrol dan juga makan malam, mereka langsung sholat isya’ dan berduaan di kamar. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, mereka pun tidur.


****


Dua hari udah berlalu, Afkar dan Zhafira udah berada di rumah Papa Fadlan berkumpul dengan orang tua dan mertuanya atas permintaan Afkar.


“Ada apa ini, Nak? Bukannya lihat rumahnya masih dua hari lagi?” tanya Ayah.


“Begini, Yah, Pa, Afkar hari minggu gak bisa,” jawab Afkar.


“Kalau kita majukan hari sabtu bisa gak, Pa, Yah?” lanjut Afkar.

__ADS_1


“Boleh, Nak. Kami ngikut aja, kan juga harus sesuaikan dengan jadwal kamu juga, Nak,” balas Papa dan disetujui dengan Ayah.


“Berarti besok kita langsung berangkat, ya. Lihat rumah dan mobil,” ucap Ayah.


Mereka pun menghabiskan waktu untuk saling mengobrol dan sesekali bercanda. Ditambah dengan Syara yang super bawel menemani pembahasan mereka hari itu.


“Kak, kalau Kak Fira pergi, lah Syara gimana?” tanya Syara yang tengah duduk ditengah-tengah Papa dan Mama.


“Kamu kan bisa nemenin Mama di rumah, Nak,” jawab Mama.


“Kak, cariin kek gu—”


“Jangan bilang cariin cowok, gak tau gue, Dek!” sambar Zhafira yang bosan dengan ucapan Syara yang selalu meminta cariin cowok buat dia.


“Ih bukan tau, Kak. Cariin kerjaan atuh. Gimana kok jadi cowok ih!” seru Syara.


“Lah biasanya juga lo nyuruhnya cariin cowo mulu. Udahlah, Dek, sabar dulu. HRD kantor belum ngabarin,” balas Zhafira membuat Syara manggut-manggut.


Setelah mengobrol, Ayah dan Bunda segera pamit untuk pulang. Afkar dan Zhafira menuju ke kamar.


Saat di kamar, Zhafira bertanya pada Afkar, “Mas, kamu ada acara kemana hari minggu?”


“Acara di kamar berduaan sama istri Mas dong,” jawab Afkar.


“Istri Mas? Sama Fira dong?” tanya Zhafira kembali.


“Emang ada lagi istri Mas selain kamu?” balas Afkar segera mendapat cubitan dari Zhafira.


“Iya, Mas rencananya hari minggu mau me time sama kamu, Sayang. Jalan-jalan ke mana gitu kita,” jawab Afkar membuat Zhafira tersenyum manis.


Setelah itu, mereka segera tidur agar besok tidak kesiangan saat lihat rumah.


Keesokan harinya, tepatnya pada hari sabtu pagi, Afkar, Fira dan kedua orang tua dari pengantin baru udah berada di rumah baru.


Rumah yang di-design sangat indah dan minimalis. Rumah yang berlantai dua dengan sekitaran rumah yg masih asri. Zhafira tampak sangat menyukainya.


“Gimana, Nak, kalian suka?” tanya Papa.


“Ini yang milihkan kami berdua, jadi kalau kurang besar atau gak suka akan kita carikan lagi,” imbuh Ayah.


“Ini udah lebih dari cukup Pa, Yah. Terima kasih banyak,” ucap Afkar.


“Ayo, Nak, kita masuk!” seru Mama.


Mereka semua pun masuk dan melihat-lihat, sedangkan Papa dan Ayah masih ngobrol di teras rumah.


Zhafira dan Afkar ditemani kedua Ibu mereka berkeliling melihat seisi rumah yang udah lengkap dengan perabot rumah tangga.


Mereka sangat bahagia karena mempunyai kedua orang tua yang sangat perhatian.


Siang harinya saat perjalanan pulang, Afkar mendapat telpon dari nomor yang gak di kenal.

__ADS_1


“Siapa ya, nomor gak dikenal,” ucap lirih Afkar masih didengar oleh Zhafira.


“Coba diangkat aja, Mas, siapa tau penting,” balas Zhafira.


Dan Afkar pun mengangkat telponnya.


“Assalamualaikum, Pak penghulu, lagi sibuk nggak nih? maaf kalau gue ganggu,” ucap suara dari seorang sana yang Afkar ternyata mengenali suara tersebut.


“Wa’alaikumussalam, CEO muda. Alhamdulillah baik. Ada apa nih tumben telpon gue?” balas Afkar.


Dan mereka pun mengobrol sampai Afkar di depan rumah Papa. Saat selesai mereka mengobrol, Afkar dan Zhafira segera keluar mobil dan melihat mobil Papa yang baru masuk ke dalam gerbang rumah.


“Ayo masuk!” seru Papa dan mereka masuk ke dalam rumah bersamaan.


“Assalamu’alaikum,” salam mereka serempak.


“Wa'alaikumussalam, kalian darimana kok Syara ditinggal sendirian?” balas Syara yang langsung bertanya.


“Tadi habis lihat rumah Kak Fira, Nak,” jawab Mama.


“Oh gitu, Ma. Gimana, Kak? Suka gak sama rumah yang udah dipilihkan?” tanya Syara pada Zhafira.


“Alhamdulillah kami sangat suka. Rencana kami mau pindah ke sana secepatnya, biar gak ada yang gangguin. Ya gak, Mas?” jawab Zhafira sembari menoleh pada Afkar.


“Eh, apasih, Kak Fira ... awas ya nanti kalau kangen sama gue!” seru Syara.


“Hidih, palingan lo yang kangen sama gue,” balas Zhafira yang tak mau kalah.


Dan setelah drama Zhafira dan Syara, mereka pun masuk ke kamar, “Mas, tadi siapa yang telpon?” tanya Zhafira.


“Oh ... itu, Sayang, sahabatku yang kemarin ketemu waktu kita makan siang, dia mau minta aku menikahkan asistennya kamu mau nggak nemani aku ke rumahnya?” jawab Afkar sembari menawarkan istrinya untuk ikut.


“Ya tentu mau dong, Mas, kalau gak diikutin, Fira takut, Mas,” balas Zhafira.


“Takut kenapa, Sayang?” tanya Afkar seraya menautkan alisnya.


“Takut nanti pengantinnya kabur, dan Mas di suruh nikahi lagi,” jawab Zhafira tertawa.


“Hmm ... Awas kamu ya, berani godain Mas, hm?.” Afkar langsung mengejar Zhafira yang masuk ke kamar mandi.


“Mas, aku mau mandi loh, sana keluar dulu!” seru Zhafira.


“Kita mandi bareng aja, Sayang. Kita belum pernah ‘kan nyobain di kamar mandi.”


“Ih, Mas ini lama-lama mesum. Suami aku penghulu mes—” ucap Zhafira yang belum selesai karena bibirnya langsung dicium oleh Afkar.


Dan akhirnya mereka berdua mandi plus-plus hingga selesai 1 jam kemudian. Zhafira keluar dengan cemberut, berbeda dengan Afkar yg tampak segar dengan senyuman yang menghiasi wajah tampaknya itu.


“Ayo, Sayang, sholat lalu kita segera berangkat, tinggal satu jam lagi nih,” ucap Afkar membuat Zhafira menyulitkan matanya.


“Ish, salah sendiri ... udah tau mau ada acara, pakai minta jatah di kamar mandi pula,” gerutu Zhafira cemberut pura-pura marah dengan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2