
Papa fadlan segera keluar kantor dan mobil papa Fadlan melaju dengan kencang menuju rumah Afkar. Setelah sampai rumah Afkar, papa Fadlan melihat ada pria yang sedang menggedor-gedor pintu rumah anaknya.
Papa Fadlan pun segera turun dari mobil dan menghampiri pria tersebut.
“Hei ... ada apa ini? Kenapa gedor-gedor pintu rumah ini?” tanya papa Fadlan.
“Lo siapa? Jangan ganggu urusan gue!” seru pria itu.
“Saya adalah orang tua dari orang yang rumahnya anda gedor-gedor. Anda ada masalah apa?” tanya papa Fadlan kembali.
“Oh, karena yang punya rumah ini gak berani keluar, jadi gue sampaikan aja sama lo. Gue adalah kakak dari laki-laki yang anak lo penjarain. Jadi kalau anak lo mau tenang, mau selamat, bebaskan adik gue,” kata pria itu.
“Jadi maksudnya, anda ini kakak dari Daffa?” tanya papa Fadlan yang terkejut.
“Ya, gue adalah Brian Pradipta kakak dari Daffa Pradipta. Jadi bilang sama anak lo, jangan macam-macam sama gue,” jawab Brian.
Setelah berkata seperti itu Brian pun segera pergi dari rumah tersebut, papa Fadlan yang tampak syok sampai tidak menyadari kalau pria itu udah pergi.
Saat papa Fadlan masih mencerna kata-kata Brian, Afkar, mama Latifah dan bunda Hanum sampai di rumah.
“Assalamu’alaikum ... lho, papa kok udah pulang? Gak masuk dulu, Pa?” tanya Afkar.
“Iya, Nak, kalian dari mana aja sih ... kok tega biarin Fira sendirian?” balas papa Fadlan bertanya.
“Fira kan ada bi Minah, Pa. Udah ah jangan besar-besarin masalah, kami tadi habis mempersiapkan acara aqiqah besok,” jawab mama Latifah.
“Bukan membesar-besarkan masalah mau atau enggak. Tadi bi Minah itu telpon papa karena ada pria gedor-gedor pintu,” balas papa Fadlan.
“Hah? Astagfirullah ... yang benar, Pa? Trus Fira gimana, Pa?” tanya Afkar yang langsung panik.
“Papa belum masuk. Jadi, papa Belum tau keadaan Fira gimana,” jawab papa Fadlan.
“Pa, maaf ... titip Chayra sebentar, Afkar mau lihat kondisi Fira sebentar,” kata Afkar.
Papa Fadlan pun mengambil Chayra dari gendogan Afkar kemudian Afkar pun segera masuk ke rumah dan menuju ke kamar Zhafira.
Saat masuk kamar, Afkar melihat Zhafira yang ketakutan, “Astagfirullah, Sayang ... maafin aku ya, aku udah tega ninggalin kamu.”
“Mas, aku takut, ada orang gedor-gedor rumah kita,” ucap Zhafira.
“Udah, Sayang ... kamu jangan takut, orang itu udah pergi kok, sini Adrian biar aku yang jaga, kamu istirahat ya,” titah Afkar.
Zhafira pun nurut dan segera merebahkan badannya dan tak lama kemudian, Zhafira pun tertidur.
Setelah Zhafira tidur, Afkar segera menidurkan Adrian di box dan meminta bi Minah menemani sebentar. Lalu Afkar pun dengan segera keluar kamar dan menemui papa Fadlan.
“Gimana Fira, Nak?” tanya bunda Hanum.
“Fira udah tidur, Bund, pas Afkar masuk kamar tadi nampak Fira yang ketakutan. Tapi alhamdulillah sekarang udah istirahat,” jawab Afkar.
__ADS_1
“Alhamdulillah,” lirih papa Fadlan dan mama Latifah serempak.
“Afkar, kamu harus hati-hati karena pria tadi itu membahayakan kita,” kata papa Fadlan.
“Siapa pria itu, Pa?” tanya mama Latifah.
“Dia adalah kakaknya Daffa. Dia marah dan minta adiknya dibebaskan,” jawab papa Fadlan.
“Hah , kok tiba-tiba dia muncul, Pa? Kasusnya kan udah lama?” balas Afkar bertanya.
“Papa juga gak tau, tapi ini bener-bener masalah serius, kita harus pikirkan secepatnya,” kata papa Fadlan.
“Iya, Pa. Afkar nidurin Chayra sebentar ya, Pa. Tuh udah tidur di pangkuan papa, nanti papa capek,” ucap Afkar.
“Iya, pindahkan aja ke kamar dulu baru kita ngobrol,” balas papa Fadlan.
Afkar pun segera menggendong Chayra dan membawa ke kamar.
Papa Fadkan menunggu Afkar di ruang tamu sambil ngobrol sama mama Latifah dan bunda Hanum.
Tak lama kemudian, ayah Reyhan datang ke rumah, “Assalamu’alaikum,” salam ayah Reyhan.
“Wa’alaikumussalam. Masuk, Han,” balas papa Fadlan.
“Wah wah, keduluan aku datangnya,” celetuk ayah Reyhan.
“Hah, siapa? Kita kan gak ada musuh,” kata ayah Reyhan.
“Ternyata orang itu kakak nya Daffa, masih ingat Daffa kan?,” ucap papa Fadlan.
“Ya masih lah, gara-gara itu anak kan kita jadi besan,” balas ayah Reyhan menaikkan turunkan kedua alisnya.
“Oh, ternyata ... kamu itu pengen banget ya jadi besan aku,” kata papa Fadlan.
“Kamu salah, kamu sebenarnya yang pengen jadi besan aku,” balas ayah Reyhan.
“Dah ni ... mulai, heran deh tiap ketemu pasti ujung-ujungnya ribut,” gerutu bunda Hanum.
“Iya, kita tinggal aja yuk, istirahat dulu,” kata mama Latifah.
“Iya. Ayo, Mbak!” seru bunda Hanum.
Dan mereka pun ditinggal istri-istrinya. Tak lama kemudian, Afkar pun datang.
“Pa, maaf ya lama, tadi Chayra bangun dan minta dibuatin susu dulu,” ucap Afkar.
“Iya, gapapa. Trus gimana, Nak, menurut kamu apa yang harus kita lakukan?” tanya papa Fadlan.
“Kita tunggu dulu aja, Pa, kalau memang benar-benar membahayakan baru kita bertindak,” jawab Afkar.
__ADS_1
“Pokoknya jangan sampai ada korban ya, Nak,” balas ayah Reyhan.
“InsyaaAllah gak ada, Yah,” ucap Afkar.
Sore harinya saat pulang kantor, Syara dan Rendra langsung pergi ke pusat perbelanjaan, karena siang ada meeting jadi mereka beli nya setelah pulang kerja.
Saat ini, sampailah mereka di pusat perbelanjaan, mereka langsung menuju ke toko pakaian bayi. Syara segera melihat-lihat mana yang cocok untuk hadiah putra Zhafira.
“Emm ... Mas, kita mau belikan apa ya?” tanya Syara.
“Coba kita lihat-lihat dulu, Dek,” jawab Rendra sambil melihat-lihat dan akhirnya pilihan mereka jatuh pada stroler bayi.
“Mas, ini aja ya. Sebenarnya kak Fira udah punya, tapi gapapa untuk gantian. Gimana?” tanya Syara menoleh pada suaminya.
“Oke, aku setuju,” jawab Rendra.
Dan mereka pun segera membawa kado itu menuju ke rumah Afkar dan Zhafira.
Tak lama kemudian, mereka pun tiba di rumah Afkar. Syara segera turun dan masuk sedangkan Rendra mengambil kado dulu lalu menyusul istrinya yang duluan masuk.
“Assalamu’alaikum,” salam Syara dan Rendra bersamaan.
“Wa’alaikumussalam, ayo masuk sini,” balas Afkar mempersilakan masuk.
“Kak, Syara ke kamar ya,” ucap Syara.
“Ke kamarlah, tapi kalau kakak kamu masih tidur jangan diganggu ya, dia masih syok,” kata Afkar.
“Syok? Emang apa yang terjadi?” tanya Syara.
“Tadi ada orang gedor-gedor pintu, jadi kakak kamu ketakutan, trus setelah ditenangkan lalu tidur,” jawab Afkar.
“Owhh, iya deh, Kak. Aku lihat ke kamar dulu,” balas Syara segera melangkah pergi.
Rendra pun memberikan hadiah itu pada Afkar lalu duduk di dekat papa Fadlan.
“Trus gimana, Pa? Apa kita gak bertindak?” tanya Rendra.
“Kata kakak kamu tunggu beberapa hari lagi, kalau semakin berani baru kita bertindak,” jawab papa Fadlan.
“Kak, hati-hati loh ... kak Fira baru melahirkan jangan sampai banyak pikiran,” ucap Rendra.
“Iya, Dra, semampu kakak akan buat Fira nyaman, do’ain ya, semoga gak akan terjadi apa-apa,” kata Afkar.
Dan saat mereka terdiam tiba-tiba ada bunyi ledakan di depan rumah.
“Suara apa itu?” tanya Rendra.
“Ayo kita keluar, lihat apa yang terjadi,” balas papa Fadlan.
__ADS_1