
“Mas, nanti kesiangan loh kalau terus seperti ini,” kata Zhafira.
“Sayang ... aku tuh kangen kamu,” balas Afkar.
Tok ... Tok ... Tok ...
“Pak, Bu,” panggil Bi Minah dari luar pintu kamar.
“Tuh, Mas ... bi Minah udah manggil, ayo lepaskan gih. Kasihan nanti kalau keduluan Ammar kebangun tau, Mas,” ucap Zhafira.
Dengan berat hati, Afkar pun melepaskan pelukannya dari Zhafira.
Zhafira menoleh sekilas kemudian mengecup singkat pipi kanan Afkar. Kemudian Zhafira berlalu menuju pintu untuk membukakan pintu.
“Iya, kenapa, Bi?” tanya Zhafira.
“Maaf, Bu ... non Chayra mencari papa dan mamanya,” jawab bi Minah.
“Oh iya, Bi ... di mana Chayra sekarang?” tanya Zhafira kembali.
“Non Chayra masih di kamar, main sama den Adrian,” balas bi Minah.
“Yaudah kalau gitu, Bi. Biar saya yang ke kamar anak-anak langsung. Makasih ya, Bi,” ucap Zhafira.
“Baik, Bu. Ada yang perlu saya bantu lagi, Bu? ‘kan pagi ini mau ke rumah sakit lagi,” kata bi Minah.
“Udah, Bi Minah mandi dan makan dulu aja. Nanti kalau butuh bantuan, saya panggil,” balas Zhafira.
“Baik, Bu.” Bi Minah pun berlalu pergi meninggalkan kamar majikannya.
Setelah perginya bi Minah, Zhafira pun kembali melihat belakang, ternyata Ammar masih tidur, sementara Afkar udah masuk di kamar mandi. Zhafira pun memberi pagar bantal untuk Ammar. Kemudian Zhafira pun keluar untuk melihat anak-anaknya.
Saat Zhafira sampai di kamar anak-anak, Zhafira melihat anak-anaknya yang asik bermain berdua.
“Nak, ayo mandi,” ucap Zhafira masuk ke dalam kamar.
“Ma, adek dan Chayra udah mandi, tadi dimandiin bi Minah. ⁷Mama udah mandi?” balas Chayra bertanya.
“Belum, Sayang. Mama mau masak dulu, ayo ikut mama ke ruang tengah biar mama bisa mantau kalian dari dapur,” ucap Zhafira.
“Iya, Ma,” balas Chayra.
Zhafira menggendong Adrian, sementara Chayra dipegangnya dan berjalan sendiri di samping mamanya.
Sesampainya Zhafira di ruang tengah, dia menyuruh anak-anaknya untuk bermain berdua.
“Mama masak dulu, kalian di sini main ya, Nak,” titah Zhafira.
“Iya, Mama,” balas Chayra.
Zhafira pun berlalu pergi ke dapur dan mulai memasak dibantu dengan bi Minah dan bunda Hanum.
Tak lama kemudian, Afkar yang udah selesai mandi pun segera memakai baju yang udah disiapkan oleh Zhafira.
Setelah itu, dia melihat Ammar yang terbangun pun digendongnya dan dibawa menuju ke dapur.
__ADS_1
“Sayang, Ammar bangun nih. Aku mandiin ya?” tanya Afkar.
“Sini, Pak, biar saya yang memandikan,” sambar bi Minah.
Bi Minah pun segera membawa Ammar untuk dimandikannya, sementara Afkar berlalu pergi ke kamar kembali karena lupa membawa ponselnya.
“Nak, kamu mandi aja. Kan mau pergi, biar bunda yang lanjutkan, tinggal dikit juga lagian kan,” ucap bunda Hanum.
“Iya, Bund ... makasih ya, Bunda,” kata Zhafira dan dibalas senyuman oleh bunda Hanum.
Sementara Zhafira pun segera berlalu pergi menuju ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Zhafira melihat Afkar yang duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya.
“Mas, aku mandi dulu, ya,” ucap Zhafira.
“Iya, Sayang. Anak-anak mana?” tanya Afkar.
“Di ruang tengah, Mas,” jawab Zhafira.
“Yaudah kamu mandi gih sana, aku tungguin,” balas Afkar.
“Kenapa kamu gak langsung turun aja, Mas?” tanya Zhafira.
“Barengan aja ya, Sayang, soalnya ini juga lagi ngurusin kerjaan,” jawab Afkar.
“Oh gitu, iya deh, Mas. Kalau gitu, aku mandi dulu ya,” kata Zhafira dan mendapat anggukan dari Afkar.
Tak lama dari itu, setelah Zhafira selesai mandi, Afkar pun melihatnya dan hendak memeluk istrinya.
“Eh, Mas ... udah yaa, kita ditungguin loh,” kata Zhafira.
“Hmmm ... iya deh, Sayang,” balas Afkar dengan malas pun menyimpan ponselnya ke dalam saku.
“Nak, ayo cepat sarapan,” kata bunda Hanum.
“Iya, Bu,” balas keduanya dan mereka pun segera duduk lalu sarapan.
Setelah selesai sarapan, ayah Reyhan tiba-tiba ngomong sama Afkar dan Zhafira.
“Nak, boleh gak kalau ayah dan bunda kamu nengok sebentar aja ke RS, ayah dan bunda rasanya belum tenang kalau belum nengok papa dan mama kamu,” ucap ayah Reyhan.
“Gimana, Sayang?” tanya Afkar.
“Gapapa, Mas, kita jaga anak-anak dulu. Ayah dan bunda gapapa kalau mau ke rumah sakit,” jawab Zhafira.
“Makasih ya, Nak, kalau gitu ayah dan bunda berangkat sekarang ya. Tenang aja ayah dan bunda cuma sebentar kok,” balas ayah Reyhan.
“Iya, Ayah, kami di rumah aja dulu, ayah dan bunda hati-hati ya,” kata Zhafira.
“Iya, Nak. Assalamu’alaikum,” ucap bunda Hanum dan ayah Reyhan.
“Wa’alaikumussalam,” balas keduanya serentak.
Setelah bunda Hanum dan ayah Reyhan pergi, bi Minah yang juga udah selesai sarapan pun segera menemani bermain Chayra dan Adrian juga Ammar.
Zhafira dan Afkar kembali ke kamar untuk menyiapkan baju untuk Syara dan Rendra.
__ADS_1
“Sayang, kok kamu bawa baju?” tanya Afkar.
“Bukan buat kita, Mas, tapi buat Syara dan Rendra. Biar mereka mandi di rumah sakit aja, Mas. Takutnya kalau pulang dulu nanti terlambat kerjanya,” jawab Zhafira.
“Owhh, iya ... kamu benar juga, Sayang,” balas Afkar.
Setelah siap Zhafira menyiapkan baju, dia pun menuju ke ruang tengah menemui anak-anaknya.
“Mama,” panggil Chayra.
“Iya, Sayang ... kak Chayra main apa?” tanya Zhafira.
“Chaya main masak-masak, Ma,” jawab Chayra.
“Mama, papa di mana?” tanya Chayra setelahnya.
“Papa ada di kamar, ada kerjaan, Nak,” balas Zhafira membuat Chayra manggut-manggut.
Sementara di perjalanan, ayah dan bunda tampak mampir membelikan makanan untuk Rendra dan juga Syara.
Setelah itu, ayah dan bunda pun melanjutkan perjalanannya hingga sampai di rumah sakit.
“Bund, ayo kita masuk,” ajak ayah Reyhan karena melihat bunda Hanum yang malah asik dengan ponselnya.
“Iya, Yah ... ini loh bunda ngabarin Fira kalau kita udah sampai,” balas bunda Hanum.
Setelah selesai berbalas pesan, bunda hanum dan ayah Reyhan pun masuk ke dalam rumah sakit dan segera menuju ke ruangan yang udah diberitahu oleh Zhafira.
Sesampainya di ruangan yang dituju, ayah Reyhan pun mengetuk pintu.
Tok ... Tok ... Tok ...
Tak lama pintu ruangan pun terbuka dan menampilkan Syara.
“Eh ... ayah, bunda,” kata Syara yang segera menyalimi ayah Reyhan dan bunda Hanum.
“Iya, Nak ... gimana papa dan mama kamu?” tanya ayah Reyhan.
“Ayo masuk dulu, Yah, Bund,” balas Syara mempersilakan ayah Reyhan dan bunda Hanum masuk terlebih dahulu.
“Mbak,” panggil bunda Hanum yang mendekat pada brankar mama Latifah.
“Kamu, Num ... gimana cucu-cucuku?” tanya mama Latifah.
“Sehat semua, Mbak ... menunggu oma opa nya pulang mau ngajak main bareng lagi,” jawab bunda Hanum sembari tersenyum.
“Papa kamu belum sadar?” tanya ayah Reyhan pada Syara.
“Udah kok, Yah ... lagi tidur,” balas Syara.
“Nih ayah dan bunda bawain sarapan, kalian sarapan dulu,” ucap ayah Reyhan sembari menyodorkan kantong kresek.
“Makasih ya, Ayah, Bunda ... malah ngerepotin,” kata Rendra.
“Gapapa kok, Nak. Gak ngerepotin,” balas ayah Reyhan.
__ADS_1
Tak lama dari itu, papa Fadlan bangun dan memanggil ayah Reyhan.
“Han ...” lirih papa Fadlan membuat semua netra tertuju padanya.