
“Mas, maaf sebelumnya. Fira hanya penasaran aja, Mas. Apa yang menyebabkan kecelakaan kita kemarin itu Daffa? Bukannya sebelumnya dia udah dibawa papa dan ayah ke penjara?” tanya Zhafira perlahan takut membuat suaminya tiba-tiba marah karena Zhafira membahas tentang Daffa.
“Iya, Sayang, saat di bawa papa ke penjara Daffa terluka karena dipukul papa, dan akhirnya sama polisi dibawa ke klinik kesehatan. Saat di klinik, setelah diobati itu Daffa berhasil kabur. Dan akhirnya merencanakan untuk membuat kita celaka, Sayang,” jawab Afkar menceritakan pada Zhafira.
“Tapi, sekarang Daffa udah benar-benar di penjara ‘kan, Mas?” tanya Zhafira takut.
“Kamu tenang aja, Sayang. Daffa udah di dalam penjara kok,” jawab Afkar menenangkan istrinya.
“Alhamdulillah kalau gitu, Mas. Fira bisa tenang,” balas Zhafira.
“Emm ... Mas, kalau kerja, Zhafira dipecat gak, ya? Kan udah lama gak masuk kerja,” lanjut Zhafira.
“Kalau dipecat sih enggaklah, Sayang, malah kemarin Reigha dan Bayu jenguk kamu kok. Tapi maaf sebelumnya, apa kamu masih mau kerja, Sayang?” tanya Afkar.
“Pengennya sih mau kerja, Mas, tapi gimana sama Chayra ya, Mas?” balas Zhafira.
“Kalau Mas sih terserah kamu aja, Mas gak akan memaksa kamu kok,” ucap Afkar.
“Nantilah Fira pikirkan lagi, Mas,” kata Zhafira.
“Iya, Sayang, yang penting jangan sampai menelantarkan anak kita ya,” titah Afkar diangguki oleh Zhafira.
“Iya, Mas, insyaaAllah.”
“Yaudah, yuk kita tidur. Ini udah malam,” ajak Afkar. Dan mereka pun segera istirahat.
Satu minggu kemudian, tibalah lamaran Rendra dan Syara. Acara lamaran di rumah Papa Fadlan, dan saat ini rumah papa begitu ramai karena acaranya sangat meriah.
Tamu undangan pun berdatangan. Acara temu dua keluarga pun berjalan lancar dan pernikahan disepakati di adakan tiga bulan lagi dari sekarang.
Syara yang hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu pun merasa sedih karena kedua orang tuanya tidak bisa mendampingi.
Dan raut wajah kesedihan Syara, tentu terlihat oleh Zhafira, “Dek, kamu kenapa? Jangan sedih ya, kita semua selalu ada untuk kamu.”
Zhafira sangat erat memeluk Syara, memberikan energi positif pada Syara, “Kak, terima kasih ya, Kak Fira memang yang terbaik.”
Chayra yang melihat Zhafira dan Syara berpelukan pun ingin dipeluk juga oleh Mamanya.
Setelah acara lamaran selesai, mereka pun semua pamit pulang begituan dengan Afkar, Zhafira dan Chayra.
Di perjalanan pulang, Zhafira meminta Afkar untuk mampir dulu ke mini market, “Mas, kita mampir ke minimarket sebentar ya, ada yang mau Fira beli.”
“Iya, Sayang.” Afkar pun membelokan mobilnya ke minimarket.
Saat tengah memilah memilih barang belanjaan yang akan dibelinya, Zhafira yang mendorong troli sedangkan Afkar menggendong Chayra.
__ADS_1
Tanpa sengaja Afkar bertemu seseorang yang pernah naksir Afkar.
“Afkar, apakah kamu Afkar?” tanya seorang wanita bernama Linda yang tak lain adalah teman Afkar.
“Maaf, siapa ya? Saya lupa,” jawab Afkar.
“Aku dulu teman kamu saat kita kuliah, gak nyangka ya kita ketemu di sini,” balas Linda.
“Oh, iya. Saya baru ingat. Apa kabar?” tanya Afkar.
“Alhamdulillah baik, kamu gimana kabarnya?” balas Linda.
Zhafira yang merasa dicuekin karena Afkar asyik mengobrol dengan Linda tanpa memperkenalkan dirinya pun langsung pergi meninggalkan Afkar dan Linda begitu saja.
Zhafira terus menjauh dan masih mencari sesuatu yang dibutuhkan dengan suasana hati yang berantakan.
Setelah selesai belanja, Zhafira segera membayarnya dan pergi dari minimarket dengan dongkol.
Zhafira memesan ojek online dan segera meninggalkan tempat itu.
Afkar yang keasikan mengobrol hingga baru sadar kalau Zhafira udah tidak disampingnya pun izin pergi mencari istrinya.
Karena muter-muter gak ketemu, akhirnya Afkar memutuskan bertanya pada kasir.
“Mbak, tadi melihat istri saya nggak?” tanya Afkar.
Afkar pun segera mengeluarkan handphonenya dan membuka galeri lalu menunjukan ke mbak kasir.
“Istri saya yang ini,” ucap Afkar.
“Oh, mbak ini ... udah, Pak, mbak ini udah keluar dari sini 10 menit yang lalu!” seru mbak kasirnya membuat Afkar kaget.
“Duh ... kemana ya Zhafira?” gumam Afkar.
“Cari siapa kok bengong gitu?” tanya Linda.
“Oh, lagi istriku, kemana ya?” monolog Afkar.
“Tunggu di cafe depan aja yuk, kasihan nanti kamu kecapean sambil gendong anak kamu,” ajak Linda.
“Nggak, gak usah, aku tunggu di sini aja,” balas Afkar yang mulai merasa bersalah karena tadi keasyikan ngobrol sampai lupa istrinya. Afkar pun akhirnya memutuskan menelpon Zhafira.
“Assalamu’alaikum, Sayang, kamu di mana? Aku nungguin di luar nih, kasian Chayra dah kecapean di gendong,” ucap Afkar saat telpon udah terhubung.
“Wa’alaikumsalam, aku udah pulang, gak usah nyari aku. Puas-puasin aja ngobrol sama wanita itu,” balas Zhafira ketus dan langsung menutup telponnya.
__ADS_1
Afkar yang diputus telponnya oleh Zhafira pun kaget dengan sikap Zhafira. Dia langsung pergi ke mobilnya dan bergegas pulang ke rumah, bahkan saat Linda memanggil-manggil namanya pun tak di hiraukan.
Afkar naik mobil sangat cepat berharap segera sampai rumah. Setelah sampai rumah Afkar segera menidurkan Chayra di kamarnya dan segera menuju ke kamarnya untuk menemui Zhafira.
Saat masuk ke kamarnya, Zhafira tampak udah tidur, Afkar segera masuk kamar mandi untuk membersihkan badannya setelah itu merebahkan badannya di samping Zhafira.
Ketika Afkar memeluk Zhafira, Zhafira langsung menolak. Akhirnya mereka pun tidur dengan saling memunggungi.
Keesokan paginya, Zhafira setelah membantu bi Minah mengurus Chayra, Zhafira segera pergi dari rumah. Afkar yang baru keluar kamar pun mencari-cari istrinya tapi gak ketemu, Afkar pun akhirnya menanyakan ke bi Minah.
“Bi, ibu kemana ya? Kok dari tadi gak kelihatan?” tanya Afkar.
“Oh, setelah membuatkan makanan Non Chayra, ibu pamit pergi, Pak,” jawab bi Minah.
“Kemana ya, Bi? Apa ibu bilang mau kemana?” balas Afkar bertanya kembali.
“Nggak, Pak, Ibu cm bilang mau pergi gitu,” jawab bi Minah.
“Ya Allah, Fira ... kamu kemana,” gumam Afkar dan Afkar pun akhirnya pergi ke kantor tanpa sarapan.
Saat di jalan, Afkar pun sambil mencari istrinya siapa tau dia bisa menemukan. Dan ternyata benar, Afkar melihat istrinya sedang duduk di taman dekat rumahnya.
Afkar segera berbalok masuk ke parkiran taman. Lalu segera menghampiri istrinya, “Sayang, ngapain pagi-pagi di sini?”
Dan zhafira pun segera berdiri tanpa menjawab pertanyaan Afkar, Zhafira pun segera pergi meninggalkan Afkar.
“Ya Allah, kenapa dengan istriku? Kok sampai seaneh itu,” monolog Afkar.
Afkar yang memang gak peka pun segera masuk mobil lagi dan melaju ke kantornya. Tak berapa lama, Afkar pun sampai di kantor.
Afkar segera masuk ke ruangannya dan segera menyelesaikan kerjaannya. Hari ini Afkar sangat padat kerjaannya sampai Afkar melupakan jam makan siangnya.
Zhafira yang sejak tadi di rumah menunggu kepulangan suami yang gak kunjung datang, akhirnya Zhafira makan siang duluan. Zhafira udah mulai berfikir macam-macam.
‘Huh, Mas Afkar pasti makan siang sama wanita yang kemarin,’ batinnya dan itu malah membuat Zhafira sangat emosi.
Zhafira yang takut meluapkan emosi ke Chayra, Zhafira minta tolong pada bi Minah untuk menjaga Chayra terlebih dulu.
Dan Zhafira masuk kamar, Zhafira pun berbaring dan akhirnya ketiduran.
Di kantor, Afkar telah melupakan jam makan siang ya, setelah tiba jam pulang kantor, afkar segera keluar kantor menuju rumahnya.
Afkar melajukan mobilnya cepat, karena dia merasa hari ini sangat cuek sama istrinya.
Tak lama kemudian, Afkar masuk rumah. Di dalam rumah Afkar mencari istrinya tapi gak ada, kemudian Afkar mencari di kamar putrinya. Tapi yang ada hanya putrinya dan bi Minah.
__ADS_1
“Loh, Bi ... Ibu kemana?” tanya Afkar.