
‘Loh, ini kok ke dokter SpOG, ya?’ batin Zhafira dengan mengerutkan keningnya.
“Silakan duduk, Bu, Pak,” kata dokter mempersilakan Afkar dan Zhafira duduk.
“Bagaimana, Pak? Ada yang bisa kami bantu?” lanjut dokter bertanya.
“Begini, Dokter, saya ingin istri saya ini di USG, apa benar istri saya hamil?” balas Afkar bertanya.
“Kalau boleh saya tau, terakhir menstruasi kapan, Bu?” tanya dokter beralih menatap pada Zhafira.
“Bulan ini belum, Dokter. Udah terlambat satu minggu,” jawab Zhafira.
“Baiklah. Mari kita USG ya, Bu, Pak. Bu, silakan berbaring dulu,” titah dokter dan Zhafira pun mulai berbaring.
Dokter pun segera mengolesi gel di atas perut Zhafira dan mulai memutar-mutarkan alat ke atas perut Zhafira.
“Maaf, Pak, untuk janinnya belum terlihat ada. Bapak lihat ‘kan, ini kosong gak ada apa-apa,” ucap dokter.
“Tapi coba ya, Pak, kita lakukan USG Transvaginal,” saran dokter diangguki oleh Afkar.
Sementara Zhafira hanya diam karena masih bingung dengan Afkar yang tiba-tiba mengira dirinya hamil.
Dokter segera mengambil alatnya dan memgoleskan gel di ujungnya lalu dimasukan ke va***a Zhafira.
Dan ternyata terlihat. Hingga dokter pun berkata, “Ini ya, Pak. Ternyata masih di bawah janinnya.”
“Ja—jadi ... saya beneran hamil, Dok?” tanya Zhafira seakan tak percaya.
“Iya, Bu, selamat ya,” jawab Dokter dan Zhafira melihat Afkar yang melamun.
“Mas, kamu kok melamun?” tanya Zhafira yang beralih menatap suaminya.
“Emm, dokter, sebenarnya saya masih trauma tentang istri saya saat melahirkan tahun kemarin,” kata Afkar menoleh pada dokter.
“Kita sama-sama berusaha menjaga ibu dan calon bayinya ya, Pak. Kontrol rutin sebulan sekali,” jawab Dokter.
“Baik, Dokter. Terima kasih banyak,” balas Afkar.
“Dan ini resep vitamin dan penambah darahnya ya, Pak, tolong rutin di minum ya, Bu,” kata dokter menoleh pada Afkar dan Zhafira bergantian.
“Iya, Dokter, terima kasih.”
Setelah selesai konsultasi kemudian mereka pun pamit pergi meninggalkan rumah sakit.
Chayra yang tidur pun digendong Afkar dan mereka menuju ke bagian farmasi untuk menebus resep obat dari dokter.
Setelah semua selesai, Afkar dan Zhafira pun pulang menuju ke rumahnya.
“Sayang, karena kamu sekarang hamil, kamu harus mengurangi aktivitas, jadi kamu resign aja ya dari kantor Reigha,” pinta Afkar.
“Iya, Mas, besuk aku akan buat surat resignnya, ya.”
Afkar mengangguk dan melemparkan senyuman pada istrinya.
__ADS_1
“Mas, kita apa gak kasih tau papa, mama, ayah, dan bunda tentang kabar ini?” lanjut Zhafira bertanya pada Afkar.
“Nanti aja ya, Sayang, kalau kita udah di rumah,” jawab Afkar dan terlihat Zhafira manggut-manggut paham.
Afkar sesekali sambil menyetir melamun, Afkar takut tentang kehamilan Zhafira ini karena jarak sama Chayra masih satu tahun dan juga Afkar takut kalau Zhafira sampai koma lagi.
Saat melamun, Afkar sampai gak melihat ada orang menyebrang jalan.
“Awas, Mas!” teriak Zhafira panik.
“Astaghfirullah, ya Allah ... maaf ya, Sayang. Mas tadi melamun,” ucap Afkar.
“Mas, tolong berhenti dulu,” pinta Zhafira.
Afkar pun menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
“Mas, kamu kenapa?” tanya Zhafira.
“Gapapa, Sayang. Tadi agak ngantuk aja,” dusta Afkar.
“Mas, tolong jawab jujur, kamu kenapa? Kamu pasti takut ‘kan tentang kehamilan ku kali ini?” balas Zhafira membuat Afkar menoleh kaget.
“Kok kamu tau, Sayang?” tanya Afkar.
“Mas, aku tuh melihat sejak keluar dari ruang dokter. Aku perhatikan, kamu itu melamun terus, apa-apa gak fokus,” balas Zhafira.
“Iya, Sayang, jujur ... aku takut kalau kehamilan kamu kali ini seperti waktu melahirkan Chayra,” kata Afkar.
“Mas, jangan berfikiran negatif dulu. Mending kita sama-sama berdo’a dan selalu berpikir positif,” ucap Zhafira.
“Bismillah ya, Mas, insyaaAllah Fira dan calon anak kita akan selamat dan sehat,” balas Zhafira.
Dan diaamiinkan oleh Afkar.
Tak lama, mobil mereka pun memasuki halaman rumah mereka.
Afkar segera turun dan membukakan pintu Zhafira. Setelah itu, membukakan pintu belakang untuk menggendong Chayra yang tertidur di carseat. Setelahnya mereka masuk ke rumah dan segera beristirahat.
Saat Chayra ditidurkan, Chayra pun terbangun jadinya Chayra dijagain sama bi Minah.
Sementara itu, di Bali lebih tepatnya di hotel tempat Syara dan Rendra bulan madu.
Saat ini mereka baru aja selesai membersihkan badannya setelah malam pertamanya, lalu Syara yang masih kesakitan saat berjalan pun malas diajak makan di luar.
Akhirnya Rendra memesankan makanan dan makan di dalam kamar.
“Mas, aku telpon kak Fira dulu ya, sambil nunggu makanan datang,” ucap Syara.
“Iya, sekalian telpon Mama dan Papa ya,” balas Rendra diangguki oleh Syara.
Syara pun yang masih di tempat tidur menelpon Zhafira. Tapi, berkali-kali ditelpon, Zhafira gak mengangkat. Akhirnya Syara pun memutuskan untuk menelpon papa Fadlan.
“Assalamu’alaikum, Papa,” kata Syara tatkala panggilan udah terhubung.
__ADS_1
“Wa’alaikunussalam, Nak. Gimana? Lancar ‘kan honeymoonnya?” tanya papa Fadlan.
“Alhamdulillah, Pa,” jawab Syara yang tersenyum.
“Emm ... Itu, Pa, kak Fira kokogak bisa ditelpon ya, Pa, apa masih di rumah papa?” tanya Syara.
“Fira udah pulang, Nak, mungkin lagi istirahat. Nanti sore aja telpon lagi,” jawab papa Fadlan.
“Oh, syukurlah, Pa. Syara dari kemarin kepikiran, takutnya kak Fira marah sama Syara,” balas Syara.
“Loh, kenapa kok marah? Kan Fira gak pernah marah sama kamu, Nak?”
“Kemarin kan Syara godain kak Fira, sampai akhirnya kak Fira keluar dari mobil dan gak jadi antar ke bandara, Pa,” lirih Syara.
“Oh, mungkin aja Fira lagi sensitif, kata mama sih itu gejala hamil muda,” ucap papa Fadlan membuat Syara terkejut.
“Hah, beneran tuh, Pa? Kak fira hamil?” tanya Syara.
“Kemungkinan, Nak, Afkar juga belum ngabari papa kok,” jawab papa Fadlan.
“Alhamdulillah akhirnya aku mau punya ponakan lagi,” kata Syara.
Dan Syara mendengar pintu diketuk, akhirnya Syara pamit ke papa Fadlan. Lalu dengan jalan pelan-pelan Syara membukakan pintunya.
“Selamat siang, Bu, ini pesanan makanan untuk ibu.”
“Owhh, iya. Tolong taruh di sana ya,” pinta Syara.
Waiters pun setelah selesai pamit pergi, Syara memberikan tip untuk waiters tersebut.
Tak lama kemudian, Rendra keluar dari kamar mandi.
“Wah, udah datang makanannya, Dek?” tanya Rendra.
“Udah nih, Mas. Ayo kita langsung makan. Dah lapar banget,” jawab Syara.
Akhirnya mereka pun makan siang, Syara makan siang dengan lahapnya.
“Dek, pelan-pelan makannya!” seru Rendra.
“Iya, Mas, aku makan cepet-cepet karena mau menelpon kak Fira. Kata papa kak Fira hamil, Mas,” balas Syara.
“Ya walaupun buru-buru mau nelpon tapi ya jangan seperti itu lah. Udah makan dulu, jangan buru-buru. Kak Fira gak akan kemana-mana kok,” ucap Rendra.
Syara pun menurut dia makan pelan-pelan sampai akhirnya semua makanan yang di pesan pun habis tak tersisa.
“Udah selesai. Mas, aku telpon kak Fira dulu ya, sebentar kok.”
“Iya, gapapa. Yang tadi malam di lanjut nanti malam lagi saja. Aku ke balkon dulu ya. Mau merokok,” balas Rendra.
Setelah menghabiskan makanannya, Syara pun segera cuci tangan dan segera mengambil ponselnya untuk menelpon Zhafira.
Dan Rendra pun akhirnya keluar menuju balkon setelah Rendra duduk di balkon Syara pun mulai menelpon Zhafira.
__ADS_1
Tapi sampai beberapa kali tetap panggilan dari Syara pun diabaikan.
Akhirnya Syara pun ...