
“Emangnya siapa perempuan itu?” tanya Afkar.
“Coba bapak lihat videonya udah saya kirim ke bapak. Dia bawa pisau, Pak, semua panik,” kata pegawai tersebut.
Dan Afkar pun segera menutup telponnya kemudian melihat video yang dikirim ke HPnya.
“Ya Allah ... gak henti-hentinya wanita itu bikin ulah,” ucap Afkar geram.
“Sayang, aku ke restoran dulu ya, kamu mau ikut?” tanya Afkar.
“Iya mas, emangnya boleh aku ikut?” balas Zhafira memastikan.
“Ya pastilah, Sayang, kamu boleh ikut. Ayok kita siap-siap,” ajak Afkar.
“Aku gini aja, Mas, aku pamit ke bi Minah dulu ya,” kata Zhafira.
“Iya, Sayang, nanti kamu langsung tunggu di depan aja ya!” seru Afkar.
Zhafira pun mengangguk dan keluar dari kamar menuju kamar Chayra.
Setelah sampai kamar Chayra, bi Minah pun dipanggil Zhafira dan bi Minah segera keluar.
“Ada apa ya , Bu?” tanya bi Minah.
“Saya dan mas Afkar keluar sebentar ya, Bi, restoran sedang ada sedikit masalah,” jawab Zhafira.
“Iya, Bu, saya akan jaga Non Chayra. Ibu dan bapak hati-hati ya, Bu,” titah bi Minah.
“Iya, Bi, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam, Bu,” balas bi Minah.
Dan Zhafira pun segera keluar menuju mobil dimana Afkar udah menunggu di luar.
Setelah menutup pintu, Zhafira segera masuk ke mobil dan Afkar pun bergegas melajukan mobilnya.
Tak berapa lama, mereka sampai di restoran dan ternyata Linda masih mengamuk di restoran tersebut.
“Sayang, kamu tolong telpon polisi, dan aku akan berusaha menenangkan dia,” titah Afkar.
“Iya, Mas. Kamu hati-hati ya, Mas,” balas Zhafira yang diangguki oleh Afkar.
Afkar pun segera turun dan perlahan mendekat ke Linda, “Linda, apa yang lo lakukan di sini?”
“Akhirnya kamu datang juga, Afkar, aku menunggu kamu di sini,” jawab Linda dengan centilnya.
__ADS_1
“Lo tau, perbuatan gila lo ini sangat meresahkan, lihat itu pengunjung banyak yang gak jadi masuk. Semuanya gara-gara lo!” seru Afkar yang terlihat marah.
“Aku akan berhenti kalau kamu mau nikahin aku, Afkar,” balas Linda.
“Jangan gila lo! Sampai kapanpun, gue gak akan menduakan Zhafira,” ucap Afkar dengan penuh penekanan hingga tampak jelas terdengar oleh karyawan restoran juga.
“Baiklah, kalau kamu gak bisa aku miliki, istri kamu pun gak akan bisa miliki kamu,” kata Linda yang udah emosi.
“Zhafira istri gue, dan lo harus dengar baik-baik kalau gue udah jadi milik dia sepenuhnya dan gue akan tetap jadi miliknya,” balas Afkar.
“Nggak! Aku gak mau dengar!” teriak Linda sembari menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya.
“Linda, pelankan suara lo! Lo sangat menggangu di sini,” gerutu Afkar kesal.
“Afkar, aku gak akan berhenti sebelum kamu bilang kata iya,” teriak Linda kembali sembari menekan kata iya pada kalimatnya.
“Wanita gila ... gue akan panggil security untuk mengusir lo!” seru Afkar.
Linda dan Afkar gak tau kalau Zhafira udah berada di dekat mereka dan menyaksikan serta mendengarkan apa yang sedari tadi Afkar dan Linda katakan.
Dan saat Afkar akan memanggil security, Linda secara tiba-tiba mengambil pisau dari dalam tasnya dan akan menusukkan ke Afkar.
“Awas, Mas!” teriak Zhafira berlari dan mendorong Afkar sampai Afkar terjatuh bersamaan dengan Zhafira. Tapi, lengan Zhafira terkena gorengan pisau Linda.
“Aww!” ringis Zhafira.
“Kurang ajar lo, Linda, gue dari tadi udah berusaha sabar menghadapi sikap lo, tapi karena lo udah melukai istri yang gue cintai, sekarang rasakan apa yang gue lakukan,” bentak Afkar membuat karyawan restoran kaget melihat kemarahan Afkar.
Afkar pun segera menampar Linda dan berhasil melayangkan tamparan yang mendarat sempurna di pipi kiri Linda. Dan, saat akan menampar yang kedua, polisi udah tiba dan segera menangkap Linda.
“Pak polisi, tolong bawa wanita itu, dia udah melukai istri saya!” pinta Afkar.
“Baik, Pak, tapi tolong bapak ikut kami untuk jadi saksi,” balas polisi.
“Iya, Pak, tapi saya akan membawa istri saya ke rumah sakit dulu,” kata Afkar.
Polisi tersebut beralih melihat Zhafira yang terluka. Kemudian berkata, “Baiklah, kalau begitu kami permisi. Kami tunggu di kantor polisi ya, Pak.”
Linda yang gak terima ditangkap polisi masih berteriak, “Afkar, ingat ya, walaupun aku di tahan dalam penjara, setelah aku bebas aku gak akan membiarkan kamu tenang dengan wanita itu.”
Afkar pun segera menggendong Zhafira dan mengabaikan kata-kata Linda.
Afkar segera membawa Zhafira ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Afkar segera menggendong Zhafira masuk ke IGD, Afkar sangat cemas karena darah keluar sangat banyak.
Setelah di periksa ternyata luka di lengan tidak begitu dalam, lalu saat selesai dipasangkan perban, Zhafira pun diperbolehkan pulang.
__ADS_1
“Sayang, maafin Mas, ya, karena aku kamu jadi seperti ini,” lirih Afkar merasa bersalah saat udah berada di dalam mobil.
“Mas, Fira gapapa kok, Mas,” balas Zhafira.
“Sayang, kamu pasti pusing, darah yg keluar sangat banyak,” kata Afkar yang masih cemas melihat istrinya.
“Iya sih, Mas, aku pusing. Boleh aku tidur, Mas? Nanti sampai kantor polisi aku gak usah turun ya,” ucap Zhafira.
“Iya, Sayang, kamu tidurlah dulu,” balas Afkar.
Setelah merebahkan sandaran kursi dan dilihatnya Zhafira udah nyaman, Afkar pun segera melajukan mobilnya lagi menuju ke kantor polisi.
Saat sampai di kantor polisi dan afkar memberikan keterangan serta bukti CCTV yang emang udah Afkar persiapkan dari karyawan kantor, Afkar pun pulang ke rumah saat semua telah selesai.
Sesampainya di rumah, Afkar sengaja gak membangunkan Zhafira. Afkar langsung membopong dan membawa langsung masuk ke kamar.
Setelah berganti pakaian, Afkar pun keluar melihat anaknya sebentar yang ternyata tengah tertidur. Kemudian, dia kembali ke kamar dan dia pun ikut berbaring di samping Zhafira.
Keesokan paginya, Afkar terbangun saat mendengar suara gemercik air yang artinya di dalam ada yang mandi.
Afkar segera menyusul ke kamar mandi, “Sayang, kamu kan sakit, kok mandi?”
“Gapapalah, Mas, kan yang sakit lengannya, lainnya enggak kok,” balas Zhafira.
“Tapi, kamu semalam itu keluar darah banyak banget lo, Sayang, kamu emangnya gak pusing apa?”
“Suamiku sayang, sakit itu jangan dimanja, Mas, aku udah sehat kok,” kata Zhafira.
“Baiklah, kalau udah sehat ya alhamdulillah. Yaudah, yuk kita sholat berjamaah,” ajak Afkar.
“Iya, Mas, aku udah wudhu kok,” ucap Zhafira.
Dan mereka pun melaksanakan sholat subuh berjamaah. Setelah sholat, saat Zhafira hendak ke dapur, Afkar segera menahan tangannya
“Sayang, untuk hari ini, biar aku yang masak spesial untuk istriku sayang,” titah Afkar.
Zhafira pun tersenyum dan berkata, “Sering-sering ya, Mas, masakin istri.”
“Oke siap, apa pun keinginkan istriku tercinta akan aku turuti,” balas Afkar.
“Gombal deh kamu, Mas,” celetuk Zhafira tertawa.
Afkar pun segera ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Setelah selesai, Afkar segera memanggil Zhafira untuk diajak sarapan.
Setelah selesai sarapan, Afkar pun bersiap pergi ke kantor.
__ADS_1
“Mas, hati-hati, ya ... Mas gak usah ngebut loh, ya!” seru Zhafira.