
Sementara di KUA, Afkar yang melihat lestari dalam pengaruh obat pun tertawa puas.
“Hahaha ... rasain, siapa suruh macam-macam sama aku. Tau rasa ‘kan,” ucap Afkar dengan tawanya.
“Eh, udah mau makan siang, gue harus jemput istri tercinta nih, takutnya kelamaan nunggu,” monolog Afkar dan segera keluar dari ruangan dan tak lupa mengunci ruangannya .
Afkar segera mengendarai mobilnya menuju kantor Zhafira.
Saat sampai di kantor, ternyata Zhafira udah di depan menunggu Afkar.
Zhafira segera mendekat dan masuk mobil, “Mas, tumben telat kesininya?” tanya Zhafira.
“Iya, Sayang. Maaf ya, tadi Mas mampir dulu ke DEPAG untuk minta cuti selama kamu akan melahirkan,” jawab Afkar.
“Oh ... trus gimana, disetujui, Mas,” balas Zhafira.
“Belum, Sayang, kan gak bisa langsung keputusannya nunggu besok.” Zhafira tampak manggut-manggut.
Mereka gak sadar kalau akan ada bahaya yang mengancam. Saat tiba di persimpangan, tiba-tiba ada mobil truk melaju kencang yang akan menabraknya mobil Afkar.
“Mas, awas ...hati-hati!” seru Zhafira yang panik.
Afkar pun nampak kaget dan gak bisa menghindar lagi. Kecelakaan pun terjadi.
Ternyata yang di truk itu adalah Daffa. Daffa berfikir kalau Zhafira gak mau kembali sama dia, orang lain pun gak boleh milikin dan bahagia dengan Zhafira.
Daffa segera turun dari truk dan menghampiri mobil Afkar. Daffa mendekati Zhafira yang pingsan.
“Maafkan aku, Sayang, ini terpaksa aku lakukan karena kamu udah menolakku untuk kembali sama kamu,” tutur Daffa mencium kening Zhafira dan segera pergi meninggalkan lokasi itu sebelum orang-orang datang.
Daffa pergi dengan menggunakan motor yang memang udah disiapkan di dekat tempat itu.
Orang-orang yang mengetahui kecelakaan tersebut segera memanggil ambulans dan juga polisi.
Tak berapa lama, Papa dan Ayah pun juga ditelpon oleh polisi yang mengabarkan kalau mereka kecelakaan. Mereka pun panik dan segera ke rumah sakit.
Mereka pun telah tiba di rumah sakit dan langsung menuju ke IGD.
“Dokter, gimana keadaan anak dan menantu saya?” tanya Papa saat tepat berdiri di depan IGD dan bertemu dokter di sana.
“Maaf, Pak, siapa yang bapak maksud?” balas dokter bertanya.
“Tadi siang yang katanya korban kecelakaan, yang perempuannya sedang hamil besar,” jawab Papa.
“Oh ... yang kecelakaan itu masih belum sadar, Pak. Sebentar ya ... saya akan memeriksa anak bapak yang hamil tersebut,” ucap dokter segera masuk kembali ke ruang IGD.
Tak berapa lama, dokter pun kembali menemui keluarga Zhafira.
“Maaf, Pak ... anak bapak hari ini juga harus melakukan operasi, karena anak bapak saat ini sudah kehilangan banyak darah,” ucap dokter.
__ADS_1
“Baiklah, Dokter. Lakukanlah yang terbaik untuk anak saya,” balas Papa.
“Kalau suaminya gimana, Dokter?” sambar Ayah langsung bertanya pada dokter.
“Kalau suaminya masih pingsan, Pak,” jawab dokter.
Kemudian dokter segera memberitahukan perawat untuk segera menyiapkan ruang operasi.
“Baiklah, Pak. Silakan bapak urus administrasinya,” ucap perawat.
Papa pun segera menuju ke bagian administrasi, “Ma, Mama di sini dulu sama Reyhan dan Hanum ya, Papa ke depan sebentar.”
Setelah Papa menyelesaikan administrasi, mereka pun segera menuju ke ruang operasi. Mereka menunggu Zhafira dengan harap-harap cemas.
“Bunda, kamu tolong tungguin Afkar ya, kasihan nanti kalau sadar gak ada yang jaga,” titah Ayah pada sang istri.
“Iya bener itu, mending ada yang jaga Afkar,” imbuh Papa.
“Baiklah, aku ke ruang IGD. Kalau ada perkembangan dari dalam ruang operasi, kabari ya,” ucap Bunda diangguki oleh semuanya.
Bunda Hanum pun segera ke ruang IGD untuk menunggui Afkar.
Tak betapa lama, Afkar pun sadar, “Akhh,” ucap Afkar mulai sadar.
Bunda Hanum pun segera menghampiri Afkar, “Alhamdulillah kamu udah sadar, Nak.”
“Afkar di mana, Bund? Fira mana?” tanya Afkar.
Perawat pun segera memanggil dokter. Kemudian dokter memeriksa Afkar.
Setelah memeriksa, dokter pun menyampaikan pada Bunda kalau Afkar baik-baik saja dan gak ada luka yang serius. Lalu dokter segera meninggalkan Afkar dan Bundanya.
Setelah dokter dan perawat pergi, Afkar kembali bertanya ke Bunda.
“Bund, Fira mana? Cepat katakan, Bunda,” ucap Afkar yang mengkhawatirkan istrinya.
“Fira sedang di ruang operasi, Nak, dokter harus mengeluarkan anak kalian karena Zhafira kehabisan banyak darah,” balas Bunda.
“Bund, ayo bunda antarkan Afkar ke tempat Zhafira,” pinta Afkar.
Bunda bergegas mengambilkan kursi roda dan segera membawa Afkar ke ruang operasi.
Saat sampai ruang operasi, semua menghampiri Afkar dan bertanya, “Nak, kok kamu kesini? Emang kamu udah kuat?” tanya Ayah.
“Afkar gapapa, Yah. Gimana kondisi Fira, Yah, Pa?” balas Afkar.
“Masih dioperasi, Nak,” jawab Papa.
“Sebenarnya apa yang terjadi, kok bisa kalian kecelakaan?” lanjut Papa bertanya.
__ADS_1
“Kami tadi rencana mau makan siang, Pa, kami pun melajukan mobil dengan pelan. Tapi tiba-tiba dari depan ada truk yang melaju sangat cepat dan menabrak kami, Pa,” jelas Afkar bercerita di depan kedua orang tua dan juga mertuanya.
“Hmm ... pasti itu Daffa, dia mau balas dendam pada kita,” ucap Papa penuh dengan keyakinan tertuju pada Daffa.
Tak berapa lama perawat pun keluar dari ruang operasi, “Maaf, Pak, Bu, pasien membutuhkan darah O+ adakah di antara bapak atau ibu yang darahnya sama?” tanya perawat tersebut.
“Golongan darah saya sama, Sus,” sahut Papa.
“Baiklah, Pak. Apa ada lagi? Kami butuh 3 lagi,” balas perawat.
“Saya, Dokter. Golongan darah saya juga O+,” ucap Bunda.
“Baiklah mari ikut saya. Kurang dua lagi, tolong secepatnya dicarikan ya, Pak,” titah perawat pergi mengantar Papa dan Bunda ke ruang transfusi darah.
“Gimana ini, kurang dua lagi siapa ya,” lirih Afkar.
“Coba kamu telpon Syara, Nak. Darah dia sama seperti Fira,” balas Mama yang sejak tadi diam memikirkan siapa darah yang sama dengan putrinya.
“Baiklah, Ma, sebentar.” Afkar mencari-cari ponselnya ternyata gak ada.
“HP Afkar gak ada, Ma. Afkar boleh pinjam HP mama?” ucap Afkar.
Den dengan segera Mama memberikan HPnya pada Afkar. Kemudian, Afkar segera menghubungi Syara.
“Assalamu’alaikum, Dek. Kamu bisa ke rumah sakit sekarang?” ucap Afkar saat telponnya udah terhubung dengan Syara.
“Wa’alaikumussalam, Kak, ada apa? Siapa yang sakit?” tanya Syara.
“Kakak dan kak Fira tadi kecelakaan, Dek, dan kak Fira saat inu butuh darah. Bisa kamu bantu kakak?” jawab Afkar.
“Astagfirullah ... iya, Kak. Golongan darah Syara sama dengan Kak Fira. Syara izin sebentar trus langsung ke rumah sakit ya, Kak,” balas Syara.
“Tapi, Dek, kamu ajak teman kamu satu aja yang golongan darahnya sama ya,” pinta Afkar.
Dan setelah di-iyakan oleh Syara, mereka mengakhiri telponnya.
Syara segera izin ke kepala bagian dan pamit kepada Rendra untuk kerumah sakit juga sekalian mencarikan teman yang golongan darahnya sama.
Saat Syara pamit pada Rendra, ternyata Rendra memberitahukan kalau golongan darahnya sama akhirnya mereka pun bersamaan pergi ke rumah sakit.
Tak lama, mereka udah sampai di rumah sakit dan perawat segera membawa mereka untuk transfusi darah.
Tak berapa lama, mereka pun selesai dan duduk semua di ruang operasi.
Lampu operasi padam menandakan operasi sudah selesai. Dokter keluar dari ruangan dan memberitahukan ke keluarga pasien.
Afkar yg melihat dokter keluar segera menghampiri dan bertanya, “Dokter, bagaimana keadaan istri dan anak saya?”
“Maaf sebelumnya, Pak. Kabar ini terpaksa saya beritahukan,” balas Dokter.
__ADS_1
“Ada apa, Dok? Katakan!” seru Afkar yang tak sabar dan terlalu mencemaskan istri juga anaknya.