
Dan saat sampai di pertigaan, tiba-tiba ban mobil yang ditumpangi mereka kempes.
“Loh, Mas ... ada apa? Kok mobilnya jalannya seperti ini?” tanya Zhafira.
“Sepertinya bannya nih kempes, Sayang. Kita berhenti di depan aja, ya. Jalannya gak terlalu sepi di depan,” jawab Afkar dan mendapat anggukan mantap oleh Zhafira.
Dan setelah sampai depan sesuai yang Afkar katakan sebelumnya, Afkar pun menghentikan mobilnya. Dan segera menelpon papa Fadlan.
“Assalamu’alaikum, Pa,” kata Afkar mengawali.
“Wa’alaikumussalam, Nak, ada apa?” tanya papa Fadlan.
“Pa, bisa gak ngrepotin papa? Ini kami masih sampai di perempatan depan, Pa, tapi mobil yang kami naikin ini tiba-tiba bannya kempes,” jawab Afkar.
“Kamu sharelock aja, papa dan rendra segera ke sana,” ucap papa Fadlan.
“Iya, Pa. Terima kasih, Pa. Maaf ngrepotin,” balas Afkar.
Dan setelah selesai menelpon, mereka pun menunggu datangnya papa Fadlan.
Namun, saat mereka menunggu, tiba-tiba ada dua motor yang berhenti. Dan turunlah keempat orang itu dari motornya.
“Mas, siapa dia?” tanya Zhafira yang mulai takut.
“Semuanya di dalam mobil aja, jangan turun. Kalo Afkar dan ayah turun, langsung dikunci aja pintunya,” titah Afkar.
“Tapi kamu hati-hati ya, Mas,” kata Zhafira.
“Iya, kamu harus hati-hati, sepertinya mereka orang jahat,” ucap bunda Hanum.
“Iya ... Fira dan bunda jangan khawatir,” balas Afkar.
Dan keempat orang itu sudah semakin dekat, turunlah Afkar dan ayah Reyhan bersama.
“Ada apa ya, Bang?” tanya Afkar.
“Serahkan barang berharga kalian!” Salah satu preman menyeru.
“Kami gak bawa apa-apa. Jangan ganggu kami,” kata Afkar.
Dan tak menunggu lama, mereka pun segera menyerang Afkar.
Afkar yang memang jago beladiri pun berhasil melumpuhkan keempat preman itu, setelah preman itu kabur ayah Reyhan dan Afkar langsung masuk ke mobil lagi. Zhafira segera memberikan air minum untuk suami dan mertuanya.
“Wahhh, gak sangka kamu ternyata jago beladiri ya, Mas,” puji Zhafira.
“Pastilah, ‘kan anak Ayah, itu dulu yang ngajarin Ayah loh, Nak,” sambar ayah Reyhan.
“Apa, Yah, sejak kapan ayah ngajarin Afkar? Kalau gitu, berarti ayah jago juga dong,” balas Afkar.
“Karena ilmunya udah turun semua di kamu, jadi ayah ya udah gak bisa apa-apa,” kata ayah Reyhan dan di sambut ketawa semua yg ada di mobil.
__ADS_1
Tak lama kemudian, papa Fadlan dan Rendra membawa mobil, masing-masing. Setelah papa Fadlan turun, ayah Reyhan dan Afkar pun segera turun.
“Itu ada mobil dua, kalian bawa aja ... ini udah malam, jadi gak perlu nganterin Afkar dan Fira,” kata papa Fadlan.
“Oh ... iya, Besan. Makasih banyak ya,” ucap ayah Reyhan.
“Kayak sama sama siapa aja, Han,” balas papa Fadlan.
Dan mereka pun segera masuk ke mobil masing-masing. Sedangkan, papa Fadlan pakai mobil yang bannya kempes dengan Rendra yang menyetir.
Mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
****
Tiga bulan kemudian, kandungan Zhafira udah memasuki usia sembilan bulan lebih, sedangkan Syara baru melakukan acara tiga bulanan kehamilannya.
Afkar yang sebelumnya kerja di KUA, sebulan yang lalu udah resign karena Lestari yang selalu mengganggunya. Sambil menunggu kepindahan kerjanya, Afkar mengurus restorannya.
Saat Afkar sibuk meeting dengan karyawan restoran, tiba-tiba Afkar dikagetkan dengan suara telpon. Saat Afkar melihat ternyata yang menelpon bunda Hanum.
“Iya, Bund, Assalamu’alaikum,” kata Afkar mengawali.
“Wa’alaikumussalam, Nak, kamu cepat pulang ya ... sepertinya istri kamu mau melahirkan,” ucap ibu Hanum.
“Ya Allah ... iya, Bund, Afkar akan segera pulang,” balas Afkar.
Dan Afkar pun segera pamit ke managernya kemudian segera pergi meninggalkan restorannya. Afkar pun melajukan mobilnya dengan sangat cepat, sekitar lima belas menit Afkar pun sudah sampai di rumahnya. Zhafira segera dituntun keluar dan bunda Hanum pun membawa tas persiapan melahirkan. Mereka segera masuk mobil dan segera ke rumah sakit.
Dokter pun langsung memeriksa kondisi Zhafira dan ternyata udah pembukaan lima.
“Sus, suster ... tolong segera bawa pasien ini ke ruang bersalin pasien ini sebentar lagi melahirkan!” perintah dokter jaga di IGD.
“Baik, Dokter, akan segera kami pindahkan,” ucap perawat tersebut.
Dan perawat pun langsung membawa Zhafira ke rawat inap yang satunya perawat menelpon dokter obgyn untuk segera menangani Zhafira.
Afkar yang di luar ruang bersalin pun merasa cemas, dia takut kalau kejadiannya seperti waktu melahirkan Chayra.
Saat dokter masuk IGD, Afkar segera memanggil, “Dokter, boleh saya menemani istri saya?”
“Silakan, Pak, mari masuk,” balas dokter dan diangguki oleh Afkar.
“Bunda, Afkar masuk dulu ya. Tolong do'akan Fira ya,” ucap Afkar pada bunda Hanum.
“Iya, Nak ... ibu pasti do'akan,” balas bunda Hanum.
Dan mereka pun segera masuk ke ruang bersalin. Zhafira yang mengetahui ada Afkar pun langsung memanggilnya.
“Mas,” lirih Zhafira.
“Iya, Sayang, sabar ya ... kamu hebat kamu kuat,” bisik Afkar tepat di samping telinga Zhafira
__ADS_1
“Tapi ini sakit banget, Mas,” lirih Zhafira kembali.
“Ibu, miring ke kiri ya, Bu,” titah dokter.
Dan Zhafira pun menurut. Selang setengah jam, dokter pun kembali mengecek pembukaan ternyata udah pembukaan delapan.
“Sebentar lagi, Bu. Sabar ya,” ucap dokter.
Afkar terus di samping Zhafira dan memberi semangat sambil membacakan do’a untuk anak dan istrinya.
Dan saat Zhafira kembali merasakan kontraksi, Zhafira segera mencakar Afkar, Afkae pun hanya meringis menahan sakit.
Dokter kembali mengeceknya dan ternyata udah pembukaan lengkap.
“Bu, sudah lengkap ya pembukaannya. Kalau ibu merasa ingin BAB langsung mengejan ya, Bu. Tunggu saya memberi aba-aba ya, Bu,” titah dokter.
“Ayo, Bu, mulai mengejan,” ucap dokter dan Zhafira pun mengejan.
Eungghhhhhhh....
Dan Zhafira pun berhenti sejenak, setelah merasa lagi, Zhafira pun kembali mengejan dan dokter pun juga Afkar terus membantu memberi semangat sampai kepala bayi udah kelihatan.
“Ayo, Bu, sebentar lagi. Sekali lagi mengejan, kepalanya udah kelihatan, Bu,” titah dokter kembali.
Eungghhhhhhh .... eungghhhhh
Dan tak lama, akhirnya terdengarlah tangisan bayi laki-laki menggema dalam ruangan tersebut.
Oek...Oek...Oek...
Terdengarlah tangisan bayi dan Zhafira pun menitikkan air mata. Afkar yang melihat pun tak henti-hentinya mengucapkan syukur.
“Alhamdulillah, terima kasih ya, Sayang,” kata Afkar mencium kening Zhafira.
Dan dokter pun segera memeriksa Zhafira, perawat segera membantu membersihkan bagian inti Zhafira dan dokter anak pun segera memeriksa bayi Zhafira.
Setelah bayinya bersih, Afkar segera mengadzaninya, setelah memberikan kembali ke perawat Afkar pun segera keluar menyampaikan kabar gembira ini ke bunda Hanum.
Ketika Afkar membuka pintu, bunda Hanum segera menghampirinya, “Gimana, Nak, istri kamu udah melahirkan?” tanya bunda Hanum.
“Alhamdulillah, Bu, anak kedua Afkar laki-laki,” jawab Afkar sembari tersenyum.
“Alhamdulillah, ibu telpon ayah kamu dulu dan sekalian mertua kamu,” ucap bunda Hanum.
Bunda Hanum pun segera menelpon suaminya, “Assalamu’alaikum, Ayah, kami sekarang di rumah sakit, Fira udah melahirkan.”
“Wa’alaikumussalam, Bu. Alhamdulillah ... ayah langsung ke rumah sakit,” balas bunda Hanum.
“Yah, tolong sekalian kabari besan kita ya. Assalamu’alaikum,” kata bunda Hanum.
“Iya, Bunda, nanti ayah langsung kabari besan kita. Wa’alaikumussalam,” balas ayah Reyhan yang kemudian menutup telponnya.
__ADS_1