Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH. 42 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

Tok...Tok...Tok...


“Siapa tuh, Kak?” tanya Syara yang mendengar ketukan pintu dari luar rumah.


“Siapa ya, Mas, perasaan kita gak ada janji sama orang deh,” balas Zhafira.


“Biar aku aja yang buka,” kata Afkar berlalu pergi menuju ke pintu utama.


Zhafira dan Syara juga Rendra pun ikut menyusul menuju ke ruang tamu ketika pintu di buka ternyata Linda yang datang ke rumah.


“Hai, Afkar,” sapa Linda yang tiba-tiba memeluk Afkar.


Afkar yang tau akan di peluk segera mundur sehingga pelukan itu tidak terjadi.


“Ngapain lo ke sini?” tanya Afkar.


“Aku mau minta langsung ke istri kamu,” jawab Linda membuat Afkar kesal.


“Eh, lo itu jadi perempuan gak punya harga diri ya. Sekarang lo cepat keluar dari rumah ini!” bentak Afkar membuat Zhafira bertanya.


“Mas, sebenarnya ada apa?” tanya Zhafira.


“Maafkan saya ya, Mbak, saya terpaksa langsung ke sini karena saya chat Afkar dianya gak setuju. Jadi, aku mau kita ngobrol sebagai sesama perempuan,” jawab Linda.


“Mau ngobrol apa? Silakan duduk,” balas Zhafira.


“Sayang, ngapain dia di suruh duduk, suruh aja dia pulang, Sayang,” kata Afkar yang gak nyaman dengan adanya Linda.


“Mas, gak boleh gitu, dia ‘kan tamu jadi harus kita hargai dong, Mas,” balas Zhafira.


Linda pun segera duduk di ruang tamu, semua ikut duduk hendak mendengar apa yang akan Linda katakan. Namun, tidak dengan Afkar yang hanya berdiri di belakang kursi yang Zhafira duduki.


“Sekarang katakanlah mau ngomong apa?” titah Zhafira.


“Mbak, kita ‘kan sebagai sesama perempuan pasti sama-sama bisa merasa kalau kita mencintai seseorang itu ingin bisa memiliki seutuhnya. Benar ‘kan?” kata Linda.


“Iya, lalu? Maksud kamu apa?” balas Zhafira yang udah mulai tau kemana arah pembicaraannya.


“Saya mau Afkar jadikan saya istri keduanya dan kamu mengizinkan hal itu,” ucap Linda dengan santainya yang bagi Zhafira itu seperti kilatan petir menyambar.


Duarrrr.


Zhafira pun langsung kaget, walaupun dia udah memperkirakan apa yang mau dibicarakan oleh Linda, tapi Zhafira tidak menyangka kalau Linda minta dijadikan istri kedua.


“Heh, lo itu manusia apa bukan sih? Gak tau malu banget jadi orang. Di luar sana masih banyak laki-laki lain, kenapa harus mau jadi istri kedua sih,” ucap Syara yang tak terima.


“Tenang, Dek, biar kakak dan kak Afkar yang selesaikan. Kalian ke dalam aja ya,” pinta Zhafira.

__ADS_1


“Loh, tapi, Kak ... ”


Sebelum Syara melanjutkan ucapannya Zhafira udah memutusnya.


“Dek, kakak gapapa kok. Tolong bawa Syara ke dalam ya, Rendra,” ucap Zhafira.


Rendra pun segera membawa Syara ke dalam. Setelah Syara dan Rendra pergi, Zhafira pun mulai membuka suara.


“Mas, kamu duduk di sini,” pinta Zhafira menyuruh afkar duduk di sampingnya.


“Sekarang saya akan tanya sama suami saya ya, Mbak. Kalau suami saya mau, saya sama sekali gak keberatan. Dan apapun jawaban suami saya, kita harus menerimanya. Bagaimana, apa mbak setuju?” kata Zhafira berusaha setenang mungkin menghadapinya.


“Baiklah, tapi ingat kamu jangan menekannya ya!” seru Linda.


“Mbak bisa lihat ‘kan, saya dari tadi di sini dan saya sama suami saya gak ngomong berdua. Kita sama-sama di sini dari tadi loh,” ucap Zhafira.


“Tapi ‘kan Afkar di samping kamu, bisa saja kan nanti kamu injak kakinya atau kamu diam-diam mencubitnya,” protes Linda.


“Astaghfirullah, baiklah mbak, biar mas Afkar duduk di sana saja jadi kita sama-sama berjauhan.”


Mendengar hal itu, Afkar segera berpindah tempat duduk.


“Nah gitu baru adil, Afkar ingat kamu harus mengatakan yang sesuai dengan hati kamu,” pinta Linda.


Zhafira pun menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh. Dan itu tak luput dari pandangan Afkar.


‘Maafkan aku, Sayang,’ ucap Afkar dari hati.


Lalu Afkar pun mulai membuka suaranya, “Maaf, maafkan aku, Sayang.”


Saat Afkar mengatakan itu, Linda udah sangat yakin kalau akan diterima.


“Maafkan aku yang udah menyakitimu. Aku, Afkar Nurdiansyah Muwafaq tidak akan menduakan istri saya dan Zhafira Adzra Nadhifa adalah satu-satunya istri saya,” ucap Afkar dengan penuh keyakinan.


“Bagaimana, Mbak, itu jawaban dari suami saya dan saya pun tidak menekannya,” kata Zhafira membuat Linda berdecak kesal.


Linda pun pergi tanpa pamit segera meninggalkan rumah Afkar.


Setelah kepergian Linda, Zhafira pun memeluk Afkar sangat erat.


“Terima kasih, Mas, terima kasih,” ucap Zhafira yang udah tak kuasa menahan air matanya.


“Kenapa berterima kasih, Sayang?” tanya Afkar.


“Terima kasih karena kamu menolak Linda menjadi istri kedua kamu, Mas,” jawab Zhafira.


“Sayang, dengarkan aku, bukan hanya Linda, siapapun dia, Mas gak akan pernah menduakan kamu,” balas Afkar mengusap air mata Zhafira kemudian mencium kening Zhafira.

__ADS_1


“Yaudah yuk kita ke dalam, kasihan Syara sama Rendra,” lanjut Afkar dan diangguki oleh Zhafira.


Mereka pun segera masuk ke dalam dan ternyata Chayra udah bangun dan duduk di pangku Syara.


“Anak mama, dibangunin aunti ya, Sayang?” tanya Zhafira menoel pipi putrinya.


“Ish, Kak,” celetuk Syara merengut.


“Eh iya, Kak, gimana? Udah pergi wanita itu?” lanjut Syara bertanya.


“Udah, Dek, alhamdulillah,” balas Zhafira.


“Gak akan jadi istri kedua kak Afkar kan?” Syara memastikannya sembari menoleh pada Afkar dan Zhafira bergantian.


“Ya enggaklah, Dek, ngurusin istri satu pas ngambek aja bikin pusing apalagi nanti kalau dua istri. Gak mau lah,” sambar Afkar.


“Oh, gitu ya ... jadi gak menerimanya karena terpaksa. Emm, yaudah nikah lagi sana,” ucap Zhafira cemberu.


“Enggak, Sayangku ... bercanda kok, jangan marah ya,” kata Afkar sambil mencium kening Zhafira.


Syara yang melihatnya pun baper, “Ayo ih, Mas, kita pulang aja. Iri aku lihat pasangan ini.”


Rendra pun tertawa, “Lah, tadi ke sini mau ngapain? Kok langsung pulang? Itu Chayra-nya udah bangun.”


“Oh iya ya, keponakan aunti yang cantik, lihat nih, aunti beliin baju buat si cantik ini,” ucap Syara memberikan totebag pada Zhafira.


“Terima kasih aunty,” kata Zhafira mirip anak kecil.


Dan setelah memberikan pakaian Chayra ke Zhafira, mereka pun pamit pulang.


Setelah Syara dan Rendra pulang, Chayra di bawa ke kamar untuk si tidurkan kembali.


Setelah Afkar menidurkan Chayra, Afkar dan Zhafira segera ke kamar. Sesampainya di kamar, terdengar telpon Afkar berdering.


“Mas, telpon kamu dari tadi bunyi, coba diangkat, Mas,” ucap Zhafira.


“Aishh, kamu aja yang angkat ya, malas aku kalau itu ternyata Linda,” balas Afkar yang langsung merebahkan diri diatas ranjang.


Zhafira berjalan menuju nakas dan melihat siapa yang telpon ternyata dari restoran.


“Mas, ayo dong, coba angkat, Mas, ini dari restoran,” ucap Zhafira memberikan ponsel Afkar.


Afkar pun segera duduk di tepi ranjang dan menerima ponsel dari istrinya. Kemudian Afkar mengangkat telponnya, “Halo.”


“Maaf, Pak, di sini ada perempuan mabuk dan ngamuk selalu manggil-manggil nama bapak. Sampai pengunjung takut dan gak berani masuk ke restoran nih, Pak,” ucap pegawai restoran tersebut.


“Emangnya siapa perempuan itu?” tanya Afkar.

__ADS_1


“Coba bapak lihat videonya udah saya kirim ke bapak. Dia bawa pisau, Pak, semua panik,” kata pegawai tersebut.


Dan Afkar pun segera menutup telponnya kemudian melihat video yang dikirim ke HPnya.


__ADS_2