Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.81 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

“Ma, udah jangan dipikirkan ... mama fokus ke kesehatan mama aja, ya,” titah Zhafira.


“Tapi mama cuma pengen tau aja, Nak. Sampai se-nekat itu dia mau masuk ke sini. Apa mama kenal sama dia? Dia siapa, Nak?” tanya mama Latifah yang benar-benar penasaran saat ini.


“Gapapa, Ma. Dia hanya nge-fans sama mas Afkar, habisnya papanya Chayra ini semakin tua semakin mempesona,” jawab Zhafira sembari menggoda suaminya.


Afkarpun tersenyum yang kemudian berkata, “Kalau suaminya semakin mempesona, berarti istrinya berhasil membuat suaminya bahagia, Sayang.”


“Ahhhh, kalian ini bikin aku iri aja,” celetuk Syara.


“Hahaha ... Rendra, tuh istri kamu minta dirayu,” kata Zhafira.


“Ehh ... kak Fira gak tau aja, Syara itu kalau dirayu, dia malah ngutuk terus ... bilangnya gombal,” gerutu Rendra.


Semua pun tertawa, namun tidak dengan Syara yang manyun.


“Kamu ini, Nak ... harusnya kalau suami kamu itu ngerayu ya dihargai, itu sudah sesuatu yang WOW loh. Karena, ya kamu tau sendiri kan Rendra itu gimana,” ucap mama Latifah.


“Yahhhhh, Mama ... bukanya belain Rendra, ini malah ikut-ikut ngebully,” kata Rendra cemberut.


Mereka pun bercanda tawa hingga suara mereka menggema di kamar rawat itu.


Sampai tawa mereka berhenti saat ada dokter dan perawat yang masuk untuk memeriksa mama Latifah.


“Selamat sore ... saya periksa dulu ya,” ucap Dokter.


“Sore, Dokter ... silakan,” balas Zhafira.


Perawat pun mengecek tekanan darah mama Latifah. Kemudian dokter pun melihat hasilnya.


Lalu dokter berkata, “Bu, ini ibu besok udah boleh pulang ya, karena hasilnya semua udah baik.”


“Terima kasih, Dokter, tapi gimana dengan suami saya?” tanya mama Latifah.


“Suami ibu akan kami pindahkan ke ruang perawatan dulu ya, Bu, untuk diobservasi ... nanti jika udah tidak ada yang mengkhawatirkan, kemungkinan dua atau tiga hari lagi udah pulang,” jawab dokter.


“Alhamdulillah ... baik, Dokter. Terima kasih, ya,” balas mama Latifah.


“Sama-sama ... mari semua saya keluar dulu,” kata dokter.


Kemudian dokter dan perawat pun pergi meninggalkan ruang rawat mama Latifah.


Sekeluarnya dokter dan perawat, mama Latifah pun mengeluarkan suara, “Kalian pulang aja kasian cucu-cucuku cuma dijaga bi Minah dan kakek neneknya.”


“Mereka pasti capek,” lanjut mama Latifah.


“Gak bisa begitu, Ma, salah satu aja yang pulang, kita gantian,” balas Zhafira.


“Baiklah kalau gitu, kak Fira dan kak Afkar aja yang pulang,kami yang akan nunggu mama,” kata Syara.


“Iya bener, Kak, kakak pulang aja besok pagi gantian kakak yang di sini kami yang pulang,” ucap Rendra.

__ADS_1


“Gimana, Sayang?” tanya Afkar.


“Yaudah, gapapa. Kita pasti ditungguin anak-anak juga,” kata Zhafira.


“Yaudah kalau gitu, kami pulang ya. Rendra, tolong kamu urus kepindahan papa ke ruang rawat. Kalau bisa, jadi satu aja sama mama, biar kalian mudah jaganya,” ucap Afkar.


“Baik, Kak, Rendra akan segera urus. Dek, aku tinggal dulu ya,” balas Rendra sembari berpamitan pada istrinya.


“Iya, Mas,” balas Syara.


Lalu setelah Afkar dan Zhafira pamit ke mama Latifah, mereka bertiga pun segera ke luar ruangan.


Sesampainya di parkiran, ternyata mereka ketemu dengan Lestari.


Zhafira yang dari jauh udah melihatnya pun berkata pada Afkar, “Mas, fans kamu udah nungguin tuh.”


“Halah ... biarin aja, Sayang, kamu santai aja. Ingat, aku gak akan tergoda sama perempuan seperti itu,” balas Afkar.


Afkar melihat ada security dan segera memanggil.


“Pak...pak...” panggil Afkar.


Security yang dipanggil pun datang mendekat pada Afkar.


“Ya, Pak. Ada yang bisa kami bantu?” tanya security.


“Begini, Pak, saya minta tolong bapak ikut saya ke mobil, nanti tolong amankan perempuan di dekat mobil saya. Bisa, Pak? Dia dari tadi buat keributan, jadi untuk kenyamanan saya dan keluarga pasien bisa bapak bantu amankan dia, jangan sampai dia muncul di sekitaran RS ini,” kata Afkar.


“Terima kasih, Pak, ini ada sedikit rezeki untuk beli rokok,” kata Afkar sembari menyerahkan beberapa lembar uang merah.


“Wah ... terima kasih banyak ya, Pak. Ayo segera kita ke mobil bapak,” ucap security.


“Sama-sama, Pak, mari ...” balas Afkar.


Afkar dan Zhafira pun berjalan berdampingan dengan security di belakangnya.


Setelah sampai di dekat mobil Afkar, Lestri langsung mendekati mobil Afkar dan segera menggandengnya.


“Udah mau pulang ya, Pak, yuk kita pulang,” ucap Lestari dengan manjanya.


“Jangan sentuh saya. Pak security, tolong ya, Pak,” kata Afkar.


Afkar segera membukakan pintu Zhafira sedangkan Afkar menuju ke pintu mobil sebelahnya.


Saat hendak masuk, lagi-lagi Lestari menarik tangan Afkar sembari berkata, “Pak, aku mau ikut, tolong buka pintu mobilnya.”


“Lo ini benar-benar gak punya malu ya, saya ini udah punya istri jadi stop mengganggu kenyamanan hidup keluarga saya!” seru Afkar.


Lestari pun segera digelandang oleh security menjauh dari mobil Afkar.


“Pak...Pak...tunggu... ingat ya, aku gak akan menyerah, aku akan gunakan segala cara untuk mendapatkan kamu,” ucap Lestari.

__ADS_1


“Silakan ... dan ingat, saya gak takut dan saya pastikan gak akan pernah masuk sama jebakan lo,” kata Afkar.


“Udah yuk, Mas, kita pergi, jangan ladeni dia lagi, nanti malah yang emosi kita,” ucap Zhafira.


Dan Afkar pun segera melajukan mobilnya menuju ke rumah ayah Reyhan.


Cukup memakan waktu yang banyak, hingga mereka pun sampai di rumah ayah Reyhan.


Afkar dan Zhafira segera turun dari mobil dan ternyata ayah Reyhan udah membukakan pintu duluan.


“Assalamu’alaikum,” salam Zhafira dan Afkar yang menyalimi ayah Reyhan.


Chayra yang mendengar suara papa dan mamanya langsung lari sambil memanggil kedua orang tuanya.


“Papa...Mama...” panggil Chayra sambil berlari diikuti dengan bunda Hanum yang menggendong Adrian. Chayra pun meminta gendong ke Afkar.


“Gimana anak-anak, Bund? Rewel?” tanya Zhafira.


“Nggak, Nak, cucu-cucu nenek kan baik-baik,” jawab bunda Hanum.


“Terima kasih ya, Bund, udah jagain anak-anak. Maaf kalau ngrepotin Bunda,” kata Afkar.


“Kamu itu ngomong apa toh, Nak, mana ada dititipin cucu repot, yang ada malah seneng karena bisa main sama cucu,” balas bunda Hanum.


“Kalian makan dulu, trus ceritain ke bunda gimana kondisi papa dan mama kamu. Sebelum kalian pulang,” lanjut bunda Hanum berkata kembali.


“Iya, Bund. Bunda udah makan? Atau kita makan bareng?” tanya Zhafira.


“Bunda udah makan tadi sama bi Minah dan ayah kamu,” jawab bunda Hanum.


“Ammar mana, Bund?” tanya Zhafira.


“Ada di dalam lagi tidur dijagain sama Bi Minah,” jawab Bunda Hanum.


Zhafira dan Afkar pun manggut-manggut.


“Udah-udah, kalian makan dulu ... anak-anak sini biar main sama kakek lagi,” kata ayah Reyhan mengambil Chayra dari gendongan Afkar.


Setelah Chayra berpindah tangan, Afkar dan Zhafira pun segera keluar menuju ke ruang makan untuk makan.


Setelah selesai makan, mereka pun duduk di ruang keluarga karena bunda Hanum dan ayah Reyhan udah menunggu.


“Bund, Yah, anak-anak tidur?” tanya Zhafira.


“Iya, Nak, di kamar tuh semua tidur ditemani Bi Minah,” jawab bunda Hanum.


“Sini-sini ... duduk, dan ceritalah,” titah ayah Reyhan setelahnya.


Afkar pun menceritakan semua tang terjadi tanpa di tutup-tutupi.


“Alhamdulillah kalau Fadlan dan istrinya baik-baik aja semoga papa kamu segera pulih dan segera pulang ke rumah,” kata ayah Reyhan dan di-aamiinkan oleh semuanya.

__ADS_1


__ADS_2