Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.75 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

“Papa!” teriak Chayra dari luar pintu kamar.


“Papa, papa!” teriak Chayra kembali.


Zhafira pun segera membukakan pintu dan mendapati Chayra dengan Bi Minah yang tengah berdiri.


“Ada apa ini, Bi?” tanya Zhafira.


“Bu, maaf ... tadi Non Chayra dengar suara bapak jadinya minta ke kamar ibu,” jawab Bi Minah.


“Owalah ... Chayra mau ketemu Papa?” tanya Zhafira menyamai tinggi dengan putrinya.


“Iya, Mama. Chaya juga mau tidur sama papa dan mama sama adek Adrian juga,” balas Chayra.


“Yaudah gapapa. Bi, bibi istirahat aja. Chayra biar tidur sama kami,” ucap Zhafira.


“Baik, Bu. Kalau gitu saya ke kamar ya, Bu,” kata Bi Minah dan diangguki oleh Zhafira.


Setelah Bi Minah berlalu pergi, Zhafira pun membuka suara, “Nak, ayo masuk. Papa dan adek ada di dalam.”


“Yee ... makasih ya mama,” ucap Chayra yang langsung berlari menerobos masuk dan diikuti oleh Zhafira.


“Pa, tuh putri kita minta tidur di sini,” kata Zhafira mendekat pada suaminya yang saat ini udah memangku Chayra.


“Wah wah ... putri cantiknya papa, kangen sama papa ya, Nak?” tanya Afkar.


“Iya, Pa. Papa ‘kan tadi enggak di rumah,” jawab Chayra menurunkan bibirnya.


“Oke, malam ini tidur sama papa ya,” balas Afkar membuat senyuman manis terukir pada wajah cantik Chayra.


“Nak, naik kasurnya pelan-pelan, ya. Adek lagi bobo,” titah Zhafira.


“Iya, Mama. Tapi, Chaya mau dibuatin susu sama papa,” lirih Chayra.


“Siap, Tuan putri. Papa segera buatin susu, ya,” balas Afkar mendapat anggukan mantap dari Chayra.


Afkar pun berlalu pergi keluar kamar, sementara Zhafira menuju lemari untuk mengambil baju ganti suaminya.


“Mama, lagi ngapain?” tanya Chayra.


“Mama siapin baju ganti papa, Nak. Papa ‘kan baru pulang,” jawab Zhafira.


Chayra perlahan turun dari kasur dan mendekat pada mamanya. Kemudian berkata, “Mama, nanti pas papa masuk, Chaya aja yang ngasih baju papa, ya.”


“Boleh dong, Sayang. Pinter banget sih putri mama ini,” balas Zhafira menoel pipi gembul Chayra.


Afkar yang udah selesai membuatkan susu Chayra pun berjalan kembali menuju ke kamarnya. Perlahan membuka pintu kamar dan mendapati Chayra yang berdiri tepat di depan Zhafira dan di tangan putrinya terdapat baju Afkar.


“Waduh, putri cantiknya papa kok makin gede makin pinter ini. Tau aja papa belum ganti baju, ya,” kata Afkar.


“Tadi disiapin sama mama, Pa. Chaya mau bantuin mama,” balas Chayra sembari tersenyum manis.


“Ini hadiah buat kak Chayra. Diminum terus tidur ya, Nak. Papa mau ganti baju dulu,” titah Afkar.


“Iya, Papa.”

__ADS_1


Chayra naik ke kasur dengan hati-hati kemudian merebahkan dirinya. Sementara Zhafira menyusul Afkar ke ruang ganti.


“Mas,” panggil Zhafira.


“Kenapa, Sayang?” tanya Afkar.


“Mas, tiba-tiba aku kepikiran sama papa dan mama. Kira-kira mau pergi ke mana, ya?” balas Zhafira kembali bertanya.


“Tadi di jalan, papa juga gak cerita sih mau pergi ke mana. Besok coba ditanyakan ya, Sayang,” balas Afkar.


“Atau ... aku telpon Syara aja ya, Mas,” kata Zhafira.


“Jangan ya, Sayang ... ini udah malam, takutnya dia lagi ngurusin Ammar ‘kan,” ucap Afkar.


“Yaudah, kamu ganti baju aja, Mas. Aku ke kamar duluan, ya,” kata Zhafira.


“Gak mau bantuin aku ganti baju, Sayang?” balas Afkar menaik turunkan alisnya.


“Udah deh, Mas ...” Zhafira berlalu pergi menuju ke kamar sebelum Afkar kembali menggodanya.


Zhafira perlahan naik ke atas kasur dan berbaring di samping Adrian. Sementara Chayra masih minum susu sembari menunggu papanya.


“Ma, papa kok lama?” tanya Chayra.


“Bentar lagi udah selesai itu. Kak Chayra kalau udah ngantuk tidur aja, Nak,” jawab Zhafira.


“Chaya mau nunggu papa, Ma,” balas Chayra.


Tak lama dari itu, Afkar pun mendekat ke kasur dan merebahkan diri di samping putrinya.


“Udah, Pa,” jawab Chayra.


“Ayo tidur, Nak,” ajak Afkar diangguki oleh Chayra.


Zhafira tersenyum haru memperhatikan Afkar yang sangat menyangi putrinya.


Hingga tak lama Chayra dan Afkar pun tertidur. Namun, Zhafira belum bisa tidur.


Zhafira pun perlahan mengusap wajah tampan Afkar hingga tak sadar membuat Afkar terbangun.


“Kenapa, Sayang? Kok belum tidur?” tanya Afkar.


“Gapapa, Mas,” jawab Zhafira.


“Tidur, Sayang. Istirahat, ya ...” titah Afkar diangguki oleh Zhafira.


Dan akhirnya mereka pun tertidur.


Hingga keesokan paginya, Zhafira yang bangun duluan pun bergegas menuju ke dapur memasak untuk sarapan.


Sesampainya di dapur, Zhafira bertemu dengan Bi Minah yang tengah membuat minuman.


“Untuk siapa itu, Bi?” tanya Zhafira.


“Untuk saya, Bu, kayaknya sedang masuk angin,” jawab Bi Minah.

__ADS_1


“Setelah minum itu, nanti bibi istirahat aja,” titah Zhafira.


“Saya cuma masuk angin kok, Bu,” balas Bi Minah yang tak enak hati.


“Udah ... nanti Bi Minah istirahat aja dulu, nanti saya anterin makanan ke kamar bibi. Kalau udah enakan baru boleh kerja lagi, Bi,” ucap Zhafira.


“Tapi, Bu ...”


“Gak ada penolakan ya, Bi. Kalau ga istirahat, nanti gimana mau sembuh,” sambar Zhafira yang gak mau membuat Bi Minah tambah sakit.


“Iya, Bu. Makasih ya, Bu. Maaf malah jadi ngerepotin ibu,” lirih Bi Minah.


Setelahnya pun Bi Minah berlalu pergi ke kamarnya. Sementara Zhafira menyiapkan sarapan.


Tak lama kemudian, setelah semuanya siap, Zhafira menuju ke kamarnya untuk membangunkan suami dan anak-anaknya.


Sesampainya di kamar, ternyata Afkar tengah bermain bersama Chayra juga Adrian.


“Mama!” teriak Chayra saat melihat pintu terbuka.


“Eh anak-anak mama udah pada bangun, ayo mandi trus makan. Mama baru aja selesai makan,” kata Zhafira.


“Papa mandi gih, Pa,” lanjut Zhafira.


“Oke, papa mandi dulu ya, Nak. Kak Chayra dimandiin mama ya,” titah Afkar.


“Iya, Papa,” balas Chayra tersenyum.


Afkar pun berlalu menuju ke kamar mandi, sementara Zhafira menyiapkan baju untuk Afkar. Setelah itu, Zhafira mengajak Adrian dan Chayra ke kamar Chayra.


Setelah semua selesai mandi, mereka pun menuju ke meja makan. Zhafira menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya, serta untuk Bi Minah. Kemudian Zhafira mengantarkan sarapan Bi Minah terlebih dahulu.


Tak lama kemudian, Zhafira menuju ke meja makan kembali. Namun, saat hendak sarapan, Adrian menangis minta susu. Zhafira pun menyusui Adrian terlebih dahulu.


Chayra tengah makan dengan lahap, sementara Afkar memperhatikan istrinya yang tengah menyusui Adrian.


“Kamu aku suapin ya, Sayang,” ucap Afkar.


“Nggak, Mas. Kamu lanjut makan aja dulu, setelah ini aku makan kok,” balas Zhafira.


Afkar pun berdiri dan mendekat pada Zhafira. Tanpa kata-kata lagi, dia pun menyuapi istrinya.


“Gak ada penolakan, Sayang. Aku tau kamu udah lapar,” ucap Afkar sembari menyuapi istrinya.


“Sayang, kenapa bi Minah kok tadi sarapannya diantar ke kamar?” tanya Afkar setelahnya.


“Bi Minah sakit, Mas. Aku nyuruh Bi Minah istirahat dulu, dan kalau udah membaik baru boleh kerja lagi,” jawab Zhafira.


“Bi Minah sakit apa,” tanya Afkar kembali.


“Katanya sih, cuma masuk angin, Mas,” balas Zhafira.


Afkar pun manggut-manggut.


Tak lama dari mereka selesai makan, deru mobil terdengar memasuki pengarangan rumah Afkar.

__ADS_1


“Siapa yang datang itu, Pa?” tanya Chayra yang langsung berlari untuk mengintip dari jendela.


__ADS_2