Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.68 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

Di ruang tamu, papa Fadlan, mama Latifah, ayah Reyhan, bunda Hanum, Rendra, Syara dan lainnya tampak berkumpul. Di sana juga ada Reigha, Bayu juga istri dan anak-anak mereka yang ikut bersama.


“Fira, mana Afkar?” tanya mama Latifah.


“Mas Afkar lagi mandiin anak-anak, Ma,” jawab Zhafira.


“Beruntungnya kamu, Fira,” balas mama Latifah sembari tersenyum.


“Alhamdulillah, Ma.” Zhafira pun mendekat dan duduk di tengah-tengah antara mama Latifah dan bunda Hanum.


“Bukan Fira aja yang beruntung, Mbak. Kami pun beruntung punya menantu se-cantik dan se-baik Fira,” balas bunda Hanum hingga membuat Zhafira pun menunduk malu.


Tak lama kemudian, Afkar turun bersama kedua anaknya mendekat pada Zhafira.


“Sayang, ini Adrian kamu kasih asi dulu. Biar Chayra sama oma dan neneknya. Mas mau mandi dulu,” kata Afkar.


“Iya, Mas. Makasih ya,” balas Zhafira sembari mengambil Adrian dalam gendongan suaminya.


“Sama-sama, Sayang.” Afkar mengecup singkat kening Zhafira.


“Mas, baju kamu udah aku siapkan tadi,” ucap Zhafira Saat Afkar membalikkan badan dan hendak berjalan menuju kamar.


“Iya, Sayang.”


Afkar pun segera menuju kamar untuk bersiap-siap. Sementara papa Fadlan, ayah Reyhan, Rendra, Reigha, dan juga Bayu membantu mempersiapkan semuanya dari dekorasi hingga catering.


Hingga tepat saat pukul 09.00, tamu udah mulai berdatangan. Afkar pun tampak duduk di samping istrinya.


“Afkar, kamu temani Zhafira ya. Mama dan bunda kamu mau ngecek di depan,” kata mama Latifah.


“Iya, Ma.”


Mama Latifah dan bunda Hanum pun segera berlalu pergi. Sementara Syara mendekat pada Zhafira.


“Kak, sakit gak sih kayak gitu?” tanya Syara sembari menunjuk Adrian yang masih nyusu.


“Enggak, Dek. Nanti kamu juga akan merasakannya,” jawab Zhafira.


“Karena akan merasakan itulah Syara nanya, Kak,” balas Syara.


“Syara hamil ya?” sambar Shafa yang mendengar pertanyaan Syara pada Zhafira.


“Iya, Kak. Alhamdulillah usia kandungannya masuk 6 bulan,” jawab Syara.


“Oh iya ... semoga diberi kelancaran ya sampai proses melahirkan nanti,” balas Shafa dan di-aamiinkan oleh mereka semua.


Acara yang dinanti-nanti pun akhirnya dimulai. Afkar dan Zhafira membawa bayinya menuju ke depan. Afkar menggendong Chayra, dan Adrian dalam dekapan mamanya.


Setelah berbagai urutan acara mereka lalui, sampai saat ini pun waktunya acara selesai. Tamu-tamu tampak bergantian mendekat pada Adrian dan menatap gelas pada bayi tampan itu.


“Kak Chayra, adeknya boleh untuk tante aja gak?” tanya salah satu tetangga Zhafira dan mendapat gelengan kepala juga raut wajah kesal dari Chayra.

__ADS_1


Setelah puas melihat baby Adrian, para ibu-ibu tetangga Zhafira pun kembali pulang ke rumahnya.


Tak lama kemudian, disusul Shafa juga Anna bersama anak-anak mereka yang datang mendekat pada Zhafira.


“Fira, kami pulang duluan ya,” ucap Shafa.


“Loh ... kok buru-buru? Udah makan?” balas Zhafira bertanya.


“Makan udah kok, ini anak-anak besok pada sekolah,” kata Anna dan mendapat anggukan dari Shafa.


“Yaudah kalau gitu. Hati-hati ya kalian,” ucap Zhafira.


“Iya, Fira. Sekali lagi kami ucapkan selamat, ya!” seru Anna.


“Semoga baby Adrian sehat sampai benar-benar menjadi jagoan tampan di keluarga ini,” imbuh Shafa.


“Aamiin ... makasih tante Shafa dan tante Anna,” balas Zhafira menurunkan suara anak kecil.


Setelah semua tamu pulang, saat ini tampak berkumpul di ruang tengah papa Fadlan, mama Latifah, ayah Reyhan, bunda Hanum, Rendra, dan juga Syara.


“Alhamdulillah ya acara hari ini berjalan dengan lancar,” ucap papa Fadlan.


“Iya, Pa. Alhamdulillah,” balas Afkar.


“Sebenarnya gak lancar loh, Kak, masa aku pengen seblak ... aku cari loh gak ada,” gerutu Syara.


“Lagian kamu nyari seblak di acara aqiqah. Mana ada, Dek,” kata Zhafira.


“Tapi kan aku lagi pengen nih, Kak,” balas Syara sembari mencurutkan bibirnya.


“Gak mau aku, Mas. Maunya yang dari tempat hajatan,” ucap Syara membuat semua tertawa.


“Ajak aja pak penghulu itu pergi nyari tempat hajatan, mana tau nemu seblak,” kata ayah Reyhan.


“Kak, tolong, Kak,” pinta Rendra menatap penuh harap pada Afkar.


“Bentar aku telpon temen-temen aku yang lagi di tempat acara,” kata Afkar dan mendapat anggukan mantap dari semuanya yang ada di ruangan itu.


Afkar pun segera menelpon satu-persatu teman-temannya. Namun, belum ada yang membawa berita baik.


“Assalamu’alaikum,” ucap Afkar pada teman harapannya yang terakhir ini.


“Wa’alaikumussalam. Kenapa, Afkar?” tanya temannya.


“Ente lagi di tempat hajatan?” balas Afkar bertanya.


“Ya, baru aja selesai Ana nikahkan,” jawab teman Afkar.


“Ana minta tolong cek di tempat hidangan makanan, ada seblak gak?” tanya Afkar kembali.


“Kenapa ini? Istri ente hamil lagi?” balas teman Afkar yang bertanya.

__ADS_1


“Bukan. Ente ini ... istri ana kan baru melahirkan, masa hamil lagi. Ini adikku ngidam,” kata Afkar.


“Oh bentar ana cek dulu,” ucap temen Afkar.


Dan tak lama kemudian, teman Afkar pun kembali bersuara, “Gak ada seblak. Gimana?”


“Oh yaudah, makasih ya!” seru Afkar dan mengakhiri telponnya.


Afkar memandangi satu-persatu keluarganya kemudian menghembuskan napasnya perlahan.


“Ayo kita cari tempat hajatan sekitar sini, Dra!” ajak Afkar.


“Iya, Kak.”


Mereka berdua pun segera pergi setelah pamit pada istri dan orang tua mereka.


Selama di perjalanan, Rendra yang merasa tidak enak pada Afkar pun berkata, “Kak, maaf ya ... waktunya kakak istirahat malah direpotkan sama anak kami.”


“Halah ... kamu ini kayak sama siapa aja. Aku gapapa kok,” balas Afkar.


Sementara di rumah, para orang tua mengobrol di ruang tamu, sementara Syara menemani Zhafira yang menjaga kedua anaknya.


“Kak, sini Chayra biar tidur di pangkuan ku,” ucap Syara.


Chayra yang senang pun segera turun dari sofa dan naik kembali yang kali ini berada di sisi Syara, kemudian merebahkan kepalanya di atas paha Syara.


Chayra tampak mengelus-elus perut Syara yang tampak menjendul itu.


“Kak Fira, kakak gak marah sama aku ‘kan?” tanya Syara.


“Kenapa harus marah? Kakak tau kok rasanya ngidam gimana,” jawab Zhafira sembari melemparkan senyumannya pada Syara.


Sementara Afkar dan Rendra yang udah mendatangi 4 acara pernikahan, belum juga menemukan seblak.


Hingga netra mereka menangkap adanya acara pernikahan. Afkar menepikan mobilnya dan segera mendekat pada tenda acara pernikahan itu.


“Permisi, Pak, acara ini kok ricuh sekali kenapa?” tanya Afkar.


“Ini penghulunya belum datang, Pak. Kami juga sedang bingung mencari penghulu,” jawab salah satu warga.


“Saya kebetulan penghulu, Pak. Ini kartu nama saya,” ucap Afkar sembari menyodorkan kartu namanya.


“Lalu surat-suratnya bagaimana ya, Pak?” tanya warga kembali.


“Ini saya nikahkan dulu, masalah surat besok bisa di urus di KUA, temui saja saya, akan saya bantu besok,” jawab Afkar.


Setelah mendengar jawaban Afkar, mereka pun segera masuk dan memberi kabar baik ini.


Tak lama kemudian, setelah Afkar selesai menikahkan pengantin itu, Afkar pun melihat Rendra yang celingukan, lalu Rendra mendekat.


“Kak, gak ada juga,” ucap Rendra menghembuskan napasnya kasar.

__ADS_1


“Pak, mari duduk dulu menikmati hidangan. Atau mau kami ambilkan? Ada soto, sate, nasi lauk prasmanan, batagor, atau seblak juga ada,” kata bapak-bapak yang mereka tau ini salah satu orang tua dari pengantin.


“Seblak? Ada, Pak?” tanya Afkar memastikan.


__ADS_2