Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH. 56 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

Saking asyik-nya ayah Reyhan bermain sama cucunya, sampai ayah tak mendengar ada seseorang yang sedari tadi mengetuk pintu.


“Yah, saking seriusnya main sama cucu, kami mengucap salam gak dijawab,” ucap Syara.


“Eh, Nak ... iya maaf, ayo-ayo sini duduk sini,” kata ayah Reyhan.


“Iya, Yah. Kak Fira ada, Yah?” tanya Syara.


“Ada, lagi makan malam. Kalian langsung masuk aja, sekalian makan malam,” jawab ayah Reyhan.


“Syara dan mas Rendra tadi udah makan, Yah. Kami tunggu di sini aja,” balas Syara.


“Rendra, gimana kerjaannya? Lancar?” tanya ayah Reyhan.


“Alhamdulillah lancar, Yah,” jawab Rendra.


Dan tak lama, bunda Hanum pun datang memanggil ayah Reyhan untuk mengajak suaminya makan malam.


“Sebentar ya, Nak, ayah makan dulu. Tadi gantian jaga cucu,” kata ayah Reyhan tertawa.


“Iya, Yah. Silakan,” ucap Rendra.


“Bunda panggilkan afkar dan fira dulu ya nak, atau mau langsung ke dalam?” tanya bunda Hanum.


“Gak usah, Bunda. Kami tunggu di sini saja,” jawab Syara.


Ayah Reyhan pun duduk di ruang makan. Bunda Hanum mendekat pada Zhafira dan Afkar.


“Nak, di ruang tamu ada Syara dan suaminya. Mereka nunggu kalian,” kata bunda Hanum memberitahu.


“Iya. Kalian ada masalah ya? Hak biasanya Syara nunggu kalian di ruang tamu, biasanya langsung masuk, sekarang seperti tamu aja,” balas ayah Reyhan.


“Hanya sedikit salah paham saja, Yah, dan ini mau diselesaikan,” ucap Afkar.


“Oh ... harus cepat diselesaikan, kalian ini bersaudara,” kata ayah Reyhan.


“Iya, Yah. Kami temui Syara dulu ya,” ucap Zhafira.


“Iya, sana temui dan selesaikan kesalahpahamannya,” titah ayah Reyhan.


“Ingat ya, Nak, selesaikan dengan kepala dingin. Jangan emosi!” seru bunda Hanum.


“Iya, Bunda,” balas Afkar dan Zhafira serempak.


Dan mereka pun lalu menuju ke ruang tamu menemui Syara dan suaminya.


Saat Zhafira menuju ke ruang tamu, Syara dan Rendra langsung berdiri. Syara mulai menitikan air mata dan menangis lalu melangkah ke arah Zhafira dan langsung memeluk Zhafira.


“Kak, Syara minta maaf atas tingkah Syara kemarin, Syara minta maaf dengan sifat Syara yang kekanak-kanakan dan gak ngertiin keadaan kakak,” ucap Syara yang menangis di pelukan Zhafira.


“Udah-udah, Dek, kakak gapapa. Kakak juga minta maaf ya, kakak tau kamu kemarin pasti lagi capek pulang kerja trus mau makan malah kakak habiskan jadi karena kamu capek makanya kamu sampai emosi. Udah, gapapa. kamu gak salah, Dek,” balas Zhafira.


Afkar dan Rendra yang melihat pun akhirnya bisa bernafas lega karena kakak beradik akhirnya kembali rukun.

__ADS_1


Setelah saling memaafkan, mereka pun mengobrol lagi seperti biasa. Ayah Reyhan dan bunda Hanum yg melihat mereka udah baikan pun ikut keluar menemui dan mengobrol sebentar setelah itu mereka pamit pulang.


“Nak, kalian lanjut ngobrolnya ya, ayah dan bunda pamit pulang dulu,” kata ayah Reyhan.


“Kalian baik-baik ya, yang rukun,” ucap bunda Hanum.


“Iya, Yah, Bun. Terima kasih nasehatnya,” balas Syara sambil tersenyum.


“Hati-hati di jalan ya, Yah,” kata Afkar.


Zhafira pun segera bersalaman dan mencium tangan mertuanya begitu pula dengan Afkar, Rendra dan Syara.


Setelah ayah dan bunda pergi, karena udah malam Syara dan Rendra pun juga pamit pulang.


“Kak, kami juga pulang ya. Udah malam,” kata Rendra berpamitan.


“Iya, Kak. Kami pulang ya, kakak kan lagi hamil, jangan begadang,” ucap Syara.


“Iya, Dek. Kalian hati-hati ya di jalan,” kata Zhafira.


“Salam sama papa dan mama,” imbuh Afkar.


Lalu Rendra dan Syara pun keluar rumah Afkar dan menuju ke mobilnya lalu mobil mereka pun meninggalkan halaman rumah Afkar.


“Mas, yuk kita lihat Chayra dulu, lalu istirahat,” ajak Zhafira.


“Iya, Sayang. Kamu masuk dulu ke kamar Chayra ya, aku ke kamar mandi sebentar,” balas Afkar dan diangguki oleh Zhafira.


Zhafira pun melangkah masuk ke kamar Chayra. Ternyata Chayra udah tidur.


“Udah, santai aja. Gak usag berdiri, saya cuma mau lihat putri saya sebentar, Bi,” balas Zhafira.


“Oh ... iya, Bu,” kata Bi Minah dan kembali duduk.


Tak berapa lama, Afkar pun ikut masuk dan setelah mereka mencium putrinya bergantian, mereka pun keluar kamar.


Saat mau menutup pintu, terdengar Chayra memanggilnya, “Pa...pa. Ma...ma.”


Mereka pun langsung masuk lagi dan mendekat pada Chayra.


“Iya, Sayang. Kenapa, Nak? Kok bagun?” tanya Afkar.


“Pa, chaya mau tidul cama mama dan papa,” jawab Chayra dengan cedalnya.


“Oh ... boleh sayang. Yuk, mama gendong,” balas Zhafira yang hendak menggendong Chayra.


“Sayang, lupa ya kalau hamil? Main gendong-gendong aja, biar aku aja yang gendong,” ucap Afkar segera mengangkat tubuh putrinya.


“Bi, kami keluar ya, Chayra mau tidur sama saya dan papanya,” kata Zhafira.


“Iya, Bu,” balas bi Minah.


Lalu mereka pun meninggalkan kamar Chayra dan menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Di kamar, Chayra masih asik bermain padahal orang tuanya udah sangat mengantuk.


“Sayang, kamu tidur dulu aja, kasian nanti anak kita kalau kamu gak istirahat. Biarkan Chayra main sama aku aja,” ucap Afkar.


“Tapi, besok kamu itu kerja, trus ngantuk gimana, Mas?” tanya Zhafira.


“Udahlah, gapapa. Kamu tidur aja ya,” titah Afkar lembut.


“Iya, Mas,” balas Zhafira dan segera tidur.


Sementara Afkar dan Chayra masih bermain sampai menjelang tengah malam, akhirnya Chayra pun mulai ngantuk.


“Pa, chaya mau minum cucu,” kata Chayra.


“Iya, Sayang. Bentar ya ... papa buatin susu sebentar. Tunggu ya, Sayang,” balas Afkar dan segera ke dapur membuatkan susu untuk putrinya.


Tak lama kemudian, Afkad masuk dan udah membawa botol susu Chayra yang udah berisi susu.


Chayra yang tau pun segera meminta dan segera meminumnya dan saat susu yang di botol udah habis, Chayra pun tertidur. Afkae yang juga udah mengantuk pun segera tidur juga.


Sementara di mobil, Syara dan Rendra tengah mengobrol.


“Mas, terima kasih ya udah menemani aku menemui kak Fira, lega rasanya setelah aku minta maaf,” kata Syara.


“Alhamdulillah, Sayang. Udah tanggung jawabku mengantar kan kemanapun kamu pergi,” balas Rendra menoleh pada Syara dan tersenyum.


Tak lama kemudian, mobil mereka memasuki halaman rumah papa Fadlan.


Mereka pun turun dan segera masuk ke rumah, tampak seluruh penghuni rumah udah tidur.


Syara dan Rendra pun segera masuk kamar lalu membersihkan badannya setelahnya mereka pun tidur.


****


Lima bulan kemudian, Syara pagi-pagi merasa ingin muntah, lalu segera ke kamar mandi dan Rendra pun yang mendengar Syara muntah-muntah segera bangun dan menyusul ke kamar mandi.


“Dek, kamu masuk angin?” tanya Rendra.


“Entahlah, gak tau, Mas. Masuk angin atau maagnya kambuh nih, Mas,” jawab Syara.


“Bentar aku ke dapur dulu, aku buatin teh madu hangat ya,” kata Rendra.


Sebelum ke dapur, Rendra segera memapah Syara duduk di tempat tidur dan bersandar. Setelah di rasa nyaman, Rendra pun keluar membuatkan minuman hangat.


Saat Rendra di dapur, mama Latifah masuk dapur hendak menyiapkan sarapan.


“Loh, Nak, pagi-pagi gini udah di dapur? Mau buat apa?” tanya mama Latifah.


“Owh, ini, Ma ... Syara pagi-pagi udah muntah-muntah. Sepertinya masuk angin,” jawab Rendra.


“Sejak kapan Syara muntah-muntah, Nak?” tanya mama Latifah kembali.


“Beberapa hari ini, Ma,” jawab Rendra.

__ADS_1


“Oh, bawa aja istri kamu ke rumah sakit, Nak. Nanti kamu juga akan tau sakit apa enggak istri kamu,” balas mama Latifah membuat Rendra mengerutkan keningnya.


“Maksudnya, Ma?” tanya Rendra.


__ADS_2