
“Oh, bawa aja istri kamu ke rumah sakit, Nak. Nanti kamu juga akan tau sakit apa enggak istri kamu,” balas mama Latifah membuat Rendra mengerutkan keningnya.
“Maksudnya, Ma?” tanya Rendra.
“Udah, bawa aja dulu,” jawab mama Latifah.
“I—iya. Iya, Ma, Rendra antar tehnya dulu ya, Ma. Nanti coba Rendra ajak Syara ke rumah sakit,” balas Rendra.
“Iya, Dra, cepetan dibawa. Agar kalian lebih berhati-hati dalam menjaganya,” ucap mama Latifah.
Dan walaupun Rendra belum paham apa yang dimaksud oleh mama Latifah, tapi Rendra tetap mengangguk lalu pergi ke kamar.
Di kamar, Syara ternyata udah menunggu sambil bersandar duduk di sofa.
“Mas, kok lama banget sih?” tanya Syara.
“Tadi ketemu mama, Dek, kita disuruh periksa ke rumah sakit,” jawab Rendra.
“Kenapa ke rumah sakit, Mas, orang cuma masuk angin aja kok,” balas Syara.
“Iya, Dek, tapi kita jangan tolak keinginan mama ya. Nanti mama kecewa loh. Kita ke rumah sakit ya,” titah Rendra.
“Yaudah kalau gitu, tapi mas izin ya, kita agak siang ke kantornya,” ucap Syara.
“Iya, Dek, mas telp dulu ya.”
Rendra pun segera mengambil ponselnya dan menelpon untuk minta izin datang agak siang karena mau ke rumah sakit terlebih dahulu, sedangkan Syara, setelah minum teh hangat lalu segera bersiap pergi ke kantor.
Setelah Rendra selesai menelpon, mereka pun segera keluar kamar dan pamit sama mama Latifah dan papa Fadlan lalu pergi menuju rumah sakit sebelum ke kantor.
Di jalan, karena mereka belum makan, mereka mau beli sarapan dulu. Saat melewati penjual bubur ayam, tiba-tiba Syara ingin sekali makan bubur ayam.
“Mas, kita sarapan bubur ayam itu aja ya, aku pengen makan bubur, Mas,” pinta Syara.
“Iya, Dek. Tapi, kita parkir dulu ya,” balas Rendra diangguki oleh Syara.
Lalu Rendra pun segera menepikan mobilnya dan mereka pun segera turun dan memesan bubur ayam.
Mereka duduk dan mengantri, tak lama kemudian bubur mereka pun datang , dan mereka pun segera memakannya. Setelah habis dan Rendra membayarnya lalu mereka pun segera pergi menuju rumah sakit.
Saat sampai rumah sakit, karena waktu masih pagi, mereka pun dapat antrean pertama. Mereka segera di panggil lalu mereka pun masuk ke ruang dokter.
“Selamat pagi, Pak, Bu. Siapa yang sakit?” tanya dokter.
“Ini, Dokter, saya mau memeriksakan istri saya. Sudah beberapa hari ini mual muntah terus, Dokter,” jawab Rendra.
__ADS_1
“Oh, baik, Pak. Silakan berbaring dulu, Bu. Biar saya periksa,” titah dokter.
Syara pun segera berbaring dan dokter pun memeriksanya. Setelah selesai Syara pun duduk kembali
“Begini, Pak, Bu, kemungkinan istri bapak ini hamil. Jadi, untuk memastikannya silakan bapak dan ibu ke dokter obgyn saja biar jelas,” ucap dokter menjelaskan.
“Apa, Dok, istri saya hamil?” tanya Rendra.
“Alhamdulillah ... Syara hamil, Mas,” kata Syara terharu.
“Masih kemungkinan ya, Pak, Bu. Kalau mau jelas, bapak bisa langsung daftar ke dokter kandungan,” titah dokter.
“Baik, Dokter. Saya akan daftar sekarang juga. Kalo begitu kami permisi. Terima kasih, Dokter,” ucap Rendra.
“Iya, Pak, bu. Sama-sama,” balas dokter tersebut.
Mereka pun keluar dengan wajah ceria dan segera menuju ke dokter kandungan. Saat sampai di dokter Obgyn di sana juga gak perlu antri, mereka langsung di panggil perawat.
“Silahkan duduk dulu pak, bu, dokter sebentar lagi datang,” ucap perawat.
Tak berapa lama dokter pun datang, “Halo. Selamat pagi ... Assalamu’alaikum, Pak, Bu, maaf ya harus menunggu,” kata dokter Sarah.
“Gapapa, Dokter ... belum lama kok,” balas Syara.
“Saya mau melakukan USG, Dokter,” jawab Syara.
“Baiklah, silakan berbaring dulu, Bu,” titah dokter.
Syara pun segera berbaring, perawat membantu membuka baju bagian perutnya dan mengolesi gel.
“Kita periksa ya, Bu,” kata dokter Sarah.
Mereka pun melihat di monitor saat dokter menggerak-gerakkan alat di atas perut Syara. Setelah selesai, dokter segera duduk kembali. Perawat membersihkan sisa gel di perut syara lalu Syara segera ikut duduk kembali.
“Bagaimana, Dokter?” tanya Rendra.
“Ini ya, Pak, ini hasil USG-nya. Selamat istri anda hamil, usia kandungannya udah delapan minggu,” jawab dokter Sarah.
Rendra dan Syara pun menitikan air mata, mereka sangat senang akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, Syara akhirnya hamil.
“Alhamdulillah,” ucap syukur Rendra.
Dokter pun segera menjelaskan tentang detak jantung dan keadaan janinnya lalu setelah menjelaskan dokter Sarah memberikan resep vitamin dan obat untuk Syara.
Setelah selesai, mereka pun segera keluar dari ruangan dokter Sarah dengan wajah yang berseri-seri. Setelah menebus obat di apotek mereka pun segera menuju ke kantor.
__ADS_1
Di perjalanan, Syara menelpon mama Latifah dan menyampaikan kabar gembira tersebut. Syara tak lupa juga memberikan kabar ke papa Fadlan dan juga ke Zhafira.
Setelah selesai memberi kabar, mereka pun sampai dan segera mengerjakan pekerjaannya di kantor.
Di rumah Zhafira, setelah mendengar kabar tersebut Zhafira yang usia kehamilannya udah memasuki minggu ke-21 pun sangat gembira, Zhafira gak sabar ingin memberitahukan kabar gembira ini ke suaminya.
Zhafira segera menelpon Afkar, tapi beberapa kali telpon dari Zhafira tidak diangkatnya. Sampai akhirnya, Zhafira pun bete dan meninggalkan ponselnya di kamar.
Zhafira segera ke kamar putrinya untuk mengajak bermain. Tapi, saat masuk di kamar Chayra, ternyata Chayra sedang tidur. Akhirnya Zhafira memutuskan kembali menutup pintunya lalu Zhafira pun duduk di halaman depan.
Saat duduk di ruang depan, Zhafira dipanggil oleh tetangga depan rumahnya.
“Bu Fira, tumben duduk di depan?” tanya Bu Rani, tetangga Zhafira.
“Eh, iya bu Rani ... lagi cari udara segar, Bu. Mau kemana, Bu?” balas Zhafira kembali bertanya kemudian Zhafira mendekat karena merasa gak enak kalau ngobrol berjauhan.
“Gak ada, Bu, gak ke mana-mana. Mau ngajak ibu ngobrol aja, daripada ibu melamun sendirian,” ucap ibu Rani.
“Oh, mari kalau gitu silakan duduk,” balas Zhafira.
Bu Rani pun segera duduk, dan Zhafira pun ikut duduk.
“Mau minum apa, Bu?” tanya Zhafira.
“Udah, gak usah repot-repot, Bu, kita kan dekat. Ya ... kalau haus tinggal ambil aja di rumah,” jawab bu Rani.
“Owh, iya, Bu,” balas Zhafira yang mulai gak nyaman karena Zhafira tau kalau bu Rani itu orang yang pengen tau semua urusan tetangganya.
“Bu Fira, tadi kenapa melamun? Ada masalah sama suami?” tanya Bu Rani.
“Gak ada masalah apa-apa kok, Bu, justru saya malah bahagia karena barusan dapat kabar bahagia dari adik saya,” jawab Zhafira.
“Oh, alhamdulillah ... saya ikut senang dengarnya,” balas bu Rani.
Dan saat mereka asyik ngobrol, Bi Minah keluar dan memberitahu, “Bu, bapak telpon nyari ibu.”
“Owh, makasih ya, Bi. Saya telpon nanti, ini masih ada bu Rani,” balas Zhafira membuat bi Minah manggut-manggut.
“Iya, Bu,” ucap bi Minah dan segera masuk kembali ke dalam rumah.
“Bu, maaf ya. Suami saya telpon. Saya izin ambil HP dulu sebentar,” kata Zhafira.
“Gak usah bu Fira, saya pamit aja dulu. Silakan ibu telpon aja dulu. Mari bu Fira ... Assalamu’alaikum,” ucap bu Rani.
“Wa’alaikumussalam, Bu,” balas Zhafira lalu segera masuk ke kamarnya dan mengambil HP-nya.
__ADS_1