
“Lanjut gih, gue mau lanjut pacaran. Bye!” Zhafira meninggalkan Syara yang tengah mendelik padanya.
Zhafira segera masuk ke kamar, dan ternyata Afkar udah menunggu di sofa.
“Mas, mau Fira buatkan minum?” tanya Zhafira.
“Enggak, Fir, aku kenyang banget. Duduk sini di dekat aku,” jawab Afkar.
Zhafira pun duduk di dekat Afkar dan menatap serius pada Afkar. Entah apa yang mau Afkar tanyakan pada Zhafira saat ini.
“Fir, apa kamu gak mau jujur sama Mas?” tanya Afkar duduk berhadapan dan menatap lekat manik mata Zhafira.
“Jujur apasih, Mas? Aku gak ada rahasia apapun,” balas Zhafira yang masih memang belum mengerti kemana arah pembicaraan Afkar.
“Fir, kamu tadi waktu makan siang melihat aku dengan Aurel ‘kan?” tanya Afkar membuat Zhafira langsung menundukkan kepalanya tak berani menatap Afkar.
“Kamu gak marah, Fir?” tanya Afkar.
“Ya enggaklah, Mas. Kita ‘kan tau gimana pernikahan kita ini. Jadi, aku gak berhak untuk marah bahkan sampai melarang. Tapi, Fira hanya pesan Mas harus hati-hati sama Aurel, ya,” jawab Zhafira yang bertentangan dengan hatinya.
“Udah ya, Mas, Fira tidur dulu, ngantuk.” Fira berlalu pergi menahan tangisnya, segera Fira masuk kamar mandi, dia menyalakan kran agar Afkar tidak mendengar suara tangisnya.
“Ya Allah ... Fira udah nyaman sama Mas Afkar. Tapi, Fira gak tau ini cinta atau bukan. Fira takut akan sakit hati lagi, karena Mas Afkar sepertinya begitu mencintai Aurel. Hiks ... Ya Allah, apa yang harus Fira lakukan,” ucap Zhafira kembali mengusap air matanya dan membasuh dengan air yang mengalir dari kran.
Afkar yang di luar kamar mandi tau kalau tadi Zhafira seperti ingin menangis, Afkar pelan-pelan membuka pintu kamar mandi. Afkar langsung masuk karena ternyata pintunya gak dikunci.
Afkar mendengar apa yang diucapkan Zhafira. Afkar mendekat dan segera memeluk Zhafira erat.
“Eh, kenapa, Mas?” tanya Zhafira terlonjak kaget saat Afkar memeluknya.
“Kamu kenapa nangis, Fir?”
“Siapa yang menangis, Mas? Ini ‘kan Fira baru cuci muka, mau tidur,” jawab Zhafira ngeles.
“Fira, aku itu udah dewasa, bukan anak kecil yang mudah kamu bohongi. Ayolah, kamu kenapa, hmm?” tanya Afkar yang pura-pura nggak tau kata-kata yang udah didengarnya saat Zhafira di dalam kamar mandi tadi.
__ADS_1
“Gapapa kok, Mas. Udah ya ... Fira mau tidur.” Zhafira menghindar dan segera naik ke atas ranjang miring membelakangi Afkar.
Afkar mengikuti langkah Zhafira. Hingga Afkar ikut merebahkan diri di atas ranjang. Kemudian, Afkar kembali memeluk Zhafira dari belakang.
“Fir, tolong jangan seperti ini, aku gak kuat melihat air mata kamu. Aku minta maaf karena gak sengaja menyakitimu. Aku gak tau kalau kamu juga makan siang di tempat itu,” ucap Afkar berbisik pada Zhafira.
“Tadi aku ketemu Aurel karena mau mutusin dia aja. Maafkan Mas, ya,” lanjut Afkar.
“Mas, Mas gak perlu menjelaskan hal itu, aku gapakah kok. Lagian, kita ‘kan nikah cuma enam bulan, jadi tolong jangan seperti ini. Aku takut hatiku terluka lagi,” ucap Zhafira lirih.
“Kamu nyaman sama aku. Aku juga nyaman sama kamu, Fir, tapi aku minta maaf aku masih ingin memastikan hatiku ini, aku takut akan menyakitimu, berikan aku waktu untuk memastikannya,” balas Afkar yang tidak dapat sahutan dari Zhafira.
Tak lama, Zhafira pun tertidur setelah capek menangis. Afkar duduk di sofa saat tau kalau Zhafira udah tidur.
Kemudian, Afkar mengambil headset dan mendengarkan rekaman yang tadi diambil dari HP Zhafira.
Afkar mendengarkan dengan tangan terkepal, Afkar geram dengan Aurel, ‘Ya Allah, perempuan apa yang sudah hamba cintai selama ini. Ya Allah, tolong bebaskan hati ini dari Aurel, hapus nama Aurel di hati hamba,’ ucap Afkar dalam hati setelah mendengarkan semua rekaman itu.
‘Aurel gak akan menyerah, dia akan melakukan berbagai cara dan akan menjebakku, aku harus hati", Jangan sampai Aurel tau kalau Zhafira istriku, bisa-bisa nanti Zhafira dalam bahaya. Tapi, apa yang harus aku lakukan?’ batin Afkar.
“Huh, yang jelas aku harus sembunyikan identitas Fira dulu. Kasian kalau nanti dia malah diganggu Aurel, dan aku akan selesaikan masalahku dengan Aurel segera,” kata Afkar lirih dan segera naik ke atas ranjang.
Pagi harinya, Zhafira yang bangun duluan segera membersihkan badannya dan sholat subuh, setelah itu dia bersiap-siap untuk pergi.
Zhafira sengaja gak pamit sama Afkar. Setelah selesai bersiap, Zhafira segera keluar kamar dan segera berpamitan sama orang tuanya.
“Pa, Ma, Fira pamit keluar kota dulu ya, ada kerjaan dari kantor. Cuma beberapa hari,” ucap Zhafira.
“Kok mendadak, Fir, suami kamu udah tau?” tanya Papa Fadlan memastikan.
“Udah, Pa. Kan kemarin malam Mas Afkar yang nemenin belanja untuk persiapan perginya, kalau Papa gak percaya, coba tuh tanya ke Syara,” jawab Zhafira.
“Iya, Pa. Kak Fira kemarin malam belanja,” balas Syara yang nyambung dalam pembicaraan saat dirinya merasa terpanggil.
“Baiklah, hati-hati ya. Kalau udah sampai kabari,” titah Mama Latifah.
__ADS_1
Zhafira pun mengangguk dan segera kedepan karena taksi onlinenya udah datang.
Di kamar, Afkar baru bangun dan segera ke kamar mandi. Setelah rapi langsung keluar kamar, karena mengira kalau Zhafira udah di ruang makan. Tapi, sampai di depan ruang makan, Afkar tidak mendapati istrinya di sana. Akhirnya, Afkar ke kamarnya lagi.
Afkar mengambil ponselnya dan ternyata ada notifikasi WhatsApp dari Zhafira.
Afkar pun segera membacanya, “Assalamu’alaikum, Mas, maafkan Fira yang pergi tanpa izin dari Mas. Tolong ridhoi perjalanan Fira. Mas, Fira ingin menjauh sebentar dari Mas, Fira takut gak bisa mengendalikan perasaan Fira, dan akhirnya Fira sendiri yang jatuh cinta sama Mas. Jadi, sebelum itu terjadi Fira akan pergi menjauh dari Mas Afkar sebentar. Fira akan menata hati agar Fira bisa kuat saat nanti kalau Mas udah memutuskan bercerai. Mas hati-hati, ya, jangan terlalu percaya sama Aurel. Jaga diri Mas di sana, Wassalamu’alaikum.”
Setelah membaca pesan dari Zhafira, Afkar langsung menelpon Zhafira. Namun, ponselnya udah mati.
“Ya Allah, Fir, kamu di mana? Kenapa kamu nekat pergi dari rumah. Apa yang akan aku katakan sama Papa dan Mama kamu, Fir,” ucap Afkar mencemaskan Zhafira.
Afkar segera keluar ke ruang makan dan menyapa semuanya, “Pagi, Pa, Ma, Dek,” ucap Afkar bersikap biasa aja menutupi kecemasannya.
“Pagi, Afkar, Fira bilang ke kamu dia keluar kota, itu kemana?” tanya Papa Fadlan.
“Hmm ... enggak, Pa. Fira cuma pamit kalau mau keluar kota,” jawab Afkar berbohong.
“Duh, Kak Fira tuh kebiasaan deh, Pa. Kalau mau keluar kota gak kasih tau kota mana dan ngapain,” gerutu Syara.
“Ma, tadi Kak Fira dijemput temannya atau naik apa sih perginya?” tanya Syara yang sungguh mewakili pertanyaan di pikiran Afkar.
‘Makasih, Syara. Ceplas-ceplosmu adalah rezeki pagi ini,’ batin Afkar.
“Kak Fira tadi naik taksi online, Nak,” jawab Mama.
Mendengar taksi online, Afkar buru-buru menyelesaikan sarapannya dan pamit pada mertuanya.
Afkar segera keluar menemui security yang menjaga rumah Papa Fadlan.
“Pak, maaf tadi Fira pakai taksi online yang apa, ya?” tanya Afkar.
“Sebentar, Pak. Bapak mau cek CCTV-nya?” balas Pak Jono, security.
“Boleh, Pak. Ayo!” seru Afkar yang tak sabar.
__ADS_1
Dan setelah melihat rekaman CCTV, akhirnya Afkar tau dan mulai mencari Zhafira.
Sebelum berangkat, Afkar izin ke KUA kalau beberapa hari ini izin ada urusan. Setelah mendapat izin, Afkar langsung ke alamat taksi online untuk meminta informasi lebih lanjut.