
Dua bulan kemudian, putri kecil Afkar udah boleh dibawa pulang sejak dua minggu setelah lahir, ada perawat dan Bunda serta Mama yang bergantian membantu mengurus putri kecil Afkar itu.
Sampai saat ini, kondisi Zhafira masih sama, belum ada kemajuan sama sekali. Setiap harinya Afkar mondar mandir dari rumah sakit, kantor dan rumahnya.
Afkar sesekali pulang melihat putrinya, dia menggendongnya dan memberikan susu. Saat memberi susu Afkad selalu menitikan air mata,
Afkar selalu berpikir dan menyalahkan dirinya sendiri, “Andai aku dulu lebih waspada, pasti anakku bisa minum Asi dari Mamanya.”
Saat di rumah sakit, Afkar begitu telaten menyeka istrinya yang setiap hari terlihat semakin kurus, begitu juga Afkar karena Zhafira koma hingga Afkar tidak ada tang mengurus, dia pun turun berat badannya.
Afkar sempat berpikir ingin resign tapi menjadi penghulu adalah cita-citanya. Jadi pikirannya itu masih ditahan dulu. Sementara untuk restoran dan cafe, laporan hanya lewat email.
Saat ini, Afkad sedang di rumah sakit, dia bersama dokter yang tengah memeriksa Zhafira.
“Dokter, sampai kapan istri saya seperti ini?” tanya Afkar.
“Maaf, Pak. Kami tidak bisa memastikannya,” jawab dokter membuat Afkar menghembuskan napasnya kasar.
“Kalau alat-alat yang menempel di tubuh istri saya dilepas, bagaimana, Dokter?” tanya Afkar kembali.
“Pak, istri anda sangat bergantung pada alat-alat itu, kalau semua alat itu dilepas, istri anda akan meninggal, Pak,” ucap dokter menjelaskan.
Mendengar penjelasan dokter, Afkar kembali menitikan air mata, kalau sampai Zhafira meninggal maka ia pun gak akan bisa hidup.
“Dokter, bagaimana kalau istri saya di rawat di rumah saja?” ucap Afkar.
“Kalau dirawat di rumah, bagaimana dengan alat-alat yang terpasang, Pak?” tanya dokter.
“Saya akan membelinya, berapapun harganya,” jawab Afkar dengan penuh keseriusan.
“Baiklah, Pak. Tapi, karena alat-alat ini dipesan di luar negeri, maka kami butuh waktu paling lama dua minggu, dan saya hanya memastikan, Pak. Karena alat-alat tersebut memang benar dipesan dari luar negeri, biayanya tentu sangat mahal,” balas dokter.
“Dokter, saya sama sekali tidak mempermasalahkan biayanya, saya hanya ingin istri saya sembuh!” seru Afkar membuat dokter manggut-manggut.
Tepat dua minggu kemudian, Zhafira saat ini udah dipindahkan dari rumah sakit menuju ke rumahnya.
Dokter tentu akan setiap hari datang ke rumahnya, dan ada dua perawat yang bergantian bertugas menjaga Zhafira.
Afkar kini senang akhirnya mereka bisa berkumpul lagi di rumah. Dan, bisa menjaga istri serta anaknya secara bersamaan.
__ADS_1
Ketika Afkar kerja, akan datang Bunda atau Mama secara bergantian.
****
Kini lima bulan telah berlalu, Zhafira masih tetap belum ada perubahan.
Setiap hari Afkar dengan telaten menyeka dan merawat dan membersihkan badan Zhafira sendiri. Sambil menyeka Afkar sempat menitikan air matanya.
“Sayang, sampai kapan kamu seperti ini? Bangunlah, Sayang, anak kita udah besar,” ucap Afkar.
Dan tanpa afkar ketahui, air mata Zhafira mengalir di ujung matanya.
Putri kecil Afkar saat ini udah bisa merangkak dan duduk dengan tegak. Putri yang lucu itu akhirnya diberi nama oleh Papanya, nama putri Afkar adalah Chayra Nadhifa Muwaffaq. Karena Zhafira belum sadar, akhirnya Afkar sendirilah yang memberikan nama itu.
Chayra sangat lucu dan menggemaskan juga sangat cantik pastinya. Orang tua Zhafira dan orang tua Afkar bergantian menginap di rumah Afkar untuk membantu Afkar mengurusi Zhafira dan Chayra.
Hari ini Syara tampak datang bersama Mama, “Assalamu’alaikum, Kak, boleh Syata masuk ke kamar menemui kak Fira?” tanya Syara meminta izin.
“Iya, silakan,” balas Afkar.
Syara pun segera masuk ke kamar Zhafira. Saat ini Syara melihat kondisi kakaknya, dia gak tega, tapi dia harus memberi semangat dan tegar menghadapi kondisi Zhafira.
“Kak, Kakak tau gak, Syara tuh sebenarnya udah merencanakan menikah sama Rendra. Dan, Rendra juga udah melamar ke Papa, Kak, tapi ada masalah ... Papa melarang Syara menikah dulu sebelum kakak sembuh. Ayo dong, Kak ... Kakak harus semangat untuk bangun. Dan, kakak tau gak, putri kakak sangat cantik. Dia udah mau jalan loh, Kak. Kakak gak pengen gendong putri kakak?” lanjut Syara mengajak Zhafira mengobrol.
Zhafira pun sebenarnya mendengarkan semua perkataan Syara, tapi sekuat mungkin Zhafira berusaha, nampaknya sangat berat untuk dia membuka matanya.
‘Kakak sebenarnya ingin banget bangun, Dek, tapi gak tau kenapa, semua teras berat,’ batin Zhafira.
“Kak, kata papa, kalau sampai kakak gak sembuh juga, kakak tau gak, apa rencana papa? Syara disuruh menikah sama Kak Afkar untuk jadi Ibu sambung Chayra. Boleh gak kak kalau Syara jadi istrinya kak Afkar? Kalau kakak gak ngebolehin, kakak harus berusaha sekuat tenaga untuk melawan sakit ini. Karena, papa akan membicarakan masalah ini sama Kak Afkar,” imbuh Syara yang mengatakan itu hanya untuk memberi semangat Zhafira.
‘Jangan, Syara, kakak gak mau kamu nikah sama Mas Afkar. Jangan lakukan itu,’ batin Zhafira dan tiba-tiba alat penetrasi jantungnya berdetak cepat.
Syara segera memanggil perawat, “Sus ... suster tolong kakak saya, Sus.”
Dan teriakan Syara pun membuat Afkar berlari menuju ke kamar rawat Zhafira.
“Ada apa ini? Kak Fira kenapa, Dek?” tanya Afkar panik.
“Gak tau, Kak, Syara hanya mengajaknya ngobrol,” jawab Syara.
__ADS_1
Perawat pun segera menelpon dokter untuk memberitahukan kondisi Zhafira.
‘Mas, aku gak rela kamu nikah lagi, aku gak mau kamu punya istri lagi walaupun itu Syara, Mas,’ batin Zhafira dan kembali Zhafira meneteskan air matanya.
“Sayang, kamu kenapa? Mana yang sakit?” tanya Afkar yang bingung saat melihat Zhafira menangis.
Beberapa saat kemudian, dokter pun datang dan memeriksa keadaan Zhafira.
Zhafira segera diberikan suntikan obat pemenang lewat infus.
“Apa yang terjadi sama istri saya, Dokter?” tanya Afkar.
“Gapapa, Pak, sepertinya istri anda berjuang untuk sembuh, sebentar lagi InsyaaAllah istri anda akan sadar,” jawab dokter.
Setelah selesai menjelaskan ke Afkar, dokter pun pamit kembali ke rumah sakit.
“Dek, sebenarnya kamu ngobrol apa, kok kakak kamu bisa seperti tadi?” tanya Afkar saat mereka di luar kamar.
“Gak ada kok, Kak, Syara hanya memberikan Kak Fira semangat aja. Biar bisa melawan sakitnya,” jawab Syara.
“Syara pamit pulang dulu ya, Kak,” lanjut Syara.
“Iya, Dek, hati-hati!” seru Afkar.
Mama masih di rumah Afkar karena harus menjaga cucunya.
“Ma, Afkar ke kamar Zhafira dulu ya,” ucap Afkar.
“Iya, Nak, mama akan menidurkan Chayra dulu, ini udah malam,” balas Mama.
Afkar pun segera menuju ke kamar Zhafira. Afkar tersenyum dan mendekat pada istrinya yang masih terpejam itu.
“Malam, Sayang, kamu tidur ya? Hari ini putri kita sudah bisa manggil Papa loh, terima kasih ya, kamu udah memberikan malaikat kecil yang imut dan cantik seperti kamu,” ucap Afkar diakhiri dengan mencium kening Zhafira.
Kemudian, Afkar pun meninggalkan istrinya agar dapat beristirahat. Afkar keluar menuju kamar putrinya.
Sebelum sampai kamar, Mama keluar dan pamit untuk pulang, karena pak Supri udah menunggu di luar.
Setelah pamit ke Afkar, Mama pun segera ke kamar Zhafira mengajak ngobrol sebentar lalu pulang.
__ADS_1