Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.47 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

Tak lama, Zhafira datang menghampiri sembari menggendong Chayra.


“Lagi ngobrolin apasih, Mas, Yah, Pa ..., kok serius banget?” tanya Zhafira mendudukkan diri di samping Afkar.


“Gak ada, Sayang, lagi ngobrolin resepsi pernikahan dan rencana buat honeymoonnya Syara,” jawab Afkar yang tak mau membuat Zhafira banyak memikirkan yang tak seharusnya dipikirkan.


“Oh, kirain ngobrolin apa. Trus rencananya mau honeymoon ke mana?” tanya Zhafira Kembali.


“Papa udah belikan tiket ke Bali kok, jadi itu aja udah cukup. Lagian, kantor ‘kan gak lama ngasih cutinya,” jawab papa Fadlan.


“Enaknya, bisa honeymoon,” kata Zhafira.


Afkar pun tersenyum dan berkata, “Bilang aja kalau kamu juga pengen liburan ‘kan, Sayang?”


“Hehehe, peka juga ternyata jadi suami,” balas Zhafira tersenyum.


“Tapi, bukannya dulu kalian juga honeymoon ya, dua tempat lagi di Jogja dan di Bali. Iya ‘kan?” sambar ayah Reyhan.


Afkar dan Zhafira pun saling pandang dan mengangguk bersamaan.


“Nah iya, ‘kan udah honeymoon berarti, atau dulu honeymoonnya ada maksud tertentu?” balas papa Fadlan bertanya.


“Eh, enggak kok, Pa. Yaudah, Zhafira pergi dulu mau ajak Chayra jalan-jalan di belakang,” ucap Zhafira.


Afkar pun tersenyum karena Zhafira takut kalau sampai ketahuan kalau dulu ke Jogja karena mau mencari Daffa.


“Afkar, trus rencana kamu gimana dengan wanita tadi? Dia sangat nekat sepertinya,” ucap papa Fadlan setelah Zhafira berlalu pergi.


“Iya, Nak, kemarin waktu ayah ke kantor kamu. Ayah lihat aja udah gak respect sama dia,” imbuh ayah Reyhan.


“Mungkin Afkar akan minta tolong ke teman yang di KUA untuk memutasi dia, Yah, Pa,” kata Afkar.


“Bagus itu, papa setuju!” seru papa Fadlan.


“Ayah juga setuju,” balas ayah Reyhan.


“Yaudah yuk keluar, resepsi malah kita ngobrol di dalam, siapa yang terima tamu nanti,” ajak papa Fadlan.


Dan mereka pun akhirnyanya keluar, karena tamu-tamu masih banyak berdatangan.


Afkar pun segera mencari istri dan anaknya yang entah pergi ke mana.


Afkar mencari berkeliling tapi belum juga ketemu ternyata Zhafira ada di kamarnya sewaktu masih tinggal di rumah papa Fadlan.


“Sayang, aku cariin dari tadi ternyata di sini,” ucap Afkar.


“Iya, Mas, mau nidurin Chayra, ngantuk sepertinya,” balas Zhafira.


“Yaudah, mas temani ya,” kata Afkar diangguki oleh Zhafira tanda setuju.


“Sayang, kamu beneran mau liburan? Kamu pengennya kemana?” tanya Afkar.


“Gak usah jauh-jauh, Mas, kita ke puncak aja ya. Cari suasana baru,” jawab Zhafira.

__ADS_1


“Baiklah, Sayang, weekend aja ya,” ucap Afkar.


“Iya, Mas, kapan aja yang penting refreshing,” balas Zhafira tersenyum senang.


“Oke, Istriku sayang, akan aku siapkan semuanya,” kata Afkar.


Afkar tiba-tiba berdiri hendak keluar dari kamar, Zhafira pun segera bertanya, “Mau ke mana, Mas? Katanya mau nemani.”


“Mau keluar sebentar, Sayang, masih banyak tamu, gak enak kalau mas di dalam kamar terus,” jawab Afkar.


“Baiklah, Mas, tapi nanti kalau udah sepi ke kamar lagi ya,” pinta Zhafira.


Iya, Sayang. Sayang, kamu tumben manja gini,” balas Afkar tersenyum lalu keluar kamar dan langsung bergabung ke tempat papa Fadlan dan ayah Reyhan.


Pada sore harinya setelah selesai resepsi pernikahan, kedua pengantin baru udah bersiap untuk pergi honeymoon. Pesawat Mereka berdua berangkat dua jam lagi. Jadi, Syara dan Rendra sudah bersiap akan berangkat.


“Udah siap, Dek? Ayo kakak antar,” ucap Afkar.


“Udah nih, Kak, kak Fira gak ikut?” tanya Syara.


“Kata siapa gak ikut, Dek, kakak kamu malah udah di mobil,” jawab Afkar tersenyum.


“Kakak tuh sekarang udah bucin sama kak Afkar, maunya nempel terus,” celetuk Syara tertawa.


“Udah-udah, bersiap sana pamitan sama semuanya, kakak tunggu di mobil ya,” ucap Afkar.


“Iya, Kak,” balas Rendra.


Syara dan Rendra pun segera berpamitan ke semua keluarga setelah itu keluar menuju ke mobil Afkar.


“ihhhh, Kak Fira nih, mesra-mesraan di mobil,” celetuk Syara. Rendra yang melihat pun tersenyum.


“Kamu itu syirik aja, Dek, kamu kan juga bisa mesra-mesraan sama suami kamu, udah halal juga kan,” balas Zhafira sewot.


“Kalau Syara kan tau tempat, Kak. Gak mungkin Syara mesra-mesraan di luar kamar,” kata Syara yang masih menggoda Zhafira.


“Mas, Syara ngeledekin tuh,” ucap Zhafira dengan manja.


“Sayang, kamu ini kenapa? Tumben loh ... manja banget,” kata Afkar.


“Tuh, Kak ... kak Afkar aja merasa loh kalau kak Fira itu gak seperti biasa sikapnya,” balas Syara.


“Yaudah deh, aku gak jadi ikut aja, gak ada yang mengerti aku,” ucap Zhafira langsung keluar dari mobil dan langsung menangis masuk kamar.


Papa Fadlan yang melihat pun langsung keluar rumah mendekat pada mobil Afkar.


“Zhafira kenapa itu kok nangis?” tanya papa Fadlan.


“Gak tau, Pa, tumben kak Fira sensitiv banget hari ini, Pa,” jawab Syara.


“Aduhh, gimana ini, mana pesawatnya udah mau take off,” ucap Afkar bingung.


“Kak, Rendra dan Syara berangkat sendiri aja, mobilnya Rendra bawa aja. Gapapa, aman kok parkir di bandara,” balas Rendra.

__ADS_1


“Iya, Kak, kakak masuk gih, kasian nanti kalau malah ditinggal kak Firanya,” ucap Syara.


“Yaudah, maaf ya gak jadi antar kalian ke bandara,” kata Afkar yang tak enak hati.


“Iya, Kak. Gapapa. Kami pamit ya, salam buat kak Fira,” balas Rendra.


“Iya nanti kakak sampaikan, hati-hati ya kalian di sana!” seru Afkar.


Afkar keluar dari mobil dan mendekat pada papa Fadlan. Setelah itu Rendra beralih memegang kemudi dan berlalu pergi meninggalkan rumah kediaman papa Fadlan.


Setelah mobil hilang dari pandangan, Afkar pun segera berpamitan pada papa, “Pa, afkar ke kamar dulu ya, mau liat zhafira dulu.”


“Iya, kamu hiburlah dulu Fira, Chayra biar tidur sama papa dan mama saja nanti, sekarang Chayra lagi sama mama di kamar,” ucap papa Fadlan.


“Iya, Pa, terima kasih ya, Pa,” balas Afkar.


Afkar pun segera menuju ke kamar Zhafira. Afkar langsung masuk ke kamar dan ternyata di kamar Zhafira lagi rebahan dan pura-pura tidur.


Afkar yang tau kalau Zhafira pura-pura tidur malah menyelimutinya dan dia tinggal ke kamar mandi.


Setelah Afkar masuk kamar mandi, Zhafira segera membuang selimutnya sembari menggerutu, “ihhh, gak peka banget sih jadi suami.”


Dan saat mendengar pintu kamar mandi terbuka, Zhafira pun pura-pura tidur lagi.


Ceklek


Suara pintu kamar mandi di buka, netra Afkar melihat Zhafira yang selimutnya udah terbuang di lantai.


Afkar segera sholat setelah sholat Afkar pun mendekat ke Zhafira lagi.


“Kamu kenapa sih, Sayang? Kok ngambek?” tanya Afkar mengusap rambut Zhafira.


“Sayang aku tau kalau kamu gak tidur. Ayo ngomong sama aku, kamu kenapa?” tanya Afkar kembali.


“Yaudah kalau gak mau bangun, aku tinggal lagi ya. Aku mau keluar kamar aja kalau kamu gak mau ngobrol sama aku,” jawab Afkar.


Saat Afkar hendak berdiri tangan Afkar dipegang sama Zhafira.


“ihhh, mas nih kok gak peka sih sama istrinya,” gerutu Zhafira.


“Aku tuh pengen berduaan terus sama mas, kok malah diledekin Syara mas ikut-ikutan,” lanjut Zhafira mencurutkan bibirnya.


“Oh, pengen berduaan. Yaudah aku kunci dulu pintunya. Kamu sholat dulu,” titah Afkar.


“Aku udah sholat, Mas, denger selesai adzan langsung sholat,” balas Zhafira.


Afkar pun menuju pintu dan menguncinya. Setelah itu, Afkar segera bersandar di tempat tidur.


“Udah nih, kita udah berduaan ‘kan. Trus ngapain?” tanya Afkar.


“Mas nih, kayak terpaksa gitu,” ucap Zhafira merotasikan bola matanya malas.


“Maaf ya, Sayang. Mas gak terpaksa kok. Udah nih mas udah duduk bersama istri cantikku di kamar berduaan,” balas Afkar mengusap pipi Zhafira.

__ADS_1


Sebenarnya Afkar capek dan pengen cepat tidur, tapi karena istrinya lagi ngambek jadi dia harus sabar dan menahan kantuknya sampai ngambek istrinya hilang.


“Trus kita ini mau ngapain, Sayang?” tanya Afkar.


__ADS_2