Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.69 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

“Pak, mari duduk dulu menikmati hidangan. Atau mau kami ambilkan? Ada soto, sate, nasi lauk prasmanan, batagor, atau seblak juga ada,” kata bapak-bapak yang mereka tau ini salah satu orang tua dari pengantin.


“Seblak? Ada, Pak?” tanya Afkar memastikan.


“Ada, Pak. Bapak mau?” balasnya bertanya.


“Tolong dibungkuskan ya, kami makan di rumah saja,” jawab Afkar dan diangguki oleh Rendra dengan mantap.


Setelah mendengar jawaban dari Afkar, bapak itu pun segera membungkuskan beberapa bungkus seblak untuk Afkar dam Rendra.


Kemudian, setelah membungkuskan, bapak itu pun kembali dan berkata, “Ini, Pak, untuk bapak dan keluarga di rumah.”


“Alhamdulillah... terima kasih ya, Pak. Besok jangan lupa agar mengurus surat-suratnya. Nomor telpon saya ada di kartu tersebut ya, Pak,” ucap Afkar sembari menyodorkan kartu namanya.


“Baik, Pak. Terima kasih.”


Afkar pun mengangguk dan pami pulang.


Di jalan, Afkar dan Rendra mengucap syukur tak menunggu lama, segera melajukan mobilnya membelah jalanan agar segera sampai rumah.


Hingga sesampainya di rumah, Afkar meminta Rendra masuk terlebih dahulu untuk memberikan seblak itu pada Syara. Sementara Afkar mau memasukkan mobil ke dalam garasi.


“Assalamu’alaikum,” salam Rendra masuk ke dalam rumah.


“Wa’alaikumussalam. Istri kamu di ruang tamu,” balas papa Fadlan.


Rendra berterima kasih, kemudian segera berlalu pergi untuk mencari istrinya.


Tak lama, Afkar masuk ke dalam rumah, mengucap salam dan menyalimi orang tua juga mertuanya.


“Dapat seblaknya?” tanya mama Latifah.


“Dapat, Ma. Tadi di tempat acara pernikahan ke-5 kami datangi baru ada,” jawab Afkar.


“Yaudah sana ke ruang tengah. Istri kamu bersama Syara di sana,” balas bunda Hanum dan mendapat anggukan dari Afkar.


Afkar berjalan menuju ke ruang tengah dan melihat Rendra tengah diintrogasi oleh istrinya.


“Tapi bener kan, Mas?” tanya Syara.


“Apanya yang bener, Dek?” tanya Afkar yang mendudukkan diri di samping Zhafira.


“Ini beneran gak beli, Kak?” balas Syara bertanya.


“Kami udah datangi tiap ada pernikahan, dan ini dapatnya di tempat pernikahan ke-5 kami datangi,” jawab Afkar.


“Kamu harus percayalah, Sayang, ini perjuangan kak Afkar sampai harus menikahkan pengantinnya dulu baru dapat seblak ini,” imbuh Rendra.


“Kenapa kak Afkar harus menikahkan?” tanya Syara mengernyit bingung.


“Karena penghulunya ditunggu-tunggu gak datang, Sayang,” jawab Rendra.


“Yaudah kalah gitu. Makasih ya, Kak Afkar, Mas Rendra. Suara mau ambil piring dulu,” ucap Syara yang hendak berdiri.

__ADS_1


“Udah kamu di situ aja, mas ambilkan piring,” balas Rendra.


Tak lama dari itu, Rendra kembali membawa tiga piring.


“Kok cuma 3, Mas? Kan seblaknya ada 6,” tanya Syara.


“Mas gak makan, Sayang. Mas pengennya nasi,” jawab Rendra membuat Syara menggut-manggut


“Aku juga gak makan seblak loh, Dra,” ucap Afkar.


“Yaudah, 4 lagi aku kasih mama dan papa di depan ya, Kak,” kata Rendra.


“Coba tanya istrimu dulu, 1 cukup gak,” balas Afkar.


“Sayang, kamu mau 1 aja atau nambah?” tanya Rendra.


“1 aja sih, Mas. Aku lagi pengen nyoba aja kok,” jawab Syara.


Rendra pun segera mengambil piring dan sendok, kemudian mengantarkan seblak ke ruang tamu di tempat para orang tua mengobrol.


Dan setelah itu, Rendra kembali ke ruang tengah menyiapkan seblak untuk dimakan oleh istrinya.


“Mas, kamu ambil makan juga lah di dapur, biar Rendra ikutan makan tuh. Kita makan bareng di sini,” titah Zhafira pada Afkar.


“Iya, Sayang. Rendra, setelah menyiapkan seblak Syara, ke dapur ya. Kita ambil makan,” kata Afkar.


“Iya, Kak. Nanti aku ke dapur nyusul,” balas Rendra.


“Gapapa, Dra, biar Mas Afkar aja nanti. Kamu ambil makan dulu sana bareng Mas Afkar,” balas Zhafira.


Rendra segera menuju ke dapur, sementara Syara udah lahap memakan seblak di hadapannya.


Afkar dan Rendra pun kembali dengan membawa piring berisikan nasi dan lauk.


“Sayang, gak makan?” tanya Afkar.


“Bentar, Mas. Ini Adrian masih nyusu,” jawab Zhafira.


“Mau aku suapin?” tanya Afkad kembali.


“Boleh, Mas,” balas Zhafira.


Akhirnya, Afkar pun makan seiring berdua dengan Zhafira yang disuapin oleh Afkar.


Tak lama setelah seblak Syara habis, dia melirik punya Zhafira yang tampak masih utuh itu.


“Kak ... ” lirih Syara memanggil Zhafira.


“Iya gapapa ambil aja, Dek. Kakak tau kamu gak cukup satu kalau seblak,” balas Zhafira yang ternyata udah tau apa yang Syara inginkan.


“Ah kakak tau aja. Makasih ya, Kak,” kata Syara.


“Dek, katanya tadi 1 cukup. Itu punya Kak Fira,” tegur Rendra.

__ADS_1


“Tapi kan gapapa sama kak Fira, Mas,” balas Syara.


“Udah-udah, Ren. Kakka juga udah makan kok ini, untuk Syara aja seblaknya,” ucap Zhafira menengahi.


“Aduh ... makasih ya, Kak,” ucap Rendra yang tak enak hati.


Setelah mereka semua selesai makan, pada sore harinya semua pamit pulang kecuali ayah Reyhan dan bunda Hanum yang masih menginap di sana.


“Yaudah, Kak, kami pulang dulu ya,” pamit Syara pada Afkar dan Zhafira.


“Iya. Hati-hati ya!” seru Zhafira.


Afkar dan Zhafira pun menyalimi papa Fadlan dan mama Latifah, kemudian mengantarkan mereka sampai depan rumah.


Setelah mobil Rendra udah jauh dari pandangan, Afkar dan Zhafira kembali masuk rumah.


“Ayah dan bunda istirahat aja. Kami mau mandiin anak-anak,” ucap Afkar.


“Perlu bunda bantu?” tanya bunda Hanum.


“Gapapa, Bund, kami aja. Bunda istirahat aja, hari ini bunda udah banyak ngebantu kami,” jawab Afkar.


Ayah dan bunda pun masuk kamar untuk beristirahat, begitu juga dengan Afkar dan Zhafira yang menuju ke kamarnya membawa kedua anak mereka.


“Sayang, kamu duduk aja di kasur, nanti kamu bantu memakaikan baju anak-anak ya. Biar aku yang mandikan mereka,” titah Afkar.


“Makasih ya, Mas. Kamu udah mau bantu aku,” ucap Zhafira.


“Sama-sama, Sayang, aku hanya membantu sebisaku, ini gak sebanding dengan perjuangan kamu untuk mengandung dan melahirkan anak-anak,” balas Afkar sembari tersenyum memandangi istri cantiknya itu.


“Ayo kakak mau mandi duluan atau papa mandiin adek dulu?” tanya Afkar pada Chayra.


“Chay dulu, Papa!” seru Chayra.


“Baiklah, ayo putri kecil papa yang cantik. Lets go kita mandi!”


Afkar menggendong Chayra dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Hingga selesai, Afkar pun menggendong Chayra yang berbalutkan handuk.


“Sini putri cantiknya papa, mama pakaikan baju. Sekarang ganti adek yang mandi ya, Kak Chayra,” ucap Zhafira lembut pada putrinya.


“Iya, Mama.” Chayra segera mendekat pada mamanya dan kemudian dipakaikan baju oleh Zhafira. Sementara Afkar udah membawa baby Adrian untuk dimandikannya. Setelah Chayra selesai, dan udah rapih. Chayra pun merebahkan diri di samping mamanya hingga dia tertidur dengan sendirinya.


Afkar pun keluar kamar mandi dan menyerahkan Adrian pada istrinya, “Mama, jagoan udah mandi nih.”


“Gantengnya,” lirih Zhafira.


“Papa tau papa ganteng, Ma,” balas Afkar membuat Zhafira mengernyit.


“Mama bilangin adek Adrian, Pa. Bukan papa,” celetuk Zhafira sembari tertawa.


"Oh iya, Mas. Kamu tau gak, tadi pas kamu cari seblak, aku dapat pesan dari orang gak dikenal, Mas,” ucap Zhafira bercerita sambil memakaikan baju baby Adrian.


“Hah? Siapa, Sayang?” tanya Afkar yang langsung duduk di tepi kasur memperhatikan istrinya dengan serius.

__ADS_1


__ADS_2