
Setelah membaca pesan, Afkar pun nampak emosi membuat Zhafira segera bertanya, “Mas, kamu kenapa?”
“Gapapa, Sayang, mumpung aku libur kita jalan-jalan yuk?” ajak Afkar.
“Boleh juga, bentar ya ... Fira siap-siap dulu,” ucap Zhafira dan segera bersiap diri.
Sedangkan Afkar langsung menelpon Linda. Di sebrang sana, Linda yang menunggu balasan pesan Afkar pun segera mengangkat telpon dari Afkar.
“Halo, Afkar? Gimana? Kamu pasti mau ‘kan terima permintaan aku?” tanya Linda dengan percaya dirinya.
“Cukup! Lo jangan ganggu keluarga gue, karena sampai kapanpun gue gak akan menduakan istri gue. Camkan itu!” seru Afkar emosi dan langsung menutup telponnya sepihak.
Linda yang mendengar pun langsung emosi, dia ngamuk hingga semua barang dia pecahkan.
“Afkar, kalau aku minta baik-baik kamu gak terima, maka aku akan buat sesuatu yang kamu sendiri gak akan menduganya,” ucap Linda yang kesal.
Tak lama, Zhafira udah siap dan mereka pun segera keluar untuk jalan-jalan.
Mereka akan menghabiskan malam ini dengan berkeliling kota Jakarta.
Afkar sangat bahagia karena melihat istrinya dan putrinya sangat menikmati jalan-jalan hari ini.
Mereka pun berhenti di taman untuk mengajak putrinya main. Saat Afkar dan putrinya main, tiba-tiba ada seorang wanita duduk di sebelah Zhafira.
“Permisi, Bu, bisa saya duduk di sebelah ibu?” tanya wanita itu.
Afkar yang melihat pun langsung menghampiri istrinya, “Ada apa ya? Mau ganggu istri saya?”
“Ehh, maaf, Pak, enggak kok. Saya gak mengganggu,” jawab wanita itu.
“Trus, mau ngapain duduk dekat istri saya, ‘kan masih ada bangku yang kosong,” balas Afkar menatap kesal.
“Udahlah, Mas, gapapa,” kata Zhafira.
“Awas aja kalau setelah ini lo buat masalah,” ancam Afkar pada wanita itu.
“Baiklah kalau begitu, saya pergi aja,” ucap wanita itu. Dan, dia pun langsung pergi.
Setelah wanita itu pergi, Zhafira pun bertanya ke suaminya, “Mas, emangnya siapa sih wanita itu? Kok mas sampai segitunya?”
“Dia Lestari, satu tempat kerja sama aku, Sayang,” jawab Afkar.
“Jadi teman kerjanya Mas ya, tapi kenapa sampai Mas jutek gitu sama dia?” balas Zhafira bertanya kembali.
“Dia itu dari awal masuk, aku udah gak nyaman di kantor, Sayang, pernah loh Lestari itu ngasih minuman ke aku, tapi minuman itu dicampur sama obat p*****s**g,” kata Afkar bercerita.
“Astagfirullah sampai seperti itu, Mas?” balas Zhafira menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Makanya itu, aku gak mau kamu dekat-dekat sama dia, Sayang. Kamu kan udah tau, jadi hati-hati ya, kalau ada dia tetap waspada,” titah Afkar.
__ADS_1
“Iya, Mas, Fira akan hati-hati. Tapi, Mas, waktu di kasih minuman yang dicampur itu, Mas meminumnya?” tanya Zhafira yang penasaran.
“Ya enggaklah, Sayang, Mas ‘kan pasang CCTV di ruangan. Jadi, setelah Mas tau, minuman itu Mas tukar sama minumannya si Lestari itu, jadi dialah yang kebingungan,” jawab Afkar membuat Zhafira pun tertawa.
“Mas, Mas, ternyata kamu bisa usil juga,” ucap Zhafira.
Dan obrolan pun terhenti karena Chayra menangis.
“Sayang, Chayra menangis sepertinya ngantuk dia,” kata Afkar.
“Sini, Mas, biar Fira yang gendong,” balas Zhafira.
Afkar pun memberikan Chayra untuk di gendong istrinya. Tak berapa lama, Chayra pun tertidur.
Setelah Chayra tertidur, mereka pun meninggalkan taman menuju ke rumah.
Saat sampai rumah, Afkar segera menidurkan Chayra di kamarnya, setelah itu memanggil bi minah untuk menemani Chayra, sedangkan Afkar langsung menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri. Ketika masuk kamar ternyata Zhafira udah selesai mandi.
“Loh, Sayang, kok cepet mandinya?” tanya Afkar.
“Iya, Mas, badan rasanya udah lengket semua. Mas mandi gih, setelah itu kita makan malam,” balas Zhafira.
“Iya, Sayang.” Afkar bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah Afkar masuk kamar mandi, Zhafira segera menyiapkan baju ganti lalu keluar kamar menuju dapur.
“Mas, kira-kira kurang apa ya? Ada gak yang belum kita beli?” tanya Syara menoleh pada Rendra.
“Coba kamu ingat-ingat dulu, siapa tau ada yang terlewat,” balas Rendra.
“Ehmmmm ... Oh, iya, kita belum beli kain untuk seragam keluarga, Mas,” ucap Syara.
“Kalau itu sudah dibeli kok, Syara, kemarin aku sama Mama Latifah pergi nyari kain untuk seragam,” kata Rendra hingga membuat Syara mengerutkan keningnya.
“Kapan sih, Mas, kok aku gak tau?” tanya Syara.
“Waktu makan siang yang kita gak bisa bareng makan siang itu, nah itu karena aku ditelpon mama Latifah untuk mengantarkan ke toko kain,” jawab Rendra.
“Oh ... kok gak ngajak Syara sih,” balas Syara cemberut.
“Kata mama Latifah, biar kamu gak kecapean aja. Yaudah yuk, ada lagi gak?”
“Udah, Mas, yuk kita pulang,” kata Syara.
Mereka pun turun dari eskalator untuk keluar dari pusat perbelanjaan. Saat melewati tempat jual baju anak-anak, Syara langsung berhenti.
“Kok berhenti?” tanya Rendra.
“Mas, aku masuk sebentar ya mau belikan baju untuk keponakan cantikku,” jawab Syara.
__ADS_1
“Oh, yaudah yuk,” balas Rendra.
“Kamu ikut, Mas?, yaudah ayo!” seru Syara.
Dan mereka pun masuk toko baju anak dan membeli beberapa baju untuk Chayra.
Setelah selesai, mereka pun keluar dan segera menuju ke parkiran lalu mereka melajukan kendaraan nya menuju ke rumah Afkar.
“Mas, ini beneran kita ke rumah kak Afkar dulu?” tanya Syara.
“Iya, ‘kan kita mau ngasih baju-baju itu ke Chayra,” jawab Rendra.
“Mas, makasih ya kamu udah sayang sama Chayra,” balas Syara.
“Siapa sih yang gak sayang sama putri kecil yang cantik dan menggemaskan itu, siapa pun pasti menyayanginya. Lagian kita kan akan menikah, berarti Chayra keponakanku juga.”
Tak lama kemudian mobil Rendra pun masuk ke rumah Afkar. Syara yang udah kangen sama keponakannya segera berlari masuk ke rumah.
“Assalamu’alaikum,” salam Syara.
“Wa’alaikumussalam, ngapain lari-lari sih, Dek?” balas Zhafira bertanya pada Syara.
“Ponakan cantikku mana, Kak?” tanya Syara.
“Sedang tidur kecapean habis main di taman. Kamu sama siapa, Dek?” jawab Zhafira sembari bertanya kembali.
“Astaghfirullah, sama Mas Rendra, Kak. Ya Allah, aku tinggal masuk aja tadi, sebentar ya, Kak,” kata Syara dan segera berlari ke depan untuk mengajak Rendra masuk.
Setelah itu, mereka pun masuk kembali dan duduk di ruang keluarga.
“Dari mana, Dek?” tanya Afkar begitu melihat Syara dan Rendra.
“Habis belanja persiapan nikah, Kak, trus mampir ke sini karena kangen sama Chayra. Eh, ternyata Chayranya tidur,” jawab Syara cemberut.
“Kan udah disiapkan Mama semuanya, Dek, beli apa lagi?” tanya Afkar kembali.
“Ribet tau, Kak, banyak banget persiapannya. Enakan kakak ya, gak perlu ribet langsung nikah,” kata Syara menggoda Afkar.
“Ssstt, kasihan kalau dengar Kak Fira, banti dia ingat pernikahannya yang sempat gagal,” balas Afkar memelankan suaranya.
“Gapapa lagi, Mas, zhafira malah bersyukur karena gagal menikah dan mendapatkan kamu,” sambar Zhafira duduk di dekat Afkar. Afkar pun memegang tangan istrinya dan mengecupnya.
Syara yang melihat pun baper, “ihhhh so sweet ... kalian ini kayak pengantin baru aja tiap hari mesra terus,” celetuk Syara.
“Itu harus, Dek, kita harus tiap hari memberikan perhatian kepada pasangan agar pernikahan ini gak membosankan dan pasangan kita gak merasa diabaikan,” ucap Afkar membuat Zhafira tersenyum.
Tok...Tok...Tok...
“Siapa tuh, Kak?” tanya Syara yang mendengar ketukan pintu dari luar rumah.
__ADS_1