Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.35 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

Setelah pamit ke Afkar, Mama pun segera ke kamar Zhafira mengajak ngobrol sebentar lalu pulang.


Setelah Mama pulang, Afkar pun segera tidur. Pada tengah malam, terdengar Chayra terbangun dia pun menangis, karena kecapean Afkar sampai tak terbangun.


Chayra sampai menangis kencang, Zhafira yang pun mendengar dan berusaha untuk bangun. Zhafira sekuat tenaga melawan rasa sakitnya dan akhirnya perlahan Zhafira bisa membuka matanya. Zhafira pelan-pelan melepas alat-alatnya, badannya terasa kaku dan perlahan dia turun dari tempat tidur.


Saat membuka pintu, perawat kaget karena orang yang selama ini dia rawat udah sadar dan sekarang berdiri di hadapannya.


“Ibu ... ibu udah sadar? Alhamdulillah, Bu,” kata perawat terlihat begitu senang.


“Iya, Sus, saya dengar anak saya menangis, kenapa?” tanya Zhafira.


“Non Chayra lagi demam, Bu, jadi rewel,” jawab pengasuh Chayra yang berdiri di samping perawat sambil menggendong Chayra.


“Sini-sini ... biar saya yang gendong,” titah Zhafira dengan tersenyum.


“Ibu udah kuat? Apa perlu saya bangunkan pak Afkar?” tanya perawat memastikan.


“Gak usah, Sus, suami saya pasti kecapean, beberapa bulan ini pasti dia kurang tidur. Biar saya aja yang jaga.”


Chayra pun sepertinya tau kalau itu mamanya, dia pun langsung nyaman dipangkuan Zhafira. Chayra tertidur setelah diberi obat demam.


“Bu, Non Chayra biar saya tidurkan. Ibu istirahat lagi, ‘kan ibu baru sembuh,” titah pengasuh Chayra yang bernama Bi Minah.


“Bibi siapa namanya?” tanya Zhafira.


“Saya Minah, Bu, dan perawat ibu namanya Suster Desi,” jawab Bi Minah.


“Bi Minah dan Suster Desi istirahat aja ya. Saya ingin memeluk anak saya dulu, saya kangen,” balas Zhafira.


“Emang gapapa, Bu?” tanya Bi Minah memastikan.


“Udah, gapapa kok, Bi. Saya udah segar dan sehat,” balas Zhafira tersenyum seakan memastikan semua baik-baik saja.


“Baik, Bu, tapi sebelum kami istirahat, saya pastikan dulu ya, Bu. Akan saya periksa ibu sebentar,” ucap suster Desi.


“Baiklah,” balas Zhafira.


Suster pun segera memeriksa Zhafira, dan setelah diperiksa keadaan Zhafira benar-benar pulih, semua normal.


“Alhamdulillah, Bu. Ibu udah sembuh,” ucap Suster Desi membuat senyuman Zhafira terukir pada wajahnya.


“Alhamdulilah,” kata Bi Minah.


“Yaudah, karena saya udah sembuh, sebaiknya kalian istirahat aja, ya. Saya akan ke kamar membawa Chayra,” kata Zhafira diangguki oleh Bi Minah dan Suster Desi.


Zhafira segera membopong putrinya dan membawanya tidur bersama Afkar dan Zhafira. Saat masuk di kamar dan meletakkan Chayra, Zhafira sangat hati-hati agar suaminya gak terbangun.

__ADS_1


Setelah merebahkan badannya, Zhafira memandangi suaminya yang tampak kurus dan tak terawat.


“Mas, kamu kurus banget gini. Maafin aku ya, Mas,” ucap lirih Zhafira sambil menatap Afkar. Hingga akhirnya, Zhafira pun tertidur.


Saat adzan subuh berkumandang, Zhafira ingin memberi suaminya surprise.


Sebelum Afkar terbangun, dengan cepat Zhafira menggendong Chayra kemudian memberikan ke Bi Minah.


“Bi, tolong jaga sebentar Chayra, ya, saya akan memberikan kejutan untuk Mas Afkar,” titah Zhafira dan segera ke dapur memasak kesukaan suaminya.


Saat semua yang dimasak udah tersaji, Zhafira kembali masuk ke kamar sewaktu dia sakit untuk berpura-pura belum sadarkan diri.


Tak berapa lama, Afkar pun terbangun dan segera ke kamar mandi selesai mandi dan berganti pakaian juga sholat subuh, Afkar memutuskan masuk ke kamar Zhafira.


“Assalamu’alaikum, Sayang, hari ini aku pergi kerja sebentar ya, setelah itu aku langsung pulang,” ucap Afkar tanpa menyadari kalau Zhafira udah tanpa alat-alat yang terpasang.


Afkar segera keluar kamar setelah mencium kening istrinta, kemudian Afkar menuju ke dapur untuk sarapan pagi.


“Bi, tumben banget masak banyak, berbagai macam pula,” ucap Afkar sambil mengambil nasi dan sayur yang menggugah selera.


Saat satu sendok sudah masuk ke mulut, Afkar kaget karena masakannya begitu mirip dengan masakan istrinya.


“Bi, siapa yang masak ini?” tanya Afkar.


Dan dari belakang Afkar, Zhafira langsung menjawab, “Siapa lagi kalau bukan istri kamu, Mas.”


Suara yang telah lama tak didengar oleh Afkar, kini seakan hadir kembali. Afkar segera berdiri dan menoleh pada sumber suara.


“Kamu udah sadar, Sayang? Sejak kapan, hm?” tanya Afkar sambil menghujani ciuman pada istrinya.


“Mas, malu tuh dilihatin Bi Minah dan Suster Desi loh,” ucap Zhafira.


“Gapapa, Sayang, aku sangat bahagia. Karena kamu udah sadar. Maaf ... maafkan aku ya, aku gak bisa jagain kamu,” ucap Afkar menitikkan air mata kembali.


“Mas Afkar, suamiku, itu musibah. Jadi, kamu gak salah, Mas. Udah, jangan menyalahkan diri Mas sendiri,” titah Zhafira.


“Udah deh melownya, ayo lanjut dimakan, Mas, katanya mau kerja,” imbuh Zhafira menyapu lembut wajah tampan Afkar.


“Aku izin gak kerja aja ya, Sayang, aku kangen banget sama kamu,” ucap Afkar kembali menciumi Zhafira.


“Mas, kerja dulu dong. Aku akan menunggu kamu di rumah. Mas selama ini pasti sering izin ‘kan, jadi sekarang kerja ya,” balas Zhafira.


Afkar pun menurut, setelah makan dia bersiap mau kerja, saat di kamar Afkar kembali memeluk dan menciumi Zhafira.


“Sayang, alhamdulillah ... hari ini hari yang membahagiakan buat aku,” ucap Afkar.


“Iya mas, alhamdulillah kita bisa kumpul lagi,” balas Zhafira tersenyum menatap suaminya.

__ADS_1


“Sayang, nanti di jalan aku akan kasih kabar ke kedua orang tua kita,” kata Afkar dan Zhafira pun mengangguk.


Zhafira mengantarkan Afkar sampai ke depan rumah. Zhafira mencium punggung tangan Afkar.


Afkar segera menuju ke mobilnya. Tak lama, Bi Minah datang membawa Chayra dan diberikan pada Zhafira.


“Papa, putrinya belum dicium ini, Pa,” ucap Zhafira membuat Afkar kembali mendatangi Zhafira yang menggendong Chayra.


“Anak papa yang cantik, papa kerja dulu, ya. Kamu di rumah sama Mama, jadi anak yang baik dan pintar ya, Nak. Papa akan segera pulang,” titah Afkar segera mengecup pipi gembul Chayra.


Afkar pun membalikkan badan, hendak melangkah terdengar suara Zhafira, “Mamanya enggak nih, Pa?”


“Yang di kamar masih kurang, Sayang? Sini deh,” balas Afkar segera menarik Zhafira dalam pelukannya. Afkar memeluk istri dan anaknya kemudian mencium mereka berdua.


Setelah itu, Afkar masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya. Saat mobil Afkar udah tidak terlihat, Zhafira pun segera membawa Chayra masuk ke dalam rumah.


Saat akan menutup pintu, terdengar mobil berhenti, ternyata mertuanya datang.


“Assalamu’alaikum, Bunda,” ucap Zhafira mencium punggung tangan Bunda.


“Loh, Fira ... menantu Bunda. Kamu udah sadar, Sayang? Sejak kapan? Kok Afkar gak kasih tau Bunda sih,” balas Bunda Hanum.


“Fira sadar baru semalam, Bund. Mas Afkar tau kalau Fira sadar juga baru tadi pagi,” jawab Zhafira.


“Ayo masuk, Bund. Oh iya, Bunda makasih ya udah bantuin ngurus Chayra,” ucap Zhafira.


“Udah tugas Bunda, Nak, lagian Bunda sangat bahagia bisa ngurus dan bercanda sama cucu,” balas Bunda Hanum.


“Sini deh, sini cucu Bunda. Biar Bunda gendong dulu nih kesayangan kita ini ya,” lanjut Bunda mengambil alih Chayra untuk digendongnya.


Di dalam mobil, Afkar sangat bahagia karena istrinya udah sadar. Dia pun mengendarai mobilnya sambil bersenandung ria.


Dia baru ingat kalau belum memberi kabar kedua orang tuanya juga mertuanya.


Afkar pun segera memberi kabar ke Papa, “Assalamu’alaikum, Pa ... maaf Afkar menelpon papa pagi-pagi. Karena, Afkar mau menyampaikan, ada kabar gembira, Pa. Zhafira udah sadar,” ucap Afkar saat panggilan udah terhubung.


“Wa’alaikumussalam, Nak, gapapa kok, Nak. Alhamdulillah ... nanti Papa dan Mama ke sana, ya.”


Dan telpon pun segera diakhiri, setelah itu Afkar menelpon Ayahnya.


“Assalamu’alaikum, Ayah,” ucap Afkar.


“Wa’alaikumussalam. Menantu cantik Ayah udah sadar, ‘kan?” balas Ayah membuat Afkar mengernyit bingung.


“Loh ... loh ayah tau dari mana ini?” tanya Afkar.


“Bunda kamu udah nelpon Ayah duluan. Sekarang Bunda lagi di rumah kamu tuh. Mungkin kamu udah berangkat kerja duluan baru Bunda kamu datang,” jawab Ayah membuat Afkar manggut-manggut.

__ADS_1


“Yaudah, nanti Ayah ke sana. Ini mau kerja dulu. Gak sabar Ayah mau ketemu menantu dan cucu,” ucap Ayah.


“Iya, Yah. Anaknya mah lewat ya,” celetuk Afkar membuat mereka berdua tertawa bersamaan.


__ADS_2