
“Oh iya, Mas. Kamu tau gak, tadi pas kamu cari seblak, aku dapat pesan dari orang gak dikenal, Mas,” ucap Zhafira bercerita sambil memakaikan baju baby Adrian.
“Hah? Siapa, Sayang?” tanya Afkar yang langsung duduk di tepi kasur memperhatikan istrinya dengan serius.
“Aku gak tau, Mas. Soalnya tanpa nama,” jawab Zhafira.
“Dia kirim pesan apa, Sayang?” tanya Afkar kembali.
“Pesan ancaman, Mas. Ini,” balas Zhafira yang mengambil ponselnya kemudian mengulurkan tangannya memberikan ponsel pada suaminya.
Afkar pun segera membuka ponsel Zhafira dan mengecek isi pesan ancaman itu.
“Jika ingin keluargamu tidak ada gangguan, bebaskan adikku,” kata Afkar saat membaca pesan itu.
“Sayang, pasti ini dari Brian,” lanjut Afkar pada Zhafira.
“Iya, itulah, Mas ... kita harus gimana?” balas Zhafira kembali bertanya.
“Biarkan aja dulu, Sayang. Ayo istirahat,” kata Afkar dan mendapat anggukan dari Zhafira.
Zhafira memberi asi pada baby Adrian, sementara Afkar merebahkan diri di sisi Chayra. Tak lama dari itu, mereka pun terlelap.
Saat tengah malam, Chayra terbangun dan menangis minta dibuatkan susu pada papanya.
“Papa ... Chaya mau susu,” liriknya sembari menangis.
Namun, Afkar tak kunjung bangun hingga suara Chayra membuat Adrian ikut menangis.
“Cup cup cup, Sayang,” kata Zhafira menenangkan anaknya.
Zhafira pun kembali memberikan asi pada Adrian. Sementara Chayra tampak masih nangis sesegukan.
“Chayra kenapa, Nak?” tanya Zhafira.
“Chaya mau susu, Ma,” jawab Chayra disela-sela tangisannya.
“Pa ... papa,” panggil Zhafira.
Tak lama, Afkar pun terbangun dan melihat putrinya yang menangis.
“Ada apa ini?” tanya Afkar.
“Si kakak mau susu itu, Pa,” jawab Zhafira.
“Ooo ... bentar papa buatkan ya, Nak,” balas Afkar mengelus lembut rambut Chayra.
Afkar pun segera turun dari tempat tidur dan segera membuatkan susu untuk putrinya.
Tak lama kemudian, Afkar kembali ke kamar dan membawakan susu untuk Chayra.
Setelah Chayra meneguk habis susu yang dibuatkan oleh papanya, dia pun kembali tertidur. Sementara Afkar yang tak bisa tidur lagi pun mengajak Zhafira mengobrol.
“Sayang, Adrian udah tidur?” tanya Afkar.
__ADS_1
“Udah, Mas. Kamu kok gak tidur lagi?” balas Zhafira kembali bertanya.
“Ngantuknya hilang dibuat jalan. Kamu mau tidur lagi?” tanya Afkar.
“Aku mau ke kamar mandi dulu, Mas,” jawab Zhafira.
Perlahan Zhafira pun turun dari tempat tidur agar Adrian tidak terbangun.
Setelah itu, Zhafira segera menuju ke kamar mandi. Lalu, saat Zhafira keluar dari kamar mandi, dia melihat Afkar yang duduk di sofa kamar sembari memegang ponsel.
“Mas, bukannya tidur malah main HP. Besok kerja loh, Mas,” kata Zhafira mendekat pada Afkar dan duduk di samping suaminya.
“Iya, Sayang, aku cuma lagi kangen sama kamu,” balas Afkar yang langsung meletakkan ponselnya dan segera memeluk erat istrinya.
****
Satu tahun kemudian, saat ini mereka tengah disibukkan dengan acara ulang tahun Adrian yang ke satu tahun.
Mereka pun mengadakan acara hanya khusus keluarga saja di restoran.
Afkar dan Zhafira juga kedua anak mereka saat ini tampak udah siap dan segera menuju ke restoran yang udah ditentukan jauh-jauh hari.
“Pa, kita langsung ke restoran aja?” tanya Zhafira.
“Iya, Sayang. Soalnya semua udah kumpul di sana juga,” jawab Afkar.
“Papa, Mama, nanti di sana ada adek Ammar ‘kan di sana?” tanya Chayra.
Perlu diketahui, Ammar Bakhtiar adalah nama putra pertama dari pasangan Rendra dan Syara yang telah lahir dengan normal setelah tiga bulan kelahiran baby Adrian kala itu.
Sesampainya mereka di restoran, Afkar segera menggendong Chayra keluar mobil dan disusul oleh Zhafira yang menggendong Adrian. Mereka bersamaan masuk ke dalam restoran dan melihat opa, oma, kakek, nenek, om Rendra, aunty Syara juga adek Ammar yang udah berkumpul di sana.
“Adek Ammar!” teriak Chayra dan meminta pada papanya untuk mendekat pada Rendra yang tengah menggendong putranya.
“Hai, Kak Chayra ... cantik banget malam ini,” ucap aunty Syara.
“Makasih, Aunty,” balas Chayra yang tersenyum manis pada Syara.
“Salim dulu sama semuanya, Nak,” titah Zhafira.
Chayra pun minta diturunkan dari gendongan dan segera mendekat pada opa, oma, kakek, nenek, om juga auntynya untuk menyalimi mereka.
“Pinternya cucu Opa,” lirih papa Fadlan sembari mengelus kepala Chayra.
“Yaudah ayo kita mulai langsung aja!” seru mama Latifah.
Syara pun segera mengeluarkan kue yang udah dipesan olehnya juga Zhafira di desain khusus untuk Adrian.
Afkar segera menghidupkan lilin dan semuanya pun mendekat dan memperhatikan aksi lucu Adrian tatkala melihat lilin yang menyala.
Setelah mereka merayakan ulang tahun dan dilanjutkan dengan makan bersama, mereka pun berbincang santai di restoran.
“Kak Chayra, sini dong aunty kasih jajan,” ucap Syara.
__ADS_1
Chayra pun segera mendekat pada Syara dan mengadahkan tangannya kemudian bertanya, “Mana aunty?”
“Kak Chayra cium aunty dulu dong,” celetuk Syara membuat Chayra merengut.
“Nah ini,” kata Syara sembari mengeluarkan totebag kecil.
“Makasih Aunty!” seru Chayra berlari kembali mendekat pada papanya.
Setelahnya, Syara segera memberikan kado untuk Adrian.
“Waaahhh maacii yaa onty!” seru Zhafira menirukan suara anak kecil.
Syara membalas dengan mencabut gelas pipi Adrian yang tampak gembul itu. Mereka pun melanjutkan obrolannya.
Tak lama kemudian, Adrian menangis minta susu, Zhafira pun segera menuju ke mobilnya karena susu bantu Adrian masih ketinggalan di mobil.
“Mas, aku bawa Adrian ke mobil dulu, ya. Mau ambil susu Adrian,” kata Zhafira.
“Iya, Sayang,” balas Afkar mengangguk dan tersenyum.
Zhafira pun segera keluar meninggalkan restoran dan menuju ke mobilnya. Zhafira membuka pintu mobil dan mendudukkan putranya.
“Adek duduk di sini, mama ambilkan susu ya, Nak,” titah Zhafira yang dibalas senyuman dan anggukan dari Adrian.
Saat Zhafira sibuk mencari-cari botol susu Adrian, tiba-tiba dia mendengar suara Adrian yang menangis pun kaget.
Zhafira segera mendekat dan ternyata Adrian udah tidak ada, pintu mobil yang tadinya ditutup pun kini terbuka.
“Adrian!” teriak Zhafira.
Zhafira sekilas melihat Adrian yang digendong oleh laki-laki tengah berlari membawa Adrian pergi.
Tanpa menunggu lama, Zhafira pun berlari mengejar laki-laki itu. Namun, tak kunjung dapat olehnya.
“Arghhh, siapa laki-laki itu? Kenapa dia membawa anakku pergi,” celoteh kesal Zhafira yang masih mengejar langkah laki-laki itu.
Tak lama, Zhafira yang mulai lelah pun dengan sedih dia kembali masuk ke dalam restoran untuk memberitahu pada suaminya.
Dengan diselimuti rasa takut, Zhafira masuk ke dalam restoran dan melihat semuanya yang masih mengobrol.
“Mas,” lirih Zhafira memanggil suaminya.
Afkar menoleh dan kaget saat melihat napas Zhafira yang tak teratur dan juga raut wajah sedih istrinya itu.
“Kamu kenapa? Mana Adrian, Sayang?” tanya Afkar sembari menangkup pipi istrinya.
“Mas, maafin aku,” lirih Zhafira berhambur memeluk Afkar.
“Kenapa, Sayang? Ada apa ini?” tanya Afkar yang tampak panik dan bingung.
“Adrian, Mas. Hiks ... Adrian diculik, Mas,” jawab Zhafira memberitahu. Sontak semua netra tertuju padanya.
“Adrian diculik? Kok bisa?” tanya papa Fadlan segera berdiri dan mendekat pada anak dan menantunya.
__ADS_1