Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.62 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

Di mobil, Ayah Reyhan pun langsung menelpon papa Fadlan.


“Assalamu’alaikum, Fadlan. Kamu di mana?” tanya ayah Reyhan.


“Kamu kan tau kalau jam segini pasti di kantor, pake tanya lagi. Kalau mau ke sini ya ke sini aja,” jawab papa Fadlan.


“Ngapain juga aku ke kantormu. Males banget, mending aku ke rumah sakit. Karena cucu jagoanku udah lahir,” kata ayah Reyhan.


“Cucu jagoan? Anaknya siapa? Anakmu kan cuma Afkar,” ucap papa Fadlan.


“Ya memang, kan yang lahir anaknya Afkar dan Fira. Mau ke rumah sakit gak? Jangan sampai cucu jagoannya aku kuasai sendiri nanti,” balas ayah Reyhan.


“Eh ... tunggu-tunggu, kamu bilang apa? Fira udah melahirkan? Ngapain gak ngomong dari tadi, Han. Ayo jemput aku sekarang di kantor, Han,” ucap papa Fadlan.


“Gak mau. Aku maunya ke rumah sakit,” celetuk ayah Reyhan.


“Oh ayolah, Han, jemput aku ke kantor. Kamu ‘kan bukan hanya besanku tapi juga sahabatku,” ucap papa Fadlan kembali.


“Kamu ini kalau udah ada maunya gak bisa bilang tidak. Okedeh, siap-siap di lobby, lima belas menit lagi aku sampai,” kata ayah Reyhan.


“Jangan, jangan lima belas menit. Lima menit aja, harus sampai!” seru papa Fadlan dan diakhiri dengan tawanya.


“Terserah, pokok aku datang dan kamu gak di lobby, aku tinggal,” ucap ayah Reyhan.


“Iya, aku turun sekarang,” kata papa Fadlan segera menutup telponnya.


“Alhamdulillah Fira udah melahirkan, aku telpon mama dulu takutnya lupa,” lanjut papa Fadlan segera mencari kontak istrinya.


Dan papa Fadlan pun segera menelpon mama Latifah. Tapi beberapa kali ditelpon gak diangkat juga oleh mama Latifah.


“Aduhhh, ini pasti lagi masak nih, kebiasaan kalau ke dapur HP gak dibawa mama ini,” dumel papa Fadlan.


Akhirnya papa Fadlan pun bergegas turun ke lobby, sambil turun papa Fadlan terus mencoba menelpon mama Latifah tapi terus saja gak bisa, kemudian papa Fadlan memutuskan untuk menelpon Rendra.


Drrttt...Drrttt...Drrttt


“Assalamu’alaikum, Dra, sibuk?” tanya papa Fadlan.


“Wa’alaikumussalam, Pa. Enggak kok, Pa. Ada apa ya?” tanya Rendra.


“Papa cuma mau mengabari nanti kalau kamu pulang bareng Syara, tolong kamu antar mama ke rumah sakit ya,” jawab papa Fadlan.


“Loh ... kok Rumah sakit, Pa? Siapa yang sakit?” tanya Rendra.


“Gak ada yang sakit, Dra, Fira udah melahirkan. Mama dari tadi ditelpon gak diangkat. Papa sekarang mau menuju ke rumah sakit bareng ayah Reyhan,” balas papa Fadlan.

__ADS_1


“Kak Fira udah melahirkan, Pa? Alhamdulillah ... iya, Pa, nanti Rendra langsung ke rumah sakit ngantar mama,” kata Rendra, kemudian mereka pun mengakhiri telponnya.


Rendra yang bahagia pun segera menemui Syara di ruangannya.


“Syara, dicari suami lo tuh,” kata teman Syara memberitahu.


Syara pun langsung menoleh dan ketika melihat suaminya Syara segera berdiri dan berjalan mendekat.


“Ada apa, Mas?” tanya Syara.


“Dek, ada kabar gembira. Aku baru aja ditelpon sama papa kalau kak Fira udah melahirkan,” jawab Rendra.


“Alhamdulillah, Mas ... kapan?” tanya Syara.


“Baru aja, sekarang lagi di rumah sakit,” balas Rendra.


“Ayo kita ke sana, Mas!” seru Syara.


“Nanti ya pulang kerja sekalian sama mama, karena papa udah di rumah sakit,” ucap Rendra.


“Aduh, Mas ... aku gak sabar pengen lihat ponakan,” kata Syara.


“Iya, Sayang, kita lanjut kerja dulu ya.”


Dan setelah Syara mengangguk setuju, Rendra pun segera kembali ke ruang kerjanya.


Papa Fadlan pun segera masuk saat mobil udah berhenti kemudian berkata, “Dah, ayo kita berangkat, katanya lima belas menit, ini udah sampai tiga puluh menit baru datang.”


“Ya lagian kamu ini, aku udah hampir sampai rumah sakit, suruh jemput. Tentu lama,” balas ayah Reyhan.


“Cepat, Han, aku udah pengen liat cucuku. Pasti tampan seperti opanya,” kata papa Fadlan.


“Yah ... yang pasti seperti kakeknya lah, orang katanya ganteng seperti papanya. Papanya kan keturunan kakeknya,” ucap ayah Reyhan tertawa.


“Halah ... itu bisa-bisanya kamu aja. Dasar narsis! Udah tua juga,” celetuk papa Fadlan.


“Bilang aja kamu iri,” kata ayah Reyhan tertawa dan mereka pun akhirnya sampai di rumah sakit. Mereka langsung menuju ke ruang bersalin.


Sesampainya di ruang bersalin, ternyata Zhafira udah dipindahkan di ruang rawat. Papa Fadlan dan ayah Reyhan segera ke ruang rawat. Saat masuk ke ruangan ternyata bayinya sedang digendong bunda Hanum.


“Assalamu’alaikum,” ucap mereka serempak.


“Han, kita terlambat, cucu kita udah dikuasai neneknya,” kata papa Fadlan yang berbisik.


“Papa, ngapain bisik-bisik? Gak nanyain anaknya,” gerutu Zhafira.

__ADS_1


“Iya, Sayang. Ini nih, ayah kamu ngajakin ngopi malahan,” balas asal papa Fadlan membuat ayah Reyhan pun langsung melongo dengan alasan papa Fadlan.


“Kamu itu ngomong apa, siapa juga yang ngajakin ngopi!” seru ayah Reyhan.


“Udah-udah ... cucu udah dua masih aja kayak anak kecil,” celetuk bunda Hanum.


“Suamimu itu yang mulai, Num,” kata papa Fadlan.


“Papa, udah deh, Pa ... kalau masih berdebat, mending pulang aja,” ucap Zhafira.


“Hahaha ... rasain kamu, diusir putrimu sendiri,” ledek ayah Reyhan.


“Ayah, itu berlaku juga loh buat ayah,” kata Afkar dan seketika mereka diam.


Papa Fadlan pun beralih mendekat pada Zhafira kemudian bertanya, “Gimana, Nak, masih sakit?”


“Alhamdulillah udah enggak, Pa,” jawab Zhafira.


“Afkar, siapa namanya cucuku yang tampan ini?” tanya ayah Reyhan yang berdiri di belakang bunda Hanum yang masih menggendong bayi.


“Namanya Adrian Pradipta Muwaffaq, Yah, Pa,” jawab Afkar.


“Nama yang bagus , iya gak, Han?” balas papa Fadlan menoleh pada ayah Reyhan.


“Pastilah, anakku pasti ngasih nama itu yang bagus,” celetuk ayah Reyhan.


“Ayo mulai berdebat lagi, bunda suruh kalian berdua keluar,” kata bunda Hanum.


“Enggak, Bund, ayah gak berdebat. Bunda udah belum gendongnya, gantian loh, Bund,” ucap ayah Reyhan.


“Iya ini ... gendonglah, Yah,” balas bunda Hanum yang perlahan memberikan cucunya pada kakeknya itu.


Dan sekarang Adrian pun berada di gendong ayah Reyhan.


“Assalamu’alaikum cucu ganteng kakek, kamu ganteng banget seperti kakek kamu, Nak,” ucap ayah Reyhan.


Papa Fadlan pun segera mengambil Adrian dari gendongan ayah Reyhan, “Ikut opa ya, Sayang, biar ketularan gantengnya.”


“Astagfirullah ... bunda, lihatlah. Apa kita bawa keluar aja ya mereka?” lirih Afkar.


Saat bunda Hanum hendak melangkah maju, papa Fadlan dan ayah Reyhan pun langsung terdiam.


“Adrian, besuk kalau udah besar nerusin kantor opa ya, Nak,” ucap papa Fadlan.


Ayah Reyhan pun segera mendekat, “Hayo, mengeluarkan kata-kata berarti mau keluar dari ruangan ini,” kata bunda Hanum.

__ADS_1


Dan ayah Reyhan pun segera menjauh dan duduk di dekat bunda Hanum.


“Pa, mama kok gak ikut?” tanya Zhafira.


__ADS_2