Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.80 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

“Sayang, maafin aku. Aku gak tau kalau ada dia, dan ... dia pun tiba-tiba gitu,” kata Afkar.


“Gapapa, Mas. Lagian bukan salah kamu, tapi kalau emang benar kamu digoda, kamu bakal luluh gak sih sama dia, Mas?” tanya Zhafira.


“Pastinya enggaklah, Sayang,” jawab Afkar.


“Bener ya, Mas?” tanya Zhafira memastikan dan mendapat anggukan mantap dari Afkar.


Zhafira menyender pada bahu suaminya kemudian dia menatap lekat suaminya itu.


“Kenapa, Sayang?” tanya Afkar.


“Gapapa, Mas ... aku takut aja nantinya kamu malah luluh sama si Lestari itu. Gak kapok-kapok ya dia selalu aja ngegangguin kamu,” jawab Zhafira menggerutu.


“Udahlah, Sayang ... jangan dipikirin. Aku gak akan luluh sama dia gimana pun dia ngegoda aku,” balas Afkar.


“Tapi, Mas ...” lirih Zhafira.


“Udah, sekarang kita fokus pada kesembuhan papa dan mama. Kamu jangan mikir yang macam-macam ya,” titah Afkar.


Zhafira pun mengangguk kecil.


Tak lama kemudian, Syara dan Rendra kembali ke kamar rawat mama Latifah. Setelah Syara masuk, dia mendekat pada Zhafira dan Afkar.


“Kak,” panggil Syara.


Zhafira dan Afkar pun menoleh bersamaan. Kemudian bertanya, “Kenapa, Syara? Ada kabar baik tentang papa?”


“Kak, kita diminta dokter untuk ke UGD,” ungkap Syara.


“Kenapa? Papa baik-baik aja kan?” balas Zhafira.


“Justru itu, Kak ... dokter mau ngabarin tentang keadaan papa. Ayo cepat, Kak,” kata Syara.


“Tapi mama ...” lirih Zhafira menoleh pada brankar yang tampak mama Latifah masih tertidur.


“Mama gapapa, Kak. Nanti kita minta tolong suster untuk jaga,” ucap Syara.


“Gini aja ... kamu dan Syara pergi ke UGD. Biar aku jaga mama sebentar,” kata Afkar menengahi.


“Gapapa, Mas?” tanya Zhafira memastikan.


Afkar mengangguk sembari tersenyum sebagai jawaban.


“Yaudah kalau gitu, ayo, Dek!” seru Zhafira.


Zhafira dan Syara pun bergegas keluar ruang rawat mama Latifah menuju ke UGD.


Sesampainya di UGD, ternyata Rendra tampak menunggu bersama dokter yang menangani papa Fadlan. Mereka menunggu tepat di depan pintu ruang UGD.


“Dokter, bagaimana keadaan papa saya?” tanya Zhafira yang tak sabar.


“Begini, pasien udah sadar. Untuk memastikan beliau amnesia atau tidaknya, tolong ikut saya masuk,” jawab dokter memberitahu.


“Alhamdulillah ... ayo, Syara, Rendra,” ajak Zhafira.


“Maaf, Bu ... mohon dua orang saja yang masuk terlebih dahulu,” sambar dokter setelahnya.


“Gimana ini, Kak?” tanya Syara.

__ADS_1


“Udah gapapa, Kak ... kak Fira dan Syara masuk aja. Rendra nemenin Kak Afkar aja di ruang rawat mama,” ucap Rendra menengahi.


“Oh yaudah kalau gitu. Kamu langsung ke sana aja, mas Afkar sendiri soalnya di sana,” balas Zhafira dan mendapat anggukan dari Rendra.


“Emm ... kalau ada apa-apa, tolong kabari ya, Kak,” ucap Rendra.


Setelah mendapat jawaban dari Zhafira, Rendra pun berjalan menuju ruang rawat mama Latifah.


Saat Rendra sampai di ruang rawat mama Latifah, terdengar suara Afkar tengah ribut dengan seseorang di dalam.


“Kak, ada apa ini?” tanya Rendra yang langsung masuk.


“Ren, tolong bantu ajak wanita ini keluar, dia mengganggu istirahatnya mama,” jawab Afkar meminta tolong pada Rendra.


Rendra tak menunggu lama pun menarik wanita itu keluar ruangan. Kemudian, Rendra mengunci pintunya.


Setelah itu, Rendra mendekat pada Afkar agar Afkar bercerita padanya.


“Apa yang terjadi, Kak?” tanya Rendra.


“Tadi gak lama waktu Fira keluar ruang rawat mama, Lestari itu tiba-tiba masuk. Aku ya kaget lah pas ngerjain sesuatu di HP tiba-tiba ada yang duduk di sebelahku,” jawab Afkar.


“Astagfirullah ... nekat banget dia,” balas Rendra.


“Aku juga gak tau, Ren ... yaudahlah untung kamu datang cepat tadi,” ucap Afkar.


“Maunya, kak Afkar langsung tarik dia keluar aja, Kak,” kata Rendra.


“Aku gak mau nyentuh dia, Ren,” balas Afkar membuat Rendra manggut-manggut.


Sementara di ruang UGD, Zhafira dan Syara yang tadi mengikuti langkah dokter masuk ke dalam ruangan pun kini udah berada di sisi papa Fadlan yang tampak memandangi langit-langit.


Flashback


Sebelum masuk ke dalam ruang UGD, dokter menginstruksikan bahwa nantinya Zhafira memanggil papa Fadlan duluan hingga menunggu balasan dari papa Fadlan.


“Sudah saya jelaskan. Paham?” tanya dokter.


“Paham, Dok, terima kasih.” Zhafira dan Syara pun saling pandang dengan pemikiran yang sama.


Flashback Off


“Pa ...” panggil Zhafira kedua kalinya.


Papa Fadlan menoleh pada sumber suara.


“Papa,” lirih Zhafira menatap lekat pada Papa Fadlan yang terbayang lemah.


“Kamu ... Fira? Anakku?” tanya papa Fadlan.


“Alhamdulillah ... iya, Pa. Ini Fira,” jawab Zhafira.


Kemudian Zhafira menoleh pada Syara, gantian Syara yang memanggil papa Fadlan.


Syara yang ditatap oleh Zhafira pun paham dan mendekat pada papa Fadlan.


“Papa,” panggil Syara.


Papa Fadlan menoleh pada sumber suara yang memanggilnya kali ini.

__ADS_1


“Syara,” lirih papa Fadlan yang mengenali Syara.


“Alhamdulillah ... papa gak amnesia, Kak,” balas Syara menoleh pada Zhafira.


“Terima kasih bantuannya. Izinkan saya memeriksa pasien kembali. Tolong keluar terlebih dahulu, ya,” titah dokter.


“Baik, Dokter,” balas Zhafira dan Syara serempak.


“Pa, Fira dan Syara keluar dulu, ya. Papa harus sembuh, cucu-cucu papa udah nunggu,” ucap Zhafira dengan menahan air matanya yang hendak meneetes saat itu.


Zhafira menggenggam kuat tangan Syara kemudian melangkah bersamaan keluar ruang UGD.


“Alhamdulillah ya, Kak. Ayo kita ke ruangan mama, Kak,” ajak Syara.


“Iya, ayo kita kasih tau kabar baik ini ke mama dan suami kita,” balas Zhafira.


Zhafira dan Syara pun berjalan bersamaan menuju ke ruang rawat mama Latifah.


Sesampainya depan pintu, Zhafira nampak Lestari yang berdiri mengintip ruang rawat mama Latifah.


“Heh, lo ngapain masih di sini?” tanya Zhafira.


“Bukannya udah diizinkan untuk menggoda pak Afkar. Kenapa nanya lagi?” balas Lestari.


“Dasar ulat bulu!” celetuk Syara.


Tok... Tok... Tok...


“Mas, ini aku,” ucap Syara sambil mengetuk pintu.


Tak lama, Rendra pun tampak membukakan pintu dan mengizinkan Zhafira dan Syara masuk.


Namun, Lestari yang hendak menerobos masuk pun udah keduluan pintu ditutup oleh Rendra.


“Sialan!” Lestari berdecak kesal dan berlalu pergi.


Zhafira dan Syara yang udah di dalam ruang rawat pun nampak mama Latifah yang udah bangun.


“Ma ...” panggil Zhafira.


“Iya, Nak ... gimana keadaan papa kamu?” tanya mama Latifah.


“Alhamdulillah papa baik-baik aja, Ma. Papa juga udah sadar,” jawab Zhafira.


“Papa gimana?” tanya Rendra mendekat ke Syara.


“Alhamdulillah gak amnesia, Mas,” jawab Syara.


“Alhamdulillah ...” ucap mereka serempak.


“Nak ...” lirih mama Latifah menatap Zhafira, Afkar, Rendra, dan Syara bergantian.


“Kenapa, Ma? Mama butuh sesuatu?” tanya Syara.


“Mama mau nanya aja, dari mama tidur tadi sampai mama bangun, kayaknya ada keributan. Siapa wanita tadi?” tanya mama Latifah membuat mereka semua saling tatap bingung menjelaskan pada mama Latifah bagaimana.


“Ma, udah jangan dipikirkan ... mama fokus ke kesehatan mama aja, ya,” titah Zhafira.


“Tapi mama cuma pengen tau aja, Nak. Sampai se-nekat itu dia mau masuk ke sini. Apa mama kenal sama dia? Dia siapa, Nak?” tanya mama Latifah yang benar-benar penasaran saat ini.

__ADS_1


__ADS_2