Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.29 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

“Maaf, kerja di sini sebagai apa?” tanya Afkar tanpa menoleh pada Lestari. Dia hanya fokus pada pekerjaannya.


“Maaf, tadi saya ke pantry buat minuman, jadi sekalian aja saya buatkan untuk bapak,” balas Lestari tanpa menjawab apa yang Afkar tanyakan.


“Lebih baik urus aja pekerjaanmu, ada OB yang menyiapkan minuman buat saya,” ucap Afkar tegas.


“Baik, Pak, saya minta maaf,” lirih Lestari yang hendak meninggalkan ruangan tapi di panggil lagi oleh Afkar.


“Tunggu, bawa juga minuman itu dan jangan masuk ke ruangan saya kalau gak ada yang penting!” seru Afkar.


Lestari pun segera mengangguk dan mengambil minuman yang diberikannya tadi untuk Afkar.


Sampai di luar ruangan, lestari pun menggerutu, “Gila tuh orang, diperhatiin sama cewek secantik gue kok nolak. Sok jual mahal banget tu orang.” Lestari segera menuju ke ruangannya.


Afkar segera bersiap pergi karena hari ini tempat dia melakukan akad agak jauh. Afkar segera mengajak petugasnya untuk segera berangkat, tak lupa Afkar mengunci pintu ruangannya sebelum berangkat.


Setelah mereka siap, segera mereka melajukan kendaraannya ke tempat tujuan.


Di tempat lain, tepatnya di kantor tempat Zhafira bekerja.


Zhafira masih dengan kesibukannya karena kemarin dia gak masuk kerja. Jadi hari ini kerjaan Zhafira menumpuk.


Tak terasa waktu makan siang tiba, Zhafira mendapat telpon dari suaminya kalau Afkar udah menunggu di depan.


Akhirnya Zhafira pun segera keluar kantor kemudian masuk ke mobil dan mobil pun melaju menuju ke tempat mereka makan siang.


Saat mereka makan siang, Zhafira berniat hendak mengatakan tentang surat itu, tapi dia ragu. Zhafira takut kalau nantinya Afkar akan marah lagi.


“Kamu kenapa, Sayang? Seperti ada yang dipikirkan?” tanya Afkar.


“Emm ... Mas, kalau Fira memberitahu kamu sesuatu apa kamu akan marah lagi?” balas Zhafira bertanya pada Afkar.


“Enggak, Sayang. Mas g akan marah lagi, ada apa?” balas Afkar dengan lembut.


Zhafira segera memberikan sesuatu yang sebelumnya ditaruhnya di dalam tasnya.


“Ini, Mas. Fira mau kamu aja yang buka,” ucap Zhafira mengulurkan secarik kertas.


“Kertas apa ini?” tanya Afkar.


“Surat, Mas,” jawab Zhafira.


“Surat apa, Sayang? Dari siapa?” tanya Afkar kembali.


“Itu surat dari ... da—dari Daffa, Mas. Tadi Daffa menitipkan ke temannya. Tadi waktu di kantor, temannya ngasih ke Fira. Tapi, Fira belum baca kok, Mas. Fira takut kalau Mas marah lagi,” jawab Zhafira menjelaskan.

__ADS_1


“Sayang, kamu tenang, ya ... Mas gak akan marah. Kita baca sama-sama ya,” titah Afkar.


Afkar pun segera membuka kertas yang ada di tangannya, dan saat Afkar membuka suratnya.


Zhafira memegang tangan Afkar seraya berkata, “Mas, apapun isi surat itu, tolong jangan marah dan jangan dipikirkan.”


“Kamu tenang aja, Sayang.” Afkar pun segera membaca isi surat tersebut.


Zhafira, sebelumnya aku minta maaf. Aku gak bisa nemuin kamu di kantor, tiap aku ke kantor, aku selalu di usir. Boleh gak kalau aku ke rumah kamu? Aku sayang banget sama kamu, aku menyesal udah ninggalin kamu saat akad nikah. Aku mau kita seperti dulu, Zhafira Adzra Nadhifa. Besok kita ketemu ya, di cafe sehati. Aku akan tunggu besok pas makan siang, dan harus datang.


Dari yang mencintaimu


Daffa


Setelah membaca surat dari Daffa, Afkar menghembuskan napasnya kasar. Dia berusaha membuang emosinya.


“Mas, are you okay?” tanya Zhafira.


“Oke, Sayang. Aku gapapa. Udah, kamu tenang aja, kamu mau baca?” balas Afkar dan Zhafira hanya menggeleng menolak.


“Yaudah, yuk. Kita harus ke rumah sakit,” ucap Afkar.


Zhafira pun segera berdiri dan memegang lengan Afkar menuju ke parkiran.


Afkar tampak sesekali melamun dan emosi. Tapi, dia gak mau memperlihatkan pada istrinya.


Setibanya di rumah sakit, orang tua mereka ternyata udah menunggu di sana.


“Aduh kalian ini kemana aja, Mama dan Bunda kamu udah g sabar ingin melihat cucu. Ayo segera masuk ke ruang dokter,” ucap Mama.


“Iya loh, Fir ... Mama kamu ini dari tadi gak henti-hentinya lihat pintu masuk, gak sabar banget,” imbuh Papa.


“Iya, Pa, Ma ... maaf kami tadi makan siang dulu,” jawab Afkar yang gak enak karena orang tua mereka menunggu lama.


“Yaudah, gapapa. Ayo segera masuk aja,” ajak Papa.


“Lah, emangnya gak antri, Pa? Kan harus daftar dulu,” ucap Zhafira.


“Itu tadi Papa dan Ayah kamu udah booking dokternya, jadi sebelum kamu diperiksa, dokter gak boleh meriksa yang lain,” balas Bunda membuat Zhafira kaget.


“Hah? Beneran, Bund? Ya Allah, kasianlah pasien yang lain.”


“Makanya dari pada lama-lama, yuk segera masuk aja!” seru Ayah yang udah tak sabar.


Dan mereka pun segera masuk ke ruang pemeriksaan.

__ADS_1


“Selamat siang, Dokter,” sapa mereka serempak.


“Selamat siang. Mari, Pak, Bu ... silakan duduk,” balas dokter.


“Ibu Zhafira silakan berbaring di brankar dulu, ya,” lanjut dokter.


Zhafira segera membaringkan badannya di brankar dan suster pun membuka baju bagian bawahnya dan mengolesi gel.


“Kita periksa dulu ya, Bu,” ucap dokter yang segera mulai memutar alat di atas perut Zhafira.


“Bayinya sehat ya, Pak,usia bayi udah empat belas minggu minggu. Kita dengarkan detak jantungnya ya, Pak, Bu,” titah dokter yang kemudian dokter mengarahkan ke detak jantung bayi.


Zhafira menitikkan air matanya. Dia terharu karena sebentar lagi Zhafira akan menjadi ibu.


Afkar sesekali mencium kening Zhafira.


“Udah, Pak, bayinya sangat sehat. Satu bulan lagi kontrol ya, Pak. Ini saya kasih vitamin dan penambah darah, nanti tolong ditebus di apotek,” tutur dokter diangguki oleh Afkar dan juga Zhafira.


Mereka pun akhirnya keluar dr ruang dokter, setelah mengambil obat mereka pun segera pulang. Saat Afkar mengambil mobil di parkiran, Afkar memanggil Ayah dan Papa.


“Yah, Pa, ada sesuatu yang mau Afkar tunjukan,” ucap Afkar segera memberikan surat dari Daffa yang untuk Zhafira ternyata masih berafa di tangan Afkar.


Ayah dan Papa segera membacanya. Dan setelah membacanya, tampak dua orang itu berfikir, setelah itu berkata pada Afkar.


“Besuk suruh aja Zhafira menemui Daffa, Nak, kita gak bisa menghindari Daffa terus menerus, ini harus diselesaikan,” balas Ayah memberi saran.


“Besok Zhafira suruh ke tempat tersebut, Ayah dan Papa kamu akan datang sebelum Daffa datang,” imbuh Papa.


“Baik Yah, Pa. Terima kasih atas solusinya.”


“Yaudah yuk, jangan kelamaan nanti mereka ngomel-ngomel lagi!” seru Ayah membuat Papa dan Afkar tersenyum.


Mereka pun akhirnya pulang menuju ke rumahnya masing-masing.


Zhafira dan Afkar tidak kembali ke kantor karena waktu udah sore, mereka langsung pulang. Afkar udah izin langsung ke Reigha selaku pimpinan perusahaan tempat Zhafira bekerja.


Setelah sampai rumah, Afkar dan Zhafira segera masuk ke kamarnya dan mandi setelah itu sholat ashar berjama’ah.


Setelah sholat ashar, Afkar mengajak ngobrol istrinya.


“Sayang duduk sini sebentar, Mas mau ngomong bentar aja,” titah Afkar diangguki oleh Zhafira.


“Ada apa, Mas?” tanya Zhafira.


“Begini, Sayang, besok kamu temui aja Daffa, Mas akan antar,” ucap Afkar membuat Zhafira kaget.

__ADS_1


“Mas, yakin mau antar Fira ketemu Daffa? Maksudnya gimana sih ini?” tanya Zhafira yang emosinya mulai naik.


“Sayang, kita gak bisa menghindar terus dari Daffa, kita harus menghadapinya. Jadi, coba besok kamu temui aja, kamu jelaskan semoga dia mau mengerti, apa lagi ‘kan kamu sedang hamil,” jawab Afkar menjelaskan pelan-pelan pada istrinya.


__ADS_2