
“Pa, jangan ... Fira sangat mencintai Mas Afkar. Fira gak mau bercerai dari Mas Afkar, Pa,” lirih Zhafira memegang lengan Papa untuk menahan langkah Papa Fadlan.
“Pa, Fira ikut Papa dan Mama ke rumah sakit,” lanjut Zhafira.
“Syara, kamu jagain kakak kamu di rumah, Papa dan Mama akan ke rumah sakit,” ucap Papa pada Syara dan tak menanggapi ucapan Zhafira.
“Iya, Pa, Syara akan jaga Kak Fira,” balas Syara.
Papa dan Mama segera masuk kamar untuk bersiap diri.
Saat di kamar, Mama pun bertanya, “Pa, kok Papa bicara seperti itu? Anak kita lagi hamil, Pa.”
“Ma, kalau gak digituin, Fira mana sadar, Ma. Udah cukup selama ini kita diamkan dan gak ikut campur urusan mereka, tapi ini udah dua bulan, Ma. Dan setiap hari datang, selalu aja dicuekin sama Fira. Papa kasihan lihat Afkar,” jawab Papa.
“Yaudah, yuk berangkat ke rumah sakit,” ajak Mama.
Papa dan Mama pun segera ke rumah sakit, sementara Zhafira tidak diperbolehkan ikut, Zhafira di rumah ditemani oleh Syara.
Di rumah, Zhafira sangat mencemaskan Afkar, akhirnya dia memberanikan diri menyusul orang tuanya ke rumah sakit.
Saat Zhafira hendak keluar dari pintu utama, Syara memanggilnya.
“Kak, Kak Fira, mau ke mana? Papa ‘kan ngelarang kakak pergi,” ucap Syara bertanya pada Zhafira.
“Dek, jangan ngehalangi kakak ya. Gue gak bisa diam di rumah, suami kakak lagi di rawat di rumah sakit. Gue harus merawat Mas Afkar,” jawab Zhafira.
“Lagian kakak kelewatan sih sampai dua bulan ninggalin Kak Afkar. Gak boleh ya, kakak harus di rumah jangan keluar!” seru Syara.
“Tolong dong jangan gitu. Kakak mau pergi sekarang!” Zhafira melangkahkan kaki semakin cepat keluar rumah.
“Kak, lo jangan gitu dong, lo tuh lagi hamil masa keluar malam sendirian pula. Udah, di rumah aja,” ucap Syara kembali.
“Tega lo, Dek. Udah dua bulan anak gue gak ketemu Papanya, dan lo ngehalanginya?” balas Zhafira lirih mengelus perutnya yang tampak sedikit menjendul.
“Yaudah, ayo Syara antar, tapi janji habis ini baikan, ya?” balas Syara diangguki oleh Zhafira.
Syara segera memanggil sopir yang akan mengantar Zhafira dan Syara ke rumah sakit.
Setelah mobil siap, mereka pun segera berangkat ke rumah sakit.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit Zhafira dan Syara gak tau di mana kamar rawat Afkar, akhirnya Zhafira bertanya ke resepsionis.
Kemudian, setelah di sebutkan kamar rawat Afkar, Zhafira berterima kasih. Mereka pun bergegas ke kamar yang dituju.
Sebelum masuk, Zhafira tampak cemas, karena takut kalau orang tuanya dan orang tua Afkar akan memarahinya, akhirnya Syara yang duluan masuk.
“Assalamu’alaikum,” salam Syara sembari berjalan masuk dan disusul Zhafira yang menunduk di belakang Syara.
“Wa’alaikumsalam, kalian ngapain ke sini? Ini udah malam,” balas Papa bertanya.
“Kak Fira nekat mau ke sini sendirian, Pa, jadi Syara temani karena gak tega kalau kak Fira pergi sendirian,” jawab Syara.
Sementara Zhafira langsung melihat ke brankar, tampak Afkar dengan wajah pucat tangan di infus dan badannya kurus merasa tak tega.
Zhafira segera menghampiri Afkar, “Mas, Fira minta maaf,” ucap Zhafira memeluk Afkar. Tapi Afkar gak merespon sama sekali karena Afkar lagi tertidur karena obat dari dokter.
Zhafira segera mendekati Ayah dan Bunda seraya berkata, “Ayah, Bunda, Fira minta maaf, Fira udah mengabaikan Mas Afkar. Fira mohon jangan setuju dengan keputusan Papa.”
“Emang apa yang akan Papa kamu lakukan, Nak?” tanya Bunda.
“Papa mau urus perceraian kami, Bund,” jawab Zhafira menunduk sedih.
“Mas, bangun, Mas. Mereka mau misahin kita, Mas,” ucap Zhafira lirih seraya terisak.
Namun, Afkar tetap belum merespon.
“Fira, Syara, ayo kita pulang. Jangan ganggu Afkar lagi!” seru Papa.
“Enggak, Pa, Fira gak mau pulang. Fira mau nemani Mas Afkar,” balas Zhafira memeluk Afkar semakin erat.
“Buat apa kamu nemani, kemarin saat sehat kamu gak peduli,” celetuk Papa.
“Pa, Fira janji gak akan ngambek sampai ninggalin suami Fira lagi, Pa. Fira mohon, izinkan Fira di sini nemani suami Fira ya, Pa,” lirih Zhafira.
“Ma, tolong bantu Fira bujuk Papa, Ma,” lanjut Zhafira beralih menatap sang Mama. Namun, Mama hanya diam saja tak berani membantah apa yang akan Papa putuskan untuk anaknya.
“Huh, baiklah. Tapi, kalau Afkar bangun dan dia gak mau lihat wajah kamu, kamu harus mengerti!” seru Papa Fadlan yang diangguki oleh Zhafira.
Akhirnya orang tua Zhafira dan Syara pamit pulang. Begitu juga dengan orang tua Afkar.
__ADS_1
Sebenarnya Bunda Hanum gak tega, tapi mereka sengaja memberi waktu untuk Afkar dan Zhafira, agar masalah cepat selesai. Kini di ruang rawat hanya tinggal mereka berdua saja.
Zhafira pun tertidur sambil duduk di dekat Afkar dan tangan Zhafira yang menggenggam tangan Afkar.
Saat pagi menjelang, Afkar pun terbangun karena merasa haus. Saat Afkar membuka mata, dia kaget karena melihat istrinya tertidur dalam keadaan duduk dan menggenggam tangannya.
‘Ya Allah, Sayang, badan kamu sakit semua kalau tidur seperti ini,’ batin Afkar memandangi wajah Zhafira yang sangat dirindukannya.
Ingin segera Afkar memeluk. Namun, Afkar gak mau mengganggu tidur Zhafira. Akhirnya Afkar hanya puas memandangi wajah istrinya, saat melihat Zhafira akan bangun, Afkar pura-pura tidur kembali.
Zhafira pun bangun dan melihat afkar masih tidur. Zhafira segera mengecek dahi suaminya, ternyata demamnya udah turun.
“Mas, demam kamu udah turun, tapi kok kamu belum bangun ya?” monolog Zhafira sambil terus memandang suaminya.
“Fira kangen kamu, Mas. Fira minta maaf karena kemarin-kemarin Fira nyuekin kamu, Fira hanya kecewa karena kamu gak percaya sama istrinya kamu sendiri,” lanjut Zhafira.
Zhafira mengecup pipi Afkar singkat, kemudian Zhafira ke kamar mandi untuk wudhu dan akan melakukan sholat subuh.
Setelah keluar kamar mandi, Zhafira segera sholat subuh. Saat selesai sholat, Zhafira melihat Afkar sudah bangun.
“Mas, Mas udah bangun? Mau Fira antar ke kamar mandi?” tanya Zhafira.
“Fira, kok kamu di sini?” kata Afkar pura-pura kaget.
“Iya, Mas, dari semalam Fira nungguin kamu. Mas, Fira minta maaf ya, kemarin-kemarin Fira nyuekin Mas,” ucap Zhafira lirih.
“Gak semudah itu, Fir, kamu ninggalin aku dua bulan sampai-sampai aku sakit begini, dan seenaknya kamu hanya minta maaf?” balas Afkar.
Zhafira pun menunduk, mengakui kalau dia memang yang salah, “Iya, Mas. Trus mau Mas, Fira harus gimana? Apa pun yang akan Mas katakan Fira akan menerima asal Mas jangan ceraikan Fira.”
“Duduk sini, kamu harus memelukku lalu berjanji gak akan ninggalin aku lagi,” ucap Afkar.
Zhafira pun segera mendekat dan memeluk erat Afkar sambil menangis.
“Maafkan Fira, Mas. Aku udah jadi istri durhaka,” lirih Zhafira hingga menitikkan air matanya.
“Udah, Sayang, ini juga salah aku kan yang gak percaya sama kamu. Sekarang kita lupakan masalah kemarin, kita buka lembaran baru. Aku sangat mencintaimu, Zhafira Adzra Nadhifa,” titah Afkar mengusap air mata Zhafira.
“Fira juga sangat mencintaimu, Suamiku,” balas Zhafira.
__ADS_1
Dan tiba-tiba Zhafira mengaduh seraya meringis tampak kesakitan.