Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.6 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

Langkah Afkar terhenti saat melihat ada koper di atas kasur dengan tumpukan baju yang sudah jelas milik Zhafira, “Kok ada koper, itu koper kamu? Mau ke mana?” tanya Afkar dengan tatapan heran pada Zhafira.


“Eh, iya. Fira izin besok mau ke Jogja,” jawab Zhafira.


“Sama siapa? Ada urusan kantor? Ya, walaupun saya gak maksud ikut campur. Tapi, saya takut kalau ditanya Papa, saya gak tau apa-apa,” balas Afkar bertanya.


“Oh, bukan. Ini bukan urusan kantor. Besok Fira mau menemui Daffa di Jogja, mau minta penjelasan darinya,” jawab Zhafira.


“Lah, emangnya kamu tau Daffa di Jogja? Udah ada alamatnya?” tanya Afkar kembali.


“Ya ... Fira gak tau alamatnya sih. Tapi, Fira cuma tau kalau dia di Jogja itu dari teman baiknya,” balas Zhafira.


“Fir, Jogja itu luas, kamu mau nyari gimana? Lagian, belum tentu kamu di bolehin sama Papa. Mau alasan apa kamu?”


“Tenang, kalau gak dibolehin, Fira akan kabur aja. Mudah ‘kan?” celetuk Zhafira membuat Afkar geleng-geleng melihat wanita dihadapannya ini. Hanya karena laki-laki membuatnya sampai nekat ke Jogja seorang diri.


“Huh, baiklah. Besok saya temani aja. Kita bilang ke Papa kalau akan bulan madu. Gimana?” balas Afkar memberi saran.


“Serius? Mau temani Fira? Terima kasih, ya,” ucap Zhafira dengan senangnya. Bukan senang karena adanya Afkar, tapi senang karena tak perlu beralasan aneh-aneh pada Papanya.


Sewaktu makan malam, Afkar dan Zhafira keluar kamar bersamaan dan sudah mendapati kedua orang tuanya juga Syara di sana.


“Syara, ini beneran lo?” tanya Zhafira sembari memegangi pipi Syara.


Zhafira gak menyangka, ternyata Syara sudah bangkit dari keterpurukannya karena ditinggal oleh Tante Maya dan Om Heksa.


“Pasti Syara dong, Kak. Mana ada wanita cantik selain Syara di sini. Hati-hati , jaga suami kakak tuh, ntar tergoda sama gue,” balas Syara.


Zhafira mendekat pada telinga Syara membisikkan sesuatu, “Ambil aja, gue gak tertarik.”


Syara melotot tajam pada Zhafira dan menarik pundak Zhafira, “Kak, ini pernikahan, bukan kisah pacaran. Jangan bilang gitu, cobalah lupakan Daffa dan cintai suamimu atau kuambil suatu saat nanti.”


“Bawel deh lo, Dek!” seru Zhafira.


“Kalian ini kenapa bisik-bisik?” tanya Mama Latifah.


“Ini, Tan. Kak Fira bilang dia mau nyariin Syara calon suami spek Kak Afkar,” jawab Syara asal.


“Heh, apasih. Gue aja dicariin Papa, lo pula minta nyariin sama gue,” balas Zhafira.


“Nah, ini nih, berarti udah nyaman dong sama suaminya. Gimana pilihan Om Fadlan, Kak?” Syara semakin menjadi-jadi membuat Zhafira kesal seketika.


“Dek, sekali lagi ngomong, kakak kunci lo di kamar deh!” seru Syara.


“Gue gak ngomong deh, Kak. Tapi, mau nanya deh, kok Kak Afkar diem-diem bae. Sakit gigi, Kak?”


“Diem deh, Dek. Jangan nularin penyakit bawel lo. Bahaya kalau kena orang,” balas Zhafira membuat Syara merengut kesal.


“Udah, ayo makan,” ucap Papa Fadlan menengahi.

__ADS_1


Zhafira mengambilkan makanan untuk Afkar.


“Terima kasih,” ucap Afkar.


“Kak Afkar,” panggil Syara.


Afkar hanya menoleh.


“Suara Kak Afkar terlalu lembut untuk suara Kak Zhafira yang kayak gluduk!” celetuk Syara membuat Zhafira kesal.


“Udahlah, ayo makan. Nanti lagi ganggu kakak kamu ya, Syara. Sekarang kita makan dulu,” balas Mama Latifah.


“Mama .... ” lirih Zhafira saat tau mamanya membela Syara.


Syara bangkit dari duduknya mendekat pada Zhafira, “Tenanglah, Kak. Walau gini-gini, gue sayang sama lo. Baik-baik ya sama suami, jangan sampai buat Kak Afkar jengah lihat kelakuan kakak. Kak Fira tuh kakak terbaik buat Syara.”


Mereka pun makan malam tanpa ada obrolan apapun lagi. Setelah makan, Zhafira menatap pada Afkar pertanda ini adalah waktu yang tepat untuk membahas perginya mereka besok hari.


“Ada apa, Nak? Kenapa kalian saling tatap? Ada yang mau ditanyakan atau dibahas?” tanya Papa Fadlan yang ternyata menyadari tingkah mereka berdua.


“Hmm ... begini, Pa. Kalau Afkar izin mau ngajak Zhafira ke Jogja boleh gak?” tanya Afkar.


“Ke Jogja, ngapain? Berapa lama?”


“Ka‐kami ... mau bulan madu, Pa,” jawab Afkar menunduk.


“Oke, papa izinkan, lagian Zhafira itu sekarang kan udah jadi tanggung jawab kamu. Berapa hari kalian pergi?” tanya Papa.


“Alhamdulillah besok Afkar bisa libur sampai lima hari kedepan, Pa,” balas Afkar.


“Oke, kalian siap-siap aja. Tiket dan hotel biar Papa yang carikan.”


“Eh, gak usah, Pa. Kami akan cari sendiri,” kata Afkar tak enak hati.


“Oh, gapapa. Anggap aja ini hadiah pernikahan dari Papa dan Mama,” balas Papa.


Kemudian, mereka melihat Syara yang berlalu begitu saja menuju kamarnya.


“Loh, Ra ... Syara!” panggil Zhafira.


“Syara kenapa sih, Ma, Pa?” tanya Zhafira.


“Entahlah, mungkin masih kepikiran Maya dan Heksa,” jawab Mama.


Tak lama, Syara kembali membawa kotak yang tak tau apa isinya.


“Kak, dengar tadi Om Fadlan kasih hadian pernikahan, gue baru ingat. Waktu tiga hari sebelum kami persiapan ke sini, gue, Mama, dan Papa belikan kado ini buat hadiah pernikahan Kakak,” ucap Syara mengulurkan tangannya memberikan kotak kado tersebut.


“Makasih, Adikku sayang!” seru Zhafira mendekat pada Syara dan memeluknya erat.

__ADS_1


“Kalian hati-hati selama di sana ya. Afkar, Mama nitip jaga Zhafira,” titah Mama.


“Pasti, Ma.”


“Kak Afkar, tolong jaga Kak Fira dengan baik. Kalau gak, Syara yang akan maju lebih dulu,” ucap Syara pada Afkar.


“Maju? Kemana?” tanya Afkar sengaja mencoba mengajak Syara bercanda.


“Ke pelaminan boleh gak sih, Kak!” seru Syara sembari tertawa kecil.


“Heh, inget. Itu udah suami orang,” balas Zhafira.


“Suami kamu kali!” celetuk Mama, Papa, dan Syara bersamaan.


Syara pun mendekat pada Afkar, “Kak, ini seriusan, Kak Fira itu adalah permaisuri kami. Jadi, jangan sesekali buat permaisuri kami menangis. Syara gak akan suka lihat Kak Fira menangis. Ingat itu!”


Afkar menampakkan senyumnya samar melihat Syara yang padahal rapuh, malah seakan-akan menjadi tameng kuat buat Zhafira.


“Syara, kakak juga gak akan suka kalau tuan putri cantikku ini menangis, Ra!” seru Zhafira yang terharu dengan ucapan Syara pada Afkar. Walau, Afkar bukan siapa-siapa bagi Zhafira.


Di tempat lain, tampak Aurel datang ke apartemen. Dia pun mengetuk pintu dengan tak sabarnya.


“Buka pintunya!” teriak Aurel.


Dan seseorang pun membuka pintunya.


“Kenapa sih, Beb, ganggu orang lagi tidur aja,” gerutu Robert, kekasih Aurel.


“Gue lagi kesel nih,” ucap Aurel sambil masuk ke apartemen dan langsung masuk kamar untuk membersihkan badannya.


“Lo habis belanja ya, Beb, kok gue gak dibelanjain?” tanya Robert sambil melihat-lihat apa yang dibeli oleh Aurel.


“Gue habis nguras dompet laki-laki bodoh itu,” jawab Aurel dengan rasa puasnya.


“Hebat lo, Beb, sekarang saatnya kita senang-senang,” kata Robert langsung membopong tubuh Aurel dan membaringkan di tempat tidur. Pergumulan panas pun terjadi.


Pagi harinya, Afkar dan Zhafira udah siap untuk ke bandara. Setelah berpamitan, pak Supri selaku sopir keluarga Papa Fadlan pun segera mengantar mereka ke bandara.


Setelah menunggu satu jam, pesawat yang akan membawa mereka ke Jogja pun lepas landas meninggalkan kota Jakarta.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam 15 menit, mereka pun sampai di bandara YIA. Mereka langsung menuju hotel yang udah disiapkan sebelumnya oleh Papa Fadlan.


Sesampainya di hotel, setelah bersih-bersih Zhafira pamit mau pergi pada Afkar.


“Eh, emm ... Fira izin keluar dulu ya,” ucap Zhafira


“Mau kemana? Istirahat dulu nanti setelah makan siang baru kita pergi,” tanya Afkar.


“Kelamaan itu. Fira maunya sekarang!” seru Zhafira membuat Afkar mau tidak mau menurutinya.

__ADS_1


__ADS_2