
“Emangnya ada ya, Pak ... rekan kita yang gak tau diri gitu?” tanya teman Afkar.
“Nanti juga tau. Udah ayo, Wan ... keburu sore nanti,” jawab Afkar, kemudian mereka pun segera keluar menuju ke mobil Afkar.
Mereka pun akan berangkat, mereka merasa ada seseorang di belakang dan langsung menoleh.
“Astaghfirullah ... ngapain masuk ke mobil saya?” tanya Afkar.
“Maaf, Pak. Karena kerjaan saya udah selesai, saya mau ikut bapak,” jawab Lestari.
“Saya gak mau anda ikut. Sekarang juga, anda turun dari mobil saya!” seru Afkar.
“Nggak, Pak. Saya gak mau,” balas Lestari.
“Wan, kamu mau pergi sama saya atau sama dia, kalau kamu mau pergi sama saya, tolong segera suruh wanita ini keluar,” pinta Afkar pada rekannya.
“Mbak Lestari, tolong keluar ya. Nanti kami terlambat,” ucap teman Afkar pada Lestari.
“Kamu aja yang keluar, saya mau menemani pak Afkar kok,” kata Lestari dengan percaya dirinya.
“Anda itu memang ya ... astagfirullah. Kok ada loh, ciptaan Allah yang seperti ini,” celetuk Afkar tampak frustasi.
“Saya ngomong hanya sekali, keluar kamu dari mobil ini atau besok anda terima surat pemecatan dari kantor besok pagi,” lanjut ucapan Afkar.
“Pak, saya janji gak akan ganggu bapak. Saya hanya ingin ikut bapak saja,” pinta Lestari pada Afkar.
“Ke ... lu ... ar!” kata Afkar yang menahan emosi.
Dan akhirnya Lestari pun takut dan segera turun dari mobil. Setelah Lestari turun, Afkar pun segera melajukan kendaraannya.
“Pak, saya tau siapa yang bapak bilang gak tau diri tadi,” kata teman Afkar.
“Tuh kan tau. Hm, gimana, Wan? Greget gak?” tanya Afkar.
“Iya, Pak, kok bisa ya dia kerja di tempat kita,” jawab teman Afkar geleng-geleng kepala.
“Yah ... mungkin hanya keberuntungan dia aja, Wan,” balas Afkar.
Mereka pun melanjutkan obrolannya sampai mereka tiba di tempat mereka menikahkan client.
Sore harinya saat semua pulang kerja, Syara dan Rendra segera naik ke mobilnya dan segera bergegas pulang. Saat sampai di pinggir jalan, nampak penjual mie goreng yang lagi ramai Syara pun segera minta berhenti karena dia pengen makan mie goreng. Rendra pun dengan sabar menuruti keinginan istrinya yang tengah ngidam itu.
Mereka segera ikut mengantri, Syara dengan gak sabarnya menunggu giliran dia.
“Mas, kok lama sih. Aku dah pengen banget nih, Mas,” rengek Syara.
“Sebentar ya, coba aku minta didahulukan bisa gak,” balas Rendra segera mendekat pada penjualnya.
__ADS_1
“Pak, maaf ... bisa gak untuk satu istri saya didahulukan? Soalnya, istri saya sedang ngidam, Pak,” pinta Rendra pada penjual.
“Coba tanya ke yang lain dulu ya, Pak ... bisa apa gak kalau saya buatkan satu dulu untuk istri bapak,” balas penjualnya merasa tak enak pada pembeli yang mengantri sejak tadi.
“Maaf ibu-ibu ... bisa gak kalau saya minta mie goreng satu untuk istri saya yang lagi ngidam?” tanya Rendra meninggikan suaranya agar pembeli yang mengantri mendengarnya.
“Eh, gimana semua? gapapalah ya, kasihan lagi hamil,” balas ibu-ibu dan semua pun setuju. Akhirnya Syara pun dibuatkan duluan.
Tak lama kemudian, mie yang dipesan pun udah sampai, Syara segera memakannya dengan lahap.
“Mas, kamu gak makan?” tanya Syara.
“Punya aku masih lama, Dek, masih banyak antrinya. Udah gapapa, kamu makan aja dulu,” jawab Rendra.
Setelah punya Syara habis, punya Rendra pun tak lama datang.
“Mas, datang tuh punya kamu, Mas ... cepetan makan gih,” ucap Syara.
“Iya, Dek,” balas Rendra.
Rendra pun segera memakan mie gorengnya, lalu pulang ke rumah.
Di kantor, Afkar tampak baru saja pulang ke tempat acara. Setelah Afkar menurunkan temannya, lalu langsung pergi pulang menuju ke rumahnya.
Setelah sampai rumah, Zhafira udah bersiap dan rapi.
“Gimana sih, Mas ... kan katanya kita mau pergi,” jawab Zhafira.
“Oh iya ... lupa aku. Bentar ya, aku ke kamar mandi dulu trus sholat, lalu kita berangkat,” balas Afkar segera menuju ke kamarnya.
Saat Afkar di kamar, di luar ternyata ada yang mengetuk pintu.
“Assalamu’alaikum,” salam tamu tersebut.
“Wa’alaikumussalam,” balas Zhafira dan segera membukakan pintunya.
“Cari siapa ya?” tanya Zhafira.
“Maaf, Bu, saya mau mencari pak Afkar. Apa ada?” balas Lestari sambil celingukan.
“Ada. Tapi, masih sholat, silakan duduk dulu,” ucap Zhafira mempersilakan Lestari duduk.
Lestari pun segera duduk dan menunggu sampai Afkad keluar. Sementara Zhafira segera ke kamar untuk memanggil Afkar.
“Loh, Sayang ... kan aku suruh nunggu di depan,” ucap Afkar yang kaget saat Zhafira menyusulnya ke kamar.
“Mas, itu di depan ada tamu. Mencari kamu,” kata Zhafira memberitahu.
__ADS_1
“Siapa, Sayang? Aku gak sedang menunggu orang sih hari ini,” tanya Afkar yang bertanya-tanya.
“Udahlah, Mas ... temui aja dulu,” jawab Zhafira yang memang tak mengenali Lestari.
“Ayo kita temui sama-sama,” ajak Afkar segera menggandeng Zhafira menuju ke ruang tamu.
Saat sampai di ruang tamu, Afkar terkejut melihat siapa yang datang, “Loh, Lestari ... ngapain ke sini?” tanya Afkar.
“Lestari siapa, Mas?” balas Zhafira bertanya.
“Perkenalkan, Bu, saya Lestari teman dekatnya pak Afkar di kantor,” sambar Lestari memperkenalkan diri tanpa disuruh.
“Maksudnya gimana nih, Mas?” tanya Zhafira menoleh pada Afkar.
“Kamu jangan dengerin lestari ya, Sayang. Dia ngadi-ngadi itu,” jawab Afkar.
“Lestari, kesini niat anda apa? Mau merusak rumah tangga saya?” tanya Afkar yang tampak kesal.
“Nggak, Pak, saya hanya silaturahmi,” jawab Lestari.
“Kalau hanya silaturahmi ngapain anda bilang kalau anda adalah teman dekat saya. Sejak kapan? Mau besok bukti-bukti yang saya simpan saya kasih ke pimpinan biar anda dipecat?” balas Afkar marah.
“Pak, tadinya saya kesini hanya ingin berkenalan dengan semua keluarga pak Afkar, tapi pak Afkar malah marah, yaudah kalau gitu saya pulang aja. Assalamu’alaikum,” kata Lestari langsung keluar dari rumah Afkar.
Setelah Lestari pergi, Zhafira langsung masuk ke kamar. Karena hamil Zhafira jadi sensitif, Zhafira pun langsung menangis. Afkar segera menyusul langkah istrinya ke kamar.
“Sayang, jangan menangis hanya gara-gara kedatangan perempuan itu. Dia itu cuma pengen kita bertengkar,” ucap Afkar.
“Tapi, Mas, dia siapa? Kenapa dia bilang teman dekat kamu?” tanya Zhafira.
“Dia di kantor memang berusaha deketin aku. Tapi, aku sama sekali gak merespon dia. Percaya sama aku ya,” jawab Afkar.
Zhafira masih tetap menangis, akhirnya Afkar memutuskan untuk menelpon teman kantor Afkar.
“Assalamu’alaikum, Wan,” ucap Afkar saat panggilan terhubung dan Afkar langsung menyalakan speaker panggilan.
“Wa’alaikumussalam, Pak, ada apa tumben telpon malam-malam, Pak?” tanya teman Afkar.
“Wan, tolong ceritakan gimana sikap saya sama Lestari kalau di kantor,” jawab Afkar.
“Ada apa memangnya, Pak? Dia ganggu bapak lagi?” tanya teman Afkar.
“Dia tiba-tiba datang kesini dan bilang kalau saya dan Lestari itu teman dekat dihadapan istri saya,” jawab Afkar yang kemudian melirik Zhafira.
“Hahahaha ... jangan percaya, Bu Fira, pak Afkar aja kalau di kantor sedingin es batu, mana pak Afkar bisa dekat sama Lestari. Bahkan, tiap Lestari mendekat aja, pak Afkar langsung marah, Bu,” ucap teman Afkar menceritakan pada Zhafira.
“Apa benar begitu?” tanya Zhafira.
__ADS_1