
Zhafira pun segera duduk di dekat Afkar dan bertanya, “Ada apa, Dek?”
“Tadi Syara dipanggil bagian HRD, Kak, dia menanyakan gimana kelanjutannya Kak Fira, masih mau kerja atau resign,” balas Syara.
Zhafira yang ditanya pun segera menoleh ke suaminya dan bertanya, “Gimana, Mas?”
“Kan dari awal mas udah bilang, terserah kamu, Sayang. Kamu yang menjalani,” jawab Afkar.
“Kira-kira kalai kamu kerja anak kita gimana? Udah dipikirkan belum? Jadi, semua terserah kamu, mas gak maksa,” lanjut Afkar.
“Dek, kasih kakak waktu dua hari ya, kakak akan pikirkan dulu,” ucap Zhafira menatap pada Syara.
“Baiklah, Kak, kalau begitu kami pulang dulu ya, Kak,” kata Rendra.
“Iya, Ren, hati-hati,” ucap Afkar.
“Iya, Kak,” balas Rendra.
“Assalamu’alaikum,” salam Rendra dan Syara serempak.
“Wa’alaikumussalam.”
Afkar segera menutup pintunya setelah Syara dan Rendra meninggalkan rumahnya.
“Mas, kita makan malam yuk, kasian bi Minah nanti kalau kita telat makannya,” ucap Zhafira.
“Baiklah, Sayang,” balas Afkar.
Mereka pun segera menuju ke ruang makan, dan segera menikmati makan malamnya. Seperti biasa, setelah selesai makan, gantian bi Minah yang makan setelah itu bi Minah menjaga Chayra sampai Chayra tertidur.
Tak lama, orang tua afkar dan orang tua Zhafira serta Syara bersamaan datang ke rumah Afkar.
Mereka membahas masalah kekacauan restoran hingga membuat Zhafira terluka. Afkar menceritakan semuanya tanpa ditutupi.
Setelah dirasa udah selesai, para orang tua pun merasa lega setelah tau wanita itu udah dipenjara.
***
Satu minggu kemudian, tibalah pada hari pernikahan Syara dan Rendra, semua tamu undangan udah hadir.
Zhafira seperti dejavu, dia ingat kala dirinya menikah dan calon suaminya kabur. Dia pun bersyukur karena bisa menikah dengan Afkar walaupun dulu dia terpaksa menikah tapi sekarang dia bersyukur karena suaminya yang sangat baik dan juga sangat mencintainya juga tentunya Afkar sangat tampan.
Zhafira yang melamun dikagetkan dengan suara Syara yang memanggilnya.
“Kak, kak, kok melamun?” tanya Syara.
__ADS_1
“Kenapa, Kak?” lanjut Syara.
“Gapapa kok, Dek, kakak hanya ingat dulu saat kakak akan menikah dan calon suami yang kabur. Dulu kakak seperti kehilangan semangat dan rasanya ingin mati saja karena ditinggalin saat akan ijab qobul. Tapi, ternyata takdir Allah sangat lah indah, kakak bertemu sama mas Afkar yang sangat-sangat melebihi Daffa, semuanya. Dan, kakak bersyukur mempunyai suami seperti kak Afkar, walaupun awalnya terpaksa,” jawab Zhafira tersenyum.
“Ciee, udah mulai bucin ya, Kak, sama suaminya,” goda Syara.
“Emmm ... iya, Dek. Sangat, bahkan kakak ingin terus di dekatnya gak mau ditinggal,” balas Zhafira.
“Hadehhh, Kak, tapi alhamdulillah Syara bersyukur karena kak Fira udah menemukan kebahagiaan, tolong do’akan Syara ya, Kak,” kata Syara.
“InsyaaAllah kak Fira selalu do’akan semoga pernikahannya kamu langgeng dan bahagia juga cepet dapat momongan,” ucap Zhafira.
“Aamiin, makasih, Kak.” Syara memeluk Zhafira.
Dan tak lama, Syara pun dipanggil mama Latifah untuk ke depan karena akad nikah akan segera dimulai.
Syara diapit oleh Mama Latifah dan Zhafira berjalan menuju ke depan dan segera duduk di sebelah Rendra.
Penghulu teman Afkar pun udah tiba. Dan siap menikahkan Syara dan Rendra.
Saat ijab qobul akan dimulai, Syara tiba-tiba bicara, “Maaf sebelumnya, karena orang tua saya udah meninggal, maka saya minta kak Afkar yang menikahkan kami.”
Papa Fadlan pun mengangguk tanda setuju, dan akhirnya Afkar yang menikahkan Syara. Afkar yang sebagai wali hakim pun bisa menikahkan Syara.
Akhirnya pernikahan pun udah terlaksana secara lancar. Tamu-tamu mengucapkan selamat atas pernikahan Syara dan Rendra.
Saat Afkar akan mengambilkan minuman untuk Zhafira, Afkar melihat ada yang mencurigakan. Afkar pun mencuri dengar pembicaraan orang tersebut.
“Ini imbalan lo, kalau lo bisa memberikan minuman ini ke ibu Zhafira, maka akan gue kasih bonus,” ucap Lestari.
“Emangnya ini apa ya, Bu?” tanya waiters.
“Udahlah, gak usah banyak tanya, berikan saja,” jawab Lestari, dan Lestari pun celingak celinguk, setelah dirasa aman dia kembali ke tempat acara.
Afkar segera mendekati waiters tadi, sambil membawa gelas kosong. Lalu, Afkar menuangkan minuman tadi ke gelas baru, setelah itu Afkar mengambilkan air minum yang baru lalu memberikan minuman tadi ke waiters.
“Tolong berikan minuman itu ke istri saya!” seru Afkar dengan tatapan yang mengintimidasi.
“Ba—ba ... baik, Pak,” balas waiters gugup, lalu segera ke tempat Zhafira untuk memberikan minuman dari Afkar.
“Maaf, Bu, ini ada minumandari suami anda,” kata waiters sopan.
Zhafira pun melihat ke suaminya, setelah suaminya mengangguk Zhafira segera mengambil dan mengucapkan terima kasih.
Sedangkan Afkar membawa dua minuman dan mendekati Lestari kemudian berkata, “Lestari, terima kasih ya udah datang di pernikahan adik ipar saya.”
__ADS_1
Afkar memberikan minuman ke Lestari membuatnya kaget. Tumben Afkar bersikap sangat baik, biasanya dia gak mau menegur Lestari.
“Ayo diminum, kenapa diam aja?” ucap Afkar.
Tak menunggu lama, Lestari pun meminun minuman yang dikasih oleh Afkar.
Afkar pun tersenyum penuh arti melihat minuman diteguk habis oleh Lestari.
Selang waktu lima belas menit, obat yang tadi diberikan Lestari untuk Zhafira dan dia sendiri yang meminumnya mulai bereaksi.
Lestari mulai bertingkat aneh, layaknya orang mabuk, mulai meracau yang tidak jelas dan berteriak-teriak. Afkar segera membawanya keluar.
“Anda gak ada kapok-kapoknya berulah ya. Rasain sekarang, kena ke anda sendiri kan. Makanya jadi orang jangan jahat-jahat,” ucap Afkar dan segera meninggalkan tempat itu lalu masuk ke tempat acara.
Saat masuk ke tempat acara, ternyata Zhafira sedang mencari keberadaan suaminya.
“Mas, kemana aja? Kamu dicari ayah daritadi,” ucap Zhafira bertanya sembari memberitahu.
“Tadi dari depan, Sayang, ada apa ayah nyari ya?” tanya Afkar.
“Fira gak tau, Mas, kamu ditunggu di dalam tuh sama ayah dan papa,” jawab Zhafira.
“Yaudah, aku kedalam dulu ya, Sayang,” balas Afkar diangguki oleh Zhafira.
Zhafira pun segera kembali ke tempat di mana mama dan bunda Hanum berada. Sedangkan Afkar masuk ke rumah karena udah ditunggu sama ayah Reyhan.
“Assalamu’alaikum, Yah, Pa, ada apa? Kata Fira, ayah dan papa panggil Afkar,” ucap Afkar.
“Wa’alaikumussalam, duduk, Nak,” titah ayah Reyhan.
“Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi tadi,” lanjut ayah.
“Itu tadi teman kantor, Yah, yang kemarin waktu ayah ke kantor kan ketemu,” kata Afkar.
“Iya, trus kenapa dia? Mau membuat acara resepsi kacau?” tanya ayah Reyhan.
“Yah, dia bersikap seperti itu karena minuman yang Afkar kasih Yah, Pa,” jawab Afkar.
“Maksudnya?” tanya papa dan ayah serempak.
“Tadi Lestari menyuruh waiters memberikan minuman yang udah dicampur sesuatu untuk diberikan ke Zhafira dan alhamdulillah Afkar mengetahuinya. Jadi, tadi minuman yang harusnya untuk Zhafira, Afkar segera menukar minuman itu dan Afkar kasih ke dia. Karena itulah, tingkah yang seperti tadi itu efek dari minumannya dia sendiri, Yah, Pa,” jelas Afkar membuat ayah dan papa mangut-mangut.
“Alhamdulillah ... terima kasih, ya, Nak, kamu udah menjaga Zhafira,” ucap papa Fadlan sembari tersenyum.
“Itu udah jadi tugas Afkar, Pa,” balas Afkar.
__ADS_1
Tak lama, Zhafira datang menghampiri sembari menggendong Chayra.
“Lagi ngobrolin apasih, Mas, Yah, Pa ..., kok serius banget?” tanya Zhafira mendudukkan diri di samping Afkar.