
Tok ... Tok ... Tok ...
Mereka yang bercanda pun tiba-tiba mendengar pintu diketuk.
“Udah, biar Syara yang buka, Kak,” kata Syara yang diangguki oleh Zhafira.
Syara pun berjalan menuju pintu dan segera membuka pintu. Dan betapa kagetnya dia saat melihat siapa yang datang.
Saat pintu terbuka, ternyata dokter dan perawat yang akan memeriksa mama Latifah.
“Eh, Dokter. Mari ... silakan masuk, Dokter, Suster,” ucap Syara mempersilakan.
“Kok tumben pintunya dikunci?” tanya dokter.
“Iya, Dokter, tadi ada orang tiba-tiba masuk. Saya takut, orang itu ganggu papa dan mama saya. Jadinya, saya kunci deh,” jawab Syara.
“Owh ... kalau gitu, kita periksa dulu ya, Bu,” kata dokter yang mendekat pada mama Latifah juga papa Fadlan.
Saat dokter memeriksa, tiba-tiba Lestari kembali masuk.
“Mas, kamu udah datang?” tanya Lestari mendekat pada Afkar.
“Eh, ini siapa? Tolong jangan buat keributan ya,” ucap perawat memperingati.
“Baik, Sus ... akan saya amankan. Syara, kamu tolong jaga sebentar mama dan papa ya, aku dan Fira akan selesaikan ini. Ayo, Sayang, kita pergi keluar. Dan ... lo, ayo ikut kami,” kata Afkar.
“Kita mau ke mana, Mas?” tanya Zhafira.
“Nanti juga kamu akan tau,” jawab Afkar sembari menggandeng tangan Zhafira.
Lestari mengikuti dan mereka bertiga masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, Lestari terus saja mengoceh. Namun, sama sekali tidak ditanggapi oleh Afkar ataupun Zhafira.
“Mas, kita mau ke mana sih?” tanya Zhafira.
“Bentar lagi kita akan sampai, Sayang,” jawab Afkar.
“Kita akan ke KUA ‘kan, Mas?” sambar Lestari bertanya setelahnya.
“Diam lo wanita halu!” seru Afkar membuat Lestari merengut kesal.
Tak lama kemudian, mereka pun tiba di kantor polisi hingga membuat Lestari pun langsung panik.
“Mas kok kita ke sini?” tanya Lestari.
“Sayang, kamu ikut aku masuk, biar dia di dalam mobil dulu,” ucap Afkar tanpa memperdulikan apa yang Lestari tanyakan padanya.
__ADS_1
“Iya, Mas,” balas Zhafira.
“Tunggu, biarkan aku keluar dulu!” teriak Lestari.
Tapi teriakan Lestari rasanya percuma saja, karena sama sekali tidak digubris oleh Afkar dan Zhafira.
Afkar pun segera mengunci mobilnya dan menggandeng Zhafira masuk ke kantor polisi.
Saat sampai di depan pintu kantor polisi, Afkar meminta dua orang polisi untuk menjaga mobilnya karena ada orang yang akan dia laporkan dan agar tidak kabur.
Dua polisi yang diutus pun akhirnya mendekat ke mobil Afkar dan menjaga supaya Lestari gak kabur.
Afkar dan Zhafira pun segera masuk dan membuat laporan juga menyerahkan bukti-bukti yang selama ini Afkar simpan. Setelah selesai, polisi pun menyuruh polisi lain untuk membawa Lestari masuk karena hari itu juga Lestari dinyatakan untuk ditahan.
Afkar, Zhafira dan polisi pun berjalan keluar menuju ke mobilnya.
Polisi yang bersama Afkar segera meminta untuk membuka pintu mobil dan segera membawa Lestari ke dalam sel.
“Mas, kamu tega sama aku? Aku cuma minta kamu nikahin aku tapi kamu malah ngelaporin aku. Suatu saat, aku akan membalas mu, Mas!” teriak Lestari.
“Maaf Lestari karena sikap lo sangat keterlaluan dan mengganggu,” balas Afkar dengan santainya tanpa takut apa yang diucapkan Lestari.
Dan Lestari pun segera dibawa masuk.
Setelah polisi dan lestari pergi, Afkar dan Zhafira pun segera masuk dan kembali ke rumah sakit.
“Lho ... kok kalian di sini?” tanya Zhafira.
“Sayang, aku ambil mobil dulu ya, kamu tunggu di lobby aja. Kak, Rendra ambil mobil dulu ya,” ucap Rendra pada Syara yang setelahnya pada Zhafira.
“Iya, Dra ... maaf ya kalian jadinya terlambat,” balas Zhafira yang merasa tidak enak.
“Gapapa kok, Kak,” kata Rendra. Lalu, Rendra pun bergegas menuju ke parkiran.
Setelah Rendra pergi, Zhafira dan Syara pun mengobrol.
“Maaf ya, Kak. Kami udah terlambat ke kantor, jadi papa dan mama kami tinggal. Tapi, papa dan mama lagi tidur kok, Kak,” kata Syara.
“Yaudah gapapa kok, Dek ... kakak ke ruangan mama dan papa dulu ya, kalian hati-hati di jalan ya,” ucap Zhafira.
“Iya, Kak ... Assalamu’alaikum,” balas Syara.
“Wa’alaikumussalam.” Zhafira pun berlalu menuju ke ruangan papa Fadlan dan mama Latifah setelah Syara berlalu keluar dari lobby rumah sakit.
Sesampainya Zhafira di ruangan rawat papa dan mamanya, benar ia melihat papa dan mamanya yang tengah tidur.
Zhafira memutuskan untuk duduk di sofa sembari menunggu suaminya.
__ADS_1
Tak lama, Afkar pun masuk dengan membawa tentengan yang Zhafira tau berisi minum dan juga makanan ringan.
“Sayang, papa dan mama baru tidur?” tanya Afkar mendekat pada Zhafira.
“Enggak tau, Mas. Tadi Fira ketemu Syara di lobby, katanya papa dan mama udah tidur, mungkin udah dari tadi deh papa dan mama tidurnya,” jawab Zhafira.
“Emangnya kenapa, Mas?” tanya Zhafira setelahnya.
“Tadi pas mau ke sini, Mas ketemu sama dokter, katanya mama Latifah udah dipastikan sembuh, tinggal menunggu kondisi papa sampai beberapa hari kedepan,” balas Afkar membuat Zhafira tersenyum.
“Beneran, Mas?” ucap Zhafira dengan mata berbinar.
“Bener dong, Sayang, emang terlihat kebohongan di mata Mas?” tanya Afkar sembari menoel dagu istrinya.
“Enggak sih,” balas Zhafira memeluk Afkar dan menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.
Sangking asiknya Afkar dan Zhafira mengobrol, sampai tak sadar kalau mama Latifah udah bangun.
“Nak,” panggil mama Latifah.
“Eh, mama,” ucap Zhafira mendekat pada brankar.
“Mama mau minum?” tanya Zhafira setelahnya.
“Iya, Sayang ... tolong ambilkan,” jawab mama Latifah.
Zhafira pun segera mengambilkan dan memberikan pada mamanya.
“Gimana keadaan papa kamu, Nak?” tanya mama Latifah.
Zhafira pun menoleh melihat pada Afkar. Afkar yang merasa dilihat oleh istrinya pun segera mendekat.
“Ma, untuk papa ... masih melihat kondisi papa sampai beberapa kedepan. Tapi, kalau mama, udah diperbolehkan pulang, Ma,” ucap Afkar.
“Ooo gitu, yaudah mama mau beres-beres dulu kalau gitu,” balas mama Latifah membuat Zhafira bingung.
“Loh ... emangnya mama mau ke mana?” tanya Zhafira.
“Mama mau beres-beres aja, Nak. Trus nanti mama mau ngerawat papa kamu agar cepet sembuh. Kalau mama masih manja-manjaan di atas brankar ini, kamu ga bisa ngurus cucu-cucu mama, trus Afkar selalu meninggalkan pekerjaannya demi ke sini. Untuk papa, biar mama aja yang ngerawat,” jawab mama Latifah sembari perlahan turun dari brankar.
“Mama beneran udah bisa? Udah kuat?” tanya Zhafira setelahnya.
“Gapapa, Nak. Mama ke kamar mandi dulu deh ya, setelah ini kamu kalau mau pulang, pulang aja, Nak,” balas mama Latifah yang tampak sangat bersemangat karena mendapat kabar diperbolehkan pulang. Setelah itu, mama Latifah masuk ke kamar mandi.
Tak lama kemudian, mama Latifah keluar dengan sudah berganti pakaian, bukan lagi pakaian rumah sakit.
“Mama udah tampak seger kan, Nak?” tanya mama Latifah sembari tersenyum pada anak juga menantunya.
__ADS_1