
Tak berapa lama, kerjaan Afkar selesai. Afkar segera menyusul Zhafira ke tempat tidur. Namun, saat Afkar hendak memejamkan mata, Zhafira bangun.
“Sayang, kok bangun? Ada apa?” tanya Afkar.
“Gak ada sih, Mas, emang dari tadi Fira belum tidur. Fira mau tidur di peluk sama Mas, boleh?” balas Zhafira.
Tanpa menjawab pun Afkar langsung mengecup kening Zhafira dan segera memeluk sang istri. Mereka pun tidur dengan berpelukan.
Tak lama, Afkar terbangun saat ada suara ponselnya bunyi, Afkar melihat jam, ternyata udah jam 2 pagi. Afkar melihat ternyata Aurel yang memberi pesan. Tanpa dibaca oleh Afkar, nomor Aurel langsung di blokir.
Rupanya, suara ponsel itu bukan hanya membangunkan Afkar, tapi juga Zhafira pun ikut terbangun.
“Mas, siapa yang tengah malam nelpon?” tanya Zhafira dengan suara paraunya.
“Aurel kirim pesan, Sayang, tapi Mas gak baca dan nomornya udah langsung aku blokir,” jawab Afkar jujur.
“Oh ... yaudah tidur lagi yuk,” balas Zhafira.
“Hmm, Sayang,” panggil Afkar membuat Zhafira mendongakkan kepalanya menatap manik mata Afkar.
“Sayang, boleh gak kalau sekarang aku minta hakku?” lanjut Afkar.
“Mas beneran mau minta hak Mas? Emangnya udah beneran yakin kalau Mas hanya cinta sama aku?” tanya Zhafira memiringkan badannya berhadapan dengan Afkar.
“Iya, Sayang, Mas sangat yakin!” seru Afkar dengan mantap.
“Kalau memang seperti itu, lakukanlah, Mas. Aku ikhlas dan akan memberikan hak Mas,” balas Zhafira.
“Kalau gitu, kita sholat sunnah dulu yuk,” ajak Afkar yang diangguki oleh Zhafira.
Mereka pun segera ke kamar mandi, dan segera melakukan sholat sunah.
Setelah selesai sholat, Afkar berdo’a tepat di depan Zhafira dan mencium kening istrinya. Setelah itu, Zhafira tampak melepas mukenanya dan langsung di bopong oleh Afkar menuju tempat tidur.
Afkar segera mematikan lampunya dan segera memulai ibadahnya. Sebagai suami, dialah yang paling mendominan dan mereka pun selesai saat subuh hampir tiba.
“Makasih, Sayang. Mas sayang sama kamu,” ucap Afkar seraya mencium kening Zhafira.
Zhafira hanya mengangguk malu. Mereka belum ingin beranjak dari tempat tidur. Mereka masih betah berpelukan. Baru saat mendengar adzan subuh berkumandang, Afkar segera beranjak untuk melakukan mandi besar.
Setelah selesai mandi, Afkar menyiapkan air hangat di bathup. Setelah siap baru dia membangunkan istrinya.
“Sayang, udah subuh, bangun yuk. Mas udah siapkan air hangatnya. Ayo aku gendong,” titah Afkar.
“Kayak anak kecil aja digendong, Fira bisa jalan sendiri, Mas,” balas Zhafira.
“Kamu belum bisa jalan, Sayang, ayo aku gendong.”
Dan saat Zhafira mau bangun, dia merasakan sakit di bagian intinya.
“Aduh, kok sakit ya, Mas?” tanya Zhafira dengan lirihnya.
__ADS_1
Zhafira segera melihat sprei yang dia duduki, “Mas, kok ada darah, ya?”
“Tenanglah, Sayang, itu gapapa. Itu karena kamu belum ada yang menyentuh. Jadi, saat aku yang pertama kali menyentuh kamu maka kamu akan seperti ini. Ini gapapa kok, nanti gak akan berdarah lagi. Sekarang aku gendong ya, kamu berendam sebentar, nanti pasti enakan,” jawab Afkar menenangkan.
Zhafira pun menurut, dan Afkar pun menggendongnya lalu menaruh pelan-pelan di dalam bathup.
“Kamu berendam dulu ya, Mas sholat sunnah bentar,” ucap Afkar segera wudhu dan keluar untuk sholat sunnah.
Saat Afkar keluar, Zhafira segera membersihkan badannya. Zhafira bahagia akhirnya dia bisa memiliki Afkar seluruhnya. Zhafira mandi dengan senyum-senyum sendiri.
Setelah selesai, Zhafira pun berdiri dan membilas badannya di shower.
Zhafira bingung karena tadi gak bawa handuk, karena dia ke kamar mandinya di gendong Afkar.
Zhafira pun memanggil Afkar, “Mas, bisa minta tolong ambilkan handuk Fira?” teriak Zhafira dari dalam kamar mandi.
“Iya, Sayang!” sahut Afkar segera mengambilkan handuk dan memberikan ke istrinya.
Tak berapa lama, Zhafira keluar dengan hanya melilitkan handuknya.
Zhafira lewat depan Afkar tak lepas dari pandangan Afkar.
“Mas, kenapa lihatin Fira seperti itu?” tanya Zhafira.
“Kamu sengaja godain aku ya? Awas nanti setelah sholat,” balas Afkar membuat Zhafira mendelik.
“Loh, ‘kan salah mas sendiri, bawakan cuma handuk, gak bawakan baju ganti juga,” gerutu Zhafira sambil menunduk malu.
Setelah sholat dan melepas mukenanya, Zhafira merebahkan sebentar badannya, disusul oleh Afkar.
“Mas, nanti jadi ‘kan Mas antar Fira kerja?” tanya Zhafira.
“Tentu jadi, Sayang. Tapi, emang kamu gapapa? Kan jalannya masih kayak gitu,” balas Afkar tertawa menggoda istrinya.
“Kayak gitu gimana sih, Mas?” tanya Zhafira.
“Jalannya kayak pinguin,” bisik Afkar, kemudian tertawa kecil.
“Mas Afkar ih, ngeledek ya. Padahal ‘kan juga itu karena Mas,” balas Zhafira.
“Iya-Iya, Sayang, maaf ya.”
“Mas, udah hampir jam enam. Siap-siap yuk, nanti kesiangan,” ajak Zhafira.
“Nanti kalau ada waktu kita makan siang ya, Sayang,” ucap Afkar diangguki oleh Zhafira.
“Iya, Mas, nanti Fira dijemput atau langsung datang aja ke tempat kita makan siang?” tanya Zhafira.
“Aku jemput aja, Mas khawatir sama kamu, Sayang,” balas Afkar.
Dan setelah mereka berdua rapi, bersamaan mereka keluar untuk sarapan. Papa dan Mama memperhatikan jalan Zhafira pun saling pandang dan melempar senyuman. Karena, mereka paham apa yang telah dilakukan oleh anak dan menantu mereka.
__ADS_1
“Fir, kamu udah rapi, mau masuk kerja?” tanya Mama.
“Iya, Pa. Hari ini banyak banget kerjaan,” jawab Zhafira.
“Emangnya gapapa, Fir? Kamu sepertinya lagi sakit?” balas Papa.
Syara yang sejak tadi di meja makan pun menyambar, “Iya, Kak, kalau sakit izin aja. Lagian, jalan kakak kayak siput gitu, kapan sampainya.”
Mendengar ucapan dari Syara membuat Papa dan Mama pun tertawa.
“Tuh ‘kan, Mas, gara-gara Mas nih, Fira diketawain,” gerutu Zhafira sembari mencurutkan bibirnya.
Afkar pun tertunduk malu. Karena memang itu adalah ulah dia. Dan, setelah selesai makan, Afkar dan Zhafira pamit pergi ke kantor.
Papa Fadlan pun juga berangkat kerja. Saat di mobil, Papa pun menelpon Ayah Reyhan.
“Assalamu’alaikum, Han, sebentar lagi kita akan punya cucu,” ucap Papa saat panggilan telpon dengan Ayah Reyhan udah terhubung.
“Wa’alaikumussalam, beneran? Berarti mereka berdua udah saling menerima?” tanya Ayah dengan sangat bahagia di seberang sana.
“Iya, seperti itulah.”
“Oke, baiklah. Nanti aku ke rumahmu, ya. Assalamu’alaikum,” balas Ayah Reyhan.
“Oke, ditunggu. Wa’alaikumsalam.” Papa Fadlan pun menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku dan kembali tersenyum mengingat jalan Zhafira saat menuju ruang makan tadi.
Afkar udah tiba di kantor Zhafira, “Wah sayang, kantornya besar ya, siapa ini pemiliknya?” tanya Afkar.
“Pemiliknya masih muda, Mas, namanya pak Reigha,” jawab Zhafira.
‘Reigha? Kayak gak asing nama itu,’ batin Afkar.
“Kenapa, Mas?” tanya Zhafira.
“Eh, gapapa, Sayang ... kayaknya pernah punya teman namanya juga Reigha. Yaudah, masuk gih.”
“Iya, Mas. Assalamu’alaikum,” ucap Zhafira mengecup punggung tangan Afkar.
“Wa’alaikumsalam,” balas Afkar segera meninggalkan kantor tempat kerja Zhafira saat memastikan istrinya udah masuk ke kantornya.
Afkar langsung menuju ke tempat kerjanya yang sebelumnya udah ke kementerian agama guna meminta memindahkan tugasnya ke tempat lain. Dan, bersyukurlah langsung di setuju karena bertepatan di sana ada yang lebih butuh, ada posisi kosong di KUA yang tak jauh dari kantor Zhafira. Afkar pun sangat bersyukur karena urusannya selesai.
Afkar langsung bertemu teman-temannya dan berpamitan, karena hari ini juga dia akan pindah.
Selain itu, dia juga minta tolong pada semua teman rekan kerjanya untuk kalau ada yang mencarinya untuk tidak memberitahukan kepindahannya.
Setelah selesai, Afkar menuju tempat kerjanya yang baru. Karena waktu sudah menjelang siang, Afkar terlebih dahulu segera menjemput Zhafira untuk makan siang.
Tak berapa lama, Zhafira nampak keluar. Dan melihat mobil Afkar udah di depan, Zhafira segera masuk ke mobil Afkar dan mereka segera menuju ke tempat mereka makan siang.
“Assalamu’alaikum, Suamiku,” ucap Zhafira saat berada dalam mobil.
__ADS_1
“Wa’alaikumsalam, istri cantikku. Kerjaannya aman?” balas Afkar tangan kanannya menyetir sementara tangan kirinya mengusap pipi kanan Zhafira.