
“Mas, tolong minta HP aku dong, Mas!” seru Zhafira memohon.
Afkar yang dimintai tolong malah menoleh pada orang tua dan mertuanya tengah mengulum senyum.
“Baiklah-baiklah,” balas Afkar segera membantu menangkap Syara.
Afkar membisikkan sesuatu pada Zhafira. Kemudian, Zhafira pun meng-iyakan dan mengejar Syara kembali.
“Nah, kena,” ucap Afkar. Lalu, Afkar memasukkan ponsel Zhafira ke kantongnya. Kalau masih bersama Zhafira bisa-bisa nanti diambil lagi oleh Syara.
“Gak adil ini namanya. Masa minta bantuan suami,” gerutu Syara sambil cemberut.
“Biarin. Wleek,” balas Zhafira tersenyum puas melihat Syara yang cemberut.
“Mentang-mentang punya suami, huh.” Syara kembali duduk dan bersandar pada lengan Mama Latifah membuat Zhafira mendelik.
Sekarang giliran Syara yang membuat Zhafira kesal. Mereka selalu membuat salah satunya kesal. Namun, dalam hati, mereka saling menyayangi. Bahkan, salah satunya rapuh pasti salah satunya akan menjadi penguatnya.
Mereka pun kembali duduk.
“Afkar, Zhafira, kemarin katanya ke Jogja. Kok tiba-tiba di Bali?” tanya Papa Fadlan.
“Iya, Pa. Kami di Jogja hanya dua hari, setelah itu kami menghabiskan waktu di Bali. Maaf gak kasih kabar ke Papa,” jawab Afkar.
“Yaudah, gapapa. Yang penting kalian baik-baik aja. Eh, tapi ... Papa lihat ada kemajuan ya,” balas Papa Fadlan.
“Iya, bener. Aku juga merasakan hal itu,” imbuh Ayah Reyhan.
Mama latifah pun bertanya, “Kemajuan apa, Pa? Kok mama gak dikasih tau?”
“Itu loh, Ma, pengantin baru auranya cerah ceria. Sepertinya kutub Utara udah pindah, gak di Jakarta lagi,” ucap Papa Fadlan menggoda anak dan menantunya.
“Ah, papa bisa aja,” balas Zhafira sambil menunduk malu.
“Siapa yang mindahin kutub utaranya, Pa?” tanya Syara.
Ya, sejak dua hari lalu, Syara diminta manggil dengan sebutan Papa dan Mama. Agar Syara tidak merasa sendiri. Dia masih punya keluarga. Papa Fadlan dan Mama Latifah siap untuk menjadi orang tua baru bagi Syara.
“Kakak dan Kakak iparmu itu,” jawab Papa Fadlan.
“Lah, katanya ke Bali, kok ke kutub Utara?” tanya Syara kembali.
“Yang kamu bilang kulkas delapan pintu loh, Dek,” jawab Zhafira yang langsung menyambar.
“Owh, ini lagi bahas sikap dinginnya pengantin baru. Astagfirullah, lola banget ya aku,” gerutu Syara merutuki dirinya sendiri membuat Zhafira tertawa.
“Alhamdulillah sadar diri,” balas Zhafira.
“Malah dari mulai masuk rumah tadi Ayah perhatikan, gandengan tangannya erat banget,” ucap Ayah yang masih saja menggoda.
__ADS_1
Zhafira pun melirik Afkar, mereka berdua saling tatap, kemudian saling melempar senyuman.
“Yaudah, yuk kita pulang, pengantin barunya mau istirahat,” ucap Ayah Reyhan.
“Ayah ... kok godain anaknya terus sih,” sambar Bunda Hanum.
“Iya, tau tuh Ayah. Suka banget godain anaknya,” balas Afkar yang setuju dengan sang Bunda.
Mereka pun mengobrol sebentar dan akhirnya memutuskan untuk pulang. Ayah Reyhan dan Bunda Hanum segera pamit pulang.
Saat mereka akan masuk ke dalam mobil, Afkar pun memanggil Ayahnya, “Ayah, sebentar!”
“Fir, oleh-oleh untuk Ayah dan Bunda tolong diambilkan,” titah Afkar.
Zhafira pun segera mengambilkan dan kembali lagi ke halaman rumah tepatnya di dekat mobil Ayah Reyhan.
“Ini, Mas.” Zhafira mengulurkan bingkisan yang dibawanya dari Bali untuk Ayah Reyhan dan Bunda Hanum.
“Ayah, Bunda, hati-hati di jalan, ya,” ucap Zhafira menyalimi kedua mertuanya.
“Mas, Fira ke dalam lagi, ya, bagikan oleh-oleh buat semua,” lanjut ucapan Zhafira.
Afkar pun mengangguk, kemudian Zhafira melangkahkan kaki kembali masuk ke dalam rumah.
Afkar segera memberikan oleh-oleh ke Ayah Reyhan.
“Yah, Bun, ini oleh-oleh dari kami,” ucap Afkar.
“Alhamdulillah, Ayah bahagia, Nak. Karena kamu udah merubah keputusanmu. Semoga pernikahan kalian langgeng ya. Dan, segera memberikan kami cucu,” balas Ayah Reyhan sambil tersenyum.
“Kamu jaga menantu cantik bunda itu, ya, Nak,” imbuh Bunda Hanum mengelus punggung Afkar yang masih memeluk sang Ayah.
“Iya, Yah, Bun. Yaudah Ayah hati-hati bawa mobilnya ya. Terima kasih sekali lagi,” balas Afkar diangguki oleh Ayah Reyhan.
Setelah mobil Ayah Reyhan keluar gerbang, Afkar pun masuk rumah. Saat masuk rumah, ternyata semua udah masuk kamar dan ruang tamu yang ramai tadi, kini begitu sepi.
“Lho, Fir, kok semua udah masuk kamar?” tanya Afkar.
“Ya ‘kan memang udah malam, Mas. Lihat deh tuh udah jam dua belas malam,” jawab Zhafira yang memang sejak tadi menunggu Afkar masuk rumah.
“Oh ... pantesan. Yaudah, kita istirahat yuk,” ajak Afkar menarik lengan Zhafira untuk masuk ke dalam kamar.
Saat sampai di kamar, Zhafira melihat Afkar yang langsung menjatuhkan dirinya di atas kasur.
“Bersih-bersih dulu dong, Mas. Ingat, kita tadi belum sholat isya,” balas Zhafira.
“Iya, ingat kok, kita berjamaah ya. Dan, setelah sholat boleh ya kita tidur satu ranjang. Aku Janji gak akan ngapa-ngapain kamu,” balas Afkar.
Zhafira pun mengangguk tanda setuju.
__ADS_1
Setelah sholat, mereka pun segera istirahat. Dan inilah malam pertama mereka tidur di satu ranjang.
****
Tiga hari kemudian, Aurel sdh tiba di Jakarta. Aurel menelpon Afkar mengajak ketemuan di tempat biasa.
Afkar pun setuju karena Afkar ingin mengakhiri hubungannya dengan Aurel.
Jam makan siang pun tiba, Zhafira yang satu hari lalu udah mulai kerja pun bersama temannya hendak makan siang. Dan ternyata yang di datangi Zhafira adalah tempat di mana Afkar dan Aurel bertemu.
Afkar terlihat sedang mengobrol serius tapi Zhafira yang udah mengetahui ada suaminya, cukup mengawasi dari jauh. Zhafira tidak tau apa yang mereka bicarakan.
Di meja Afkar, Aurel duduk dan bertanya, “Sayang, gimana kabar mu? Kapan sampai Jakarta?”
“Baru semalam sampai, gimana kabar kamu, Aurel?” tanya Afkar tanpa menyebut kata Sayang.
“Loh, kok manggilnya nama, tumben?”
“Iya, maaf ada apa kita ketemuan? Aku masih capek banget hari ini,” tanya Afkar.
“Yahh ... padahal aku mau ngajak kamu ke mall, ‘kan kemarin kamu belum jadi transfer, Sayang,” jawab Aurel mulai manja pada Afkar.
“Oh iya, lupa aku, Aurel, maaf ya. Tapi, aku hari ini gak bisa, aku capek banget,” balas Afkar.
“Tunggu deh, kok kamu dari tadi manggil nama terus sih, biasanya manggil sayang,” protes Aurel.
“Itu karena kata-kata sayang udah aku pakai untuk manggil istriku,” jawab Afkar dengan santai.
“Hah? Tapi, kamu bilang kalau kamu sama dia cuma enam bulan, ini kok malah sayang-sayang sih manggilnya?”
“Iya, maaf Aurel. Tapi, aku datang ke sini tadi cuma mau kita mengakhiri hubungan kita ini. Aku sangat menyayangi istriku,” ucap Afkar dengan tegas pada Aurel.
“Sayang, kamu candaan kamu ini gak lucu. Jangan bercanda deh, secepat itu kamu lupain aku? Tega kamu!” seru Aurel mulai drama mengeluarkan air mata yang dibuat-buat.
“Aku gak bercanda, Aurel. Aku minta mulai hari ini kamu gak menghubungi aku lagi. Kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi. Kita udah putus, Aurel.”
“Tunggu dulu, aku gak mau kamu mutusin aku. Enak banget kamu ngomong putus setelah dapat yang baru kamu tega mencampakkan aku!” seru Aurel dengan keras, hingga Zhafira pun mendengarnya.
“Aurel, lagian untuk apa kamu bertahan sama laki-laki bodoh seperti aku. Aku kan cuma kamu buat mesin ATM aja,” balas Afkar membuat Aurel terkejut.
‘Hah? Dari mana Afkar tau itu,’ pikir Aurel menatap netra Afkar yang tak lagi menatap dirinya.
Tanpa menunggu lama, Afkar yang merasa urusan dengan Aurel udah selesai pun segera meninggalkan tempat itu, menuju ke tempat kerjanya.
Karena hari ini dia akan menikahkan di dua tempat. Afkar merasa lega karena udah putus dari Aurel.
‘Jadi, Mas Afkar mutusin Aurel, Tapi, kenapa?’ pikir Zhafira.
Dari kejauhan Zhafira masih melihat kalau Aurel sedang emosi. Dan, tak berapa lama Robert datang.
__ADS_1
“Ada apa, Beb? Kenapa kamu emosi gini?” tanya Robert.
“Gue gak rela Afkar mutusin gue,” jawab Aurel dengan kesal.