Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.33 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

Afkar yg melihat dokter keluar segera menghampiri dan bertanya, “Dokter, bagaimana keadaan istri dan anak saya?”


“Maaf sebelumnya, Pak. Kabar ini terpaksa saya beritahukan,” balas Dokter.


“Ada apa, Dok? Katakan!” seru Afkar yang tak sabar dan terlalu mencemaskan istri juga anaknya.


“Anak bapak udah lahir dengan selamat, anak bapak perempuan, Pak,” ucap Dokter memberitahu.


“Alhamdulillah,” sahut mereka serempak.


“Lalu gimana istri saya, Dokter?” tanya Afkar gak sabar.


“Maaf, Pak, saat ini bu Zhafira koma, kami akan membawa istri anda ke ruang ICU. Dan, kalau bapak ingin melihat anak bapak, sementara kami taruh di inkubator, silakan klo bapak mau mengadzani,” balas dokter membuat Afkar sampai menitikkan air matanya. Dia takut kehilangan istrinya.


“Kamu yang sabar ya, Nak ... ayo kami antar ke ruang bayi dulu, kamu adzani putri kamu,” titah Papa.


Dan Ayah pun segera mendorong kursi roda Afkar menuju ruang bayi. Sesampainya di ruang bayi, Afkar kembali meneteskan air matanya karena melihat bayinya yang di inkubator.


Afkar segera masuk dan mengadzani anaknya. Setelah mengadzani, Afkar keluar dan segera menuju ke ruang ICU.


“Pa, Ma, Afkar minta maaf karena gagal melindungi Zhafira,” ucap Afkar lirih.


“Udahlah, Nak ... kamu gak salah, Nak, ini musibah. Kamu yang sabar ya,” balas Mama.


“Iya, bener kata mama kamu, ini musibah. Papa akan menyelidiki ini semua. Kalau sampai benar ini ulah Daffa, Papa gak akan mengampuninya,” ucap Papa Fadlan.


“Iya bener, aku ikut menyelidiki masalah ini,” imbuh Ayah Reyhan.


Saat perawat keluar, Afkar minta izin untuk masuk. Tapi dilarang oleh perawat, Afkar pun memohon untuk diperbolehkan masuk. Akhirnya suster pun mengantar Afkar masuk ke ruang ICU.


Sebelum bertemu istrinya, Afkar diminta pakai baju steril dulu. Lalu, perawat mengantarkan di mana Zhafira berada.


Saat sampai di brankar tempat Zhafira. Afkar benar-benar gak tega melihat keadaan istrinya yang dipasangkan berbagai alat kesehatan menempel di tubuhnya.


Afkar segera memegang tangan istrinya dan menciumnya serta menempelkan pada pipinya.


“Sayang ... bangunlah,” lirih Afkar dengan menangis hingga tubuhnya bergetar.


Air matanya berhasil lolos dan jatuh membasahi pipi serta tangan indah yang ada di pipi Afkar.

__ADS_1


Afkar gak tega melihat istrinya tanf terkulai tak berdaya, “Sayang, maafkan aku. Cepatlah bangun, aku merindukanmu. Aku gak akan meninggalkanmu, aku menunggu mu di luar.”


Kemudian, Afkar pun segera keluar. Di luar, ternyata hanya ada Bunda dan Mama.


“Ma, Bund, di mana Papa dan Ayah?” tanya Afkar.


“Mereka ke kantor polisi, Nak. Kamu ayo Bunda antar ke ruang rawat,” jawab Bunda.


“Nggak, Bunda ... Afkar akan tetap di sini,” balas Afkar.


“Tapi kamu juga sakit, Nak. Istirahatlah,” pinta Mama.


“Afkar istirahat di sini aja, Ma,” ucap Afkar.


“Ma, Syara dan kekasihnya udah pulang, ya?” lanjut Afkar bertanya karena dia baru ingat kalau ternyata Syara gak ada di depan ICU.


“Iya, Nak. Setelah selesai donor darahnya mereka pamit kembali ke kantor,” jawab Mama.


“Afkar belum mengucapkan terima kasih, Ma.”


“Udah, gak usah dipikirkan ... Syara ngerti kok kalau kamu lagi cemas,” balas Mama.


“Sayang, bangunlah, aku udah sangat merindukan mu. Apa kamu gak ingin melihat putri kita?” ucap Afkar sambil membelai pipi Zhafira.


“Sayang, apa kamu gak ingin kita sama-sama merawat anak cantik kita itu? Kita belum memberi nama putri kita loh, Sayang,” lanjut Afkar.


“Sayang, kamh mau kasih nama putri kita apa? Aku sebenarnya udah siapin nama untuk putri kita, namanya adalah Chayra Nadhifa Muwaffaq. Kira-kira kamu suka apa gak, Sayang?” imbuh Afkar sambil berlinangan air mata.


Tiba-tiba Afkar menyadari Zhafira meneteskan air matanya tepat di tepi matanya.


“Aku mendengarmu, Mas, aku juga merindukanmu juga putri kita, tapi aku gak bisa membuka mataku, Mas, seluruh badanku sakit dan sulit aku gerakan. Fira minta maaf balum bisa jadi istri dan ibu yang baik,” kata Zhafira dalam hati.


Afkar yang mengetahui Zhafira menangis pun segera memanggil perawat. Berharap kalau istrinya segera sadar.


“Suster, coba diperiksa. Istri saya menangis, Sus,” ucap Afkar.


“Sabar ya, Pak, tadi baru saja saya periksa, masih belum ada perubahan. Kalau pun menangis, itu karena istri bapak merespon kata-kata bapak, meskipun istri anda koma dan tidak bergerak tapi istri bapak bisa mendengar semua yang bapak katakan,” titah perawat tersebut.


Afkar pun seketika memandang Zhafira, dan lagi-lagi bulir bening keluar dari mata Zhafira yang masih terpejam.

__ADS_1


“Sayang, apa benar kamu mendengarkanku? Kalau iya, cepatlah bangun. Aku dan putri kita menunggu kamu,” ucap Afkar yang kembali membuat Zhafira meneteskan air matanya untuk merespon ucapan Afkar.


“Udah ya, Pak. Bapak keluar dulu agar istri bapak bisa istirahat. Dan, sebaiknya bapak juga berada di ruang rawat agar bapak segera sembuh. Kalau hanya di depan ruang ICU, istirahat bapak gak maksimal,” kata perawat tersebut.


“Tapi, Sus, saya ingin dekat dengan istri saya. Kalau saya di ruang rawat, pasti jauh dari ruangan ini,” tolak Afkar yang tak ingin jauh dari Zhafira.


“Pak, Bapak ‘kan bisa setiap saat kesini, cuma kalau di ruang rawat, bapak akan cepat pulih, sehingga gak perlu pakai kursi roda, jadi nanti kalau istri bapak pulih, bapak bisa merawatnya.”


Dan akhirnya ucapan perawat tersebut disetujui oleh Afkar, dengan segera Afkar minta tolong pada perawat untuk membantu menguruskan kamar rawat untuk Afkar. Karena, Bunda dan Mama sedang pulang sebentar.


Setelah selesai mengurus ruang rawatnya, perawat segera mendorong kursi roda Afkarmenuju tempat di mana ruang rawat Afkar berada. Dan Afkar segera beristirahat.


Setiap hari Afkar mengunjungi Putrinya di ruang parinatal dan mengajak ngobrol istrinya yang masih di ruang ICU.


Setiap hari Afkar melihat anaknya di luar ruang kaca ruang perawatan intensif. Bayi yang menguap dan menggeliat itu membuat Afkar tersenyum tapi juga sedih karena putrinya belum mendapat pelukan dari ibunya.


Dua minggu telah berlalu kondisi Zhafira belum ada perubahan. Afkar yang udah tampak sehat, setiap harinya selalu memberikan semangat dan mengobrol dengan kata-kata cinta ala penghulu tampan itu pada istrinya.


Afkar sama sekali gak menyangka kalau kecelakaan itu bisa terjadi, benar-benar di luar prediksinya. Afkar gak menyangka kalau Daffa bisa nekat melakukan hal itu.


Tapi, Afkar bersyukur karena Daffa yang sempat kabur itu akhirnya di tangkap polisi saat akan pergi keluar kota. Dan, sekarang udah masuk ditahanan polisi.


Reigha yang mendengar kalau sahabatnya kecelakaan pun menjenguk ke rumah sakit bersama Bayu.


“Assalamu’alaikum, Bro, maaf ya baru bisa ke sini,” ucap Reigha sambil memeluk Afkar.


“Wa’alaikumussalam ... gapapa, Bro. Dari mana tau kalau kami di rumah sakit ini?” tanya Afkar.


“Adiknya istri lo. Gue gak sengaja ketemu di lobby sewaktu gue ke kantor Reigha. Gue nanya ke dia kok udah lama gak lihat lo nganter istri lo. Ternyata istri lo di rumah sakit,” jawab Bayu.


“Oh ... Syara. Iya, gue kecelakaan bareng istri gue yang udah hamil besar. Alhamdulillah anak gue udah lahir, perempuan. Tapi, istri gue masih koma,” balas Afkar sambil menunduk sedih.


“Yang sabar, semoga istri lo segera sadar,” ucap Reigha yang diaamiinkan oleh Afkar dan Bayu bersamaan.


Lalu mereka pun bertiga ngobrol-ngobrol sampai akhirnya perawat datang dan memberitahukan kalau jam besuk sudah berakhir.


Reigha dan bayu pun pamit pulang, “Bro, kami pamit dulu. Sory, gak bisa nemenin lo di sini.”


“Udah, santai aja. Hati-hati di jalan, ya!” seru Afkar diangguki Reigha dan Bayu bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2