Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.21 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

“Ayo, Sayang, sholat lalu kita segera berangkat, tinggal satu jam lagi nih,” ucap Afkar membuat Zhafira menyipitkan matanya.


“Ish, salah sendiri ... udah tau mau ada acara, pakai minta jatah di kamar mandi pula,” gerutu Zhafira cemberut pura-pura marah dengan suaminya.


Mereka pun sholat ashar setelah itu bersiap-siap untuk berangkat.


“Mas, bentar ya, dikit lagi nih,” ucap Zhafira sambil menatap cermin dihadapannya seraya tangannya Zhafira yang masih sibuk merapikan hijabnya.


“Sayang, udah cantik tuh. Jangan kelewatan cantiknya, ntar tamu di sana suka pula sama kamu,” balas Afkar sengaja menggoda Zhafira.


“Udah deh, Mas, kamu jangan ngegombal mulu.” Zhafira segera berdiri dan mengambilkan jas hitam untuk suaminya juga memakaikannya langsung.


“Makasih, Istri cantikku,” ucap Afkar diangguki oleh Zhafira.


“Sayang, nanti kita sholat maghribnya mampir ke masjid ya,” lanjut ucapan Afkar.


“Iya, Mas.”


Setelah siap, mereka pun segera pamit pada Papa dan Mama juga Syara yang tepat ada di ruang keluarga saat itu.


“Kok gak sholat maghrib dulu, Nak?” tanya Papa.


“Nanti kami sholat berhenti di masjid aja, Pa, acaranya jam tujuh. Nanti kami terlambat,” jawab Afkar.


“Baiklah kalau begitu, hati-hati ya di jalan,” balas Mama.


“Iya, Pa, Ma. Assalamualaikum,” salam Afkar dan Zhafira serempak.


Mereka pun segera berangkat menuju ke rumah sahabat Afkar.


Dan sesuai rencananya, waktu adzan maghrib berkumandang, mereka pun mereka singgah di masjid.


Setelah sholat mereka langsung menuju ke rumah tujuan.


“Mas, masih jauh, ya?” tanya Zhafira.


“Kalau menurut kiriman Shareloc-nya sih, udah dekat kok, Sayang,” jawab Afkar bersamaan dengan telponnya yang berdering.


“Nah ini dia telpon, bentar ya, Sayang.”


“Assalamu’alaikum. Gimana, Bro? Udah sampai mana?” tanya Reigha dari seorang telpon.


“Wa’alaikumsalam. Iya, ini udah dekat kok, sepuluh menit lagi sampai,” jawab Afkar sambil matanya yang fokus melihat jalanan.


“Oke, gue tunggu.”


Setelah menutup telponnya, Afkar kembali membuka layar google maps, “Sayang, bener kok, bentar lagi kita sampai.”


Dan kurang lebih 10 menit akhirnya mereka sampai di rumah sahabat Afkar.


Saat di gerbang, security langsung menyuruh Afkar masuk dan disuruh langsung ke ruang tamu karena sahabatnya sudah menunggu.


“Assalamu’alaikum,” salam Afkar dan Zhafira serempak.


Mereka berdua disambut baik oleh keluarga Reigha. Setelah saling berkenalan dan juga diselingi candaan, mereka disuruh makan terlebih dahulu sebelum berangkat menuju lokasi.

__ADS_1


Setelah makan, mereka disuruh duduk di ruang tamu mengobrol sambil menunggu mempelai pria.


Tak lama, yang ditunggu pun tiba, kami segera menuju ke lokasi.


Sesampainya di lokasi, tampak seorang bapak paruh baya menunggu kedatangan kami, mungkin udah dikabari sebelumnya. Kami pun dipersilakan masuk.


Afkar diminta duduk di samping bapak paruh baya tadi. Sementara Zhafira di kamar mempelai wanita membantu memberikan polesan-polesan make up.


Tak lama, Zhafira bersama dengan Shafa dan Anna yang berada di sana membawa mempelai wanita untuk duduk di tempat akad berlangsung.


Hingga Afkar pun menuntun jalannya ijab qobul. Dan ini pengalaman Zhafira pertama kali melihat suaminya menikahkan orang tampak terpesona.


‘Mas Afkar, kamu kalau seperti itu tambah ganteng. Aku makin cinta sama kamu,’ batin Zhafira yang tak berhenti menatap Afkar.


Berbeda dengan orang-orang yang menyaksikan ijab qobul berlangsung, Zhafira malah sibuk mengagumi sang penghulu yang tak lain adalah suaminya sendiri.


“Fira, kenapa melamun?” tanya Shafa.


“Penghulunya ganteng ya, Fa,” jawab Zhafira spontan dan ketauan kalau dia sejak tadi memperhatikan suaminya.


“Lah, kan itu suami kamu sendiri,” balas Shafa membuat Zhafira menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


“Eh, keceplosan,” gerutu Zhafira merutuki mulutnya yang gak bisa ngerem.


Bahkan, Zhafira pun gak sadar kalau ijab qobulnya sudah selesai. Dan tak berapa lama dari selesainya acara ijab qobul, mereka pun pamit pulang.


Afkar dan Zhafira diminta kembali ke rumah sahabatnya bersama dengan keluarga lainnya.


Sesampainya di rumah sahabat Afkar, saat hendak pamit, ternyata malah di suruh menginap.


“Gimana, Sayang? Mau nginap di sini gak?” tanya Afkar.


Dan akhirnya Zhafira diantar oleh Shafa menuju kamar tamu.


Afkar masih di ruang tamu sambil menunggu orang yang akan mengantarkan baju untuknya dan Zhafira.


Setelah itu, Reigha menyuruh Afkar ke kamar, untuk beristirahat.


Afkar pun berjalan menuju kamar. Saat di kamar, dia mendapati Zhafira yang tengah memegang ponsel.


“Lagi ngapain, Sayang?” tanya Afkar.


“Ini chattingan sama Syara,” jawab Zhafira. Kemudian mengakhiri chattingan dengan Syara dan meletakkan ponselnya di nakas.


Zhafira mendekat pada Afkar untuk melepas jas yang Afkar kenakan.


“Sayang, Mas mandi dulu, ya. Gerah!” seru Afkar.


“Iya, Mas, tapi baju gantinya gimana?”


“Ini udah ada Mas bawa, baju ganti kamu juga udah ada di sini, Sayang,” balas Afkar.


Afkar pun segera mandi, setelah itu giliran Zhafira juga mandi.


Selesai mereka membersihkan diri, karena tadi belum sholat isya mereka pun segera sholat berjamaah.

__ADS_1


Saat Zhafira mau merebahkan badannya, Afkar tiba-tiba memeluk dari belakang.


“Kenapa, Mas?” tanya Zhafira.


“Kita nyobain di tempat yang baru yuk, Sayang?” ajak Afkar sambil menaikkan turunkan alisnya.


“Mas, malu ah ... kita di rumah orang loh. Kamu itu gak tau tempat deh,” gerutu Zhafira.


“Kan itu sensasinya, Sayang, nyobain di tempat baru. Hitung-hitung bulan madu,” ucap Afkar terkekeh.


“Mas, bulan madu kok di rumah sahabat, Ngawur kamu!” seru Zhafira.


“Sayang, di sini istri-istrinya sahabatku lagi hamil, siapa tau kalau kita melakukan di sini kamu juga segera hamil. Oke, Sayang? Ayolah, ntar dosa loh menolak ajakan suami,” ucap Afkar.


Dan tanpa menunggu jawaban dari Zhafira, Afkar pun mulai mencium bibir istrinya. Zhafira yang udah terangsang pun tak kuasa menolak.


Setelah selesai, “Makasih ya, Sayang,” kata Afkar sambil mencium kening Zhafira dan segera merebahkan tubuhnya di samping Zhafira. Tak lama, mereka pun tertidur.


***


Keesokan paginya setelah sholat subuh, sebelum Zhafira keluar kamar terjadilah perdebatan kembali antara suami istri itu.


“Mas, gimana dong ini, rambutku basah. Malu kalau sampai ketahuan,” ucap Zhafira lirih.


“Kan tertutup hijab, Sayang,” balas Afkar dengan santainya.


“Suamiku sayang, tapi kalau basah kan nanti hijabnya jadi basah juga. Jadinya ketahuan dong kalau rambut Fira lagi basah, Mas Afkar sih ... minta jatah gak tau tempat, bingung kan jadinya. Kalau kayak gini gimana mau keluar dong, masa kita di kamar sampai rambut kering, malu ih tamu keluar paling lama, Mas,” gerutu Zhafira panjang seraya mencurutkan bibirnya.


“Jangan cemberut gitu dong, Sayang. Mau nambah yang semalam?”


“Tuh ‘kan, penghulu mesum kumat,” celetuk Zhafira menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Gini deh, Mas pinjamkan hair draiyer ke istrinya sahabat aku, mau?” saran Afkar membuat Zhafira mendelik.


“Tuh kan, Mas ini, malu dong, Mas. Udah yuk keluar aja!” seru Zhafira tetap cemberut.


“Jangan cemberut, Sayang, senyum dulu, nanti Mas cium lagi mau?”


Mendengar ucapan Afkar membuat Zhafira segera tersenyum meski terpaksa, lalu mereka keluar.


Saat di luar ternyata masih sepi. Afkar dan Zhafira pun keluar rumah untuk jalan-jalan sebentar kurang lebih setengah jam mereka pun kembali masuk rumah.


Zhafira merasa rambutnya udah lumayan kering setelah berjalan di luar, Zhafira memutuskan mengganti hijabnya karena jilbab yang dipakainya tadi udah tampak basah.


Setelah ganti hijab, Zhafira menuju ke dapur melihat Shafa sibuk memasak dengan asisten rumah tangga. Zhafira pun turut serta membantu masak untuk sarapan pagi ini.


Setelah semua siap, Shafa memanggil anggota keluarga lain, begitu juga dengan Zhafira yang memanggil Afkar untuk segera sarapan.


Mereka pun berkumpul di ruang makan dan menikmati sarapan pagi ini. Kemudian mereka menuju ruang tamu untuk mengobrol.


“Gha, Bay, nanti gue pulang agak siang ya, soalnya hari ini mau ngajak istri jalan-jalan,” ucap Afkar.


“Oh iya. Gapapalah,” balas Reigha.


Mereka banyak mengobrol hingga tak terasa waktu udah menunjukkan pukul sebelas, Afkar dan Zhafira pamit untuk pulang.

__ADS_1


Setelah itu Afkar dan Zhafira masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan rumah kediaman sahabat Afkar.


“Mas, katanya hari ini mau me time?” tanya Zhafira.


__ADS_2