
Sebelum berangkat, Afkar izin ke KUA kalau beberapa hari ini izin ada urusan. Setelah mendapat izin, Afkar langsung ke alamat taksi online untuk meminta informasi lebih lanjut.
Sesampainya di kantor xxx, Afkar segera bertanya tentang plat nomor mobil yang tadi ditumpangi oleh istrinya, setelah didapatkan, ternyata Zhafira turun di terminal. Dan, selanjutnya Afkar kehilangan jejak.
Afkar pun segera pulang. Sesampainya di rumah, Afkar mengedarkan pandangannya, diperhatikan rumah ini terasa sepi tak ada Zhafira. Afkar segera masuk ke kamar.
Di kamar, Afkar benar-benar merasa kehilangan, dia merindukan Zhafira.
‘Kemana aku harus mencari kamu, Fir? Aku rindu,’ batin Afkar.
Di sisi lain, Zhafira yang baru sampai rumah tante Maya yakni Mama dari Syara, Zhafira sengaja tinggal sementara di rumah Syara.
Zhafira hanya tinggal bersama asisten rumah tangga yang masih ditugaskan kerja di rumah Tante Maya itu. Karena, walaupun orang tua Syara udah meninggal. Tapi, rumah itu nantinya akan ditempati kembali oleh Syara kalau udah menikah. Jadi, Bi Wati dan suaminya, Mang Giman tetap diminta untuk jaga rumah itu hingga Syara akan kembali lagi ke sana.
“Assalamualaikum, Bi, gimana kabarnya?” tanya Zhafira.
“Wa’alaikumussalam, Non Fira ... aduh, ke sini kok gak ngabari dulu,” balas Bi Wati.
“Iya, Bi, tadi tuh ada kerjaan dekat sini jadi mampir deh.”
“Bi, saya nginap di sini ya. Tapi, tolong jangan kabari ke Syara, Mama dan Papa kalau Fira di sini,” lanjut Zhafira.
“Baik, Non. Segera saya siapkan dulu. Tunggu sebentar,” balas bi Wati yg langsung memanggil suaminya untuk bantu beresin kamar tamu.
Setelah siap bi Wati pun memanggil Zhafira dan menyuruhnya istirahat.
Zhafira udah selesai bersih-bersih lalu dia sholat maghrib. Setelah sholat, Zhafira di panggil bi Wati untuk makan malam bersama.
Setelah makan malam selesai, Zhafira pun segera masuk kamar lagi. Jam segini biasanya Papa dan Mama ngumpul.
“Aku kabari sebentar deh, nanti cemas kalau aku gak kasih kabar,” ucap Zhafira segera mengaktifkan ponselnya dan menelpon Papa Fadlan.
Saat ponsel udah nyala, tampak deretan telpon tak terjawab dan juga deretan pesan yang baru masuk dari suaminya.
Sengaja diabaikan oleh Zhafira. Kemudian, Zhafira memencet nomor Papanya.
“Assalamu’alaikum, Pa.”
“ .... ”
“Alhamdulillah Fira baru sampai, do’ain kerjaan Fira cepat selesai ya, Pa.”
“ ... ”
“Udah dulu ya, Pa. Salam buat Mama dan Syara. Assalamu’alaikum, Pa,” ucap Zhafira mengakhiri telponnya.
Di sisi lain, tepatnya di rumah Papa Fadlan. Afkar, Papa, Mama, dan Syara makan malam.
Syara yang melihat Afkar langsung menggodanya, “Kak, pengantin baru lagi kangen ya, Kak? Kalau kangen kakak telponlah.”
Afkar hanya menanggapi dengan senyuman saja.
__ADS_1
“Oh, iya. Fira udah kasih kabar belum, Nak? Udah sampai belum?” tanya Papa.
“Belum, Pa. Ponsel Fira masih belum aktif,” jawab Afkar.
“Yaudah, ditunggu aja, paling sebentar lagi,” ucap Mama menenangkan.
Setelah makan malam selesai, Afkar kembali ke kamar.
Syara, Papa dan Mama tengah duduk di depan TV. Saat afkar mau pamit keluar, tiba-tiba ponsel Papa berbunyi.
“Ini akhirnya Fira telpon, Ma,” ucap Papa langsung menerima panggilan tersebut.
Ya, ternyata Zhafira yang telpon. Afkar langsung terdiam mematung dan mendengarkan. Mungkin dia tau haru pergi kemana mencari istrinya.
“ ... ”
“Wa’alaikumsalam, Nak.”
“ ... ”
“Aamiin, pasti Papa do’akan. Kamu jaga diri di sana ya.”
“ ... ”
“Wa’alaikumsalam.”
Papa Fadlan menutup telponnya dan menaruh ponsel di sampingnya.
Afkar segera masuk kamar dan mencoba menelpon tapi ternyata ponsel Zhafira udah tidak aktif.
“Ya Allah, berikan hamba petunjuk tentang istri hamba. Hamba gak mau kehilangan dia,” batin Afkar.
Kemudian, Afkar merebahkan badannya ingin tidur. Namun, matanya gak bisa terpejam.
Di sisi lain, Zhafira juga udah mencoba untuk tidur sejak tadi tapi tidak bisa juga sampai menjelang pagi baru Zhafira tertidur.
****
Lima hari kemudian, saat Syara tengah duduk membaca novelnya di ruang keluarga, Afkar tak sengaja mendengar Syara mendapat telpon.
“Assalamu’alaikum, Bi Wati, gimana kabarnya?”
“ ... ”
“Syara belum sempat ke rumah Mama.”
“ ... ”
“Hah? Apa, Bi? Kak Fira di rumah Mama? Lagi sakit?”
“ ... ”
__ADS_1
“Oh, baiklah. Syara berangkat sekarang. Assalamu’alaikum, Bi.” Syara segera menutup telponnya dan segera bersiap mau pergi.
Afkar yang mendengar pun kaget, “Ya Allah, Fira sakit. Aku harus ketemu Fira sekarang.”
Afkar menunggu Syara di dalam mobil, gak lama kemudian Syara keluar hendak memesan taksi online.
“Dek, ayo kakak antar!” panggil Afkar menyeru.
Tanpa banyak ngomong, Syara yang memang buru-buru pun segera masuk mobil.
Di perjalanan, Syara bertanya ke Afkar, “Kak, sebenarnya apa yang terjadi? Bukannya malam sebelum Kak Fira pergi kalian baik-baik aja?”
“Iya, Kakak juga gak tau. Tapi, yang pasti ini hanya salah paham aja. Nanti izinkan kakak ketemu dulu sama Fira ya, Dek,” jawab Afkar diangguki oleh Syara.
Beberapa jam kemudian, mereka sampai di rumah Maya. Syara yang masih berduka pun kembali merasakan sedih karena ingat masa kecilnya dihabiskan di rumah ini.
“Kak Afkar, temui aja Kak Fira dulu, Syara mau di sini. Minta tolong tunjukkin ke Bi Wati aja ya, Kak.”
Afkar segera masuk ke rumah. Sesampainya di dalam rumah, Afkar mencari bi Wati yang ternyata tengah sibuk di dapur.
“Bi wati, saya suaminya Fira. Di kamar mana istri saya, Bi?” tanya Afkar dengan sopan.
“Oh, iya. Non Fira di kamar yang di ujung itu, Den,” jawab Bi Wati menunjuk salah satu kamar.
Setelah mengucapkan terima kasih, Afkar pun segera menuju ke kamar yang di tempati oleh istrinya.
Tok...Tok...Tok...
Beberapa kali Afkar mengetuk pintu. Namun, gak ada sahutan dari dalam. Akhirnya Afkar memberanikan diri membuka pintunya.
Afkar dengan sangat pelan-pelan membuka pintu dan dia melihat Zhafira yang sedang tidur. Dan untuk pertama kalinya Afkar melihat Zhafira tanpa hijab.
Afkar memandangi wajah cantik Zhafira, rambut lurus hitam menambah kecantikannya. Afkar benar-benar terpesona.
Afkar semakin mendekat dan saat Afkar menyentuh keningnya Zhafira, dia kaget, “Astaghfirullah, Fir, kamu demam. Sebentar ya, Sayang.”
Afkar minta tolong pada Bi Wati untuk menelponkan dokter. Setelah itu Afkar ke kamar menemani Zhafira lagi.
Tak berapa lama dokter datang, Zhafira udah kembali dipakaikan hijab oleh Afkar. Dokter pun segera memeriksa.
“Dokter, apa yang terjadi pada istri saya?” tanya Afkar.
“Gapapa, Pak, istri bapak kecapean karena sepertinya beberapa hari ini kurang tidur dan kurang makan. Ini saya kasih resep vitamin dan beberapa obat tolong di tebus ya, Pak. Dan, saya pamit pulang,” tutur Dokter tersebut.
“Baik, Dokter. Terima kasih,” balas Afkar menerima setelah kertas yang telah penuh dengan coretan resep obat di sana.
Afkar pun minta tolong ke Mang Giman untuk membelikan obat yang udah diresepkan. Setelah itu, Afkar kembali menunggui Zhafira di kamar.
“Sayang, kenapa kamu seperti ini,” ucap Afkar mengusap rambut Zhafira. Setelah dokter pergi, Afkar kembali melepas hijab Zhafira.
Zhafira pun terbangun, “Mas, ini beneran kamu? Atau, aku lagi bermimpi?” lirih Zhafira dengan suaranya yang masih parau. Zhafira menatap lekat manik mata Afkar seakan-akan ingin terus melihatnya, bukan sekadar mimpi.
__ADS_1