Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH. 17- Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

“Fir, kita akan pulang ke Jakarta dan di sana ada masalah yang belum selesai. Maafkan aku ya jadi melibatkan kamu. Mulai sekarang, kamu kerja aku yg antar jemput, dan aku akan minta pindah tugas ke tempat lain, agar Aurel gak bisa menemukan jejak kita. Gimana? Kamu setuju?” tutur Afkar.


“Aku nurut apapun yang Mas katakan. Tapi, Mas beneran kan, sayang sama aku?” tanya Zhafira memastikan.


“Zhafira Adzra Nadhifa, aku sayang sama kamu, cinta sama kamu dan ingin hidup selamanya dalam ikatan pernikahan bersamamu. Apa kamu masih meragukan aku?”


Zhafira menggeleng kecil dan memeluk Afkar dengan erat.


“Yaudah, yuk, ntar kemalaman,” ucap Afkar membawakan koper milik Zhafira menggandengnya berjalan keluar kamar.


Ternya Syara udah menunggu di ruang tamu, “Duh, pengantin baru nih ya, so sweet deh. Kapan aku bisa begitu.”


“Makanya cepet nikah, Dek!” celetuk Zhafira.


“Nikah-nikah, nikah sama siapa? Orang hilalnya aja belum kelihatan,” balas Syara.


“Ya ... teropong aja biar kelihatan.”


“Kak Fira ih, rese!” seru Syara membuat Zhafira ketawa.


“Ekhm! Mau lanjut berantem atau pulang? Nanti kemalaman loh,” titah Afkar hanya membuat dua wanita dihadapannya tertawa dan saling pandang.


Mereka pun berpamitan ke bi Wati dan mang Giman setelah itu mereka naik mobil menuju ke Jakarta.


Seperti yang dikatakan tadi, Afkar mampir ke toko sebentar untuk beli baju dan langsung di pakai. Setelah itu, mereka berangkat lagi menuju Jakarta.


“Kak Afkar, berhenti bentar dong di mini market. Laper nih, pengen ngemil,” ucap Syara.


“He’em, bener. Fira juga pengen ngemil deh, Mas,” imbuh Zhafira.


“Oke, baiklah. Sesuai permintaan istri dan adikku ini, mari kita cari mini market,” ucap Afkar membuat Zhafira dan Syara tersenyum senang.


Sesampainya di mini market, segera masuk dan memilih apa saja cemilan yang akan menemani perjalanan sampai ke Jakarta. Mereka pun kembali ke mobil dengan membawa cemilan yang dipilih.


“Mas gak mau ngemil?” tanya Zhafira.


“Gak, Sayang. Udah ngemil kok,” jawab Afkar membuat Zhafira mengernyit bingung.


“Ngemil apa? Kapan ngemilnya?”


“Ngemilikin kamu,” jawab Afkar seraya menoleh dan mengedipkan mata kanannya.


“Halah, Mas ... kamu tuh, kayak anak ABG tau gak,” balas Zhafira membuat Afkar tersenyum senang karena melihat pipi Zhafira yang merah saat ini.


“Serius deh, nyesel ikut mobil ini. Kenapa ya gak pakai taksi online aja tadi,” gerutu Syara sambil memasukkan satu demi satu cemilan ke dalam mulutnya.


“Mau heran, tapi ini Syara,” celetuk Zhafira.


“Ish, Kak Fira!” seru Syara.

__ADS_1


Selama di perjalanan pun mereka masih saja berdebat dan juga bercanda. Beberapa jam kemudian, mereka sampai di rumah Papa Fadlan.


“Assalamualaikum,” salam mereka bertiga serempak saat masuk ke rumah.


“Loh, kok bisa barengan gitu, kamu jemput Zhafira ya, Afkar?” tanya Papa.


“Iya, Pa. Fira kan kangen sama Mas Afkar, jadinya minta di jemput. Dan, adek Fira ini ngikut,” dusta Zhafira agar Papa tidak curiga.


Saat syara mau ngomong, Zhafira langsung mengajak ke kamar. Afkar yang ditinggal sendiri, segera pamit ke kamar.


“Papa ngomong sama siapa?” tanya Mama yang baru datang dari dapur.


“Itu anak-anak udah datang, Ma.”


Sementara di kamar Syara, Dia tampak merengut karena Zhafira berbohong pada Papa Fadlan.


“Harus banget ya, Kak, bohong gitu? Kenapa sih mesti bohong, gak jujur aja,” ucap Syara.


“Gue minta maaf, setelah ini gak akan melibatkan lo lagi deh. Tolong ya, Dek, jangan bilang yang sebenarnya sama Papa dan Mama,” balas Zhafira.


“Baiklah, Kak, demi Kak Fira, syara akan tutup mulut.”


Tak lama terdengar suara ketukan pintu, ternyata Mama yg mengajak anak-anak dan menantunya untuk makan malam.


“Fira, ajak suami kamu ya, Nak!” seru Mama.


“Oke, Ma.”


“Capek ya, Mas?” tanya Zhafira mendekat dan duduk di tepi ranjang.


“Lumayan, Sayang,” jawab Afkar.


“Mas,” panggil Zhafira.


Afkar duduk dan menatap pada istrinya, “Ada apa, hm?”


“Fira masih boleh kerja ‘kan? Daripada di rumah, suntuk. Fira nanya cuma memastikan aja sih, mungkin Mas gak suka lihat Fira kerja nantinya,” ucap Zhafira.


“Mas gapapa kok. Ya, walau Mas merasa aman kalau kamu lebih banyak di rumah. Tapi, daripada kamu bosan, gapapa, kerja aja, Sayang. Harus ingat, tetap hati-hati,” balas Afkar yang diangguki oleh Zhafira.


“Mas juga hati-hati, ya.”


Afkar pun menarik Zhafira dalam dekapannya.


“Astaghfirullah, Mas. Fira kan ke kamar mau manggil Mas untuk makan malam. Kok malah ngobrol, pasti kita ditungguin nih. Ayo buruan ke bawah, Mas,” ucap Zhafira menarik lengan Afkar.


“Iya, Sayang. Kamu kok jadi bawel sih?” tanya Afkar mencuil ujung hidung Zhafira.


“Gak tau ih, ketularan si Syara tuh, Mas,” jawab Zhafira membuat Afkar tergelak.

__ADS_1


Mereka pun segera berkumpul di ruang makan, “Fira, kamu manggil Afkar kok lama sih, Nak?” tanya Mama.


“Itu, Ma. Tadi Zhafira sampai kamar malah lupa, bukannya manggil Mas Afkar malah ngobrol. Hehehe,” jawab Zhafira.


“Owalah, Mama kira kamu beberapa hari gak pulang ke rumah malah lupa alamat kamar kamu di mana,” balas Mama membuat mereka tertawa.


“Biasa, Ma. Pengantin baru dengan perasaan baru sedang memberikan kenyamanan yang baru, Ma,” celetuk Syara.


“Iya, makasih loh. Kamunya kapan punya yang baru?” tanya Zhafira.


“Yang lama belum hilang bekasnya, yang baru sedang proses membangun iman,” jawab Syara dengan menaik turunkan alisnya.


Mereka makan dalam keheningan. Setelah makan malam, Papa menyuruh Afjar dan Zhafira ke ruang kerjanya. Sedangkan Mama menemani Syara menonton drakor.


Dan akhirnya mereka bertiga barengan ke ruang kerja Papa.


Setelah duduk, Papa Fadlan memulai pembicaraannya, “Afkar, karena kamu menantu Papa satu-satunya, Papa minta kamu mulai mengatur waktu kamu untuk juga membantu Papa mengurus kerjaan Papa, bagaimana? Kamu mau ‘kan?” tanya Papa Fadlan.


“Iya, Pa. InsyaaAllah Afkar mau, nanti Afkar akan atur kerjaan Afkar. Agar sebagian waktu bisa bantu Papa,” jawab Afkar.


Papa sangat senang mendengar jawaban Afkar. Kemudian netra Papa beralih pada Zhafira, “Dan, kamu Fira, masih mau kerja di tempat kamu yang sekarang? Kamu gapapa emangnya?”


“Sementara, Fira tetap kerja di situ dulu, Pa, nanti kalau udah gak nyaman, Fira pengen di rumah aja jadi ibu rumah tangga,” jawab Zhafira membuat Afkar menoleh dan melempar senyuman.


“Wah, bagus itu, Nak, Papa sangat setuju. Tapi, itu juga kalau suami kamu setuju ya, Nak. Nanti kalian obrolin lagi.”


“Papa tadi panggil kalian karena ingin memberikan ini ke kalian berdua. Ini dari Papa, Mama, Ayah dan Ibu untuk kalian,” lanjut Papa.


Papa memberikan sesuatu di dalam kotak dan setelah dibuka, Afkar dan Zhafira kaget, karena ternyata isinya sebuah kunci rumah dan kunci mobil untuk mereka berdua.


“Pa, kami ‘kan udah punya mobil,” ucap Zhafira.


“Itu hadiah dari kami orang tua kalian. Jadi, jangan menolak. Hari minggu kita akan kesana, kita lihat rumah dan mobilnya,” balas Papa.


“Terima kasih banyak, Pa,” ucap mereka berdua serempak.


Setelah keluar dari ruang kerja Papa, Afkar dan Zhafira pun segera ke kamar. Mereka segera membersihkan badan dan sholat berjamaah, setelah sholat Afkar rencana mau membuat surat untuk resign atau surat pindah tugas untuk berjaga-jaga saja kalau seandainya gak bisa untuk minta pindah tugas.


Zhafira pun segera keluar kamar untuk membuatkan minuman hangat untuk Afkar.


Setelah dari dapur, Zhafira pun menuju sofa tempat Afkar duduk bersama dengan laptopnya.


“Minumnya, Mas, mumpung masih hangat,” ucap Zhafira mendudukkan diri di sebelah Afkar.


“Terima kasih, Sayang,” balas Afkar segera meneguk minumannya.


“Kamu gak capek? Kamu istirahat aja dulu, Sayang, Mas selesaikan surat resign ini dulu,” ucap Afkar yang diangguki oleh Zhafira.


“Iya, Mas.” Zhafira pun segera menuju ke tempat tidur, setelah melepas hijabnya Zhafira segera merebahkan badannya.

__ADS_1


Tak berapa lama, kerjaan Afkar selesai. Afkar segera menyusul Zhafira ke tempat tidur. Namun, saat Afkar hendak memejamkan mata, Zhafira bangun.


“Sayang, kok bangun? Ada apa?” tanya Afkar.


__ADS_2