Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.31 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

Polisi baru keluar dari kamar mandi dan saat melihat ruangan kosong, polisi pun langsung bertanya ke perawat, “Pasien yang tadi kena pukul kemana, Sus?” tanya polisi.


“Gak tau saya, Pak, coba kita lihat dulu di kamar,” balas perawat.


Mereka pun membuka kamar. Dan benar, kamar tersebut kosong. Polisi segera memberitahukan ke yang lain kalau Daffa kabur. Tak lupa juga memberitahukan ke Papa Fadlan.


Papa yang mendengar berita itu langsung terkejut. Papa dengan segera memberitahu Afkar melalui telpon.


“Assalamu’alaikum, Pa,” ucap Afkar saat panggilan terhubung dengan papa mertuanya.


“Wa’alaikumsalam, Nak. Kalian di mana? Apa udah di rumah?” tanya Papa.


“Iya, kami udah di rumah, Pa,” jawab Afkar.


“Kamu harus hati-hati ya, Nak. Daffa kabur, dia pasti mengincar Zhafira. Tolong jaga dia ya,” titah Papa.


“Apa, Pa? Daffa kabur? Iya, Pa, Afkar pasti akan selalu jagain Zhafira,” balas Afkar kemudian telpon pun diakhiri oleh Papa.


Malam harinya, saking takutnya Zhafira sampai mengigau ketakutan.


Afkar yang melihat pun merasa kasihan. Afkar memutuskan untuk menghubungi dokter agar memeriksa keadaan Zhafira.


Tak lama kemudian, dokter pun datang dan segera memeriksa, setelah di periksa dan dokter menjelaskan juga memberi resep obat. Dokter pun pamit.


Setelah dokter pergi, Afkar pun segera pergi untuk menebus obat di apotek. Sepulangnya Afkar dari apotek, dia segera ke dapur mengambilkan makanan untuk Zhafira.


Kemudian, Afkar masuk kamar dan membangunkan Zhafira.


“Sayang, bangun yuk, makan dulu,” titah Afkar.


Zhafira pun bangun dan bersandar kemudian Afkar menyuapi. Setelah selesai makan dan minum obat, Zhafira pun tidur kembali.


Afkar yang masih ada kerjaan, melanjutkan kerjaannya di rumah sebelum tidur.


Setelah selesai kerjaannya, Afkar segera tidur memeluk Zhafira.


****


Enam bulan berlalu, Zhafira udah kembali ceria seperti biasanya. Zhafira tidak tau kalau Daffa kabur dari penjara.


Afkar semakin ketat mengawasi Zhafira, karena takut Zhafira akan syok lagi kalau ketemu dengan Daffa. Afkar sengaja menyewa tukang pukul untuk melindungi Zhafira.


Saat ini kandungan Zhafira udah sembilan bulan dan hari ini adalah hari terakhir Zhafira bekerja sebelum cuti melahirkan.


“Sayang, Mas tunggu di depan ya,” ucap Afkar.


“Iya, Mas, bentar lagi,” balas Zhafira.


Tak berapa lama, Zhafira datang dan mereka pun siap pergi ke kantor.

__ADS_1


Seperti biasa, Afkar mengantar dan memastikan Zhafira aman, setelah itu Afkar pergi ke KUA.


Saat Afkar hendak masuk ruangannya, Lestari memanggil.


“Pak, pak Afkar, ini tadi saya buat kue, ini untuk bapak,” ucap Lestari sembari tersenyum menatap Afkar.


“Bagikan aja sama semua yang kerja di sini,” balas Afkar tanpa menatap Lestari.


Lestari pun tampak kecewa, dia menangis sembari berkata, “Pak, sebenarnya bapak itu kenapa sih, gak bisa banget menghargai orang. Saya susah-susah membuatkan bapak kue, diterima kek, bilang terima kasih gitu. Bukan malah menyuruh membagikan ke orang-orang gitu.”


“Oke, baiklah ... saya terima kuenya. Terima kasih. Jadi ini sekarang punya saya kan?” balas Afkar yang tak mau ribut lagi dengan wanita dihadapannya.


“Iya, Pak, terima kasih karena bapak sudah menerimanya.” Lestari berlalu pergi. Namun, belum jauh dia melangkahkan kaki, Lestari mendengar kalau Afkar memanggil OB yang bernama Wanto.


“Wanto, sini sebentar!” seru Afkar.


“Iya, Pak, Ada apa, Pak?” tanya Wanto.


“Tolong buatkan saya minuman yang biasa, dan juga ini potong kemudian bagikan ke semua staf di sini. Terima kasih ya, Wanto.” Afkar pun berlalu masuk ke ruangannya.


Lestari yang tau pun kecewa dan menghentak-hentakkan kakinya.


‘Awas kamu ya, Afkar, aku pasti bisa mendapatkan kamu,’ batin Lestari.


Di ruangan Afkar, saat ini Afkar tampak sedang menelpon istrinya.


“Assalamualaikum, Sayang ... gimana rasanya hari terakhir kerja, hm?” tanya Afkar saat panggilan udah terhubung.


“Jangan terlalu capek ya, Sayang, ingat usia kandungan kamu udah sembilan bulan loh, Sayang,” titah Afkar dengan lembut.


“Iya, Mas ... pasti Fira akan jaga anak kita,” balas Zhafira.


“Oke, Sayang. Mas tutup ya, love you,” ucap Afkar mengakhiri telponnya.


Dan setelah menutup telpon, tampak OB yang bernama Wanto masuk membawakan minuman yang diminta oleh Afkar.


“Ini minumannya, Pak,” ucap Wanto sembari meletakkan gelas di hadapan Afkar.


“Iya, terima kasih, Wanto,” balas Afkar.


Kemudian, Wanto berlalu pergi meninggalkan ruangan Afkar.


Afkar tiba-tiba memikirkan sesuatu dan segera keluar sampai lupa mengunci pintu ruangannya terlebih dahulu.


Lestari yang melihat Afkar keluar seakan mendapatkan kesempatan. Dia pun segera masuk ke ruangan Afkar dan memberikan sesuatu ke minuman Afkar.


Setelah itu, Lestari segera keluar meneruskan kerjaannya.


Tak berapa lama, Afkar kembali masuk ke dalam ruangan sembari membawa barang yang diambilnya dari mobil.

__ADS_1


Karena tadi Afkar lupa tak mengunci ruangannya terlebih dahulu, Afkar segera mengecek CCTV tersembunyinya hingga Afkar pun mengetahui apa yang dilakukan oleh Lestari.


“Oh, mau main-main denganku ya, untung ruanganku ada CCTV tersembunyi,” monolog Afkar.


Afkar segera ke belakang setelah memasukkan minuman Lestari ke plastik. Dan tanpa sepengetahuan Lestari, Afkar menuangkan minuman dari gelas Afkar yang telah diberi sesuatu oleh Lestari tadi kini udah masuk ke dalam gelas Lestari.


‘Untung minumannya sama, jadi dia gak akan curiga,’ batin Afkar tersenyum sinis.


Setelah selesai, Afkar segera menuju pantry membuat minuman untuknya sendiri tanpa ada seorang pun yang tau. Untung saja saat itu pantry sedang sepi.


Kemudian, Afkar kembali ke ruangannya. Saat Afkar akan memulai kerjaannya, Lestari tiba-tiba masuk.


“Pak, bapak memanggil saya?” tanya Lestari.


“Ngapain saya memanggil, saya gak butuh apa-apa,” balas Afkar yang tak melirik pada Lestari sedikit pun.


“Baik, Pak,” ucap Lestari sambil melirik minuman di meja Afkar dan tersenyum. Setelah itu dia pergi kembali ke ruangannya.


Setelah sampai ruangan, Lestari segera duduk dan menghabiskan minumannya.


“Tinggal nunggu reaksi obatnya, karena gue udah pastikan kalau tadi gelasnya kosong,” ucap lirih Lestari tersenyum puas.


Saat akan mulai kerja lagi Lestari merasakan badannya panas.


“Kok badan gue terasa panas ya, apa ACnya mati,” kata Lestari yang sambil mengipaskan wajahnya dengan kertas.


Tak berapa lama, Lestari udah gak kuat nahan panas dalam dirinya. Lestari segera keluar menuju toilet, Lestari berniat mau mandi karena merasakan badannya panas.


Tapi, setelah mandi pun panas di tubuh Lestari tidak juga hilang. Akhirnya, Lestari pun mengakhiri mandinya dan segera keluar.


Saat melewati pantry, lestari melihat Wanto. Lestari segera memanggilnya.


“Wanto, wanto, sini sebentar!” panggil Lestari.


“Iya, Mbak ... ada apa? Kenapa muka mbak Tari memerah gini, mbak sakit?” balas Wanto sambil megang kening Lestari.


Saat Wanto memegang kening, Lestari seperti kesetrum, dia seperti ingin terus dipegang. Tapi, akalnya masih menolak, Lestari gak mau disentuh sama OB. Tapi, Lestari sangat membutuhkan bantuan Wanto.


Akhirnya Lestari memutuskan masuk ke ruangannya meninggalkan Wanto yang terbengong.


Lestari segera izin kalau sedang gak enak badan. Setelah itu, dia pamit pulang.


Sesampainya di tempat kostannya, Lestari langsung berendam.


“Arghh, kenapa jadi gue yang ngerasain obat itu? Apa diruangan Afkar ada CCTVnya?” gerutu Lestari.


Lestari segera pesan kelapa muda lewat aplikasi online. Setelah itu, dia menunggu di luar agar saat kelapa muda datang, dia segera meminumnya.


Tak berapa lama ojek online yang sejak tadi ditunggu pun datang dan setelah menerimanya, Lestari segera meneguknya. Setelah itu, Lestari memutuskan untuk tertidur.

__ADS_1


Sementara di KUA, Afkar yang melihat lestari dalam pengaruh obat pun tertawa puas.


“Hahaha ... rasain, siapa suruh macam-macam sama aku. Tau rasa ‘kan,” ucap Afkar dengan tawanya.


__ADS_2