
“Lo perhitungan banget sih, Kak!” seru Syara.
“Canda kali, nih gue beliin ntar. Sabar, ya. Soalnya gue nanti lama,” balas Zhafira.
Zhafira mendekat pada telinga Syara membisikkan sesuatu, “Mau pacaran dulu,” lanjut Zhafira tersenyum dan berlari keluar langsung diikuti oleh Afkar.
Zhafira pun setuju mereka akan pergi naik motor. Kemudian, Afkar mengambil motor di garasi, mereka berdua bersamaan pergi mengendarai motor matic yang dibawa oleh Afkar melewati jalanan yang tampak sepi.
Di jalan, mereka saling diam. Zhafira bingung mau mulai obrolan, “Mas tadi itu kalau capek gak usah ngantar Fira keluar.”
“Kamu istriku, Fir, kalau kamu kenapa-kenapa pasti Papa dan Ayah yang akan nyalahin Aku,” balas Afkar.
“Udah, Mas. Kita berhenti di depan situ,” ucap Zhafira menunjuk salah satu toko dari sekian banyak toko yang berjejer.
Afkar memberhentikan dan memarkir motornya. Kemudian, Zhafira turun dari motor dan melangkah masuk ke dalam mini market.
Afkar ikut masuk ke mini market mengikuti langkah istrinya.
“Mas ada yg mau di cari? Biar sekalian Fira ambilkan,” ucap Zhafira bertanya pada Afkar.
“Gak ada, Fir, kamu aja.”
Dan akhirnya Zhafira belanja kebutuhannya. Setelah selesai, Zhafira menuju kasir untuk membayar. Namun, pergerakan tangan Zhafira dihentikan oleh Afkar.
Afkar memberikan ATM-nya, “Bayar pakai ini aja, Fir.”
“Tapi, Mas. Fira bayar langsung aja, Mas,” balas Zhafira.
“Udah, pakai aja.”
Daripada berdebat, Zhafira segera menerimanya dan keluar membawa kantong belanjaannya.
“Sini Mas bawain,” ucap Afkar seketika langsung mengambil kantong yang tadinya di tangan Zhafira.
Saat udah di atas motor, Afkar kembali mengeluarkan suara bertanya pada Zhafira, “Oke. Sekarang kamu mau pulang atau kemana lagi?”
“Mas, boleh gak kita ke taman sebentar. Yang di depan sana itu,” jawab Zhafira sambil menunjukan tempat yang dipilih olehnya untuk mengobrol dengan Afkar.
Afkar pun segera ke tempat yang dimaksud. Setelah sampai, Zhafira turun dari motor dan duduk di kursi tak jauh dari tempat motor diparkirkan.
Afkar pun ikut duduk di sebelah Zhafira.
“Huh, kenapa kamu ngajak ke sini?” tanya Afkar.
“Menenangkan pikiran,” jawab Zhafira.
“Kamu tau, Mas. Kamu itu berubah sejak malam itu ... tiba-tiba kamu ngajak pindah hotel, dan sejak itu kamu jadi pendiam. Kamu kenapa?” lanjut Zhafira.
“Kamu menanyakan pertanyaan yang kamu sendiri pasti udah tau ‘kan, Fir. Tapi nyatanya, kamu pura-pura gak tau,” balas Afkar.
__ADS_1
“Mas, memang teori itu lebih mudah daripada prakteknya, beberapa hari lalu kamu bilang sama aku, buat apa menyiksa diri sendiri sedang yang dipikirkan pun mungkin lagi bersenang-senang. Tentu itu buang-buang waktu, Mas. Oh, ayolah move on. Kita jalani ini sama-sana kita yang nasibnya kebetulan sama, sama-sama disakiti sama orang yang kita cintai. Kita ‘kan teman, jadi ayo kita sama-sama menyembuhkan luka ini dengan cara kita. Kamu selalu ada untuk aku, begitu juga dengan aku yang akan selalu ada untuk kamu, Mas,” ucap Zhafira membuat Afkar terdiam mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Zhafira.
Afkar pun langsung memeluk Zhafira, “Maafkan aku. Fir, apa aku akhir-akhir ini mengabaikan kamu?”
“Enggak, Mas. Cuma, kamar sepi tau, biasanya kamu cerewet dan sekarang diam kayak patung,” balas Zhafira mencurutkan bibirnya.
“Ngomong apa? Patung? Awas ya kamu udah berani ngejek aku.” Afkar menggelitik Zhafira hingga membuat Zhafira kegelian dan memberontak.
“Mas, jangan dong, Mas. Ini di tempat umum, malu, Mas!” seru Zhafira tertawa kegelian.
“Ampun nggak? Kalau nggak, Mas akan terus gelitikin kamu,” ucap Afkar.
“Iya, Mas ... Ampun deh ampun. Stop, Mas,” pinta Zhafira. Dan, Afkar pun menghentikannya.
“Fir, udah mau pulang belum? Kalau belum, aku beli bakso sebentar ya? Di situ tuh, kamu tunggu di sini aja, kamu mau?” tanya Afkar.
“Boleh deh. Tapi, jangan kasih lemak ya, Mas, nanti aku gendut pula,” jawab Zhafira.
“Gendut gapapa, Fir. Kamu akan tetap cantik,” balas Afkar sambil meninggalkan Zhafira dan berjalan menuju tempat dia akan memesan bakso malam itu.
Zhafira pun tertunduk malu mendengar ucapan Afkar.
Tak berapa lama, Afkar datang membawa dua mangkuk bakso, “Ini punya kamu, Istriku yang cantik.”
“Makasih, Suami gantengku,” balas Zhafira menerima mangkuk yang berisi bakso menggoda selera itu.
Zhafira merasa senang karena Afkar udah kembali ceria dan itu tak luput dari perhatian Afkar.
“Astaghfirullah, apasih, Mas. Nggak apa-apa kok, Fira tuh senang aja Mas udah gak sedih lagi,” balas Zhafira.
“Mana bisa aku sedih kalau di sampingku ada istri cantik begini. Kirain kamu lagi ngelirik cowok lain.”
“Dih, apasih, Mas. Udah ada suami ganteng kok ngelirik yang lain, buat apa?” goda Zhafira kembali malah membuat Afkar salah tingkah sendiri.
“Udah, yuk makan baksonya. Ntar keburu dingin,” titah Zhafira .
“Hangatin dong, Sayang,” lanjut Afkar yang belum habis-habis menggoda istrinya.
Zhafira tak menggubris, segera dia melahap bakso di hadapannya.
Setelah menghabiskan bakso, mereka berdua segera keluar dari taman. Namun, saat akan naik motor, netra Afkar melihat adanya Aurel sedang bersama Robert melewati depan motor Afkar.
Untung saja saat itu mereka pakai motor Zhafira, jadinya Aurel tidak mengenalinya.
Setelah agak jauh barulah mereka naik motornya dan segera pergi.
Di belakang, Zhafira terus mengajak ngobrol Afkar.
“Susah payah buat Mas kembali ceria, eh Aurel malah muncul tiba-tiba,” gerutu Zhafira yang tentu didengar oleh Afkar.
__ADS_1
“Pasti Mas lagi ya? Karena tadi ketemu Aurel?” tanya Zhafira.
“Enggak kok, Fir. Mas udah gak sedih lagi, cuma sakit hati aja. Gimana ya ... Mas tuh dulu udah memberikan apa yang dia minta, apapun itu. Bahkan ketika Ayah menentang pun Mas tetap membela dia. Tapi, ternyata Mas hanya dijadikan mesin ATM bagi dia,” jawab Afkar menceritakan.
“Eh, maaf. Kok Mas malah curhat sama kamu,” lanjut Afkar.
“Gapapa, Mas. Kita ‘kan sama-sama punya masa lalu yang menyakitkan, jadi aku tau hatimu sekarang seperti apa.”
Saat sampai di rumah, Afkar segera memasukkan motor ke garasi. Kemudian mereka berdua berjalan bersamaan menuju pintu rumah.
“Mas, tapi kamu harus hati-hati, ya,” ucap Zhafira ambigu.
“Hati-hati buat apa? ‘Kan sekarang udah hati-hati nih jalannya,” balas Afkar yang sebenarnya udah tau apa yang akan Zhafira katakan.
‘Ini pasti tentang rekaman suara yang didengar Zhafira tadi,’ batin Afkar.
“Ya ...hati-hati aja, Mas, jangan balikan lagi sama Aurel!” seru Zhafira yang bingung mau menjelaskan.
“Eh, apa ini maksudnya? Jangan bilang istriku ini lagi cemburu ya?” celetuk Afkar yang lagi-lagi menggoda istrinya seraya menyentil pucuk hidung Zhafira.
Zhafira pun mencubit pinggang Afkar.
“Aduh ... sakit, Fir,” ucap Afkar meringis.
“Habisnya, Fira ‘kan cuma mengingatkan Mas aja.”
“Iya, Fir, Mas akan hati-hati. Tapi, apa kamu gak ingin jujur sama Mas tentang suatu hal, Fir?” tanya Afkar setelah sampai ruang tamu.
Zhafira pun terdiam, dan segera duduk di sofa ruang tamu, “Jujur apa, Mas?”
“Mas mau tanya sesuatu sama kamu. Kamu mau kita ngobrol di sini atau di kamar aja? Hmm?” tanya Afkar.
“Kita di kamar aja ya, Mas. Tapi, bentar dulu, Fira antar cemilan yang Syara pesan tadi,” jawab Zhafira.
“Mas tunggu di kamar, ya,” balas Afkar mengacak jilbab yang masih melekat sempurna di kepala Zhafira.
Afkar segera ke kamar sedangkan Zhafira melangkah ke kamar Syara.
Tok...Tok...Tok...
Tak lama, pintu terbuka, “Kenapa, Kak?” tanya Syara yang ternyata belum tidur.
“Nih cemilan yang lo minta. Ingat, sisain buat kakak besok ya!” seru Zhafira.
“Ish, baru pulang pacaran jam segini? Cemilanku disuruh sisain pula,” gerutu Syara.
“Pacaran halal mah bebas kali. Iri? Minta dihalalin dong!” celetuk Zhafira yang mendapat rengekan dari Syara bak anak kecil.
“Yaudah deh, gue mau lanjut ngedrakor nih,” ucap Syara.
__ADS_1
“Lanjut gih, gue mau lanjut pacaran. Bye!” Zhafira meninggalkan Syara yang tengah mendelik padanya.