Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.55 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

Afkar pun segera mengambil nasi dan lauknya lalu segera makan. Saat menikmati makannya, tiba-tiba telpon Afkar pun berdering.


“Bentar ya, Sayang, Bunda, aku angkat telpon dulu,” kata Afkar.


Kemudian Zhafira dan bunda Hanum pun mengangguk.


“Assalamu’alaikum, Ren ... ada apa” tanya Afkar saat panggilan udah terhubung.


“Wa’alaikumussalam, Kak. Jadi gini, Kak ... Syara ngajak Rendra ke rumah kakak sepulang kerja, gimana ya, Kak? Kakak ‘kan tau ... kemarin Syara dan kak Fira lagi berselisih paham,” jawab Rendra memberitahu pada Afkar.


“Oh, gapapa kalau mau ke sini, Ren, kita ‘kan saudara. Masalah harus cepat diselesaikan,” balas Afkar.


“Baiklah kalau gitu, Kak. Tapi, nanti kakak juga cepat pulang, ya,” pinta Rendra.


“Iya, insyaaAllah kakak cepat pulang,” kata Afkar dan mereka pun menutup telponnya setelah selesai mengobrol.


“Kenapa Rendra telpon, Mas?” tanya Zhafira.


“Nanti pulang dari kantor, mereka mau main ke sini,” jawab Afkar.


“Ada apa, Mas? Kemarin aja waktu kita di rumah papa, Syara seperti itu sikapnya,” balas Zhafira.


“Mas juga gak tau, Sayang, kita terima dengan ramah ya, kita kan saudara,” kata Afkar lembut.


“Iya, Mas, walau gimana pun ... Syara kan adik aku juga,” ucap Zhafira.


“Iya, Nak, kalian yang rukun-rukun ya, karena kalian bersaudara dan gak ada lagi yang lain saudaranya. Nanti kalau kami meninggal, kalianlah yang meneruskan silsilah keluarga kita, jadi yang rukun ya,” titah bunda Hanum.


“Iya, Bunda,” kata Afkar dan Zhafira serempak.


“Bunda, Sayang, aku udah selesai makan. Aku berangkat ke kantor lagi ya,” ucap Afkar mencium tangan bunda Hanum dan mencium kening juga perut Zhafira lalu pergi ke kamar Chayra untuk pamit putrinya. Kemudian dia pergi keluar rumah menuju ke tempat Afkar kerja.


Saat ini, Afkar udah sampai di tempat kerjanya dan segera masuk ke ruangan kerjanya. Afkar segera mengerjakan kerjaannya sampai gak sadar Lestari masuk membawakan minuman untuknya.


“Pak, pak,” panggil Lestari.


“Astaghfirullah,” ucap kaget Afkar.


“Ngapain lo masuk gak ketuk pintu dulu? Seenaknya aja lo masuk ruangan kerja gue,” lanjut ucapan Afkar yang kesal pada Lestari.


“Maaf, Pak, saya hanya memberikan minuman untuk pak Afkar,” balas Lestari takut.


“Udah dibilang ‘kan, tugas membuatkan minuman itu OB bukan lo, sekarang bawa minuman itu keluar dan lo juga keluar dari ruangan ini!” bentak Afkar.

__ADS_1


Lestari pun segera membawa minumannya keluar dan Lestari langsung masuk ke ruangannya dengan ketakutan.


“Gila parah ... pak Afkar kalau marah serem banget, jadi takut gue. Tapi gue penasaran sih, kenapa ya habis pulang dari rumahnya kok malah marah-marah. Apa istrinya yang buat dia marah, ya. Coba aja nikahnya sama gue, pasti gue gak akan buat dia marah,” monolog Lestari.


Sore harinya saat jam pulang kantor, Lestari yang masih kepo pun menunggu Afkar. Karena, Lestari penasaran maka dia akan bertanya ke Afkar langsung.


Dari kejauhan, Afkar terlihat semakin mendekat lewat depan Lestari.


“Pak Afkar, bisa saya bicara sebentar?” tanya Lestari.


“Ada apa? Cepat katakan!” seru Afkar yang malas berbicara lama-lama dengan wanita di hadapannya ini.


“Pak, bapak lagi ada masalah ya? Kenapa bapak marah-marah terus sama saya. Padahal ‘kan yang buat bapak marah itu istri bapak,” kata Lestari.


“Heh, tau apa lo tentang rumah tangga gue? Istri gue itu gak pernah buat masalah dan gak pernah buat gue marah. Jadi, lo itu jangan sok tau,” balas Afkar ketus.


“Pak, lagian bapak loh marah-marah terus sama saya,” ucap Lestari.


“Itu karena gue gak suka sama lo, karena terlalu ambisius mendekati gue!” seru Afkar.


“ihhhh, bapak ternyata terlalu PD ya, Pak,” ucap Lestari gugup karena ketahuan.


“Mau saya jelaskan semua bukti-buktinya? Pakai ngelak lagi,” celetuk Afkar.


“Oh, begitukah. Dengan memberi gue obat p***ng***g, lalu mencampurkan sesuatu ke minuman istri gue, itu yang dinamakan berteman?” tanya Afkar.


Lestari pun menunduk malu karena sudah ketahuan.


“Ingat kata-kata gue. Jangan pernah mempunyai niat tidak baik sama gue dan keluarga, kalau sampai lo ketahuan, gue gak akan segan-segan melaporkan lo ke polisi!” seru Afkar dan kemudian Afkar pun segera melangkah pergi.


Afkar meninggalkan Lestari dan segera menuju ke mobilnya kemudian segera meluncur menuju ke rumahnya.


Di tengah jalan, Afkar ditelpon oleh Zhafira yang minta dibelikan buah delima. Jadi, Afkar mampir dulu di toko buah untuk membeli pesanan istrinya.


Setelah mendapatkan buah yang diinginkan, Afkar langsung menuju ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, Afkar langsung disambut Zhafira di depan rumah dengan senyum ceria.


“Assalamu’alaikum, Istri cantiku,” kata Afkar mendekat pada Zhafira.


“Wa’alaikumussalam, Suamiku,” balas Zhafira.


“Ini, Sayang ... pesanan kamu, segera di makan ya, biar anak kita senang karena kepinginannya kesampaian,” titah Afkar.

__ADS_1


“Iya, Mas, aku langsung ke dapur ya, mau nyuci buahnya. Mas mandi aja, baju udah Fira siapkan di kamar,” kata Zhafira.


“Iya, Sayang, terima kasih ya,” kata Afkar yang langsung menuju ke kamarnya.


Di dapur, ternyata ada bunda Hanum yng sedang menyiapkan makan malamnya.


“Apa yang kamu bawa, Nak?” tanya bunda Hanum.


“Buah delima, Bund, tadi Fira pengin buah delima trus telpon mas Afkar, ternyata mas Afkar membelikannya,” jawab Zhafira.


“Alhamdulillah, yaudah sini bunda cuci dulu buahnya, kamu tunggu di ruang makan, Nak,” titah bunda Hanum.


“Gak usah, Bunda, Fira bisa kok, bunda udah dari tadi bantu Fira, pasti ibu kecapean. Makasih banyak ya, Bunda,” balas Zhafira.


“Iya, Nak. Bunda senang kok bantu kalian, asal cucu-cucu bunda semua sehat, juga kalian berdua rukun,” kata bunda Hanum.


“InsyaaAllah, Bunda, minta do’!nya ya,” ucap Zhafira sembari mencuci buah delima.


“Pasti, Nak, kami orang tua kalian pasti mendo’akan yang terbaik. Udah, itu udah bersih buahnya, sana dimakan dulu, jangan banyak berdiri,” titah bunda Hanum.


“Iya, Bunda, Fira ke sana dulu ya,” kata Zhafira.


Zhafira sebelum ke ruang makan, mengajak putrinya untuk makan bersama dibantu dengan bi Minah. Lalu mereka pun makan buah delima bersama.


Di kamar, Afkar yang udah selesai mandi dan sholat, segera keluar kamar dan menemui anak istri dan ibundanya.


Bunda Hanum udah selesai menyiapkan makan malamnya, saat mereka akan mulai makan, terdengar suara mobil dari luar.


Afkar pun segera keluar dan ternyata ayah Reyhan yang datang menjemput istrinya.


“Assalamu’alaikum,” kata ayah Reyhan.


“Wa’alaikumussalam,” balas mereka serempak.


Ayah Reyhan segera menggendong cucunya. Dan mengajak Chayra main.


“Yah, ayo kita makan bareng dulu,” ajak Afkar.


“Kalian makan dulu aja, sekalian bi Minah juga makan. Ayah pengen main dulu sama cucu ayah yang paling cantik ini,” ucap ayah Reyhan.


Akhirnya mereka pun. Segera makan malam, sedangkan ayah Reyhan mengajak cucunya bermain di ruang tamu.


Saking asyik-nya ayah Reyhan bermain sama cucunya, sampai ayah tak mendengar ada seseorang yang sedari tadi mengetuk pintu.

__ADS_1


__ADS_2