
Rendra pun akhirnya keluar menuju balkon setelah Rendra duduk di balkon Syara pun mulai menelpon Zhafira.
Tapi sampai beberapa kali tetap panggilan dari Syara pun diabaikan.
Akhirnya Syara pun jadi jengkel dan gak mau menghubungi Zhafira lagi. Syara cemberut dan berjalan menuju ke balkon.
“Ada apa, Dek? Kok manyun gitu?” tanya Rendra.
“Kak Fira tuh. Dari tadi Syara telpon gak diangkat, Mas,” jawab Syara.
“Mungkin lagi tidur, ditunggu aja, Dek. Nanti pasti telpon balik,” balas Rendra.
“Yaudah kalau gitu, aku istirahat aja ya, Mas,” ucap Syara diangguki oleh Rendra.
“Yaudah, istirahat aja dulu, nanti aku nyusul.”
Syara pun segera masuk dan menuju tempat tidur. Saat mata mulai tertutup terdengar suara HP Syara berdering.
Syara melihat siapa yang menelpon pun langsung gembira.
“Assalamu’alaikum, Kak Fira, darimana aja sih kok Syara telp gak diangkat-angkat?” tanya Syara.
“Wa’alaikumussalam, Dek, maaf tadi kakak tidur. Gaj dengar ada telpon masuk,” jawab Zhafira.
“Oh, kirain masih marah sama aku, Kak,” balas Syara.
“Emangnya marah kenapa sih, Dek? Kita ‘kan gak pernah ada masalah,” ucap Zhafira.
“Hehehe, iya, Kak. Oh iya, Kak, kata papa kak Fira hamil ya? Bener, Kak?” tanya Syara.
“Alhamdulillah iya, Dek, do’ain ya, semoga kakak dan calon adeknya Chayra sehat,” jawab Zhafira.
“Aamiin, pasti, Kak. Syara pasti do’akan,” balas Syara
“Gimana nih bulan madunya? Lancar?” tanya Zhafira.
“Alhamdulillah, Kak,” jawab Syara yang mengulum senyumnya.
Syara pun bercerita banyak pada Zhafira dan didengarkan juga direspon baik oleh Zhafira. Untungnya Zhafira gak kumat sensitifnya.
Akhirnya Syara saat ini merasa lega saat mendengar suara Zhafira yang terdengar senang dan juga sesekali tertawa.
“Yaudah, kakak tutup dulu ya telponnya, kakak mau mandi nih,” ucap Zhafira.
“Oke, Kak, Assalamu’alaikum.”
__ADS_1
Setelah dijawab oleh Zhafira, telpon pun berakhir.
Setelah menelepon, Syara segera merebahkan badannya trus tidur. Sedangkan di rumah Afkar setelah menutup telpon, Zhafira segera masuk kamar mandi untuk segera mandi dan sholat ashar.
Afkar sedang bersama Chayra karena daritadi sibuk mencari mamanya, jadi Afkar sengaja mengajak Chayra jalan-jalan agar Zhafira bisa istirahat.
Saat Zhafira yang udah selesai sholat, segera keluar kamar dan mencari suami dan anaknya. Tapi, udah berkeliling mencari gak ketemu juga, akhirnya Zhafira bertanya sama bi Minah.
“Bi, suami dan putriku dimana ya?” tanya Zhafira.
“Lagi keluar, Hu, katanya mau ajak non Chayra jalan-jalan tadi,” jawab bi Minah.
“Yaudah, Bi, saya susulin aja ya. Kalau bi Minah mau ke belakang, kunci aja pintunya. Nanti kalau saya pulang, saya langsung telpon bi Minah,” kata Zhafira dan disetujui oleh bi Minah.
Zhafira segera keluar dan berjalan ke arah taman dekat rumahnya. Dan ternyata benar, Afkar sedang main dengan putrinya di taman.
Tapi ada yang beda menurut penglihatan Zhafira, tampak Afkar main dengan putrinya, tapi ibu-ibu yang berada ditaman semua menatap penuh cinta pada Afkar, walaupun Aflar gak sadar, tapi Zhafira tau kalau ibu-ibu itu semua memperhatikan suaminya.
“Mas, kamu ngapain di sini? Mau tebar pesona ya?” tanya Zhafira marah.
“Apa sih, Sayang? Datang-datang kok langsung marah. Tadi itu Chayra nangis nyariin kamu, ‘kan kamu lagi istirahat. Jadi, daripada nanti kamu kebangun, jadi aku ajak jalan-jalan dulu,” jawab Afkar menjelaskan.
“Tapi kenapa harus ke taman? Lihat itu ... ibu-ibu mandangin kamu sampai gak kedip,” gerutu Zhafira.
“Ya biarin ajalah, Sayang, yang penting kan aku gak ngerespon,” balas Afkar.
“Yaudah, kalau gitu ayo kita pulang aja,” ajak Afkar.
Dan Afkar pun menggandeng istrinya keluar dari taman. Setelah sampai rumah. Afkar segera memberikan Chayra ke bi Minah dan segera membersihkan badannya.
Zhafira pun mengikuti Afkar masuk ke kamar mereka.
Afkar segera mandi dan memakai baju untuk persiapan sholat maghrib, setelah sholat maghrib Afkar pun segera mengajak Zhafira makan malam.
Setelah makan malam mereka segera memberi kabar ke orang tua mereka tentang kehamilan Zhafira.Kemudian, selesai menelpon mereka pun segera istirahat.
Satu minggu berlalu, Syara udah sampai ke Jakarta lagi setelah honeymoon, bahkan Syara pun udah masuk kerja. Saat menjelang makan siang, Syara menghadap ke HRD untuk memberikan surat resign Zhafira. Ya, karena Zhafira sedang hamil anak kedua, akhirnya Zhafira pun memutuskan untuk resign. Setelah memberikan surat ke HRD, Syara pun makan siang bersama suaminya.
“Mas, nanti setelah dari kantor, kita ke rumah kak Fira ya,” pinta Syara.
“Iya, Dek, trus gimana tentang kepindahan kita ke rumah kamu jadi gak?” tanya Rendra.
“Aku belum coba ngomongin ini ke papa, Mas, nanti aja setelah makan malam kita omongin ke papa dan mama ya,” jawab Syara diangguki oleh suaminya.
Dan akhirnya mereka pun selesai makan siang, dan masuk ke ruang kerjanya masing-masing. Pada sore harinya sesuai rencana Syara. Mereka pun segera menuju ke rumah Afkar.
__ADS_1
Tapi saat mereka sampai di depan rumahnya, ternyata rumahnya sedang kosong.
“Mas, sepertinya rumahnya kosong, bi Minah juga gak ada,” kata Syara.
“Coba kamu telpon kak Fira biar kita tau dimana,” balas Rendra.
“Iya, Mas, sebentar ya,” kata Syara.
Setelah menelpon, ternyata Zhafira dan Afkae berada di rumah papa Fadlan.
“Mas, ternyata mereka lagi di rumah papa, yaudah yuk kita langsung pulang aja,” ucap Syara.
Dan Rendra pun segera memutar mobilnya menuju ke arah rumah papa Fadlan.
Tak lama kemudian, mobil Rendra memasuki halaman rumah papa Fadlan.
Syara segera masuk ke rumah meninggalkan Rendra.
“Assalamu’alaikum,” salam Syara berteriak masuk ke dalam rumah.
“Wa’alaikumussalam, wah wah ... pengantin baru auranya,” kata Zhafira.
“Auranya gimana, Kak? Cerah ceria ya?” tanya Syara.
“Auranya ... awur-awuran,” jawab Zhafira tertawa. Syara pun cemberut.
“Kak, gimana kehamilannya? Ponakanku pinter ‘kan? Gak ngajak makan yang aneh-aneh?” tanya Syara.
“Enggak kok, Dek, alhamdulillah hamil sekarang rasanya seperti gak hamil, biasa aja,” jawab Zhafira.
“Alhamdulillah. Tapi kak Fira gak marah-marah ke kak Afkar ‘kan?” tanya Syara menaik turunkan alisnya.
“Alhamdulillah, hampir tiap hari,” sambar Afkar.
“Mas, mana pernah aku marah-marah ya,” protes Zhafira sambil menyubit perut Afkar.
“Iya-Iya, Sayang, kamu gak pernah marah kok,” balas Afkar tersenyum sambil menahan sakit.
“Udah-udah, ayo kita sholat maghrib berjamaah dulu, setelah itu kita makan malam,” titah papa Fadlan.
“Yaudah, Syara ke kamar dulu nanti langsung nyusul,” balas Syara.
Syara pun langsung ke kamar bersama Rendra, sedangkan yang lain menuju ke ruangan sholat di rumah papa Fadlan.
Setelah tiba waktu sholat, mereka pun sholat diimami papa Fadlan, setelah selesai sholat mereka segera makan malam bersama.
__ADS_1
Papa dan mama sangat bahagia karena malam ini keluarga mereka berkumpul. Ada anak, menantu, dan juga cucu yang ikut meramaikan suasana.
Makan malam di selingi canda dan tawa. Setelah selesai makan malam, Syara pun ingin mengatakan sesuatu.