
Sesampainya Afkar di kantor, seperti biasa Afkar melewati ruang kerja Lestari.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Lestari.
“Hm,” dehem Afkar berlalu pergi tanpa melirik sedikit pun pada Lestari.
Setelah itu Afkar masuk ke ruang kerjanya. Lestari ternyata mengikutinya dan segera masuk ke ruangan Afkar.
Lestari langsung duduk tanpa disuruh Afkar untuk duduk.
“Lo semakin berani ya. Ngapain lo langsung masuk ke ruang kerja gue tanpa ketok pintu dan langsung duduk?” tanya Afkar yang pagi-pagi udah dibuat kesalahan dengan Lestari.
“Pak, saya ke sini mau minta maaf sama pak Afkar,” jawab Lestari.
“Minta maaf apa?”
“Minta maaf atas kejadian di pernikahan adik bapak kemarin,” balas Lestari.
“Oh, karena itu. Bukannya kesalahan lo banyak ya?” tanya Afkar ketus.
“Pak, saya tuh udah berusaha memperbaiki sikap saya loh, Pak, tapi kok pak Afkar kayaknya gak pernah menghargainya ya,” kata Lestari.
“Ya, karena gue tau dengan sikap seseorang yang minta maafnya tulus atau penuh ke pura-puraan,” balas Afkar.
“Oh, jadi pak Afkar mengira saya pura-pura baik, Pak? Bukannya suudzon itu gak boleh ya.”
“Oke, kalau memang lo gak pura-pura. Tapi, sampai berapa lama lo kuat dengan kepura-puraan lo itu,” kata Afkar.
“Dan sekarang, lo silakan keluar!” lanjut Afkar menyeru.
Lestari pun segera keluar dengan cemberut.
‘Ternyata gak mudah membuat pak Afkar percaya,” batin Lestari dan segera melangkah kembali ke ruangannya.
Afkar segera memanggil temannya untuk segera berangkat ke acara tempat pernikahan di mana Afkar bertugas menikahkannya hari ini.
Tok...Tok...Tok...
“Assalamu’alaikum, Pak,” salam Ridwan sembari mengetuk pintu.
“Masuk, Wan!” sahut Afkar dari dalam ruangan.
“Gimana, Wan, udah siap? Kita langsung berangkat aja ya!” seru Afkar saat Ridwan udah masuk dan duduk di hadapannya.
“Udah semua, Pak, apa berkasnya kita bawa semua?” balas Ridwan.
“Iya kita bawa aja, biar gak bolak balik,” jawab Afkar.
“Baiklah kalau begitu saya izin ngecek sebentar ya biar gak ada yang ketinggalan,” ucap Ridwan.
__ADS_1
“Iya, kamu cek lah dulu. Kalau udah siap, kabari aja,” titah Afkar.
“Baiklah, Pak, saya izin keluar dulu ya,” kata Ridwan izin keluar.
Tak lama Ridwan pergi, Afkar segera menelpon mama Latifah untuk memastikan keadaan istrinya. Setelah mendapat kabar kalau Zhafira baik-baik saja, Afkar pun kembali tenang dan segera bersiap-siap berangkat. Afkar segera keluar ruangan dan menguncinya.
Setelah itu ke ruangan Ridwan untuk mengajak berangkat. Setelah Ridwan siap, mereka pun keluar dan menuju ke mobil Afkar dan mobil pun berjalan ke arah tujuan pertama.
Di KUA, Lestari yang udah membawakan minuman Afkar ingin segera memberikan pada Afkar. Lestari langsung masuk ke ruangannya. Namun, saat akan membuka pintunya ternyata pintunya di kunci.
Tok...Tok...Tok...
Lestari mengetuk pintunya. Karena lama gak di buka, Lestari pun bertanya pada teman kerjanya.
“Pak, pak Afkar keluar ya?” tanya Lestari.
“Iya, Mbak, baru aja pergi ke tempat pernikahan karena ‘kan pak penghulu ganteng hari ini menikahkan di empat tempat,” jawab temannya Lestari.
“Oh, oke,” balas Lestari jutek.
Lalu Lestari pun berlalu duduk di ruang kerjanya.
“Yaudah, minuman untuk yayang Afkar gue minum aja,” ucap Lestari.
Sementara di rumah papa Fadlan, Zhafira udah mulai bosan di kamar terus. Akhirnya Zhafira pun keluar dan mengajak putrinya bermain di halaman belakang. Mereka pun bermain sampai sore. Sampai akhirnya Chayra rewel karena kecapean.
Zhafira pun juga segera ke kamar mandi untuk membersihkan badannya dan berwudhu untuk sholat ashar.
Setelah sholat ashar, Zhafira pun merasa perutnya lapar segera ke dapur. Di dapur, Zhafira bertemu dengan mama Latifah.
“Mau makan apa, Nak?” tanya mama Latifah.
“Fira ingin makan cuanki, Ma, tapi siapa yang Fira suruh nyariin,” jawab Zhafira sembari menunduk.
“Makan aja dulu ini ya, Nak. Nanti kalau suami kamu pulang, minta dibelikan,” balas mama Latifah.
“Fira gak selera, Ma, tapi perut udah lapar banget, sampai lemas nih rasanya, Ma,” ucap Zhafira.
Tak lama kemudian Syara datang, dia membawa bungkusan dan langsung masuk ke dapur.
“Assalamu’alaikum, pantesan Syara ngucapin salam di depan gak ada yang nyaut, ternyata ada di sini,” kata Syara.
“Iya, Nak, kamu sama Rendra?” tanya mama Latifah.
“Iya, Mama, ‘kan sekantor. Jadi, pulangnya bareng,” jawab Syara.
“Yaudah, kebetulan nih kamu pulang, tolong belikan cuanki, ya, kakak kamu ngidam sepertinya,” balas mama Latifah.
“Iya, tolong ya, Dek. Kakak lapar banget,” ucap Zhafira.
__ADS_1
“Nggak mau ah, Syara capek, Kak,” kata Syara membuat mama Latifah mengernyit.
“Syara, kok gitu sama kakak kamu, Nak?” tanya mama Latifah.
Syara pun mengedipkan matanya ke mama Latifah, tanda kalau Syara menggoda Zhafira.
“Dek, tolonglah. Mau ya,” lirih Zhafira dengan tatapan memohon.
“Mau, tapi dengan satu syarat,” jawab Syara.
“Apa, Dek? Cepat katakan, kakak udah lapar banget nih,” balas Zhafira.
“Tolong kakak makan yang di kantong itu. Kita makan bareng-bareng,” ucap Syara seraya mengambil mangkuk dan ditaruhnya tepat di depan Zhafira.
“Dek, kakak tuh udah lapar banget, malah ngajak makan dulu,” gerutu Zhafira sampai-sampaj hampir menangis.
“Kak, kakak cobalah buka dulu, pasti kakak suka,” kata Syara.
Dan akhirnya Zhafira pun membuka kantongnya dan ternyata isi di dalam adalah lima bungkus cuanki.
“Dek, kok kamu udah bawa cuanki?” tanya Zhafira dengan mata berbinar.
“Syara tadi di jalan bayangin enak kali ya sore-sore makan cuanki. Ya udah Syara minta tolong aja belikan sama mas Rendra. Trus nanti dimakan bareng-bareng di rumah,” jawab Syara.
“Makasih ya, Dek, kamu adek terbaik ku,” ucap Zhafira.
“Ehmmm, kalau gitu aja bilangnya adik terbaik,” balas Syara.
“Yaudah yuk kita makan,” lanjut Syara.
Syara menyiapkan lima mangkuk. Untuk Syara, Zhafira, mama Latifah, Rendra dan bi Minah.
Mama Latifah membawakan dua bungkus, satu untuk mama Latifah, dan bi Minah satu bungkus agar bisa makan sambil menjaga Chayra bergantian.
Sedangkan Zhafira udah duluan makan karena udah keburu lapar.
“Kak, Syara panggil mas Rendra dulu ya,” kata Syara Dan diangguki oleh Zhafira.
Syara segera ke kamar mengajak Rendra makan cuanki.
Saat sampai di kamar ternyata Rendra sedang mandi, Syara pun menunggunya.
Setelah Rendra keluar kamar mandi dan selesai sholat, Syara dan Rendra bersamaan segera keluar dari kamar menuju dapur.
Saat melewati ruang tengah mama Latifah minta tolong membawakan 2 mangkuk kotor bekas makan mama Latifah dan bi Minah sekalian Syarat mau ke dapur.
Syara menyuruh Rendra menunggu di meja makan sedangkan Syara membawa mangkuk kotor dulu ke tempat cucian piring.
Setelahnya, langsung menuju ke ruang makan. Namun, saat sampai di ruang makan ....
__ADS_1