
“Assalamu’alaikum, Suamiku,” ucap Zhafira saat berada dalam mobil.
“Wa’alaikumsalam, istri cantikku. Kerjaannya aman?” balas Afkar tangan kanannya menyetir sementara tangan kirinya mengusap pipi kanan Zhafira.
“Aman kok, Mas. Lancar!” seru Zhafira tersenyum.
Sesampainya di tempat makan siang, Afkar dan Zhafira segera memesan makanan dan menikmati sambil bercanda dan sesekali bertukar cerita.
Saat makan siang selesai, Zhafira izin ke toilet sebentar.
Menunggu istrinya di toilet, Afkar mengedarkan pandangannya dan tak sengaja bertemu dengan sahabat lamanya. Afkar segera memanggil.
“Reigha, Gha ... maaf, apa benar anda Reigha?” panggil Afkar memegang pundak kanan orang itu.
Pria itu tampak menatap intens dan mengingat-ingat. Kemudian, berkata, “Afkar! Ya, Afkar. Lo Afkar ‘kan?” Dan, kedua sahabat itu saling berpelukan.
“Gak nyangka bisa ketemu lo di sini, Bro, gimana kabarnya?” tanya Afkar.
“Alhamdulillah gue baik, tadi habis makan siang sama klien. Kenalin, ini Puspa, sekertaris gue.”
“Sama siapa lo di sini?” lanjut Reigha bertanya pada Afkar.
“Sama istri gue, dia lagi di toilet,” jawab Afkar.
“Oke, kapan-kapan lo harus main ke rumah gue. Dan, Afkar, kasih nomor telpon lo ke gue,” ucap Reigha.
Afkar segera memberikan kartu namanya. Reigha pun membaca kartu yang diberikan oleh Afkar.
“Oh ... penghulu muda dan ganteng ternyata. Oke, Bro, sampai ketemu lagi!” seru Reigha.
“Sip, gue tunggu undangan ke rumahnya.”
Setelah Reigha pergi, Zhafira datang menghampiri Afkar.
“Mas, siapa tadi?” tanya Zhafira.
“Itu, Sayang, tadi tuh sahabat Mas, lama gak ketemu dan gak sengaja ketemu di sini,” jawab Afkar.
“Owh gitu, yaudah, yuk Mas kita kembali. Jam makan siang udah hampir habis,” balas Zhafira.
“Aku bayar dulu ke kasir, ya,” ucap Afkar.
“Barengan aja yuk, Mas.”
Akhirnya mereka keluar setelah membayar makanan mereka. Kemudian, Afkar mengantar istrinya ke kantor. Setelah Zhafira turun, Afkar segera menuju ke tempat kerjanya yang baru.
****
Sore harinya, saat Afkar hendak menjemput Zhafira, Afkar melihat kekasih Aurel sedang mengawasi kantor tempat kerja Zhafira.
“Aduh, tempat kerja Zhafira udah diketahui, gimana ini?” ucap Afkar lirih.
__ADS_1
Akhirnya Afkar menelpon Zhafira dan menyuruhnya jangan keluar kantor dulu, setelah Afkar mengakhiri telponnya, Afkar segera menelpon polisi untuk menyamar jadi warga biasa agar kekasih Aurel tidak curiga padanya.
Afkar berpura-pura jadi ojek online yang mangkal di depan kantor tempak kerja Zhafira.
Setelah rencananya matang, Zhafira kembali dihubungi oleh Afkar dan disuruh keluar.
‘Ya Allah, semoga sesuai rencana dan mereka bisa ditangkap,’ batin Afkar dari kejauhan melihat istrinya berjalan keluar.
Saat Zhafira udah di depan, nampak beberapa orang mengganggu Zhafira dan saat hendak membawa Zhafira tiba-tiba ada beberapa orang yang menangkap kekasih Aurel.
Zhafira yang ketakutan pun segera lari kembali masuk kantor. Namun, saat hendak masuk kantor, ada seseorang yang memakai jaket ojek online memeluknya erat.
Zhafira meronta ronta karena merasa tidak mengenali orang tersebut.
Saat Zhafira terus meronta untuk dilepaskan, Afkar pun mengeluarkan suaranya, “Tenanglah, Sayang, ini aku. Kamu udah aman.”
“Alhamdulillah ternyata kamu, Mas, aku takut banget,” lirih Zhafira.
“Kamu udah aman, Sayang.”
Polisi pun sempat mengejar dan akhirnya semua tertangkap.
Kekasih Aurel serta anak buahnya berhasil dibawa ke kantor polisi dan polisi pun meminta keterangan dari pelaku.
Saat Robert di minta keterangan Robert pun mengatakan kalo dia di suruh Aurel. Akhirnya polisi juga melakukan penangkapan pada Aurel.
Afkar juga ke kantor polisi karena dia juga di minta keterangan, Zhafira tidak ikut karena masih syok.
Di kantor polisi, Afkar meminta kekasih Aurel menceritakan bagaimana dan kenapa dia sampai hendak membawa Zhafira pergi.
“Tadi pagi Aurel menemui salah satu orang di tempat kerja lo, di sana dia mendapat info tentang istri lo. Alasan gue ngelakuin ini agar Aurel tetap bersama gue dan gak akan ninggalin gue,” jelas Robert.
“Tenanglah, akan kubuat kalian berdua bersama di penjara!” seru Afkar berlalu pergi ke luar.
Saat Afkar keluar dari kantor polisi, Afkar melihat Aurel. Aurel pun memanggil, “Afkar, Afkar, tolongin gue. Gue gak tau apa-apa.”
“Aurel, gue benar-benar menyesal pernah sangat mencintai lo, lo itu ternyata wanita gak berperasaan. Alhamdulillah Allah membukakan mata hatiku. Dan asal lo tau, gue benci sama lo!” seru Afkar geram pada wanita yang tengah diborgol oleh polisi.
“Afkar, gue gak melakukan apapun, gue cinta sama lo, Afkar!” teriak Aurel.
“Pak polisi, tolong bapak bawa dia masuk, saya udah selesai berurusan sama dia, tolong hukum dia yang setimpal dengan perbuatannya,” balas Afkar dan segera pergi karena Afkar benar-benar khawatir dengan Zhafira.
Zhafira yang saat ini berada di rumah Ayah Reyhan pun sedang ditemani dengan Bunda Hanum.
Afkar sengaja membawa Zhafira ke rumah Ayah karena Papa Fadlan tidak tau tentang masa lalu Afkar.
Ayah Reyhan yang melihat Afkar datang langsung meminta penjelasan.
“Afkar sebenarnya apa yang telah terjadi?” tanya Ayah.
“Zhafira tadi hampir diculik sama Aurel saat tadi Afkar hendak menjemputnya, Yah,” jawab Afkar.
__ADS_1
“Hah? Kok bisa? Kamu lihat kan sekarang, dulu mata kamu udah dibutakan oleh cinta, wanita seperti apa yang kamu cintai dulu, udah tau sekarang? Dan, karena wanita itu Zhafira jadi korbannya. Dulu kamu bilang dia wanita baik, baik darimananya, Afkar? Ayah dan Bunda itu udah tau dari dulu tapi kamu yang gak bisa dilarang. Akhirnya sekarang kamu tau sendiri gimana sifat aslinya,” ucap Ayah emosi.
“Sekarang, gimana Ayah mau bilang ke Papa mertuamu tentang Zhafira. Pasti Papamu marah, karena anak satu-satunya dalam bahaya dan itu karena kamu, Afkar!” lanjut Ayah.
Zhafira yang mendengar afkar dimarah.i sama Ayah mertuanya merasa gak tega, Zhafira pun membela suaminya.
“Yah, maafin Mas Afkar. Udah gak perlu menyudutkannya, Mas Afkar pun juga merasa dibohongi sama Aurel, Yah. Ayah jangan memarah.i Mas Afkar lagi, untuk Papa, biar Fira yang telpon Papa,” ucap Zhafira yang langsung menelpon Papa Fadlan.
“Assalamu’alaikum, Pa.”
“ ... ”
“Pa, Fira dan Mas Afkar nginap di rumah Ayah, ya. Kan dari awal kami menikah, belum pernah nginap di rumah Ayah dan Bunda,” ucap Zhafira.
“ ... ”
“Wa’alaikumsalam, Pa.”
Zhafira pun menaruh ponselnya kembali di dalam tas selempang.
“Udah, Yah. Papa gak curiga kok. Dan, Papa bolehin Zhafira nginap di sini kok,” ucap Zhafira.
“Sayang, ayo ke kamar. Biarkan Ayah menyelesaikan masalah ini dengan Afkar, Nak,” titah Bunda Hanum.
“Sebentar, Bunda,” pinta Zhafira. Kemudian menoleh pada Ayah yang masih berdiri di hadapan Afkar.
“Ayah, tolong jangan marahi Mas Afkar,” ucap Zhafira.
“Udah, yuk, Nak.” Bunda Hanum pun merengkuh tubuh Zhafira dan diajaknya ke kamar Afkar.
Sesampainya di kamar, Zhafira duduk di kasur.
“Istirahat ya, Nak, gak usah mikir apa-apa lagi. Ayah dan suami kamu memang seperti itu, sering berdebat tapi mereka saling menyayangi kok,” ucap Bunda Hanum menenangkan.
“Iya, Bunda, Fira cuma gak tega aja sama Mas Afkar,” balas Zhafira.
“Yaudah, sekarang kamu tidur, Bunda akan masak untuk makan malam sebentar, biar kamu ditemenin suami kamu, ya.”
“Bunda, Fira mau bantu bunda masak,” ucap Fira.
Seketika Bunda Hanum teringat ucapan Ayah beberapa jam lalu kalau dua anaknya udah saling menerima dan akan segera mempunyai cucu. Bunda Hanum juga tadi melihat jalan Zhafira sedikit berbeda.
‘Apa mereka baru melakukannya?’ batin Bunda.
“Bund, Bunda, Fira boleh bantu bunda ‘kan?” ucap Zhafira saat melihat Bunda Hanum yang malah melamun.
“Udahlah, Nak. Kamu di kamar aja istirahat dulu. Lain kali bisa bantu Bunda,” balas Bunda Hanum.
Bunda Hanum pun melangkah keluar kamar menghampiri suami dan anaknya yang masih berdebat.
“Afkar, temani istri kamu du kamar. Ayah, kalau masih mau memperpanjang masalah ini, selesaikan saja di luar rumah. Bunda pusing kalau lihat Ayah dan Afkar selalu berdebat seperti ini,” ucap Bunda segera melangkah ke dapur meninggalkan dua laki-laki yang masih di ruang tamu.
__ADS_1
“Ayah, maaf, Afkar mau ke kamar menemani Zhafira,” ucap Afkar berlalu pergi ke kamar.
Ayah pun segera menyusul Bunda ke dapur, sebagai penambah mood buat istrinya, Ayah yang turun tangan membantu Bunda memasak.