
Dan tiba-tiba Zhafira mengaduh seraya meringis tampak kesakitan.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Afkar cemas.
“Perut aku kram, Mas ... aduhhh,” jawab Zhafira seraya meringis.
Afkar segera bangun dan memencet tombol darurat. Tak lama, perawat pun segera masuk dan bertanya, “Iya, Pak. Ada apa?”
“Sus, tolongin istri saya, istri saya sedang hamil,” jawab Afkar panik.
Perawat pun melihat Zhafira kesakitan segera membawa ke IGD.
“Bapak di sini dulu ya, saya akan membawa istri bapak ke IGD,” ucap Perawat segera mengambil kursi roda.
Zhafira pun segera duduk di kursi roda dan segera di bawa ke IGD.
Sesampainya di IGD, dokter segera memeriksa keadaan Zhafira.
“Ibu, semalam tidurnya gak nyaman jadi perutnya kram, nanti jangan tidur sambil duduk lagi ya, Bu,” titah dokter diangguki oleh Zhafira.
“Iya, Dokter. Terima kasih, saya akan kembali ke ruang rawat suami saya,” balas Zhafira disetujui oleh dokter tersebut.
“Perlu saya antar, Bu?” ucap perawat menawarkan.
“Nggak usah, Suster. Terima kasih,” jawab Zhafira.
Zhafira segera ke ruang rawat Afkar. Saat masuk ternyata Bunda Hanum udah datang.
“Gimana, Nak ... kata Afkar kamu sakit tadi?” tanya Bunda Hanum menghampiri Zhafira.
“Gapapa, Bund, perut Fira kram. Kata dokter karena semalam tidurnya gak nyaman,” jawab Zhafira.
“Ya pasti gak nyamanlah, Sayang. Kamu tidurnya di sampingku dan dalam keadaan duduk lagi. Setelah makan kamu pulang aja ya, Sayang. Mas biar dijaga sama Bunda,” balas Afkar.
“Emm ... Mas kamu gak suka ya Fira temenin di sini?” tanya Zhafira sedih.
“Bukan gak suka, Sayang. Mas sangat suka, tapi kasian kamu yang tidurnya gak nyaman, jadinya anak kita juga gak nyaman di sini,” jawab Afkar seraya mengelus perut Zhafira.
“Nggak, Mas, Fira mau di sini aja, Fira mau sama kamu aja,” balas Zhafira dengan manja pada Afkar.
“Kemarin aja sok-sok.an gak mau dekat, sekarang nempel terus,” celetuk Afkar bercanda membuat Zhafira menunduk malu.
“Udah-udah, menantu bunda jangan digodain terus, ayo kita makan, Nak. Bunda tadi bawakan makanan spesial buat kamu dan calon cucu bunda,” ucap Bunda.
“Afkar mana, Bund?” tanya Afkar membuat bunda segera mendekat oada nakas untuk mengambilkan makanan yang udah disiapkan dari rumah sakit.
“Bunda, kok makanan rumah sakit? Afkar mau makanan yang dari rumah. Afkar gak suka dengan makanan rumah sakit, Bund,” protes Afkar.
__ADS_1
“Kalau mau makanan dari rumah, sembuh dulu baru pulang,” balas Bunda.
“Iya, Mas, cepat sembuh nanti kita pulang ke rumah,” imbuh Zhafira.
“Aku udah sembuh nih, Sayang. Peganglah, udah gak demam lagi kok,” ucap Afkar sambil menyuruh Zhafira memegang kening Afkar.
“Yaudah, Mas tunggu dokter meriksa dulu ya,” titah Zhafira diangguki oleh Afkar.
“Mas, Mas mau Fira suapi atau makan sendiri?” lanjut Zhafira bertanya pada Afkar.
“Pengannya disuapin sih, Sayang. Tapi, kasihan anak kita juga waktunya makan,” jawab Afkar.
“Mas makan sendiri aja, Sayang, kamu juga makan ya,” lanjut Afkar.
Mereka pun bertiga segera makan, selesai sarapan Zhafira menelpon Syara untuk minta tolong izinkan di kantor untuk hari ini. Dan setelah selesai menelpon, Zhafira menuju ke kamar mandi untuk menyiapkan air buat menyeka Afkar.
“Mas, badannya Fira bersihkan dulu ya, sebelum dokter datang,” ucap Zhafira.
“Sayang, Mas mandi di kamar mandi aja ya, Mas udah baikan kok,” balas Afkar.
“Yaudah kalah itu maunya Mas, Zhafira bantu.”
Afkar pun segera bangun, dia duduk dulu karena sebenarnya Afkar masih merasakan pusing.
Setelah dirasa reda pusingnya segera Afkar berdiri dan dibantu Zhafira masuk ke kamar mandi.
“Iya, Nak. Hati-hati, Sayang,” balas Bunda diangguki oleh Zhafira.
Afkar dibantu oleh Zhafira melepas bajunya setelah itu Zhafira membantu Afkar mandi karena tangan Afkar yang satunya tertancap jarum infus, jadi gak berani terlalu banyak gerak. Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Afkar dan Zhafira.
Setelah keluar dari kamar mandi, Bunda pun mengeluarkan suaranya, “Sini, Nak, baju kotornya taruh di kantong sini aja.”
Zhafira pun segera membantu Afkar duduk kembali di brankar dan mengamnil kantong dari tangan Bunda. Kemudian Zhafira membawa baju kotor Afkar yang udah masuk ke dalam kantong tersebut.
“Sayang, baju kamu basah tuh. Gimana gantinya? Kamu ‘kan gak bawa baju ganti,” ucap Afkar.
“Bunda tadi bawakan baju ganti kok, ini baju gantinya. Sekalian bersih-bersih aja, Fira,” balas Bunda.
“Makasih ya, Bund. Fira titip Mas Afkar sebentar,” ucap Zhafira segera masuk kamar mandi untuk mandi dan ganti baju.
Tak berapa lama, Zhafira keluar dari kamar mandi dalam keadaan yang bersih dan rapi. Kemudian, dokter yang menangani Afkar tampak masuk ke dalam ruang rawat.
“Selamat pagi, gimana kabar bapak pagi ini? Sepertinya segar sekali tampak sehat gak seperti semalam,” tutur dokter mendekat pada brankar Afkar.
“Iya, Dokter, karena obatnya semalam datang, makanya langsung sembuh pagi ini,” sambar Bunda membuat dokter mengernyit heran.
“Obatnya? Obat apa itu yang bisa cepat sehat seperti ini, Bu?” tanya dokter.
__ADS_1
“Obatnya yang berdiri di sebelahnya itu, Bu,” jawab Bunda.
Dokter pun tau yang dimaksud, lalu tersenyum. Begitu juga dengan Zhafira yang tersenyum malu dengan ucapan Bunda.
Dokter segera memeriksa Afkar dan berkata, “Pak, ini udah lebih baik ya kesehatannya. Pak Afkar boleh pulang tapi tunggu besok ya, Pak.”
“Gak bisa sekarang pulangnya, Dokter? Kasian istri saya lagi hamil. Gak nyaman tidurnya,” balas Afkar.
“Kalau pak Afkar memaksa, baiklah, gapapa pulang, karena tinggal pemulihannya saja. Obatnya nanti teratur di minum ya, Pak, dan jangan banyak aktivitas dulu,” titah dokter.
“Baik, Dokter. Terima kasih,” ucap Afkar diangguki oleh dokter. Kemudian dokter segera pergi memeriksa pasien yang lainnya.
“Kamu itu, Nak, kalau udah ada maunya susah di bilang enggak, maksa aja,” gerutu Bunda.
“Kan Afkar memang udah baikan, Bund,” balas Afkar.
“Yaudah Fira urus administrasi dulu ya, Mas, Bund.”
“Iya, Sayang, hati-hati,” titah Afkar.
Zhafira pun keluar untuk mengurus administrasi, Bunda membantu Afkar membereskan barang-barangnya. Afkar menelpon pak Supri untuk menjemputnya.
Setelah semua urusan selesai, Zhafira kembali masuk ruangan bersama perawat untuk membantu melepas infus Afkar. Kemudian Afkar duduk di kursi roda dan didorong oleh Zhafira.
“Nak Fira, kamu gapapa dorong Afkar, Nak? Berat lo, Sayang,” ucap Bunda bertanya pada Zhafira.
“Gapapa, Bunda. ‘Kan dekat,” balas Zhafira meyakinkan Bunda.
Pak Supri yang melihat Zhafira dari jauh langsung datang menghampiri.
“Sini, Non, biar pak Supri aja yang dorong.”
Zhafira pun tidak menolak. Setelah sampai depan mobil, Pak Supri membantu Afkar masuk mobil.
edangkan Zhafira menyusul duduk di samping Afkar. Bunda duduk di depan dekat kursi kemudi.
Pak Supri segera melajukan mobilnya hingga mereka pun sampai di rumah kediaman Afkar.
Zhafira tampak berkaca-kaca karena selama dua bulan ini dia gak pernah datang ke rumah ini.
Afkar yang melihat istrinya hampir menangis pun langsung bertanya, “Kamu kenapa, Sayang? Kok tiba-tiba sedih?”
“Zhafira sedih karena meninggalkan rumah ini lama, Mas,” jawab Zhafira.
“Udah, jangan diingat-ingat lagi. Yuk kita masuk!” ajak Afkar.
Afkar dan Zhafira segera masuk ke kamar, Bunda membantu bibi masak untuk makan siang.
__ADS_1
Di kamar, Afkar tiba-tiba memeluk Zhafira, “Sayang, Mas kangen banget sama kamu.”