Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.8 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

“Maaf, Pak. Sepertinya istri bapak ini ... ”


“Maaf, Pak. Sepertinya istri bapak ini kecapean dan maagnya kambuh, apa tadi istri bapak melewatkan makan siangnya?” tanya dokter.


“Tadi siang makan cuma sedikit, Dok, dan malam tadi gak mau makan,” jawab Afkar.


“Baiklah. Ini resepnya, Pak, tolong di ingatkan istrinya untuk teratur minum obatnya. Saya permisi dulu,” titah Dokter yang memeriksa Zhafira.


“Iya, Dokter. Terima kasih.”


Setelah dokter itu pergi, Afkar bingung mau beli obat, dia gak tega ninggalin Zhafira sendirian. Akhirnya, Afkar segera menyuruh waiters lagi untuk menebus resepnya dan membelikan bubur untuk Zhafira.


Beberapa saat kemudian, waiters datang membawa obat dan bubur yang dipesan oleh Afkar.


“Fir, bangun sebentar makan dulu trus minum obat,” titah Afkar yang saat ini tepat berada di samping Zhafira.


Zhafira yang merasakan badannya lemas segera bangun dan duduk bersandar pada headboard.


“Emm ... Fira pusing, mau tidur aja,” lirih Zhafira.


Kemudian, saat akan membaringkan badannya, Afkar pun berkata, “Posisi gitu aja, duduk bersandar. Biar saya suapin.”


Zhafira menggeleng kecil, “Gak usah, sini buburnya. Fira bisa makan sendiri.”


“Gak usah membantah, kamu lagi sakit. Lihat itu, tangan kamu aja sampai gemetar,” ucap Afkar.


Zhafira males berdebat, dia pun menurut untuk disuapin Afkar. Gak terasa, Zhafira menghabiskan buburnya. Kemudian, Afkar memberikan obat.


“Oke, udah makan dan udah minum obat. Sekarang, kamu tidur lagi, biar besok sudah enakan badan kamu,” ucap Afkar.


“Ini kok ada kompres, siapa yang ngompres aku tadi?” tanya Zhafira saat melihat adanya kompres di atas nakas.


“Ya siapa lagi, di kamar ini kita cuma berdua, jadi ya aku lah yang ngompres kamu. Udah, sekarang tidur lagi, istirahat!” seru Afkar.


“Eh iya. Tapi, Fira kekenyangan, mau bersandar dulu. Kalau mau tidur duluan, gapapa. Tidur aja,” balas Zhafira.


“Saya temani kamu dulu sampai kamu tidur. Kamu mau ngobrol sama saya?” tanya Afkar.


‘Dia ternyata baik banget, rela ngurusin aku, padahal dia nikah sama aku karena terpaksa,’ batin Zhafira.


“Hey, kok malah nangis. Kenapa? Boleh saya kasih saran? Kamu pikirkan baik-baik perkataanku. Buat apa kamu menyiksa diri sendiri sampai kamu seperti ini, padahal yang kamu pikirkan sekarang ini pasti lagi bersenang-senang sama istrinya,” tutur Afkar.


“Kamu hanya buang-buang waktu, Fir, mending kamu pikirin Papa dan Mama. Kalau tau kamu seperti ini, pasti beliau akan sangat sedih. Ayolah bangkit, jangan terpuruk seperti ini. Mana Fira yang kuat dan tegar itu. Jangan mau laki-laki itu berbahagia di atas penderitaanmu. Kamu harus buktikan kalau kamu gak selemah yang dia kira, masih banyak laki-laki yang lebih pantas sama kamu. Yakinlah, kamu pasti bahagia walau gak sama dia, Fir,” lanjut Afkar panjang lebar.


Zhafira pun tersentak, dia seakan sadar dengan ucapan dari Afkar.

__ADS_1


‘Untuk apa aku menangisi cowok gak punya perasaan itu. Aku harus move on, aku harus buktikan kalau aku tetap bahagia walau gak bersama Daffa. Kebahagiaan aku bukan pada Daffa,’ batin Zhafira.


“Terima kasih udah mengingatkan. Tidurlah, Fira udah baikan,” ucap Zhafira merebahkan dirinya pada kasur.


“Baiklah, selamat malam,” kata Afkar.


Afkar pun segera berbaring di sofa dan segera melakukan kebiasaannya berkabar dengan Aurel sebelum tidur.


Saat Afkar berbalas pesan dengan kekasihnya, Zhafira diam-diam memperhatikan.


‘Dia ganteng, baik dan perhatian. Padahal, aku udah jutek sama dia tapi sikapnya ke aku tetap baik,’ ucap Zhafira dalam hati sambil terus menatap Afkar yang senyum-senyum memandang ponselnya sampai-sampai Zhafira terpesona dengan senyumannya.


Afkar tak sadar ada yang memperhatikan, dia masih asyik chattingan sama Aurel.


“Sayang, kamu dimana?” tanya Afkar pada Aurel lewat chat WhatsApp.


“Aku di rumahlah, Sayang, kamu kemana aja sih. Kok gak ngabarin seharian ini?” balas Aurel bertanya pada Afkar.


“Aku tadi pagi berangkat ke Jogja, Sayang. Ngantar Zhafira mencari pacarnya yang kabur itu,” jawab Afkar.


“Oh ... kok gak ngabarin dulu? Udah lupa sama pacar sendiri ya?” tanya Aurel kembali.


“Bukan begitu, Sayang, ada kejadian tak terduga aja tadi. Gimana kamu hari ini? Kerjaannya lancar ‘kan?” balas Afkar bertanya.


“Emang harganya berapa? Aku transfer aja, gimana?” tanya Afkar.


“Enggak ah, Sayang, aku pengen nunjukan dulu ke kamu,” balas Aurel.


“Udahlah, gak perlu ditunjukin, aku transfer aja. Berapa harga bajunya? 5 juta cukup?” tanya Afkar.


“Cukup sih. Tapi, aku gak enak deh sama kamu,” jawab Aurel dengan dramanya.


“Yaudah, aku transfer sekarang ya. Asal kamu jangan marah lagi, oke.”


“Iya, Sayang. Bye, Sayangku. Love you!” seru Aurel.


Afkar segera mentransfer uang untuk Aurel. Setelah itu, dia pun tertidur.


Di tempat lain, “Lihatlah, betapa bodohnya dia. Uang udah masuk, besok pagi kita bersenang-senang.”


“Emangnya dia kemana, Beb? Sepertinya lagi di luar kota, ya?” tanya Robert memastikan.


“Terserah dia mau dimana dan ngapain, yang penting duit dia gue kuras. Ya ... katanya sih dia di Jogja. Udahlah, istirahat yuk, capek gue lo gempur tiga jam.”


“Beb, dia ‘kan di Jogja. Jadi dia gak akan ngajak ketemuan. Gimana kalau kita ke Bali aja, jalan-jalan, Beb,” ucap Robert menyamai langkah dengan Aurel yang lebih dahulu masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


“Ide bagus. Oke, lo cari tiket aja. Tapi, penerbangannya dua hari lagi, ya. Gue ada kerjaan,” balas Aurel.


Robert pun segera memesan tiket untuk ke bali, dua hari lagi jadwal mereka berangkat.


****


Dua hari berlalu, suasana pagi Robert dan Aurel udah sampai bandara Jakarta. Mereka hendak pergi ke Bali pagi ini, mereka udah tiba di bandara Soekarno hatta satu jam yang lalu. Dan, setengah jam lagi pesawat yang membawa mereka akan lepas landas.


Sementara di hotel tempat Afkar dan Zhafira menginap, hari ini Zhafira tampak beda tidak seperti kemarin, Zhafira tampak udah siap mau pergi.


Afkar yang baru saja masuk ke dalam hotel karena dia tadi keluar untuk joging. Afkar kaget melihat Zhafira yang tampak lebih segar.


“Kamu mau ke mana, Fir?” tanya Afkar.


“Fira mau jalan-jalan, bosen tau di kamar terus,” jawab Fira.


“Oke, tungguin bentar, ya. Aku ganti baju dulu,” balas Afkar.


Dua hari berlalu sejak Zhafira sakit, hubungan Afkar dan Zhafira sedikit mencair, mereka udah tidak kaku lagi kalau bicara. Tapi, Zhafira blm mau memanggil Afkar dengan embel-embel Mas atau Bang atau Kak. Namun, Zhafira udah merasa nyaman bersama Afkar.


Beberapa menit kemudian, Afkar udah siap mau pergi jalan-jalan. Afkar tampak semakin tampan menggunakan kemeja putih dilapisi sweater warna hitam disertai garis putih di lengannya dipadukan dengan celana jeans membuat Zhafira tampak terpesona.


“Ayo, kita berangkat,” ajak Afkar.


Tapi, Zhafira belum sadar kalau Afkar udah udah berada di hadapannya.


“Fir ... Fira!” panggil Afkar.


Zhafira pun kaget dan segera meng-iyakan.


“Kamu kenapa, Fir? Terpesona ya? Suami kamu emang tampan, atau jangan-jangan kamu udah jatuh cinta sama aku?” tanya Afkar membuat Zhafira salah tingkah.


“Ngawur aja. Gak akan ya, siapa juga yang jatuh cinta sama kamu,” dusta Zhafira. Tapi, tidak dengan hatinya yang berdegup kencang.


‘Ya Allah, jantung aku kenapa ini? Gimana kalau Afkar dengar suara jantung aku,’ batin Zhafira.


Tiba-tiba ponsel Zhafira berdering, pertanda ada panggilan masuk membuat lamunan Zhafira buyar.


“Fir, ponsel kamu. Syara telpon,” ucap Afkar yang ternyata udah mengambilkan ponsel Zhafira yang memang kebetulan ada di dekat Afkar.


“E-eh, iya. Makasih,” balas Zhafira.


Zhafira segera menerima panggilan dari Syara.


“Halo, Dek? Kenapa?” tanya Zhafira.

__ADS_1


__ADS_2