
“Fira, daritadi hp kamu bunyi terus, Nak. Ada yang nelpon,” kata bunda Hanum memberitahu.
“Siapa, Bund?” tanya Zhafira.
“Nih coba kamu cek,” balas bunda Hanum menyodorkan hp Zhafira.
Zhafira menerima dan segera membukanya, ada beberapa panggilan tak terjaga dari nomor tidak dikenal. Yaitu, nomor yang setahun terakhir ini selalu menghubunginya.
“Brian,” lirihnya membuat semua menoleh pada Zhafira.
“Kenapa dengan Brian, Sayang?” tanya Afkar.
“Ini nomor Brian, Mas. Nomor yang setahun terakhir ini selalu meneror aku,” jawab Zhafira.
“Mau apa lagi Brian itu,” gerutu papa Fadlan.
“Fadlan, udahlah ... yang jelas besok Afkar akan menemuinya,” balas ayah Reyhan.
“Tapi mau sampai kapan lagi keluarga anak kita akan terus diteror karena orang di masa lalu,” kata papa Fadlan.
“Maafkan Fira, Pa. Andai aja dulu Fira gak nekat untuk bersama dengan Dafa,” lirih Zhafira.
“Sudahlah, Sayang ... itu masa lalu,” balas Afkar yang segera merangkul istrinya agar merasa lebih tenang.
Mereka pun melanjutkan obrolannya, hingga tak terasa waktu pun semakin cepat berlalu, mereka memutuskan untuk segera kembali pulang ke rumah masing-masing karena besok mereka akan disibukkan dengan berbagai aktifitas.
Sesampainya Afkar di rumah, dia segera turun dari mobil dengan menggendong Chayra yang telah tertidur sejak tadi.
Sementara Zhafira pun mengikuti Afkar dari belakang dengan menggendong Adrian yang tampak masih sibuk bermain dengan mainan di tangannya.
Bi Minah yang tau mobil berhenti depan rumah pun langsung berlari untuk membantu membawakan barang-barang majikannya.
“Pak, Bu, mau dibuatkan minuman?” tanya bi Minah.
“Nggak, Bi. Kami mau langsung tidur,” jawab Afkar.
“Makasih ya, Bi. Bibi juga jangan lupa istirahat,” titah Zhafira.
“Iya, Bu. Setelah ini saya langsung istirahat,” balas bi Minah tersenyum dan kemudian menyusul ke kamar Chayra untuk meletakkan barang-barang yang dibawakan dari mobil tadi.
“Oh iya, Bi, jangan lupa pastikan pintu rumah dan pagar rumah terkunci ya,” ucap Afkar setelah meletakkan Chayra di kamarnya.
“Iya, Pak. Nanti saya pastikan dulu,” balas bi Minah yang kemudian menaruh barang-barang tadi dan setelahnya menuju ke pos satpam untuk menyuruh mengunci pagar rumah.
“Pak, kata pak Afkar ... tolong pagar dipastikan terkunci!” seru bi Minah.
“Oh iya, Bi, ini langsung aku cek,” balas pak Joko selaku satpam di rumah Afkar.
“Makasih ya, Pak. Kalau gitu, aku pamit masuk,” kata bi Minah yang segera berlalu pergi meninggalkan satpam dan menuju ke dalam rumah untuk segera beristirahat.
Setelah kepergian bi Minah, Pak Joko pun segera mengunci pagar rumah sesuai dengan perintah Afkar.
__ADS_1
Bi Minah yang sejak tadi memastikan pintu dan jendela pun saat ini dia menuju ke kamarnya.
Di kamar, Afkar tampak baru saja selesai mandi. Namun, tidak dengan Zhafira yang udah ketiduran saat menunggu Afkar mandi.
“Sayang ... ayo mandi dulu, Yang,” titah Afkar.
“Ah, Mas ... aku udah ngantuk,” balas Zhafira.
“Ayo mandi dulu, Sayang,” ucap Afkar kembali.
Dengan berat hati, akhirnya perlahan Zhafira turun dan bergegas mandi. Usai Zhafira dengan membersihkan diri, dia melihat suaminya yang tidur duluan di sisi Adrian.
Zhafira pun yang merasa udah selesai semuanya pun segera tidur.
Pada keesokan paginya, Afkar yang bangun duluan udah membantu istrinya untuk mengurus anak-anak terlebih dahulu.
“Mas, kamu udah mau berangkat? tanya Zhafira.
“Belum, Sayang ... bentar lagi langsung berangkat bareng papa dan Rendra,” jawab Afkar.
“Yaudah kalau gitu, jangan lupa sarapan dulu sebelum berangkat ya, Mas,” titah Zhafira.
“Sip, aman itu!” seru Afkar sembari mengusap punggung istrinya.
Afkar pun segera sarapan sembari menunggu kedatangan papa Fadlan dan juga Rendra.
Tak lama kemudian, yang ditunggu pun tiba, mereka segera masuk dan menemui tuan rumah yang katanya sedang sarapan.
“Lagi di kamar main sama anak-anak ditemenin bi Minah, Pa,” jawab Afkar.
Setelah Afkar selesai makan, mereka pamit pada Zhafira dan segera pergi menuju ke rumah yang Afkar tau itu adalah rumah di mana tempat tinggal Brian selama ini.
“Kamu yakin tempat itu adalah rumah Brian?” tanya papa Fadlan.
“Yakin, Pa. Orang suruhan Afkar yang bilang dia selalu melihat Brian keluar masuk rumah ini dan bahkan kalau malam itu tidur di rumah ini,” jawab Afkar dengan penuh keyakinan.
“Kalau gitu, ayo masuk langsung aja, Pa, Kak!” seru Rendra yang memang tak sabar menyelesaikan masalah ini karena dia merasa risih jika ada orang yang suka teror meneror.
Tok ...Tok ... Tok ...
Tak lama pintu dibuka dan menampilkan sosok Brian. Tentu Brian tidak mengenali dua diantara tiga laki-laki dihadapannya kecuali papa Fadlan yang memang udah pernah bertemu.
“Siapa kalian? Siapa yang anda bawa?” tanya Brian yang tertuju pada papa Fadlan.
“Saya membawa ini suami Zhafira dan ini menantu saya, adik ipar Zhafira,” jawab papa Fadlan.
“Masuklah!” seru Brian mengajak semuanya masuk.
Semua pun masuk ke dalam rumah Brian dan duduk di ruang tamu.
“Ada perlu apa kalian ke sini?” tanya Brian.
__ADS_1
“Ada satu hal yang ingin saya bahas. Saya akan membebaskan Dafa hari ini juga. Tapi dengan satu syarat, bawalah Dafa pergi jauh dari Indonesia agar tidak mengganggu keluargaku,” ucap Afkar dengan tatapan serius.
“Dan satu lagi, sudah teror meneror yang anda buat!” lanjut Afkar.
“Aku akan menghentikan teror ini jika udah melihat Dafa adikku bebas,” balas Brian.
“Ayo ke kantor polisi,” ajak Afkar.
“Kenapa? Lo mau melaporkan teror yang gue buat selama satu tahun ini?” tanya Brian dengan ketus.
“Mau membebaskan Dafa,” sambar papa Fadlan.
“Tapi jika anda mau merasakan di dalam penjara, kami bisa melakukannya,” celetuk Rendra dengan sinis.
“Tunggulah di sini, gue bersiap untuk menjemput adek kesayangan gue. Awas kalian nggak jadi membebaskannya,” kata Brian segera berlalu pergi ke kamarnya.
Sementara yang lainnya di ruang tamu diam tak bersuara. Afkar menyusuri satu persatu bingkai foto yang terpampang foto dua laki-laki yang Afkar tau itu Brian dan Dafa.
Tak lama, Brian kembali dan udah membawa kunci mobil di tangannya.
“Ayo pergi!” seru Brian berlalu meninggalkan papa Fadlan, Afkar, juga Rendra yang masih di ruang tamu.
“Nggak sopan,” gerutu Rendra berdiri dan mengikuti langkah papa Fadlan juga Afkar yang duluan menyusul Brian.
Mereka menggunakan dua mobil menuju ke kantor polisi, cukup makan waktu yang lama, hingga kini mereka telah sampai dan bersamaan semua turun dan melangkah masuk ke dalam kantor polisi.
“Wah wah ... pak Afkar!” seru salah satu polisi yang mengenali Afkar.
“Assalamu’alaikum, Pak Abhizar,” salam Afkar mengawali.
“Wa’alaikumussalam,” balas Abhizar.
“Kenapa ke sini, Pak?” lanjut Abhizar bertanya.
“Saya mau membebaskan Dafa, dia udah dipenjarakan beberapa tahun ini,” jawab Afkar.
“Marilah ke sini, Pak. Duduk sebentar,” balas Abhizar mempersilakan semuanya duduk.
Afkar menceritakan semua pada Abhizar dan memutuskan untuk membebaskan Dafa.
Setelah semua selesai diurus oleh Afkar, akhirnya Dafa dibebaskan. Abhizar membawa Dafa keluar dari sel.
“Ini Dafa, Pak,” kata Abhizar yang telah berdiri di hadapan Afkar bersama dengan Dafa.
“Dafa!” panggil Brian yang segera memeluknya.
“Bang, lo ...” lirih Dafa yang membalas pelukan dari Brian.
“Duduklah dulu, Dafa, ada yang harus lo setuju sebelum lo benar-benar bebas,” ucap Brian yang mengajak Dafa untuk membahas persyaratan yang telah dibuat oleh Afkar.
Afkar telah menepati janjinya untuk membebaskan Dafa, kini giliran Brian yang akan menjelaskan Syarat itu untuk menepati janji Brian pada Afkar membawa Dafa pergi jauh dari keluarga Afkar.
__ADS_1