Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.74 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

“Halo, Fira,” panggil Dafa.


“Hmm,” dehem Zhafira.


“Fira, aku tau kesalahan aku gak mudah kamu maafkan. Tapi, rasa sayang ku ke kamu tetap sama seperti dulu, Fira. Ayolah kita kembali mengulangi hubungan kita,” ucap Dafa.


Papa Fadlan, Afkar, Rendra, serta Brian sontak menatap tajam pada Dafa.


“Daf, gue ini bukan lagi gadis yang bisa lo ajak pacaran. Gue ini udah jadi istri orang bahkan gue juga udah punya anak. Lo gila ya ngomong kayak gitu?” balas Zhafira.


“Fira, aku itu tau kamu gak ada rasa sayang atau cinta ke suami kamu. Aku di sini, menelpon kamu untuk mengajak kamu mengulangi perasaan cinta kita yang sempat terkubur,” kata Dafa.


“Dafa ... cukup! Gue gak mau dengar apapun ucapan lo lagi, makin lama lo di penjara, ternyata lo makin gila,” ucap Zhafira.


“Dafa, mau lo apa? Tadi lo bilang ‘kan mau pamitan. Kenapa jadi gitu ucapan lo, hah?” tanya Brian.


“Iya, sory,” balas Dafa menatap sinis pada Brian.


“Fira, sebenarnya aku mau pamitan sama kamu karena aku harus pergi ke luar negeri sama abangku,” ucap Dafa berpamitan pada Zhafira.


“Trus, urusannya sama gue ... apa ya?” tanya Zhafira.


“Aku pamit biar kamu gak nyariin aku, Fira,” jawab Dafa dengan percaya dirinya.


“Hah? Gak salah ya? Mau lo pergi selama-lamanya tanpa pamit pun gue gak akan nyariin lo,” balas Zhafira.


“Kamu melupakan kenangan kita begitu aja, Fira?” tanya Dafa setelahnya.


“Cukup Dafa, cukup!” seru Brian.


“Ayo kita pergi,” lanjut Brian.


“Udah segitu aja, tolong matikan telpon itu,” imbuh Brian berkata pada Afkar.


Afkar pun mendekatkan ponsel pada telinganya, “Sayang, udah dulu ya. Mas mau urus semuanya dulu trus kami pulang.”


“Iya, Mas. Nanti hati-hati ya, jangan ngebut,” titah Zhafira.


“Oke. Assalamu’alaikum, Sayang,” ucap Afkar.


“Wa’alaikumussalam, Mas.”


Telpon pun diakhiri. Setelahnya, Afkar mengurus pencabutan laporan untuk Dafa. Setelah semua selesai, Brian pun berterima kasih kemudian mengajak Dafa pulang ke luar negeri. Mereka langsung mengurus penerbangan hari itu juga.


“Terima kasih karena kalian mau membebaskan Dafa. Kami pamit mau pergi, mohon do’anya untuk kelancaran saat di perjalanan. Maaf untuk satu tahun terakhir ini udah meneror keluarga kalian,” kata Brian.


“Iya, sama-sama. Semoga lancar di perjalanan, ya,” ucap papa Fadlan.


“Untuk masalah teror meneror, ada baiknya gak perlu diungkit lagi,” kata Afkar.


“Iya, benar itu,” sambar Rendra.

__ADS_1


“Yaudah kalau gitu kami pamit pulang dulu,” ucap papa Fadlan yang merasa udah muak melihat Dafa.


“Iya, hati-hati ya,” kata Brian.


“Kalian juga hati-hati,” balas Afkar.


Afkar, Papa Fadlan, dan juga Rendra pun berlalu pergi meninggalkan kantor polisi setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada Abhizar.


Sementara Brian dan Dafa pun juga berlalu pergi tak lama setelah Afkar dan lainnya meninggalkan kantor polisi itu.


Di perjalanan, Dafa tak henti-hentinya memohon pada Brian untuk diperbolehkan bertemu dengan Zhafira sebelum pergi ke luar negeri.


“Bang, bentar aja. Lo emang gak pernah ngebiarin gue bahagia,” ucap Dafa.


“Gue gak akan mau. Lo sekarang harus ikut gue ke luar negeri,” balas Brian.


Dafa pun merasa malas karena Brian selalu mengatakan kata yang selalu tidak mendukungnya.


‘Suatu saat nanti, gue akan kabur dari lo demi balik ke Indonesia menemui Fira,’ batin Dafa sembari menatap jalanan yang menuju ke bandara.


Sementara papa Fadlan, Afkar dan juga Rendra baru saja sampai di rumah Afkar dan mendapati Zhafira yang tengah duduk di teras rumah.


Melihat mobil Afkar memasuki pekarangan rumah, Zhafira pun segera mendekat dan menunggu Afkar keluar dari mobil.


“Assalamu’alaikum, Mas,” salam Zhafira sembari mencium tangan Afkar, kemudian papa Fadlan.


“Wa’alaikumussalam, Sayang. Kamu kok di luar, hmm?” tanya Afkar.


“Aku nungguin kamu, Mas. Aku khawatir kamu kok lama banget,” jawab Zhafira yang menatap intens pada suaminya.


“Yaudah kalau gitu, Afkar, Fira, papa gak bisa mampir nih. Besok papa ada urusan jadi papa dan mama harus keluar kota,” ucap papa Fadlan berpamitan.


“Syara sendirian dong ngurus Ammar di rumah, Pa?” tanya Zhafira.


“Kan ada Rendra, Nak,” jawab papa Fadlan.


“Rendra kan gak selalu di rumah, Pa. Lagian Rendra juga kerja, ntar kasihan dong Syara sendirian di rumah,” balas Zhafira.


“Kak, nanti kalau aku kerja, boleh kan aku titip istri dan anakku di sini?” tanya Rendra setelahnya.


“Nah, gitu lebih baik. Boleh kok, iya ‘kan, Mas?” ucap Zhafira yang menoleh pada Afkar.


“Iya, tentu boleh, Sayang,” jawab Afkar.


“Yaudah ya, kami mau pulang dulu. Mungkin, besok pas berangkat papa dan mama mampir ke sini dulu buat pamit sama Chayra dan Adrian,” ucap papa Fadlan.


“Iya, Pa. Papa hati-hati, ya. Rendra, jangan ngebut bawa mobilnya,” kata Zhafira.


“Iya, Nak. Assalamu’alaikum,” balas papa Fadlan.


“Wa’alaikumussalam, Pa,” Zhafira menyalimi tangan papa Fadlan. Begitu juga dengan Afkar.

__ADS_1


Setelah mobil papa Fadlan yang tadinya terparkir di halaman rumah Afkar berlalu pergi, Afkar pun memasukkan mobilnha ke garasi.


Setelah itu, Afkar merangkul Zhafira masuk ke dalam rumah.


“Mas, ayo makan dulu,” ajak Zhafira.


“Kamu belum makan, Sayang?” tanya Afkar.


“Belum, Mas. Aku nungguin kamu,” jawab Zhafira.


“Sayang, lain kali makan aja dulu. Kalau aku tadi lama gimana? Masa kamu gak makan,” balas Afkar.


“Iya, Mas,” lirih Zhafira.


Afkar pun mendekat dan mengecup kening Zhafira kemudian berkata, “Maafin aku ya udah buat kamu nunggu lama.”


“Gapapa, Mas. Ayo deh kamu duduk sini, tadi aku masakin makanan kesukaan kamu. Mas duduk bentar, aku ambil piring ya,” titah Zhafira.


Zhafira bergegas menuju ke dapur untuk membawa satu piring ke meja makan.


“Kok satu, Sayang?” tanya Afkar.


“Aku lagi pengen sepiring berdua, Mas,” jawab Zhafira menunduk malu.


“Dengan senang hati, Sayang,” balas Afkar tersenyum pada istrinya.


Zhafira mengambilkan nasi, kemudian lauk. Setelah itu, mereka pun makan dengan seiring berdua.


Setelah selesai dengan makan, Afkar dan Zhafira memutuskan untuk segera ke kamar.


Sesampainya di kamar, Zhafira bertanya pada Afkar, “Mas, tadi kenapa kamu biarkan Dafa telponan sama aku?”


“Tadi dia izin, Sayang. Bukan dia sih, lebih tepatnya, Brian izin ke aku. Katanya sih sebelum ke luar negeri pengen ngobrol sama kamu walau lewat telpon. Ya aku mikirnya daripada ngobrol secara langsung dan dia ngelihat kamu yang makin cantik ini, ya lebih baik aku izinkan dia telpon aja kan?” balas Afkar membuat Zhafira tersipu.


“Mas ... kamu ini ditanya malah ngegombal,” gerutu Zhafira.


“Bukan gombal, Sayang. Tapi beneran deh, kamu itu makin ke sini, makin tambah anak makin cantik loh,” ucap Afkar sembari menoel dagu Zhafira.


“Pasti ada maunya ini,” lirih Zhafira.


“Sayang, tambah anak tambah cantik tuh. Gak mau nambah lagi?” tanya Afkar.


“Mas, kamu itu, ya ...” lirih Zhafira menunduk malu.


Tok ... Tok ... Tok ...


“Papa!” teriak Chayra dari luar pintu kamar.


“Papa, papa!” teriak Chayra kembali.


Zhafira pun segera membukakan pintu dan mendapati Chayra dengan Bi Minah yang tengah berdiri.

__ADS_1


“Ada apa ini, Bi?” tanya Zhafira.


“Bu, maaf ...”


__ADS_2