Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.30 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

“Mas, yakin mau antar Fira ketemu Daffa? Maksudnya gimana sih ini?” tanya Zhafira yang emosinya mulai naik.


“Sayang, kita gak bisa menghindar terus dari Daffa, kita harus menghadapinya. Jadi, coba besok kamu temui aja, kamu jelaskan semoga dia mau mengerti, apa lagi ‘kan kamu sedang hamil,” jawab Afkar menjelaskan pelan-pelan pada istrinya.


“Mas, aku takut nanti malah Daffa mencelakai anak kita,” lirih Zhafira.


“Mas akan menjaga kamu dari jauh, Sayang, kamu tenang aja.”


“Baiklah kalau itu memang mau Mas. Tapi, Mas harus jamin kalau Fira gak akan kenapa-kenapa, ya.” Zhafira memeluk Afkar.


“Itu pasti, Sayang, masa aku tega buat kamu celaka,” balas Afkar dengan lembut.


Tak lama kemudian, waktunya sholat maghrib, mereka pun segera sholat berjama’ah dan selanjutnya makan malam. Setelah makan malam, Afkar segera mengecek kerjaan Afkar yang lain dan mengkoordinir pegawainya untuk besuk dia memasang CCTV di area Daffa dan Zhafira bertemu. Karena, ternyata Daffa mengajak Zhafira bertemu di cafe milik Afkar yang selama ini Zhafira bahkan orang tuanya juga tidak mengetahui hal itu.


Setelah selesai dengan rencananya, Afkar dan zhafira segera sholat isya lalu istirahat sebentar untuk mengobrol. Setelah malam menjelang, Afkar dan Zhafira pun beristirahat.


Keesokan harinya, tepatnya di siang hari. Daffa ternyata udah datang tiga puluh sebelum pukul yang ditentukan mereka bertemu. Di meja lain, tampak Papa dan Ayah mengawasi daffa.


Tak berapa lama, Zhafira datang ditemani oleh Afkar. Tapi, Afkar gak menemani Zhafira sampai di meja tempat Daffa menunggu.


Afkar segera mengecek CCTV dan segera di aktifkan olehnya.


Setelah mengaktifkan, afkar segera keluar dan memantau dari jarak yang agak dekat, supaya kalau ada apa-apa Afkar bisa langsung menolong istrinya.


Zhafira tampak menghampiri Daffa, “Siang, kenapa lo ngajak gue ketemu?” ucap Zhafira dengan ketus.


“Selamat siang, Zhafira, kamu kok kelihatan tambah cantik sih,” balas Daffa seraya tersenyum menatap Zhafira.


“Gak usah basa basi, katakan apa tujuan lo ngajak ketemuan. Waktu gue gak banyak!” seru Zhafira yang malas berlama-lama dengan Daffa.


“Aku pengen kita balikan, Fira, kenapa sih kamu begitu susah diajak balikan,” ucap Daffa.


“Lo dengarkan dan lo ingat baik-baik, ya. Gue udah punya suami, dan gue lagi hamil anaknya. Ngapain lo masih ngejar-ngejar istri orang. Emang gak ada cewek lain?” balas Zhafira.


“Fira, aku gak peduli ya kalau kamu sudah punya suami, dan hamil. Yang aku mau hanya satu, kamu balikan sama aku Fir!” seru Daffa.


“Gue gak nyangka, ya. Ternyata lo itu egois, seenaknya lo ninggalin gue dan setelah gue bahagia lo seenaknya datang ganggu kebahagiaan gue,” ucap Zhafira.


“Aku gak ngeganggu kamu. Aku hanya menemui kamu untuk mengajak balikan aja. Karena aku tau kalau kamu itu hanya cinta sama aku, Fir,” kata Daffa dengan percaya dirinya.

__ADS_1


“Eh, lo jangan kepedean ya, gue udah gak cinta sama lo. Gue sangat mencintai suami gue, suami gue lebih baik dari loe,” balas Zhafira.


Mendengar Zhafira memuji-muji suaminya, membuat Daffa gelap mata. Daffa hendak menampar Zhafira, tapi sebelum tangan Daffa berhasil menyentuh pipi Zhafira, Afkar udah lebih dulu menahan lengannya.


“Jangan kasar sama cewek, Bro!” seru Afkar.


“Eh, lo siapa? Gue gak ada urusan sama lo, ya,” ucap Daffa.


“Perkenalkan, saya adalah suami Zhafira Adzra Nadhifa. Suami mana yang rela melihat istrinya disakiti oleh orang lain. Saya aja yang suaminya gak pernah melayangkan tangan padanya, kenapa anda yang bukan siapa-siapanya berani melayangkan tangan kotor anda ini?” ucap Afkar menatap tajam pada Daffa.


Daffa pun kaget, karena seketika Daffa ingat kalau laki-laki di depan dia adalah penghulu yang akan menikahkan dia dan Zhafira waktu itu.


“Lo bukannya penghulu yang akan menikahkan kami waktu itu?” tanya Daffa memastikan.


“Iya, benar. Dan akhirnya Zhafira menikah dengan saya. Saya gak akan rela kamu yang masa lalunya mengganggu Fira dan calon buah hati kami. Oh iya, satu lagi, makasih udah pergi dari pernikahan kalian waktu itu. Karena, kepergian anda mengantarkan jodoh saya.”


“Gue gak percaya kalau lo adalah suaminya, mana buktinya?” Daffa masih saja tak percaya dengan apa yang Afkar ucapkan.


Zhafira pun segera mengeluarkan HPnya dan memperlihatkan foto mesranya dengan afkar.


“Gimana, masih gak percaya?” tanya Zhafira.


Daffa mengancam Afkar yang hendak menyelamatkan istrinya.


“Mas, tolongin Fira, Mas,” lirih Zhafira.


Afkar tetap maju tapi dia gak mau gegabah, yang nanti bisa-bisa Zhafira jadi korbannya.


Akhirnya Daffa berhasil membawa Zhafira keluar, tapi saat mau sampai mobil, tiba-tiba kepala Daffa dipukul pakai kayu oleh Papa. Sontak Daffa menoleh dan pisau yang dipegangnya terjatuh.


Zhafira segera berlari memeluk Afkar. Sementara Papa dan Ayah segera membawa Daffa ke kantor polisi beserta membawa bukti berupa rekaman CCTV.


Sesampainya di kantor polisi Daffa di bawa ke klinik dulu karena kepala bekas pukulan Papa mengeluarkan darah.


Setelah itu, karena Daffa merasa pusing, akhirnya disuruh istirahat dulu di klinik.


Di depan kamar rawat daffa tampak polisi berjaga-jaga. Papa dan Ayah segera menyerahkan bukti ke polisi dan mereka pun meninggalkan kantor polisi menuju kantor zhafira.


Sesampainya di kantor Zhafira, nampak mobil Afkar masih berada di depan kantor. Papa dan Ayah menghampiri mobil tersebut.

__ADS_1


Melihat Papa dan Ayah datang, Afkar segera menurunkan kaca mobilnya, “Gimana keadaan menantu Ayah, Nak?” tanya Ayah.


“Zhafira syok, Yah, tadi sempat kram perutnya. Tapi gak mau di ajak pulang, katanya kerjaannya banyak. Makanya ini Afkar tungguin sebentar, kalau udah tenang baru kita tau gimana baiknya,” jawab Afkar.


“Baiklah, ini kalau Papa dan Ayah pergi dulu gimana? Gak enak nanti kalau kita berkerumun di sini,” ucap Papa.


“Iya, Pa. Gapapa kok, Afkar akan jagain Fira di sini,” balas Afkar.


Zhafira masih nampak ketakutan dia terus memeluk suaminya erat.


“Sayang, kita pulang aja ya. Mas akan izinkan kamu ya,” ucap Afkar.


Zhafira hanya diam tak menjawab.


Bertepatan saat Afkar membuka pintu mobil, Reigha pimpinan perusahaan yang tak lain adalah sahabatnya Afkar tampak melewati mobil Afkar.


“Bro, Bro!” panggil Afkar.


Sahabat Afkar pun menoleh dan segera menghampiri, “Eh, ngapain di sini, panas. Ke ruangan gue aja, yuk!” seru Reigha.


“Ini istri gue ‘kan lagi hamil, Gha, dia syok baru aja ada yang akan menyerang nya. Tapi gak mau gue bawa pulang, katanya kerjaannya banyak,” ucap Afkar.


“Yaudah, Bro, lo bawa pulang aja. Nanti gue yang izinkan ke kepala bagian dia,” balas Reigha.


“Beneran? Gapapa nih?”


“Udah, santai aja, gue paham kok. Kayak sama siapa aja. Yaudah bawa pulang istri lo, biar bisa istirahat. Gue masuk dulu ya,” ucap Reigha.


“Oke, Bro, thanks ya!” seru Afkar.


Dan akhirnya Afkar segera membawa Zhafira pulang. Sesampainya di rumah, Zhafira langsung dibopong dan dibaringkan di tempat tidur.


Kemudian, Afkar segera ke bawah minta tolong bibi untuk membuatkan bubur.


Di sisi lain, Daffa berusaha untuk kabur dari klinik tersebut, dia masih belum mau melepaskan Zhafira. Daffa masih ingin bersama Zhafira apapun caranya akan dia lakukan.


Saat polisi yang berjaga ke kamar mandi, Daffa merasa mendapatkan kesempatan dia pun pelan-pelan melangkah keluar dan akhirnya Daffa berhasil kabur dari klinik tersebut.


Daffa mencegah tukang ojek dan segera meninggalkan klinik tersebut.

__ADS_1


Polisi baru keluar dari kamar mandi dan saat melihat ruangan kosong, polisi pun langsung bertanya ke perawat, “Pasien yang tadi kena pukul kemana, Sus?” tanya polisi.


__ADS_2