
Syara menyuruh Rendra menunggu di meja makan sedangkan Syara membawa mangkuk kotor dulu ke tempat cucian piring.
Setelahnya, langsung menuju ke ruang makan. Namun, saat sampai di ruang makan Syara kaget.
“Ya Allah, Kak Fira ... kenapa dihabisin semua sih, Kak? Kan tadi bilangnya mau makan bareng-bareng,” ucap Syara.
“Eh, Dek, maaf ya ... kakak tadi lapar banget, jadi kakak habisin deh,” balas Zhafira.
“Kak, sebungkus itu banyak loh, kok bisa kakak habisin tiga bungkus langsung,” gerutu Syara.
“Kakak lapar banget, Dek, maaf ya,” kata Zhafira.
“Dek, udah ya, biarin aja di habiskan kak Fira, kita kan bisa beli lagi,” ucap Rendra.
“Tapi, Mas, aku tuh pengennya makan sekarang, masa harus keluar lagi beli,” gerutu Syara sembari cemberut.
“Dek, ayo kita keluar beli lagi,” ajak Rendra langsung menggandeng tangan Syara.
Syara pun menurut dengan wajah yang masih cemberut. Di luar rumah, Syara bertemu dengan Afkar.
“Loh, Dek, mau ke mana?” tanya Afkar.
“Mau jalan-jalan, Kak. Cari angin malam,” jawab Rendra.
“Tapi kenapa itu muka Syara kok ditekuk gitu?” tanya Afkar kembali.
“Istri kakak tuh, masa cuanki tiga bungkus dimakan semua,” balas Syara menggerutu.
“Dek, udah jangan dibahas lagi, ayo kita pergi,” ajak Rendra agar Syara tak menggerutu lebih banyak lagi.
“Dek, maafin kak Zhafira ya. Yaudah, ini kakak ganti, langsung beli sendiri aja, Maaf ya,” ucap Afkar yang tak enak hati.
“Gak usah, Kak, gapapa kok. Gak usah diganti. Syara pergi dulu. Assalamu’alaikum,” pamit Syara.
“Hati-hati ya, Dek, maaf ya sekali lagi. Wa’alaikumussalam,” balas Afkar.
Rendra dan Syara pun pergi meninggalkan rumah papa Fadlan sedangkan Afkar masuk ke rumah dan segera mencari istrinya.
Saat Zhafira keluar dari ruang makan, Zhafira bertemu Afkar yang tampak baru pulang kerja.
“Mas, udah pulang?” tanya Zhafira.
“Udah, Sayang, kamu habis ngapain?” jawab Afkar kembali bertanya.
“Habis makan cuanki, Mas, enak banget. Sampai nambah tadi,” balas Zhafira.
“Loh, siapa yang belikan, Sayang? Kamu beli lewat online?” tanya Afkar.
“Enggak, Mas, tadi dibelikan sama Syara,” jawab Zhafira.
“Sayang, tadi yang belikan Syara, tapi Syara kok gak disisain? Kok malah dihabiskan semua?” balas Afkar dengan lembut.
“Hehehe ... habisnya enak banget, Mas, jadi gak terasa kalau habis sampai tiga bungkus,” kata Zhafira.
“Sayang, besok-besok kalau seperti ini minta maaf ya. Kasihan Syara. Udah capek kerja, pengennya setelah makan langsung istirahat. Eh, ternyata makanan yang dibelinya dihabiskan. Kasian sayang,” titah Afkar.
“Iya, Mas, nanti Fira minta maaf ke Syara,” kata Zhafira.
“Ini kan juga karena anak kita, dia tiba-tiba pengen cuanki, dan kamu belum pulang,” lanjut Zhafira.
__ADS_1
“Iya, Sayang. Maaf ya tadi ada empat tempat, jadi telat pulangnya,” ucap Afkar.
“Gapapa, Mas, kan memang udah tugas kamu, jadi kamu juga harus tanggung jawab atas kerjaan kamu itu,” balas Zhafira.
“Makasih ya, Sayang, kamu udah mengerti kondisi aku,” kata Afkar.
“Yaudah, yuk kita ke kamar, Mas. Kamu belum bersih-bersih juga sholat,” ucap Zhafira.
“Iya, Sayang, Chayra di mana?” tanya Afkar.
“Ada sama mama dan bi Minah, Mas,” jawab Zhafira.
Lalu mereka pun menuju ke kamar dan Afkar segera mandi lalu sholat.
Sedangkan di tempat Syara, Rendra dan Syara yang sudah menuju ke tempat tujuan pun ternyata cuankinya udah habis.
Dia pun segera berkeliling mencari cuanki tapi sampai malam Syara gak ketemu sama yang jualan cuanki.
“Tuh kan, Mas, akhirnya kita mlah gak makan cuanki,” celetuk Syara.
“Yaudahlah, Dek, kak fira kan lagi ngidam. Kita cari makanan lain aja ya. Gimana? Kamu mau makan apa?” tanya Rendra.
“Terserah ajalah, aku sudah malas makan,” jawab Syara badmood.
Akhirnya Rendra pun membelokan mobilnya ke restoran agar Syara bisa memilih makanan yang dia mau.
Setelah duduk, waiters pun datang dan berkata, “Selanat malam, silahkan di pesan.”
“Dek, mau makan apa?” tanya Rendra.
“Terserah mas aja, nanti aku makan,” jawab Syara.
Rendra dan Syara segera memakan makanannya dan setelah selesai mereka pun segera pulang.
Setelah sampai di rumah, Syara masih badmood dan langsung masuk ke kamar meninggalkan Rendra yang sedang memasukkan mobilnya ke garasi.
Zhafira yang mendengar mobil masuk pun segera keluar. Tapi, Zhafaira udah gak bertemu dengan Syara.
“Dek, istrimu mana?” tanya Zhafira ke Rendra yang tampak baru keluar dari mobil.
“Eh, Kak, Syara udah masuk kamar duluan,” jawab Rendra.
“Boleh kakak masuk ke kamar kamu sebentar?” pinta Zhafira.
“Iya ... silakan, Kak.”
Zhafira pun segera ke kamar Syara berniat untuk menemui Syara.
Tok...Tok...Tok...
“Dek, boleh kak Fira masuk?” tanya Zhafira dari luar pintu.
Syara yang masih ngambek pun gak menjawab panggilan dari Zhafira.
Akhirnya Zhafira memutuskan untuk masuk dan melihat Syara yang udah berbaring di tempat tidur.
Zhafira yang tau kalau Syara pura-pura tidur pun membiarkannya. Perlahan, Zhafira keluar dari kamar Syara.
“Hmm ... mungkin Syara masih marah, biar dululah. Takutnya kalau aku langsung nemuin malah Syara emosi,” monolog Zhafira.
__ADS_1
Zhafira menuju ke ruang tengah dan di sana udah duduk Afkar dan juga Rendra.
“Sayang, dari mana?” tanya Afkar.
“Tadi pengen nemuin Syara, Mas, tapi sepertinya Syara masih marah, dia malah pura-pura tidur,” jawab Zhafira hampir menangis.
“Udahlah, Sayang, beri Syara waktu, nanti pasti Syara gak ngambek lagi,” balas Afkar.
“Emang tadi kalian gak jadi beli cuanki lagi? Kok Syara masih ngambek?” tanya Afkar beralih pada Rendra.
“Udah, Kak, tapi di tempat tadi kami beli ternyata udah habis, dan yang lain pun gak ketemu, akhirnya kami gak jadi makan cuanki,” jawab Rendra menjelaskan.
“Ya Allah ... maaf ya, Dek, tolong sampaikan maaf kakak ke syara juga,” pinta Zhafira.
“Iya, Kak. Nanti akan Rendra sampaikan,” balas Rendra sembari tersenyum.
“Kak, Rendra masuk ke kamar dulu ya,” pamit Rendra.
“Iya, selamar istirahat,” kata Afkar.
Dan tinggalah saat ini Zhafira dan juga Afkar.
“Mas, kita pulang aja yuk sekarang. Aku gak mau buat seisi rumah merasa gak nyaman dengan kehadiranku,” ucap Zhafira.
“Ini udah malam loh, Sayang,” kata Afkar.
“Kalau mas gak mau, Fira naik mobil taksi online aja, Fira mau siap-siap,” ucap Zhafira.
“Sayang, tunggu dulu!” seru Afkar.
Zhafira kekeh mau pulang malam ini. Afkar segera ke kamar Chayra dan minta tolong bi Minah untuk siap-siap segera pulang, dan Chayra yang udah tidur pun digendong sama bi Minah.
Afkar segera menuju ke ruang kerja papa Fadlan untuk berpamitan. Karena tampak papa Fadlan malam ini masih berada dalam ruangan tersebut.
“Assalamu’alaikum, Pa, boleh Afkar masuk?” ucap Afkar sembari mengetuk pintu.
“Masuk, Nak, ada apa?” tanya papa meninggikan suaranya.
Afkar pun segera masuk dan duduk di hadapan papa Fadlan.
“Ada apa, Nak?” tanya papa Fdlan.
“Kami mau pamit pulang, Pa,” jawab Afkar.
“Ini udah malam loh, kenapa mendadak pengen pulang?” tanya papa.
“Ada selisih pendapat tadi sama Syara, Pa,” jawab Afkar.
“Trus Fira minta pulang gitu?” balas papa kembali bertanya.
“Iya, Pa.”
“Yaudah kalau mau pulang, tapi hati-hati jangan ngebut,” titah papa Fadlan.
“Iya, Pa, Assalamu’alaikum,” salam Afkar mencium tangan papa Fadlan.
Afkar segera keluar ruangan kerja papa. Kemudian berjalan melewati ruang tamu. Saat membuka pintu rumah, ternyata Zhafira udah menunggu Afkar tepat di samping mobil.
“Mas, ayolah, cepetan,” rengek Zhafira menarik lengan Afkar.
__ADS_1