
Setelah tiba waktu sholat, mereka pun sholat diimami papa Fadlan, setelah selesai sholat mereka segera makan malam bersama.
Papa dan mama sangat bahagia karena malam ini keluarga mereka berkumpul. Ada anak, menantu, dan juga cucu yang ikut meramaikan suasana.
Makan malam diselingi canda dan tawa. Setelah selesai makan malam, Syara pun ingin mengatakan sesuatu.
“Pa, Ma, setelah ini bisa gak kalau kita semua duduk dulu di ruang keluarga?” tanya Syara.
“Ada apa, Nak, sepertinya penting?” balas mama Latifah menoleh pada Syara.
“Syara pengen ngomong sesuatu, Pa, Ma,” jawab Syara.
“Dek, muka kamu kalau serius gitu lucu,” celetuk Zhafira.
“Kak, ini beneran serius tau,” gerutu Syara.
“Kamu hamil ya, Dek. Wahh ... selamat ya!” seru Zhafira.
“Kak Fira, jangan ngadi-ngadi deh. Nikah juga baru satu minggu,” balas Syara.
“Udah-udah, jangan berdebat. Yaudah ayo kita ke ruang tengah sekarang aja,” sambar papa Fadlan menengahi.
Mereka semua pun langsung pindah tempat ke ruang keluarga. Setelah sampai di ruang keluarga, Papa dan Mama duduk bersebelahan, Zhafira juga duduk di sebelah Afkar yang suaminya tengah memangku Chayra.
Tak lama, papa Fadlan pun mulai mengeluarkan suaranya bertanya pada Syara.
“Udah, Nak, mau ngomong apa?” tanya papa Fadlan.
“Pa, Ma, sebelumnya Syara minta maaf. Syara dan mas Rendra udah setuju ingin pindah di rumah papa dan mama Syara,” jawab Syara menunduk sembari menjelaskan.
“Oh, kamu ingin pindah ke sana ya. Kalau papa dan mama gapakah kok, Nak, hanya aja ... jarak rumah ke tempat kerja kamu ‘kan jauh. Gimana?” balas papa Fadlan.
“Emangnya seberapa jauh, Pa? maaf ... soalnya Rendra belum tau,” sambar Rendra.
“Kurang lebih tiga sampai empat jam-lah, Dra,” jawab Afkar karena melihat papa Fadlan yang masih kebingungan menentukan waktu tempuh. Karena, papa Fadlan sendiri belum pernah bepergian melihat jam, jadi tidak bisa mengira-ngira.
“Hah? Jam berapa kita berangkatnya, Dek, kalau jauh gitu?” tanya Rendra beralih pada Syara.
“Mas, tadi katanya mau kalau kita pindah ke rumah masa kecil aku. Gimana sih,” gerutu Syara.
“Ya mau, Dek, tapi kalah jauh nanti kecapekan di jalan,” ucap Rendra.
“Trus, gimana?” tanya Syara cemberut.
“Udah, gini aja, coba papa bantu kasih solusi. Gimana kalau kalian tetap di sini aja, tapi tiap sabtu dan minggu kalian ke rumah papa dan mama kamu, Nak,” jawab papa fadlan memberi saran.
“Ehmm ... setuju, Pa, ide bagus.” Syara tampak langsung cerita dan melemparkan senyuman pada papa Fadlan.
__ADS_1
“Yaudah kalau begitu, masalah selesai. Atau ada lagi yang mau dibahas?” tanya papa Fadlan.
“Udah, Pa, lagian juga kak Fira sepertinya ngantuk tuh,” jawab Syara.
“Hehehe, tau aja kalau kakak ngantuk,” balas Zhafira.
“Itulah, dari tadi nguap terus kok,” kata Syara.
“Yaudah kalau kamu udah ngantuk, kita pulang aja ya,” titah Afkar.
“Mas, tidur sini aja ya, aku udah gak kuat banget nih, ngantuk,” ucap Zhafira.
“Tapi kita gak bawa baju ganti, Sayang, Chayra juga bi Minah juga gak ada persiapan untuk nginap,” balas Afkar.
“Gapapalah, Mas, besok setelah sholat subuh kita pulang,” kata Zhafira.
“Baiklah kalau itu mau kamu. Ke kamar gih tidur, aku mau ngobrol sama papa sebentar,” ucap Afkar.
“Oke, Mas. Chayra ... yuk tidur, Sayang,” ajak Zhafira.
Bi Minah pun menggendong Chayra dan membawanya ke kamar Zhafira, sedangkan bi Minah tidur bersama asisten rumah tangga di rumah papa Fadlan.
“Mama juga ke kamar ya,” pamit mama Latifah.
“Iya, Ma, maaf Afkar ajak papa ngobrol sebentar,” balas Afkar diangguki oleh mama Latifah.
“Ada apa, Afkar, tumben ngajak papa ngobrol?” tanya papa Fadlan.
“Serahkan semua itu sama Allah, kamu harus yakin kalau Zhafira dan calon anak kamu akan sehat-sehat dan persalinannya lancar,” ucap papa Fadlan.
“InsyaaAllah, Pa. Aamiin,” balas Afkar.
“Gimana? Ada lagi gak yang mau diobrolin lagi?” tanya papa Fadlan.
“Emm ... udah, Pa, silakan kalau papa mau istirahat,” jawab Afkar.
“Baiklah, kalau gitu papa ke kamar ya,” kata papa Fadlan.
“Iya, Pa ... terima kasih ya, Pa,” ucap Afkar.
“Gak usah sungkan, Afkar. Kamu itu udah seperti anak papa sendiri,” kata papa Fadlan menepuk pundak Afkar.
“Iya, Pa. Terima kasih papa udah baik banget sama Afkar dan keluarga Afkar,” ucap Afkar memeluk papa Fadlan.
“Udah, udah, papa mau ke kamar aja, kamu itu malam-malam ngajak melow,” celetuk papa Fadlan.
“Iya, Pa. Selamat istirahat ya, Pa,” kata Afkar.
__ADS_1
Papa Fadlan pun meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya, dan Afkar pun juga meninggalkan ruang keluarga menuju kamar Zhafira. Setelah masuk kamar, Afkar pun segera sholat isya dan setelah sholat langsung merebahkan badannya di samping Chayra.
Keesokan paginya, Zhafira udah bersiap untuk pulang, tapi saat mau keluar kamar tiba-tiba Zhafira mual-mual. Zhafira pun langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan makanan yang ada di perutnya. Afkar pun menyusul dan segera memijit tengkuk Zhafira.
Setelahnya, Zhafira segera dituntun Afkar dan dibawa duduk ke sofa.
“Tunggu sini ya, Sayang,” titah Afkar.
Afkar segera keluar mengambilkan minuman hangat untuk istrinya.
“Gimana, Sayang? Masih mual?” tanya Afkar.
“Udah mendingan, Mas, tapi badanku lemas,” jawab Zhafira.
“Kamu istirahat di sini aja ya, tapi aku pulang karena aku mau kerja, Sayang,” ucap Afkar.
“Mas, gak udah masuk kerja ya, temani aku aja,” pinta Zhafira.
“Sayang, untuk hari ini gak bisa bolos, hari ini aku akan menikahkan di empat tempat, malahan hari ini aku pulangnya malam, Sayang,” balas Afkar.
“Mas, minta tolong ke temanlah, minta gantikan!” seru Zhafira dengan tatapan memohon.
“Sayang, untuk kali ini maaf banget, gak bisa. Nanti setelah pulang, aku akan habiskan waktu berdua sama kamu ya, Sayang,” ucap Afkar.
“Mas, kamu gak kasian sama anak kamu? Dia ingin kamu di sini loh,” kata Zhafira.
“Sayang, tolong pengertiannya ya, maaf banget. Hari ini benar-benar gak bisa. Maaf ya, Sayang,” lirih Afkar mengecup kening Zhafira dan mengecup perut Zhafira.
“Udah ya, mas pulang dulu, nanti malam mas bawakan baju ganti untuk kamu dan Chayra,” lanjut Afkar.
“Hmmm,” dehem Zhafira sambil cemberut.
“Ayolah, Sayang, senyum. Biar kerja aku jadi semangat. Nanti pulang minta dibelikan apa, hm?” tanya Afkar.
Zhafira pun akhirnya tersenyum walau terpaksa. Kemudian berkata, “Nanti aja kalau aku pengen sesuatu, Mas aku telpon.”
“Yaudah kalau gitu, mas pergi dulu ya. Assalamu’alaikum,” ucap Afkar.
“Wa’alaikumsalam, Mas,” balas Zhafira.
Dan afkar pun segera keluar dari kamar. Saat melewati ruang keluarga, Afkar bertemu mama Latifah.
“Ma, Afkar pergi dulu ya, mau pulang trus langsung kerja,” ucap Afkar berpamitan.
“Zhafira gak ikut pulang?” tanya mama Latifah.
“Zhafira tadi muntah-muntah, Ma, trus sekarang badannya lemas. Jadi Afkar suruh istirahat di sini aja. Tolong sambil lihat-lihat Zhafira ya, Ma,” jawab Afkar.
__ADS_1
“Iya, Nak. Kamu gak usah khawatir,” balas mama Latifah.
Dan setelah bersalaman, Afkar pun meninggalkan rumah papa Fadlan menuju ke rumahnya untuk ganti baju. Setelah siap, Afkar pun segera berangkat kerja.