
“Mas, kok Mas diam aja? Kerjaan Mas baik-baik aja ‘kan?” tanya Zhafira.
“Alhamdulillah baik-baik aja, Sayang, kamu gimana kerjaan hari ini?” jawab Afkar seraya bertanya kembali.
“Alhamdulillah lancar, Mas. Oh iya, Mas, nanti sampai rumah Fira akan cerita sesuatu, semoga Mas gak marah ya,” balas Zhafira.
“Cerita apa, Sayang, kenapa gak sekarang aja. Hm?”
“Nanti aja di rumah, Mas, gak enak cerita di mobil,” ucap Zhafira hanya mendapat anggukan dari Afkar.
Dan akhirnya mereka sampai di rumah. Ternyata di rumah sedang ada tamu. Saat Afkar dan Zhafira masuk ternyata Papa dan Ayah yang ada di ruang tamu.
“Loh Papa dan Ayah tumben kesini gak kasih kabar?” tanya Zhafira.
“Tadi itu kami lagi ada kerjaan di sekitaran sini, jadi main ke sini sekalian. Gimana kabar kalian, Nak?” balas Ayah.
“Alhamdulillah baik, Yah, Zhafira pun sehat,” jawab Afkar.
“Alhamdulillah, rencananya besok kami akan mengajak kalian ke dokter kandungan. Untuk periksa keadaan calon cucu papa,” ucap Papa.
“Besok ya, Pa? Jam berapa?” tanya Afkar.
“Besok saat makan siang aja gimana?” usul Papa.
“Baiklah, Pa, besok langsung ketemuan di rumah sakit aja ya,” balas Afkar.
“Oke, gak masalah. Afkar, kamu anterin Ayah sebentar mau?”
“Mau ke mana, Yah?” tanya Afkar.
“Bentar aja, ke mini market depan,” jawab Ayah.
“Sayang, aku antar Ayah dulu ya,” ucap Afkar berpamitan.
“Iya, Mas.Hati-hati, Yah, Mas,” balas Zhafira.
Setelah mereka pergi, Papa mengatakan sesuatu pada Zhafira.
“Nak, duduklah di sini,” pinta Papa. Zhafira pun segera duduk menghadap pada Papa.
“Masa lalu kamu kembali ya, Nak?” tanya Papa membuat Zhafira kaget.
“Lho, papa tau dari mana?” tanya Zhafira seraya menautkan kedua alisnya.
“Syara tadi cerita ke Papa, Nak. Tolong jangan kembali sama dia ya, Papa lihat, Afkar sangat mencintaimu,” jawab Papa dengan tatapan memohon.
__ADS_1
“Pa, siapa juga yang mau kembali sama dia, Fira hamil loh, Pa. Dan Fira juga cinta sama Mas Afkar,” balas Zhafira dengan mantap.
Sementara di tempat mini market, Ayah tampak memilih beberapa barang yang akan dibelinya.
“Kamu kenapa, Nak? Ayah lihat kamu sepertinya ada masalah?” tanya Ayah menoleh pada Afkar yang berdiri di belakangnya.
“Gapapa, Yah, Afkar agak kecapean aja,” dusta Afkar.
“Kalau yang kamu pikirkan masalah laki-laki yang di depan kantor tempat kerja Fira. Kamu gak perlu khawatir, Nak. Menantu Ayah itu gak mungkin kembali dengan laki-laki itu,” balas Ayah ternyata udah tau masalah Daffa yang datang ke kantor Zhafira.
“Afkar hanya mikir aja, Yah, kok Fira gak mau menceritakan ke Afkar, kenapa harus disembunyikan,” ucap Afkar.
“Bukan gak mau, hanya belum mau. Mungkin Fira menunggu waktu yang pas, Nak. Ingat, ya, kamu jangan sampai emosi, menantu Ayah lagi hamil. Ayah gak mau terjadi apa-apa pada menantu dan cucu Ayah,” titah panjang Ayah Reyhan.
“Iya, Yah, Afkar akan ingat itu.”
Tak berapa lama setelah membeli barang, Ayah dan Afkar pun kembali pulang, saat tiba di depan rumah Afkar, ternyata Papa sudah keluar.
“Ayah langsung pulang ya, titip salam buat istri kamu. Ingat ya, jangan emosi!” seru Ayah.
Papa pun pamit pada Afkar dan mobil Papa juga Ayah bersamaan segera meluncur keluar gerbang rumah Afkar.
Afkar segera masuk ke rumah langsung menuju ke kamar. Zhafira tampak selesai mandi.
Zhafira menunggu Afkar di sofa, Afkar masuk kamar mandi dan langsung membersihkan badannya.
Setelah salam Zhafira mencium punggung tangan Afkar dan Afkar mencium kening Zhafira.
“Mas, Fira mau ngomong sesuatu. Tapi, Mas jangan marah, ya,” ucap Zhafira.
Afkar yang udah tau apa yang akan dibicarakan oleh Zhafira segera mengangguk.
“Mau ngomong apa, Sayang?” tanya Afkar yang mulai bersiap menahan emosinya.
“Mas, tadi pagi waktu mas nurunin Fira, ada Daffa di depan kantor. Setelah Mas pergi, Daffa mencegat Fira dan dia minta maaf juga mau minta balikan,” ungkap Zhafira seraya menunduk.
“Lalu, apa jawabanmu?” tanya Afkar.
“Ya Fira gak mau lah, Mas. Fira kan udah jadi istri kamu dan juga lagi hamil,” jawab Zhafira.
“Oh, berarti kalau gak hamil, mau ya diajak balikan?” balas Afkar sewot.
“Ya gak gitu juga, Mas, Fira itu udah gak cinta sama Daffa. Fira sangat mencintai kamu, Mas,” ucap Zhafira meyakinkan. Kemudian Zhafira pun memeluk Afkar dan menangis dalam dekapan suaminya.
“Kenapa menangis?” tanya Afkar.
__ADS_1
"Fira udah berusaha jujur sama kamu, Mas, tapi Mas Afkar nanggapinya sinis gitu. Harus gimana lagi Fira buktikan kalau Fira udah gak cinta sama Daffa, Mas?” jawab Afkar.
“Ini berat, Fir, aku tau bagaimana cintanya kamu sama dia yang udah berjalan tiga tahun lamanya itu, aku hanya takut kamu kembali ada rasa sama dia, Fir. Aku gak bisa bayangkan gimana kalau kamu pergi ninggalin aku,” ucap Afkar menatap dalam netra sang istri.
“Kamu masih meragukan cintaku Mas, iya? Jadi, apa yang kita lalui selama satu tahun ini gak berarti buat kamu, Mas? Tega kamu!” seru Zhafira menangis tersedu-sedu.
“Dengarkan dulu, Zhafira, aku gak ngomong seperti itu. Aku cuma takut. Takut kalau kamu berpaling dan kembali ke dia,” balas Afkar yang semakin membuat Zhafira menangis.
Zhafira yang sejak tadi banyak beban pikiran, ditambah lagi kata-kata Afkar yang meragukannya. Akhirnya tangis Zhafira yang semakin lama membuat Zhafira pingsan.
“Fir, Fira,” ucap Afkar menepuk-nepuk pipi istrinya.
“Ya Allah, gimana ini... denyut nadinya sangat lemah,” monolog Afkar dengan raut wajah cemas.
Akhirnya Afkar segera membawa Zhafira ke mobil dan segera membawanya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Afkar segera menuju ke IGD. Dokter jaga pun segera memeriksanya.
Tak berapa lama, dokter pun keluar dari ruangan, “Maaf, Pak. Apakah anda suami dari ibu Zhafira?”
“Iya benar, Dok, bagaimana keadaan istri saya?” tanya Afkar.
“Istri anda udah sadar sekarang, Pak, tapi kami sarankan dirawat inap dulu ya, karena saya masih akan memeriksanya lebih detail lagi,” jawab dokter.
“Baiklah, Dokter, saya akan segera mengurus kepindahannya,” balas Afkar segera menuju bagian administrasi untuk mengurus kamar yang akan di tempati Zhafira.
Setelah siap semua, Zhafira pun segera di pindahkan ke ruangan VVIP.
Zhafira udah berada di kamar rawat di temani oleh Afkar. Sejak Zhafira sadar, Zhafira tidak mengeluarkan sedikitpun kata dari bibirnya.
Zhafira diam membisu. Bahkan, dokter bertanya pun Zhafira gak mau jawab.
“Sayang, Mas minta maaf. Aku yang buat kamu seperti ini,” ucap Afkar sambil menggenggam tangan Zhafira, namun, Zhafira menolak dipegang oleh Afkar.
Zhafira sakit hati karena Afkar tak mempercayainya, padahal Zhafira tengah mengandung. Tapi, malah dibuat banyak pikiran saat ini.
Zhafira pun sama sekali tak mau melihat Afkar, hingga berapa lama perawat datang mengantar makanan.
“Permisi, Pak, Bu, ini makan malam untuk Bu Zhafira,” ucap perawat.
“Terima kasih, Sus,” balas Afkar mengambil alih makanan yang dibawa oleh perawat tadi.
Afkar pun segera duduk di samping brankar, “Sayang, makan dulu ya, aku suapin.”
Zhafira pun pura-puta tidur dan gak mau makan.
__ADS_1
Afkar yg bingung karna didiamkan istrinya, akhirnya keluar menelpon orang tuanya dan juga mertuanya.
Setelah selesai menelpon, Afkar kembali masuk menemani Zhafira.